SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 70


__ADS_3

Begitu hidangan tersebut berada diatas meja makan, dengan senyum mengembang diwajah Tania ia merasa sangat bangga, akhirnya berkat bantuan Sani ia bisa merasakan bagaimana caranya memasak yang selama ini ia inginkan.


"Bagaimana Nia? mudah tidak?".


"Mmmm.. Besok kamu harus mengajari ku lagi Sani".


"Iya, kalau gitu aku mandi duluan ya Nia".


"Iya Sani" Angguk Tania. Sambil menunggu kepulangan Elvan, Jerry dan Rizal, ia menyempatkan diri membaca novel yang berjudul I LOVE YOU TUAN DEVANO, namun saat Tania sedang asik membaca novel, ia mendengar suara ketukan pintu. "Elvan, mereka sudah pulang" Senyum Tania langsung membuka pintu.


Ceklek!


"Elva..." Gantung Tania tidak menemukan siapa pun disana. "Kenapa tidak ada orang? jelas-jelas tadi aku mendengar suara mengetuk pintu ini".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Elvan" Gumamnya Tania menggeser tombol hijau. "Iya Elvan, kamu sudah pulang?".


"Iya, ini aku sedang dalam perjalan. Kamu mau sesuatu aku bawa pulang?".


"Tidak usah Elvan, kamu pulang saja".


"Ya sudah".


Kemudian Tania melihat sekitarnya, "Mungkin firasat aku saja" Tutupnya kembali.


Tok.. Tok..


Tania menghentikan langkahnya, lalu ia melihat kearah pintu kembali. "Siapa?" Tanyanya.


Tok.. Tok..


"Siapa?".


Tok.. Tok..


"Ck" Dengan kesal Tania langsung membukanya.


Ceklek!.


"Tidak ada orang lagi" Dengus Tania menutup pintu itu kembali.


"Kenapa Nia?" Tanya Sani yang baru selesai membersihkan tubuhnya.


"Tidak tau Sani, dari tadi aku mendengar seseorang mengetuk pintu terus" Jawabnya.


"Itukan ada monitor, kenapa kamu tidak melihat dari sini?" Ucapnya memberitahu Tania.


"Aku lupa Sani".


"Harusnya kamu melihat disini dulu Nia supaya kamu tau siapa yang sedang mengetuk pintu".


"Mmmmm".


Tok.. Tok..


"Kali ini kamu harus ketahuan dengan ku" Geram Tania membuka pintu. "Yahh..." Teriaknya.


"Tania" Kaget Jerry menutup kedua telinganya.


"Astaga Jerry. Maaf-maaf aku tidak sengaja Jerry, abisnya dari tadi aku mendengar seseorang mengetuk pintu ini terus".


"Mengetuk pintu ini?".


"Mmmm.. Tapi setiap kali aku membukanya, aku tidak menemukan orang disini".


"Masa iya?".

__ADS_1


"Iya Jerry. Tapi ya sudahlah, sebaiknya kamu mandi. Aku dan Sani sudah menyiapkan makan malam untuk kita".


"Benarkah Nia?".


"Mmmmm".


"Baiklah" Jerry segera memasuki kamar yang kini ia gunakan bersama dengan Rizal dan kamar Rizal kini di tempati oleh Sani.


"Kamu juga mandilah Nia" Ucap Sani.


"Iya" Masuknya kedalam kamar Elvan. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Tania, kini ia telah selesai, namun Tania lupa membawa pakaiannya kedalam kamar mandi. Jadi Tania keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


Ceklek!.


"Eekkhh" Kaget Tania.


"Nia" Senyum Elvan menghampirinya. "Kamu tahu saja apa yang aku inginkan saat ini".


"Hehehe.. Elvan aku mau pakai baju, bisakah kamu langsung mandi" Tawanya yang sudah mengerti maksud dari perkataan Elvan.


"Mmmm" Geleng Elvan. Kemudian ia menarik pinggang Tania. "Nia" Bisiknya.


"Elvan, diluar banyak orang".


"Terus?".


"Jangan lakukan sekarang, aku takut mereka tiba-tiba masuk".


Elvan tersenyum sambil mengelus wajah mulus Tania, "Mereka tidak akan datang kemari Nia" Lalu Elvan mencium bibir ranum Tania.


Ceklek!


"Elvan.." Kaget Rizal saat ia tiba-tiba masuk kedalam kamar. "Aahh maaf, aku tidak melihat apa-apa" Ucapnya sambil keluar.


Sedangkan Tania yang sedang menahan rasa malu terlihat sangat jengkel kepada Elvan yang masih saja melanjutkan mencium dirinya. "Elvan" Panggilnya melepaskan ciuman Elvan.


