
Malam harinya, Tania telah bersiap-siap di dalam kamarnya, ia mengenakan dress berwarna biru dongker membuat tubuh gitar Spanyol ya Tania terlihat sangat cocok menggunakan dress tersebut. "Ansel" Panggilnya. "Kenapa kamu lama sekali di dalam kamar mandi?".
Tidak ada jawaban, hingga ia mendengar suara Ansel yang sedang mual-mual di dalam kamar mandi.
BBRRAAKK..
"Sayang, kamu kenapa? kenapa kamu mual-mual seperti ini? kamu baik-baik saja?".
"Tidak tau ma, tiba-tiba saja Ansel merasa mual dan perut Ansel yang sangat mules" Jawabnya.
"Apa? kalau gitu kita kerumah sakit sekarang".
"Tapi mama bukannya mau pergi?".
"Mama lebih memilih kamu sayang dari pada itu, om Varrel juga akan mengerti nantinya kalau Ansel lagi sakit. Ayo sayang".
"Maafkan Ansel ya ma".
Tania langsung membawa Ansel keluar dari dalam kamar. "Kak Jasmin kak jas" Teriak Tania.
"Iya.. Ada apa Nia?".
"Ansel sakit kak, nanti kalau Varrel tiba dirumah bilangin kalau kita kerumah sakit".
"I-iya" Angguk Jasmin dengan wajah khawatir.
Setibanya mereka dirumah sakit, sang dokter langsung memeriksa keadaan Ansel yang kini terbaring sangat lemas. "Dok, bagaimana keadaan anak saya dok?".
"Dia tidak apa-apa nona, hanya kelelahan saja".
Tania tersenyum, "Terima kasih banyak dok, saya pikir terjadi sesuatu".
"Sama-sama nona" Angguknya pergi dari sana.
Kemudian Tania menggenggam tangan Ansel dengan sayang, "Maafkan Ansel ya ma, gara-gara Ansel mama jadi tidak pergi".
"Sshhuueettt.. Sekarang Ansel istirahat, mama akan menemani Ansel".
"Mmmmm" Angguk Ansel menutup kedua matanya.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT..
"Varrel, maaf ya. Tadi Ansel tiba-tiba jatuh sakit".
"Tidak apa-apa Nia, lalu bagaimana keadaan Ansel sekarang ini?".
"Ansel hanya kelelahan saja dan sekarang dia sudah tidur".
"Mmmm.. Syukurlah, kalian di rumah sakit mana?".
"Kami dirumah sakit xx".
"Aku akan kesana".
"Iya" Angguk Tania mematikan ponselnya. Lalu ia melihat wajah Ansel yang benar-benar sudah tidur, "Mama tinggal sebentar ya sayang. Sus, tolong jaga anak saya sebentar yah" Ucapnya kepada si perawat.
"Iya nona" Angguknya.
Begitu Tania pergi dari sana, seseorang datang menghampiri Ansel. "Maaf, anda siapa?" Tanya si perawat.
__ADS_1
"Bisakah anda tinggalkan kami?".
Si perawat mengerutkan keningnya melihat dia dan juga Ansel, setelah itu ia pergi begitu saja dari sana. Kemudian ia menggenggam tangan mungil Ansel, "Ternyata kamu sudah tumbuh besar tampa..
"Kamu siapa?" Tanya Varrel yang baru tiba dirumah sakit. Namun bukannya menjawab, si pria tersebut segera pergi begitu saja dari hadapan Varrel. "Dia siapa? kenapa di langsung pergi begitu saja" Gumam Varrel mencari keberadaan Tania.
"Varrel kamu sudah datang?".
"Mmmm.. Kamu dari mana saja Nia?".
"Dari supermarket membeli ini, kenapa? wajah kamu terlihat serius seperti itu".
"Baru saja orang yang tidak aku kenal pergi dari sini, kamu tau siapa dia?".
"Maksud kamu?".
"Lupakan saja. Kamu sudah makan malam? kalau belum aku akan membeli mu makan malam".
"Maaf ya aku ngerepotin kamu".
"Tidak apa-apa, kamu tunggu disini".
"Iya".
.
Pagi harinya begitu Ansel di pindahkan diruang rawat, Tania dan Ansel masih saja tertidur diatas bed rumah sakit, sedangkan Varrel tertidur diatas sofa.
DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Siapa yang menelpon ku pagi-pagi seperti ini?" Gumam Varrel menyambar ponselnya. "Mmmmm.. Siapa?" Tanyanya.
"Tuan, sesuatu sedang terjadi di perusahaan".
"Iya tuan".
