SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 79


__ADS_3

"Kami sebagai warga disini merasa keberatan dengan kedatangan kalian yang tidak kami ketahui..


"Maaf, kami ini pasangan suami istri. Jadi masalahnya apa? tidakkah kalian melihat cincin pernikahan ini" Potong Tania menunjuk jari manisnya.


"Suami istri? kami tidak percaya sebelum kalian menunjukkan..


"Inih" Potong Tania kembali menunjuk foto pernikahannya kepada mereka. "Kalian sudah melihatnya dengan jelas?".


"Jadi kalian ini benar suami istri?".


"Mmmm.. Istri kepala desa juga tadi sudah datang kemari".


"Oohh.. Kalau gitu kami minta maaf ya. Kemarin juga ada sepasang kekasih mengontrak disini, mereka mengaku-ngaku sudah menikah tapi nyatanya mereka belum menikah. Sekali lagi kami minta maaf, untuk berbelanja sesuatu kalian bisa datang ke warung saya yang ada di ujung sana" Tunjuknya kepada Tania.


"Aahh iya" Angguk Tania.


"Permisi" Pergi mereka dari hadapan Tania dan Elvan.


"Iya".


Kemudian Elvan tersenyum menggeleng sambil membawa barang belanjaan mereka masuk kedalam rumah. "Elvan, biar aku saja yang memasak".


"Tidak usah, kamu duduk saja disitu Nia".


"Kalau gitu aku akan membantu mu Elvan. Sekalian aku belajar memasak. Berikan pada ku".


"Inih" Berinya.


"Seperti ini?".


"Hati-hati Nia, kamu harus mengirisnya seperti ini. Kalau tidak, kamu bisa mengiris jari mu sendiri".


"Oohh.. Kamu tenang saja, berikan pisaunya".


"Ini, pelan-pelan saja Nia".


"Iya. Percaya pada ku. Aarrkkhh".


"Tania" Kaget Elvan.


"Elvan tangan ku" Rengek Tania dengan mata berkaca-kaca. "Sakit hiks.. hiks..".


"Aku sudah mengatakan pada mu Nia pelan-pelan saja. Kenapa kamu tidak mendengar ku?" Marahnya sambil menghentikan darah yang masih mengalir dari jari Tania.


"Aaaa.. Elvan sakit hiks.. hiks..".


Begitu darah itu berhenti baru Tania berhenti menangis, "Duduklah, aku mengambil kotak obat dulu".


"Mmmmmm" Angguk Tania melap air matanya.


Setelah itu Elvan mengeluarkan kotak P3K dari dalam kopernya. "Kamu mendapatkannya dari mana Elvan?".


"Aku selalu membawanya Nia" Jawabnya segera mengobati luka Tania. "Selesai. Masih mau mengulanginya lagi?".


"Tidak" Geleng Tania.


"Kalau aku sudah melarang mu harusnya kamu menurut Nia" Ucapnya melap air mata Tania yang masih tersisa.


"Maafkan aku Elvan hiks.. hiks.." Tangis Tania kembali semakin kuat.


"Nia, ada apa?".


"Hiks.. Aku merindukan papa dan mama Elvan hiks.. hiks.. Aku merindukan mereka".


"Mmmm.. Aku tau kamu merindukan mereka Nia. Tapi mereka juga akan sedih melihat mu seperti ini. Kamu mau melihat mereka sedih dari atas sana?".

__ADS_1


"Tidak" Geleng Tania.


"Karna itu jangan menangis lagi, kamu jelek kalau seperti ini".


"Benarkah?".


"Mmmmmm" Senyum Elvan mencium kening Tania. "Jadi jangan menangis lagi".


"Maaf" Tunduk Tania.


"Jangan menunduk seperti ini, kalau kamu menunduk, itu tandanya kamu wanita yang lemah. Padahal Tania yang selama ini aku kenal..


"Hentikan, aku sudah tau apa yang akan kamu katakan" Potong Tania.


"Emang aku mau bilang apa?".


"Sudah sana lanjutkan lagi Elvan. Aku lapar".


Elvan langsung tersenyum lebar melihat wajah Tania yang sangat menggemaskan. "Baiklah, kalau kamu bosan tunggulah di depan rumah".


"Tidak mau, aku ingin melihat mu memasak. Aku sudah pernah berjanji kepada mu waktu itu kalau aku akan bisa memasak dan akan selalu memasakkan makanan yang enak untuk mu".


"Ya sudah terserah kamu saja Nia".


.


