SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 83


__ADS_3

Begitu Amira turun dari lantai atas, Zita langsung menghampiri sang mama mertuanya. "Ma, Zita enggak suka melihat mereka. Kenapa mama baik sekali dengan mereka?".


"Mama tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan papa mertua kamu" Jawab Amira.


"Hhhmmsss" Dengus Zita. "Lalu Elvan kemana sebenarnya ma? Tania juga ikut menghilang".


"Mama juga enggak tau Zita. Ponsel mereka saja tidak aktif".


"Aku khawatir dengan Tania ma, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya".


"Mmmmm" Angguk Amira.


"Atau jangan-jangan Elvan saat ini bersama dengan Tania ma? ini sudah 3 hari sejak Tania menghilang dari rumah ini dan teman-temannya Tania juga tidak tau keberadaan Tania saat ini".


"Mama pusing Zita cuman memikirkan mereka, ditambah lagi putri Robert yang berada disini membuat mama semakin pusing".


"Maaf ma, Zita hanya khawatir saja dengan Elvan dan Tania".


"Mama juga merasakan hal yang sama dengan mu Zita".


"Lalu apa yang harus kita lakukan ma? bahkan papa dan suami ku juga sudah melaporkan ke polisi tapi mereka sampai sekarang belum di temukan".


"Kita doakan saja, semoga mereka baik-baik saja".


"Iya ma".


.


Tania yang merasa jenuh di dalam rumah membuat dirinya ingin meminum yang segar-segar, namun mengingat mereka yang tidak punya apa-apa di rumahnya membuat Tania tidak bisa minuman yang segar-segar.


"Ck, aku tidak punya uang lagi. Kenapa aku tadi tidak meminta uang kepada Elvan sih?" Kesal Tania keluar dari rumah hingga ia melihat anak-anak yang sedang menikmati eskrim di warung depan rumahnya. Kemudian Tania mendatangi warung tersebut, "Buk, eskrim-nya berapa satu?".


"Eekkhh, tetangga baru. Mau eskrim yang mana, disini ada harga 2000 3000 4000 5000 sampai 10000 kamu mau yang mana?".


"Serius buk harganya segitu?".


"Iya, kenapa?".


"Mmmm.. Maaf buk, saya tidak punya uang. Bisa tidak saya ngutang, nanti saya bayar begitu suami saya pulang kerja".


"Ngutang? emang suami kamu kerja dimana?".


"Di kantor lurah buk. Begitu suami saya pulang kerja, nanti saya langsung membayarnya".


"Begini, sebenarnya saya bukan tak ingin memberi mu" Lihatnya kearah pelanggan yang di warungnya. "Saya segan kepada mereka, soalnya di warung ini saya belum pernah memberi mereka ngutang jadi tidak enak kepada mereka".


"Oohh gitu yah, padahal aku sangat ingin sekali memakan eskrim itu" Sedih Tania mengusap perutnya.


"Terus suami kamu bekerja jadi apa di kantor lurah sana?" Tanyanya penasaran.


"Membantu sekretaris kepala desa buk".


"Apa cukup gaji seperti itu untuk kebutuhan kalian berdua?".


"Cukup buk" Angguk Tania.


"Cukup dari mana? emang kalian tidak makan?".

__ADS_1


"Masa enggak makan sih buk? tentu saja kita makan".


"Kasihan loh suaminya sendiri cari nafkah, kenapa kamu enggak kerja juga? lumayan untuk membantu suami cari nafkah".


"Bukannya saya enggak mau buk, tapi suami saya melarang saya bekerja".


"Kalau suami melarang kita bekerja itu hal wajar, mereka tidak mau di bilang tidak bertanggung jawab, makanya banyaknya suami melarang istrinya bekerja. Tapi enggak mungkinkah kita tega melihat suami kerja sendiri sedangkan gaji suami kita tidak seberapa".


"Iya sih buk, cuman saya tidak mau melawan perintah suami saya karna dia tidak suka dibantah".


"Ya sudah kalau kamu tidak mau mendengar nasihat ibu".


"Maaf ya buk".


"Tidak apa-apa".


Begitu Tania keluar dari dalam warung, ia kemudian melihat hari yang semakin panas membuat Tania semakin ingin meminum yang segar-segar. "Kak" Panggil seorang anak kecil kepadanya.


"Iya dek, kenapa?".


