
1 bulan kemudian..
Hari ini Rizal semakin dekat dengan Alona meskipun ia selalu di tolak namun Rizal yang tidak mau menyerah ia tetap mendekati Alona.
Sedangkan Elvan yang kini sedang berada diruangan Robert, "Ayo diminum" Senyum Robert kepada Elvan.
"Terima kasih tuan".
Kemudian Robert tertawa, lalu ia melihat kearah Jessi yang juga berada disana, "Bagaimana menurut mu putri ku?".
"Maaf?".
"Putri ku? kamu tidak tertarik melihatnya?".
Elvan tersenyum, "Maaf, saya tidak mengerti maksud tuan".
"Aahh.. Nanti malam datanglah kerumah, ada hal penting yang ingin saya bicarakan".
"Kenapa tidak sekarang saja tuan".
"Hahahaha.. Tidak enak kalau di bicarakan disini".
.
Begitu Elvan keluar dari ruangan Robert. Rizal yang melihatnya, "Elvan" Panggilnya.
"Rizal".
"Apa yang sedang kalian bicarakan disana?".
"Hhmmsss.. Tuan Robert mengundang ku makan malam dirumahnya".
"Kapan?".
"Nanti malam".
"Nanti malam? terus bagaimana dengan Tania?".
"Aku tidak tau".
"Apa tidak sebaiknya kamu menyuruh dia balik ke indo. Sudah satu bulan lamanya dia berada di sini, apa dia tidak magang?".
"Aku sudah menyuruhnya kembali, tapi Tania tidak mau pulang".
"Sebaiknya kamu menyuruh dia kembali, lagian waktu kita tidak banyak lagi disini. Dia pasti akan mengerti".
"Mmmm.. Nanti aku akan coba bicara kepada Tania kembali".
"Mmmmm" Angguk Rizal.
Lalu Elvan memasuki ruangannya dan pikirannya saat ini sedang tertuju kepada perkataan Robert sewaktu di dalam ruangannya. "Apa maksud dia?".
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab Elvan.
Ceklek!.
"Tania" Kagetnya. "Kenapa kamu bisa berada disini?".
__ADS_1
"Aku bosan di apertemen terus Elvan, kamu tau sendiri aku tidak punya teman disana" Jawab Tania mendekatinya.
"Duduklah dulu".
"Mmmmm" Duduknya di atas sofa. "Oohh iya Elvan, aku mulai merasa tidak nyaman tinggal di apertemen itu".
"Kenapa Nia?".
"Aku merasa seseorang terus menerus memperhatikan apertemen itu dan aku merasa tidak nyaman Elvan. Aku takut".
"Nia" Genggamnya ditangan Tania. "Bisakah kamu menunggu ku di indo? aku janji Nia, begitu urusan ku selesai aku akan kembali ke indonesia".
"Kamu mengusirku Elvan?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan seperti itu Nia, aku hanya mengkhawatirkan mu saja dan juga bayi kita" Jawabnya mengusap air mata Tania. "Aku tidak lama lagi berada di sini Nia. Mmmm, pulanglah".
"Tidak mau, aku akan tetap berada disini Elvan".
"Nia.. Kumohon".
"Aku tidak mau Elvan, apapun yang terjadi aku akan tetap berada disini bersama mu" Perginya meninggalkan ruangan Elvan.
"Nia.. Nia.. Tunggu Nia" Elvan pun mengikutinya dari belakang. "Nia tunggu" Kemudian Elvan melihat sekitarnya yang kini sedang di lihat Alona.
"Elvan" Panggilnya menghampiri mereka. Lalu ia melihat Elvan yang sedang menggenggam tangan Tania dan juga perut Tania yang sedikit membuncit. "Dia siapa Elvan?".
Elvan tersenyum, "Istrinya" Jawab Tania dengan sombongnya. "Kenapa? kamu siapa?".
"Hahahaha.. Istri? Yah, kamu pikir kamu bisa membodohi ku?".
"Kalau kamu tidak percaya, kamu tanya sendiri kepadanya. Ayo Elvan, kenapa kamu tidak menjawabnya?".
"Apa? kampungan? Yah..." Teriak Tania sangat marah kepada Alona.
"Hah.. Yah, kamu pikir ini tempat apaan?" Balas Alona tak kalah dari Tania. "Dasar wanita kampungan, keluar enggak dari sini?".
"Lepasin Elvan".
"Ikut aku Nia" Tariknya membawa Tania kedalam tangga exit.
"Lepasin Elvan" Kesal Tania menghempaskan tangannya. "Baiklah kalau itu mau mu, aku akan pergi dari sini. Kamu puas?".
"Nia, kumohon tenang dulu. Ada hal penting yang harus ku selesaikan selama disini, jadi tolong mengerti aku Nia".
