SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 82


__ADS_3

Hari ini, dengan pakaian rapi Elvan akan masuk kerja pertama kalinya. Lalu ia melihat kearah Tania yang sedang membuatnya secangkir kopi hangat. Dengan senyum mengembang diwajah Elvan ia langsung memeluk Tania dari belakang dengan sayang. "Elvan, aku sedang membuat mu kopi".


"Benarkah, aku tidak melihatnya".


"Inih, semoga kamu menyukainya" Berinya dihadapan Elvan.


"Terima kasih Nia" Minumnya dengan pelan.


"Bagaimana? enak tidak?".


"Mmmm.." Angguk Elvan tampa ekspresi.


"Ck, berikan pada ku, aku akan membuatnya lagi".


"Tidak usah Nia, nanti aku bisa terlambat. Aku berangkat yah" Ciumnya di kening Tania.


"Mmmm.. Hati-hati" Angguk Tania dengan sedih. Setelah itu Tania ikut keluar dari sana sambil melihat Elvan yang kini sudah naik angkot. "Kamu hebat Elvan, aku enggak nyangka dengan dirimu yang terlihat sangat sederhana" Puji Tania.


Kemudian Tania mendudukan diri di atas kursi yang ada di teras rumahnya sambil membuka ponselnya. "Pa, ma, terima kasih banyak sudah menikahkan Tania dengan laki-laki yang tepat. Tania janji pa ma, Tania akan menjadi istri yang baik yang selalu berada di samping Elvan" Senyum Tania memeluk ponselnya. Lalu ia melihat salah satu tetangganya datang menghampirinya.


"Hay" Sapanya.


"Iya" Angguk Tania melihatnya.


"Kenalin aku Desi. Kamu?".


"Tania".


"Oohh.. Boleh aku duduk".


"Iya silahkan. Mau minum kopi mbak?".


"Tidak usah terima kasih Tania. Terus, suami kamu kemana?".


"Baru saja berangkat kerja sekitar 10 menit yang lalu".


"Mmmm.. Sepertinya kalian dari kota?".


"Iya".


"Benar yang aku bilang".


"Hhhmmm?".


"Tidak, aku juga dulunya dari kota setelah aku dan suami ku bercerai".


"Bercerai?".


"Iya, status ku saat ini janda 1 anak di kampung ini".


"Oohh.. Apa kegiatan mbak di sini?".


"Aku kerja di club yang ada di kota. Bagaimana dengan mu? tidakkah kamu membutuhkan pekerjaan? soalnya tempat aku berkerja sedang membutuhkan tenaga kerja wanita".


"Tidak mbak" Jawab Tania menggeleng.


"Lumayan loh bantu-bantu suami".


"Tidak mbak" Tolak Tania lagi.


"Sayang sekali, tempat aku bekerja sangat enak tidak seperti di tempat orang lain. Yakin tidak mau mencobanya 1 hari saja?".


"Iya mbak".

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau? dari pada kamu hanya duduk seperti ini saja tidak ada penghasilan, mendingan kamu bekerja sekalian membantu suami mu mencari nafkah".


"Malahan suami aku akan marah besar mbak kalau sampai suami ku tau kalau aku bekerja apalagi kalau dia tau aku bekerja di club".


"Emang kenapa kalau bekerja di club? tidak ada yang salahkan?. Suami mu bekerja dimana?".


"Dikantor lurah sebagai asisten sekretaris pak kepala desa".


"Apa? ahahahah" Tawa Desi.


"Kenapa mbak?".


"Aahh maaf. Kamu yakin bisa hidup hanya dengan gaji 500 ribu perbulan? bukan lagi biaya makan dan biaya lainnya. Astaga, kamu enggak kasihan sama suami mu? aku udah baik loh nawarin pekerjaan untuk mu".


"Tidak apa-apa mbak meskipun kami hidup hanya dengan uang 500 ribu saja yang penting halal".


Desi kembali tersenyum mengejek Tania. "Baiklah kalau kamu tidak tertarik dengan tawaran ku, aku pergi dulu".


"Iya mbak".


Begitu Desi pergi dari sana, Tania langsung mendengus kesal mengingat perkataan Desi yang membuat kupingnya panas. "Dia pikir aku enggak tau pekerjaan di sana. Eemmkkhh, membayangkannya saja aku jijik. Lebih baik aku hidup dengan upah Elvan yang sedikit dari pada aku memaksakan diri untuk bekerja disana" Masuk Tania kedalam rumahnya.


Sedangkan Elvan yang kini sudah berada di kantor, ia langsung membantu Larisa di dalam ruangannya. "Elvan" Panggil Larisa.


