SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 57


__ADS_3

Sekeluarnya Elvan dan si pria tua tersebut dari dalam cafe, mereka segera kembali.


Begitu ia melihat si pria tua itu bekerja. Elvan kemudian melihat kearah para mandor yang berjaga disana. "Tidak mungkin aku mencari tahu melalui mereka, sudah jelas merekalah kaki tangannya" Batin Elvan segera pergi dari sana.


Dan tampa Elvan sadari setelah ia pergi dari sana, tampak mereka sedang membicarakan dirinya sampai membuat si pria tua itu merasa curiga. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa kalau ia tidak mau di pecat dari sana.


Berada di dalam kantor yang berada dikantor pusat. Ia mencoba mencocokan semua data yang selama ini ia temukan, tetapi ia tidak menemukan sesuai dengan yang ia harapkan. "Hanya ada satu cara yaitu akutansi. Aku yakin itu" Bangkit Elvan dari atas kursinya menemui ruangan Alona yang menjabat sebagai direktur keuangan 2 sesudah James.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Alona.


Ceklek!.


"Elvan" Senyum Alona. "Silahkan duduk Elvan".


"Terima kasih" Angguk Elvan mendudukan diri diatas sofa yang berada di ruangannya. "Ada apa Elvan kamu datang kemari?".


"Apa dia juga berada di dalam dalang ini semua?" Batin Elvan melihat wajah Alona yang sedang tersenyum kepadanya. "Alona" Panggilnya.


"Iya".


"Bisakah aku meminta segelas kopi?".


"Aaahhhhh.. Ternyata kamu suka minum kopi juga. Sebentar Elvan, aku akan membuatnya untuk mu" Perginya membuatkan kopi.


Begitu Alona keluar dari dalam sana, Elvan langsung berjalan kearah meja kerja Alona dan mencari data tersebut. Namun yang ia cari tidak berada disana, "Tidak ada disini" Kemudian pandangan mata Elvan tertuju kearah komputer Alona. "Aku tidak punya waktu lagi" Hingga Elvan mendengar suara sepatu mendekati ruangan Alona.


Ceklek!


"Elvan" Berinya kepadanya.


"Terima kasih Alona".


"Sama-sama Elvan" Duduknya kembali di hadapan Elvan. "Rasanya pas?".


"Mmmm" Angguknya tersenyum.


"Syukurlah, aku pikir tadi kemanisan".


"Rasanya sangat pas".


"Lalu, ada apa kamu mendatangi ruangan ku Elvan?".


"Tidak, aku hanya merasa bosan saja di dalam ruangan ku. Apa aku mengganggu mu?".


"Hahahha.. Tentu saja tidak Elvan" Tawanya sambil memperbaiki anak rambutnya.


"Jangan tertawa".


"Aahh, maaf" Hentinya.


"Bukan apa-apa, saat kamu tertawa seperti itu kamu terlihat sangat manis".


"Hhhmm?".


"Sepertinya aku harus mencari tahu melalui dia, aku yakin dia pasti tau" Batin Elvan. "Alona, bisakah kamu membawa ku berjalan-jalan malam ini?".


"Jalan-jalan?".

__ADS_1


"Mmmm.. Selama aku disini, aku sama sekali tidak pernah keluar kecuali kantor dan hotel tempat aku tinggal".


"Baiklah, kamu mau pergi kemana malam ini Elvan? aku siap menemani kamu".


"Bagaimana kalau malam ini kita nonton?".


"Setuju".


"Aku akan menunggu mu, berikan aku nomor ponsel mu".


"Baiklah" Alona segera memberi nomor ponselnya kepada Elvan.


Setelah Elvan mendapatkannya, ia segera keluar dari ruangan Alona.


"OMG.. OMG.. Hahhahaha.. Malam ini aku akan berkencan dengan Elvan. Aku harus menelpon butik langganan ku untuk menyiapkan gaun keluaran terbaru".


.


Malam harinya di dalam kamar hotel milik Elvan ia tengah bersiap-siap menuju tempat dimana ia menjanjikan tempat ia bertemu dengan Alona. "Mari kita mulai" Senyum Elvan melihat wajah tampannya.


Sesampainya ia disana, Alona telah menunggunya. "Bahkan dia sudah berada disana sebelum waktunya tiba" Gumam Elvan segera menghampiri Alona.


"Elvan" Panggilnya.


"Ternyata kamu sudah disini, aku pikir kamu akan datang terlambat".


"Iya" Senyumnya dengan manis. Lalu Elvan memperhatikan Alona dari atas sampai bawah yang terlihat sangat cantik, "Kenapa kamu melihat ku seperti itu Elvan? jangan membuat ku malu".