DDDRRRRTTTT... DDDRRRTTTTT...
"Hallo kak Jas" Jawab Tania mengangkat ponselnya.
"Nia hiks.. hiks.. Nia..
"Kak Jas ada apa? kenapa kak Jasmin menangis?" Kedua tangan Tania mulai bergetar dengan mata membulat.
"Ibu dan Bapak kecelakaan Nia".
Duuaarrr..
Bagaikan disambar petir Tania langsung jatuh pingsan dihadapan Elvan. "Nia, Nia" Teriak Elvan. Lalu ia menyambar ponsel Tania. "Hallo, apa yang terjadi kepada papa dan mama?".
"Hiks.. Tuan Alvis dan ibu Elvina tabrakan dan sekarang mereka sedang berada di rumah sakit".
__ADS_1
"Apa? kami akan segera kesana".
"Iya tuan".
Begitu Jasmin mematikan ponselnya, Elvan langsung menghubungi Rizal. "Hallo Zal, aku harus kembali ke Indo, mertua ku mengalami kecelakaan".
"Lalu bagaimana dengan makan malam mu Elvan?".
"Tolong gantikan aku Zal".
"Kamu ada-ada saja Elvan, bagaimana mungkin aku menggantikan mu".
"Aku mohon" Elvan pun mematikan ponselnya. Lalu ia membawa Tania keluar dari dalam sana, dan dengan keadaan pingsan Elvan membawa Tania ke bendara. Setelah mereka berada di dalam pesawat, perlahan-lahan Tania membuka kedua matanya. "Kamu sudah sadar Nia, minumlah".
"Tidak. Bagaimana keadaan papa mama Elvan? mereka baik-baik saja kan? tidak terjadi apa-apa hiks.. hiks..".
"Nia".
"Aarrkkhhh.. Jawab Aku Elvan, papa sama mama baik-baik saja kan?".
"Kamu tenang dulu Nia" Tariknya membawa Tania kedalam pelukannya. "Aku juga tidak tau apa yang terjadi kepada mama dan papa, jadi kamu tenang dulu yah".
"Aarrkkhh.. Hiks.. hiks.. Ma pa" Semakin tangis Tania.
Begitu mereka tiba di indonesia, Elvan dan Tania langsung menuju rumah sakit dimana Elvina dan Alvis berada. "Kak Jasmin" Teriak Tania.
"Aarrkkhh.. Nia" Teriak Jasmin memeluk Tania.
"Kak Jas, apa yang terjadi kak? Aarrkkhh".
"Nia.. Bapak Nia, bapak Nia".
"Iya, papa kenapa kak Jasmin?" Teriak Tania.
"Bapak sudah meninggal dunia dan ibu, nona Kayla baru saja menghembuskan nafas terakhir mereka nia".
"Apa?" Lemasnya terjatuh.
"Nia" Dengan sigap Elvan langsung menangkap tubuh Tania.
"Tidak, tidak, ini pasti mimpi. Aku pasti sedang bermimpi. Lalu mereka dimana kak Jasmin?".
"Ada di ruang jenazah Nia".
"Haahh.. Papa, mama, kayla" Dengan tubuh lemas Tania melangkahkan kedua kakinya menuju ruang jenazah dimana Alvis Elvina dan Kayla berada disana. "Hiks.. Hiks.. Aarrkkhhhh.. Pa Ma Kay kenapa kalian meninggalkan Tania? kenapa kalian meninggalkan Tania hiks.. hiks.. Kenapa kalian tidak membawa ku juga? Tampa papa dan mama, percuma Tania hidup".
"Nia" Peluk Elvan yang juga ikut merasakan kesedihan Tania.
"Elvan, papa mama Elvan. Mereka tega meninggalkan aku Elvan, mereka tega meninggalkan aku tampa sepata kata hiks.. hiks..".
"Nia".
Tidak lama kemudian Vicky dan Amira tiba disana dengan wajah terkejut melihat Alvis Amira dan Kayla yang berada di dalam peti mati. "Aahhh.. Alvis, apa yang terjadi Alvis? kenapa bisa seperti ini?" Tangisnya melihat tubuh Alvis yang penuh dengan luka.
Kemudian Amira menarik Tania kedalam pelukannya. "Ma, mama sama papa ma, mereka pergi meninggalkan Tania ma. Mereka tega meninggalkan Tania ma".
"Sayang, kamu harus kuat sayang. Masih ada mama sayang, masih ada papa Vicky dan masih ada Elvan dan masih ada yang lainnya sayang".
"Aarrkkhh ma hiks.. hiks".
__ADS_1
"Iya sayang" Usapnya dipunggung Tania.