"Iya" Jawab Elvan tampa melihat kearahnya.


"Apa yang sedang kamu kerjakan Elvan? kenapa kamu terlihat sangat serius?" Tanyanya menghampiri Elvan.


"Aahh.. Tidak" Jawab Elvan membuka pekerjaan yang lain.


"Oohh.. Tapi tadi aku melihat kamu serius sekali. Kamu mau minum kopi dengan ku enggak?".


"Tidak, terima kasih".


"Santai saja, aku tau kamu takut karna kamu pekerja baru disini. Jadi serahkan pada ku, ayo".


"Kamu serius enggak mau minum kopi dengan ku?".


"Maaf".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT..


"Iya Zal" Jawab Elvan tampa memperdulikan Larisa yang terlihat kesal kepadanya. Kemudian Larisa mendengus kesal meninggalkan Elvan di ruangan itu.


"Aku sudah mengirim format yang kamu minta ke email mu Elvan".


"Mmmm.. Thank you Zal".


"Iya. Satu lagi Elvan".


"Apa?".


"Om Vicky kemarin mendatangi rumah ku".


"Terus?".


"Dia mencari mu".


"Aahhh" Hela Elvan menarik nafas.


"Kamu tidak usah takut Elvan, aku tidak akan memberitahu keberadaan mu kepada om Vicky meskipun om Vicky mengancam ku".


"Papa mengancam mu?".

__ADS_1


"Mmmmm.. Dan juga Alona dan Jessi sekarang berada di rumah mu".


"Apa? maksud mu mereka ada di indonesia?".


"Iya, aku juga tidak tau maksud tuan Robert mengirim mereka kemari".


"Aaiiisss" Geram Elvan mengepal tangan kanannya. "Zal, bisa aku minta tolong lagi kepada mu?".


"Katakan Elvan?".


"Tolong beritahu aku sesuatu yang terjadi rumah ku".


"Baiklah Elvan. Nanti aku akan memberitahu mu, aku tutup dulu".


"Mmmmm".


Begitu Elvan mematikan ponselnya, ia bukannya mencek e-mail yang baru saja Rizal kirim, Elvan malah memikirkan Alona dan Jessi yang kini berada di rumahnya. "Sedang apa mereka kemari? atau jangan-jangan" Gantung Elvan yang sudah menebaknya.


.


Dihadapan Amira dan juga kakak ipar Elvan mereka berdua tersenyum manis, "Tante, selama kami disini mohon bimbingannya" Ucap Alona.


"Mmmmm" Angguk Amira.


"Terus, selama disini apa yang akan kalian berdua lakukan? bukankah disana pekerjaan kalian banyak?" Tanya Zita yang terlihat tidak suka kepada Alona dan Jessi.


"Kami kemari atas izin papa kok kak" Jawab mereka.


"Terus tante, Elvan kemana? dari tadi kami tidak melihatnya?".


"Tante juga tidak tau Elvan pergi kemana dan istrinya".


"Istrinya?".


"Emang kalian berdua tidak tau kalau Elvan sudah menikah?" Tanya Zita.


"Sudah kak. Kalau gitu kamar kami dimana tante?" Tanya Jessi tak perduli kepada Zita yang terlihat tidak suka kepadanya.


"Ayo ikut tante" Ajak Amira membawa mereka ke lantai dua.


Kemudian Jessi merangkul lengan Amira, "Tante, kamar Elvan dimana?".


"Ada di lantai dua juga".


"Boleh Jessi masuk tante?".


"Maaf ya Jessi, Elvan tidak suka jika orang lain memasuki kamarnya".


"Kok orang lain sih tante? aku kan calon istrinya Elvan".


"Tetap saja. Kecuali kalau Elvan sudah menikahi mu".


"Baiklah, aku akan bersabar sampai Elvan menikahi ku" Senyum Jessi hingga ia melihat sebuah kamar yang baru saja mereka lewati. "Tunggu" Tahan Jessi melihat kearah kamar yang dihadapannya itu. "Apa ini kamar Elvan tante?".


"Mmmm" Angguk Amira.


"Wah.." Senang Jessi melihat Alona yang juga sedang melihat pintu kamar Elvan. Kemudian ia menyeringai merangkul lengan Amira kembali. "Terus, kamar Jessi yang mana tante?".


"Itu" Tunjuk Amira.


"Yang ini?".


"Iya dan sana kamar Alona" Jawab Amira. "Sepertinya kalian terlihat lelah, masuklah dan istirahat".

__ADS_1


"Iya tante, terima kasih banyak".


"Mmmmm" Angguk Amira meninggalkan mereka.


__ADS_2