"Kenapa Nia?".


"Terus? dia juga sering melakukan hal seperti ini, jadi kamu abaikan saja. Biarkan malam ini malam yang panjang untuk kita berdua" Dengan ringan Elvan menggendong tubuh Tania keatas tempat tidur.


"Elvan".


"Ssshhhuuueeettt🤫"


"Kamu bau Elvan, aku tidak tahan dengan aroma tubuh mu".


"Hhhmm? masa iya aku bau".


"Mmmm.. Kamu sangat bau sekali Elvan. Sana mandi dulu".


"Kamu pikir aku akan percaya dengan kamu mengatakan aku bau Nia" Semakin gemas Elvan mencium bibir Tania.


"Hahahahah.. Elvan".


"Suara mu Nia".


"Siapa suruh kamu menggelitiki ku".


"Makanya kamu jangan membohongi ku".


"Hahahah.. Maaf".


"Terlambat Nia" Elvan semakin leluasa menciumi setiap anggota tubuh Tania yang sangat jelas di kedua matanya. Kemudian Elvan mencium perut Tania yang sedikit mulai membuncit. "Maafkan Daddy" Lalu ia tersenyum melihat wajah Tania yang merona.


"Tania" Panggilnya.


"Mmmmmm".

__ADS_1


"I Love you".


"I love you too Elvan" Dengan rasa sangat bahagia Tania menarik wajah Elvan dan menciumnya. "Akhirnya kamu mengatakan juga kata-kata yang selama ini ingin aku dengar, terima kasih Elvan, terima kasih sudah mencintai ku dan menerima ku sebagai istri mu".


.


Sekarang telah menunjukkan pukul 9 malam, Elvan dan Tania yang merasa lapar. Mereka segara keluar dari dalam kamar dimana yang lainya sudah pada istirahat. "Aku jadi enggak enak kepada mereka Elvan" Ucap Tania melihat sisa makannya yang tersisa untuk mereka berdua.


"Tidak usah di pikirkan, mereka juga akan mengerti Nia".


"Hhmmsss" Dengus Tania segera melahap makan malamnya dan juga Elvan. "Mmmm, enak juga. Kamu menyukainya Elvan?".


"Mmmmmm".


"Yes.. Akhirnya aku berhasil. Kamu tau enggak siapa yang memasak ini?".


"Kenapa?".


"Ini aku yang masak dengan Sani Elvan. Hahaha, akhirnya aku bisa memasak juga. Kamu tenang saja Elvan, begitu aku mahir memasak aku akan membuat mu makanan enak setiap hari".


"Baiklah.. Aku menunggunya".


"Mmmmmm" Senang Tania.


Setelah mereka berdua merasa kenyang, Elvan mengajak Tania menonton sebuah film sebelum mereka tidur di ruang tamu. "Elvan" Panggil Tania.


"Kenapa Nia?".


"Entah kenapa aku tiba-tiba saja merasakan ke khawatiran".


"Apa yang sedang kamu pikirkan Nia?" Tanya melihat wajah Tania.


"Entahlah, aku juga tidak tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Aku hanya merasa takut saja Elvan".


"Jangan takut Nia, aku selalu ada untuk mu".


Kemudian Tania menyandarkan kepalanya di dada bidang Elvan. "Elvan, aku ingin memberimu sebuah pertanyaan, bisakah kamu menjawabnya dengan apa yang ada dalam hati mu?".


Elvan tersenyum mengusap punggung Tania, "Jangan membuat ku khawatir Nia".


"Aku tak membuat mu khawatir Elvan, aku hanya ingin mengetahui jawaban dari mu saja. Dan maaf, jika aku memberimu pertanyaan yang konyol".


"Sudah hentikan, aku tidak ingin mendengar hal konyol yang ingin kamu lontarkan".


"Yah.. Aku serius Elvan" Kesal Tania memukul lengannya.


"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan Nia?".


"Mmmm.. Jika suatu saat nanti, tiba-tiba aku menghilang atau kamu yang tiba-tiba menghilang. Apa yang harus aku lakukan Elvan?".


"Kamu bicara apa sih Nia?".


"Jawab aku Elvan, aku ingin tahu jawaban kamu apa".


"Sekarang menghilang seperti apa Nia?".


"Menghilang dari mu atau menghilang dari ku".


"Kamu berencana menghilang dari ku?".


"Tidak, aku hanya bertanya saja. Bagaimana jika kejadian itu terjadi".


"Mmmmm" Gumam Elvan.


"Kamu tidak menjawabnya?".


"Tidak, dan itu tidak mungkin akan terjadi Nia".

__ADS_1


"Terserah kamu sajalah" Kesalnya.


__ADS_2