"Baiklah, saya akan kesana" Lalu Varrel menyambar jaket dan segera memakainya. Namun sebelum ia keluar dari ruang rawat Ansel, ia menyempatkan diri mencium kening Ansel yang masih tertidur di pelukan Tania. Setelah itu ia keluar tampa ada niat ingin membangunkan Tania.
Hingga kini telah menunjukan pukul 8 pagi, Tania mulai membuka kedua matanya, "Pagi anak mama" Ciumnya.
"Pagi ma" Balas Ansel tersenyum manis.
"Kamu sudah merasa baikan sayang?".
"Iya ma, pagi ini jauh lebih ringan dari semalam".
"Mama senang mendengarnya".
"Oohhh iya ma".
"Kenapa?".
"Mama enggak bilang-bilang kan sama papa kalau Ansel di rawat di rumah sakit? Ansel enggak mau buat apa khawatir dan merasa bersalah".
"Iya, mama tidak memberitahu papa".
"Hehehe.. Terima kasih ma. Oohh iya ma ada satu lagi, semalam siapa yang datang ma?".
"Om Varrel. Tapi sepertinya om Varrel sudah kembali pulang".
__ADS_1
"Selain om Varrel ma".
"Hanya om Varrel saja sayang".
"Om Varrel? masa iya om Varrel? tapi tidak mungkin itu om Varrel?" Gumam Ansel.
"Kenapa sayang?".
"Itu ma, setelah Ansel tidur mama pergi kemana?".
"Ke supermaket sebentar".
"Mama tau enggak? setelah mama keluar, Ansel merasakan sebuah tangan besar menggenggam tangan Ansel dengan hangat ma dan juga aroma tubuhnya yang sangat enak di penciuman Ansel. Tapi Ansel yakin itu bukan om Varrel".
"Terus Ansel melihat siapa orangnya? karna om Varrel juga mengatakan hal seperti itu".
"Ansel saat itu enggak bisa buka mata ma, dan Ansel juga mendengar suaranya. Dia berkata seperti ini, ternyata kamu sudah tumbuh besar".
Tania mencoba memikirkan siapa orang yang baru saja Ansel bicarakan, namun ia tidak bisa menebak siapa dia sebenarnya.
"Mama tau enggak siapa dia?".
"Tidak sayang. Tapi dia enggak ngapain-ngapain Ansel kan?".
"Dia enggak ada ngapain-ngapain Ansel sih ma. Tapi setelah dia melepaskan tangannya Ansel, entah kenapa Ansel saat itu tiba-tiba saja merasa sedih".
"Sedih?" Gumam Tania langsung menebak seseorang yang juga sangat ia rindukan selama ini. "Apa mungkin dia? tapi Rizal dan Jerry enggak mungkin tidak tau kalau dia berada disini" Kemudian Ia menatap wajah Ansel yang sangat mirip dengan Elvan.
"Kenapa ma?".
"Tidak sayang" Senyumnya. Lalu Tania menuruni tempat tidur Ansel menuju kamar mandi. Begitu ia selesai membasuh wajahnya, tidak lama kemudian sarapan Ansel telah datang.
"Selamat pagi" Senyumnya kepada Ansel dan juga Tania.
"Pagi" Balas Tania tak kalah ramah dari si ahli gizi tersebut. "Pagi ini sarapannya bubur ayam. Kamu menyukainya?" Tanyanya melihat Ansel.
"Suka".
"Kalau gitu jangan lupa di habisin yah".
"Terima kasih banyak ya mbak" Ujar Tania mendekati Ansel.
"Sama-sama nona. Permisi".
Kemudian Tania menyuapi Ansel dengan telaten, "Mama sudah memberitahu gurunya Ansel kalau hari ini Ansel tidak masuk sekolah".
"Mama memberitahu Ansel sakit?".
"Iya".
"Kenapa harus sakit ma? nanti teman-teman Ansel pasti akan menertawakan Ansel dan bilang kalau Ansel itu anak manja".
"Terus, Ansel harus perduli gitu? Ansel tidak usah memperdulikan kata-kata orang lain, karna mama dulunya juga seperti Ansel yang dibilang anak manja. Tapi mama enggak peduli dengan kata-kata mereka, karna mama tau mereka itu hanya iri saja dengan kehidupan mama".
Ansel langsung menunjukan senyum mengembang diwajahnya, "Benarkah ma?".
"Iya sayang. Kalau Ansel tidak percaya, Ansel bisa tanya sama onty Elma dan onty Filia".
"Baiklah, mulai hari ini Ansel tidak akan memperdulikan perkataan meraka lagi".
__ADS_1
"Harus dong, Ansel harus bisa seperti mama".
"Hehehhe.. Siap ma".