"Kamu cantik sekali" Pujinya.


"Benarkah?".


"Ayo" Dengan perasaan sangat bahagia, Alona langsung merangkul lengan Elvan. "Gak sia-sia aku menghabiskan waktu 1 jam lebih di salon tadi" Batin Alona.


Sekarang Elvan dan Alona telah berada di dalam bioskop. Mereka berdua tampak sangat menikmati film romantis tersebut hingga tiba satu scene menunjukkan adengan dewasa.


"Astaga" Kaget Alona dengan pipi merona, Namun berbeda halnya dengan Elvan terlihat biasa saja, sedangkan Alona tak henti-hentinya menelan ludah dan sekali-kali ia melirik kearah Elvan yang masih fokus dengan adengan tersebut.


"Wah, dia benar-benar menikmatinya" Kemudian Alona melirik kepada penonton lainnya. "Sial, bahkan mereka juga melakukan adengan yang sama disini. Ck" Kesal Alona melihat ke layar kembali.


"Kamu kenapa?".


"Hhmmm? aaahhh.. Tidak apa-apa Elvan".


"Kamu baik-baik saja?".


"Ya".


Lalu Elvan menarik tangan Alona, dengan lembut ia menggenggamnya. "Elvan" Kagetnya.


"Biarkan seperti ini".


"Astaga" Kali ini Alona tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata. Ia terlihat sangat bahagia di perlakukan seromantis itu meskipun hanya menggenggam tangannya saja.


Begitu film tersebut selesai, satu persatu dari dalam ruangan itu telah keluar. "Elvan.. Kita enggak keluar?".


"Sebentar" Elvan mengeluarkan ponselnya.


"Kenapa Elvan?".

__ADS_1


"Kita masih punya banyak waktu. Kamu bisa minum?".


Alona mengerutkan keningnya, "Maksud kamu Elvan?".


"Sepertinya kamu tidak bisa, kalau gitu aku akan mengantar mu pulang".


"Aku bisa minum. Ayo, kamu mau kemana? atau kamu mau ketempat langganan aku saja? disana sangat nyaman" Bangkitnya.


"Ayo" Genggamnya ditangan Alona.


.


Sesampainya mereka di sebuah bar tempat langganan Alona. "Selamat malam nona".


"Berikan kami dua gelas anggur".


"Baik nona" Ia segera memberi dua gelas anggur kepada Alona dan juga Elvan.


"Thank you" Dengan sekali tegukan Alona menghabiskannya.


"Wah.. Sepertinya kamu peminum berat".


"Bisa dibilang" Mintanya kembali. "Bagaimana dengan mu? kamu mau taruhan dengan ku?".


Elvan tersenyum, "Kamu sedang menantang ku?".


"Mmmm".


"Baiklah" Elvan langsung meminta dua gelas anggur kepada si bartender dengan alkohol kadar tinggi. "Aku harap kamu tidak akan menarik perkataan mu" Elvan menuanya kedalam gelasnya, begitu juga dengan Alona.


Seiring berjalannya waktu Alona mulai merasa pusing, sedangkan Elvan masih terlihat biasa-biasa saja. "Ck, ternyata anggur ku sudah habis. Bagaimana dengan mu Lona? kamu masih sanggup" Tanyanya melihat Anggur Alona yang masih tersisa sedikit.


"Kamu mengejek ku?".


"Tidak".


"Aku tidak sanggup lagi Elvan, kepala ku sudah pusing".


"Lalu, bagaimana kamu kembali pulang?".


"Tolong carikan aku hotel, aku tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini".


"Baiklah" Begitu Elvan membayar minuman mereka, ia pun segera membawa Alona keluar dari dalam sana sambil mencari hotel sekitar bar.


Setelah Elvan mendapatkan hotel tersebut, ia membawa Alona masuk kedalam hotel dan membaringkan tubuh Alona diatas tempat tidur. "Elvan" Panggilnya.


"Mmmmm" Gumam Elvan melihat wajahnya.


"Aku mencintai mu saat pertama kali aku melihat mu" Senyumnya melihat wajah tampan Elvan.


"Benarkah?".


"Mmmm.. Apa kamu juga merasakan hal yang sama dengan ku?".


"Aku belum tau sebelum aku mencobanya".


"Mencoba apa Elvan? aku benar-benar mencintai mu. Kamu tidak percayai ku" Alona berusaha bangkit.


"Aku mempercayai itu Lona" Jawabnya menahan tubuh Alona.

__ADS_1


__ADS_2