
Saat ini Elvan dan investor lainnya telah berada di ruang meeting sesuai dengan perjanjian Elvan kemarin. "Saudara Elvan, apa yang sudah anda ketahui selama ini? dan anda kemarin mengatakan kalau anda menemukan suatu kejanggalan. Tolong berikan kami penjelasan?" Tanya salah satu diantara mereka.
Elvan kemudian menghela nafas, lalu ia melihat kearah Robert yang terlihat santai dan juga ke tiga rekannya, serta Alona yang juga berada di ruangan tersebut. "Tidak sekarang, jika aku memberitahu mereka apa yang sudah aku ketahui, rencana kami pasti akan batal. Jadi untuk sekarang sebaiknya aku diam saja" Batin Elvan.
"Saudara Elvan, kenapa anda diam?".
"Maaf, setelah saya melihat dan meneliti saya tidak menemukan ada yang janggal" Jawabnya.
"Benarkah sedemikian?".
"Benar" Angguknya.
"Hhhmmmsss" Dengus mereka semua. "Kalau begitu meeting hari ini cukup sampai disini saja" Ucap Robert membubarkan mereka semua.
Begitu mereka semua keluar dari sana, Elvan segera memasuki ruangannya. "Elvan" Panggil Rizal yang tiba-tiba masuk kedalam ruangannya.
"Kamu mengagetkan ku saja Zal. Ada apa?".
"Bagaimana hasil meeting hari ini?".
"Sesuai yang kita rencanakan".
"Bagus" Senyum Rizal. "Ini saatnya aku yang masuk".
"Kamu harus hati-hati Zal, dia bukanlah wanita yang mudah kamu dekati".
"Kamu tenang saja Elvan, serahkan pada ku".
"Mmmmmm" Angguk Elvan tersenyum. Begitu Rizal keluar dari ruangannya, Elvan mendapat panggilan dari Jerry. "Ada apa Jerry?".
"Kamu kemari sekarang juga Elvan".
"Ada apa?".
"Buruan.. Elvan".
"Baiklah, aku akan kesana" Elvan langsung bergegas keluar dari ruangannya menuju proyek dimana Jerry yang ia tugaskan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini ia telah tiba disana. "Jerry" Panggilnya.
"Ayo ikut aku" Ajaknya membawa Elvan kedalam ruangannya. Sambil menghela nafas Jerry menatap Elvan dengan mimik wajah yang tidak bisa Elvan artikan. "Elvan".
"Mmmmm.. Ada apa Jerry?".
"Inih, ku harap kamu tidak akan terkejut isi dalam file ini".
"Ini apa Jerry?".
"Kamu buka sendiri Elvan. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku pergi" Keluarnya dari ruangan Elvan.
Lalu Elvan langsung memasukkan benda kecil itu kedalam komputernya. "Aku penasaran" Batin Elvan membuka file tersebut. Keningnya mengerut, Elvan dengan hati-hati mempelajari setiap data yang ada di layar komputernya hingga ia memahami isi semua dalam file tersebut. "Brengsek" Umpatnya sangat marah.
Setelah itu Elvan menghubungi Rizal, "Hallo Zal, cepat buka e-mail mu. Aku mengirim sesuatu disana".
"Baiklah" Angguk Rizal mematikan ponselnya.
"Aaiisss" Geram Elvan mengepal kedua tangannya. Ia keluar mencari keberadaan Jerry, namun ia menemukan Jerry saat ini sedang mengobrol dengan salah satu karyawan. Tetapi Elvan yang tidak perduli, ia tetap menghampiri mereka. "Permisi" Ucapnya.
"Iya tuan" Angguk mereka berdua.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan disini?".
"Tidak tuan, kami hanya mengobrol biasa saja".
"Mmmmm.. Ayo ikut aku" Ucapnya kepada Jerry.
"Saya tuan?".
"Iya, ayo" Jalan meninggalkan mereka.
"Yah.. Ada apa dengan dia. Tuan mengenalnya?" Tanya Jerry pura-pura bodoh.
"Iya, dia adalah atasan kita, salah satu investor terbesar di perusahaan ini" Jawabnya.
"Oohh.. Kalau gitu saya permisi dulu tuan".
"Mmmmm.. Berhati-hatilah dengan-nya".
"Iya tuan" Angguk Jerry meninggalkannya hingga ia kini berada diruangan Elvan. "Ada apa Elvan? bagaimana dengan flashdisk yang baru aku berikan?".
"Itu data yang selama ini kita cari Jerry dan aku sudah mengirimnya kepada Rizal".
"Benarkah?".