"Kakak mau eskrim ini? tadi aku membelinya dua".


"Wah.. Serius kamu mau memberinya pada kakak?".


"Mmmm.. Inih" Berinya ditangan Tania.


"Astaga, terima kasih banyak dek. Kamu baik sekali" Senyum Tania.


"Sama-sama kak. Ayo duduk".


"Iya" Angguk Tania segera menikmati eskrim yang ada di tangannya. "Siapa nama mu dek?".


"Tania".


"Nama kakak sangat cantik seperti orang ya" Puji Dinda dengan tulus.


"Benarkah?".


"Mmmm.. Baru kali ini Dinda melihat wanita cantik seperti kak Nia".


"Hahahah.. Kamu ada-ada saja, tapi terima kasih banyak Dinda".


"Iya kak. Terus, apa benar kakak sudah menikah?".


"Iya".


"Suami kakak dimana?".


"Dia sedang bekerja" Lalu Dinda melihat sekitarnya, "Kenapa Dinda?".


"Mendekat-lah kak, Dinda ingin memberitahu kak Nia sesuatu".


"Apa itu?".


"Kakak Tania harus hati-hati dengan warga disini, soalnya dinda dengar-dengar kakak-kakak disini sering membicarakan suami kakak. Habis suami kakak sangat tampan sekali".


"Hhhmmsss.. Enggak disana enggak disini, Elvan masih saja di perebutkan. Terima kasih ya Dinda sudah memberitahu kakak".

__ADS_1


"Iya kak. Terus kandungan kakak sudah beberapa bulan?".


"Tiga bulan lebih Dinda" Jawab Tania mengusap perutnya. "Dinda berapa bersaudara?".


"3 kak, Dinda anak yang kedua".


"Mmmm.. Terus umur Dinda sudah berapa tahun?".


"10 tahun kak".


"Wah.. Dinda juga ternyata seumuran dengan adik kakak".


"Kak Tania kenapa sedih?" Tanya Dinda saat ia melihat kedua mata Tania berkaca-kaca.


"Tidak, kakak hanya tiba-tiba saja merindukan adik kakak".


"Oohh, emang adik kakak dimana?".


"Dia sudah meninggal dunia".


"Astaga, maafkan Dinda ya kak, Dinda enggak bermaksud membuat kakak sedih".


"Iya Dinda" Angguk Tania melap air matanya.


.


Setelah sore Elvan langsung bersiap-siap pulang kerumah, "Aku antar kamu pulang yah?" Tawar Larisa.


"Tidak usah, saya naik angkot saja".


"Ayolah selagi aku berbaik hati, mmmmm".


"Terima kasih Larisa" Perginya meninggalkan Larisa.


"Aaiiisss.. Sok jual mahal banget sih" Geram Larisa melihat Elvan yang sudah keluar.


Setibanya Elvan di rumah. Dengan senyum mengembang diwajah Tania ia langsung memeluk Elvan, "Kenapa kamu lama sekali pulangnya? aku merindukan mu" Kemudian Tania melihat kantong kresek yang ada ditangan Elvan, "Itu apa Elvan?".


"Untuk mu" Berinya.


"Wah.. Ayam goreng, kamu tau saja kalau aku lagi pengen makan ini. Terima kasih ya uummcchh" Ciumnya.


"Iya" Senyum Elvan mengusap kepala Tania.


Lalu Tania melahap ayam gorengnya sedangkan Elvan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, "Nia, tolong siapin pakaian ku yah".


"Iya" Jawab Tania menghentikan makananya, namun saat Tania ingin masuk kamar, tiba-tiba si tukang warung depan datang memasuki rumahnya. "Ada apa buk?".


"Mmmm.. Bisa saya masuk?".


"Bisa buk, silahkan" Jawab Tania menyuruhnya masuk.


"Terima kasih" Masuknya kedalam rumah Tania.


"Ibu mau minum kopi atau teh?".


"Tidak usah, saya hanya sebentar saja. Suami kamu mana?".

__ADS_1


"Dia masih mandi buk, tunggu sebentar yah".


"Iya" Angguknya melihat ayam goreng Tania yang ada diatas meja. "Kasihan sekali dia, apa kenyang cuman makan ayam goreng seperti ini? dan juga kenapa mereka menyewa rumah sebesar ini" Gumamnya sambil melihat sekitar rumah itu.


__ADS_2