Malam harinya Elvan dan Tania telah berada di atas tempat tidur sederhana mereka, meskipun tidak senyaman teman tidur yang selama ini mereka gunakan. Tania tidak mempermasalahkannya asalkan ada Elvan yang selalu menemani tidur panjangnya.


"Elvan" Panggil Tania.


"Mmmm.. Kenapa Nia?".


"Kenapa aku tidak bisa menggunakan kartu kredit ku? kamu juga. Aku penasaran Elvan?".


"Sebenarnya siapa yang kita hindari Elvan?".


Kemudian Elvan mengusap kepala Tania dan menciumnya dengan sayang. "Haruskah aku memberitahu mu Nia yang sebenarnya? tapi aku takut kamu akan membenci ku dan aku tidak suka melihat mu menangis".


"Kenapa Elvan? kenapa aku harus membenci mu?".


"Diluar dugaan mu telah terjadi Nia. Tapi aku belum siap memberitahu mu yang sebenarnya. Tapi aku berjanji akan selalu melindungi mu dari mereka".


"Please Elvan jangan membuat ku penasaran".


"Sudahlah Nia, beri aku waktu. Untuk saat ini sepertinya aku belum bisa".


"Cepat beritahu aku Elvan, supaya aku bisa membantu kamu keluar dari dalam masalah ini".


"Aku mengantuk Nia sebaiknya kita tidur" Peluknya.


"Tidak, aku akan selalu mengganggu mu kalau kamu tidak memberitahu aku yang sebenarnya. Ayo cepat katakan, kalau tida..


"Kalau tidak kenapa Nia?".


"Kalau tidak aku akan tidur diluar".


"Aku tidak akan membiarkan mu tidur diluar Nia".


"Jadi sekarang ayo katakan".


"Tidak Nia".


"Ayo katakan Elvan".


"Tidak Nia".

__ADS_1


"Apa karna kamu akan di jodohkan dengan wanita lain?".


Deng..


Tania tersenyum melihat wajah terkejut Elvan. "Jadi karna itu kamu membawa ku kemari Elvan?".


"Bagaimana bisa kamu tau itu Nia?".


"Mmmm.. Kemarin aku tidak sengaja mendengar percakapan papa dengan seseorang melalui via telpon".


Flashback.


Saat Amira dan Tania berada di dapur membuat kue ringan. "Wah.. Akhirnya berhasil juga ma" Senang Tania.


"Iya sayang. Coba kamu cicipi dulu".


"Iya ma" Tania segera menyicipinya. "Mmmm.. Rasanya sangat enak ma".


"Benarkah sayang?".


"Iya ma".


"Kalau gitu mama akan memberikan ini juga sebagian untuk papa Nia".


"Biar Tania saja yang mengantar keruangan papa ma".


"Kamu yakin sayang? mama enggak ngerepotin kamu?".


"Tidak ma" Jawab Tania segera membawanya keruang kerja Vicky. Namun saat Tania ingin mengetuk pintu ruangan Vicky, tiba-tiba saja ia mendengar Vicky yang sedang menelpon dengan seseorang dan juga Tania yang mendengar kalau Vicky berjanji akan menikahkan Elvan dengan seseorang yang tidak ia kenal.


*****************************


"Tania" Peluk Elvan semakin sayang.


"Siapa mereka Elvan? siapa wanita yang ingin papa jodohkan dengan mu?".


"Putri dari rekan bisnis papa yang ada di amerika tempat aku magang Nia".


"Jadi kamu mengenalnya?".


"Mmmmm".


"Dia cantik?".


"Lebih cantik kamu Nia".


"Kamu pasti berbohong".


"Untuk apa aku membohongi mu Nia?".


"Benarkah kamu mengatakan yang sebenarnya?".


"Iya Tania Firan, aku mengatakan yang sebenarnya".


"Heheheh.. Terima kasih Elvan sudah memilih ku. Itu artinya aku tidak usah khawatir lagi kalau kamu akan meninggalkan ku".


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Tania. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kamu sesuai dengan janji ku kemarin dihadapan Tuhan dan juga di hadapan keluarga mu".


"Astaga" Dengan mata berkaca-kaca Tania langsung memeluknya. "Aku mencintai mu Elvan aku sangat mencintai mu uummcchh.. uummcchhh hehehehe".


"Kamu tertawa tapi kamu menangis".


"Aku menangis karna aku bahagia bisa memiliki mu. Karna mendapatkan seorang Elvan tidaklah mudah".


Elvan tersenyum lebar, "Aku juga bahagia bisa mendapatkan seorang Tania" Peluknya.

__ADS_1


__ADS_2