"Mmmm.. Tapi data ini belum bisa kita gunakan sebelum kita menemukan siapa orang yang telah memerintah mereka".
"Hhhmmsss" Dengus Jerry kesal.
.
Di apertemen Tania dan Sani saat ini sedang bersantai-santai diatas balkon begitu ia memberitahu kedua keluarganya kalau dirinya saat ini sedang berada di luar negeri.
"Kenapa Sani?".
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau kamu bersama dengan Elvan?".
"Tidak mungkin aku memberitahu mereka kalau saat ini aku bersama dengan Elvan. Bisa-bisa mereka nantinya akan memarahi ku".
"Kok gitu Nia?".
"Sani, kamu pikir Elvan kemari hanya magang saja?".
"Jadi?".
"Elvan kemari itu kerja Sani. Kalau cuma magang saja mendingan di Indonesia, ngapain harus jauh-jauh".
"Mmmm.. Terus, masalah kalau mereka tau kamu bersama dengan Elvan apa?".
"Hhhmmmsss.. Mereka khawatir Elvan tidak bisa menjaga ku selama disini".
Sani semakin tidak mengerti dengan perkataan Tania, ia benar-benar tidak paham. "Sepertinya mereka sangat mencintai mu Nia, kamu benar-benar sangat beruntung".
"Terima kasih Sani" Senyum Tania. "Oohh iya Sani kamu ternyata pintar masak. Bisakah kamu mengajari ku memasak?".
"Kamu enggak bisa masak Nia?".
"Iya, sejak kecil mama tidak pernah memberi ku izin masuk ke dapur".
__ADS_1
"Aku iri" Gumam Sani yang masih bisa di dengar oleh Tania. "Baiklah, tapi kita harus belanja bahan dulu Nia. Bahan di kulkas sudah habis".
"Ayo, kamu mau belanja di supermarket atau di pasar tradisional?".
"Terserah kamu saja Nia".
"Kalau gitu kita ke supermarket saja".
Begitu mereka berdua keluar dari apartemen Elvan, seseorang dari kejauhan sedang memperhatikan mereka, namun Tania dan Sani tidak menyadarinya.
Sesampainya mereka di supermarker, Tania langsung mengambil 1 troli. "Dari bahan-bahan juga kamu harus mengajari ku Sani".
"Baiklah Nia" Angguk Sani sambil memilih bahan-bahan segar yang akan mereka masak. Setelah troli itu penuh, Tania membayar bahan belanjaan mereka. "Sini Nia, biar aku saja yang membawa".
"Eekkhh.. Jangan semua Sani, biar aku juga yang membawa sebagian".
"Tidak apa-apa Nia biar aku saja, aku enggak mau terjadi apa-apa dengan mu dan juga bayi mu".
"Kalau gitu biarkan aku membawa yang ringannya".
"Kalau itu aku setuju, inih" Berinya ditangan Tania.
"Ayo".
"Ayo".
Setibanya mereka di hotel, lagi-lagi dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka. "Nia tunggu" Tahan Sani.
"Ada apa Sani?".
"Sebentar Nia, aku merasa seseorang sedang memperhatikan kita" Jawab Sani melihat sekitarnya.
Tania juga ikut melihat sekitar mereka, namun ia tidak menemukan seseorang yang sedang memperhatikan mereka. "Tidak ada Sani, mungkin perasaan kamu saja" Ucap Tania.
"Mungkin Nia, ayo" Jalan mereka kembali masuk kedalam lift.
Begitu mereka berdua berada di dalam apertemen, Tania dan Sani langsung mengeluarkan bahan-bahan yang akan mereka masak, sisanya mereka masukkan kedalam kulkas.
"Kita mulai dari mana Sani?".
"Pertama kita mau masak apa dulu Nia?".
"Mmmm.. Masak apa yah" Gumam Tania melihat bahan-bahan yang ada di hadapannya itu. "Aahh.. Ayamnya di masak geprek saja Sani pakai sambal luar dan sambalnya pedas. Mmmm, pasti sangat enak".
"Tapi kamu tidak bisa makan yang pedas-pedas Nia, kalau gitu aku membuatnya dua bagian".
"Kok dua bagian Sani? kenapa enggak sama?".
"Satu untuk kami dan satunya lagi untuk mu".
"Maksud mu?".
"Pedas untuk kami, biasa saja untuk kamu".
"Yah.. Enggak boleh gitu dong, aku juga mau yang pedas Sani. Kamu tau sendiri kalau aku suka pedas".
"Jangan banyak membantah Nia. Ayo bantu, tadi kamu sendiri yang memintanya".
__ADS_1
"Hhhmmsss" Dengus Tania.