SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 78


__ADS_3

Kemudian Elvan memberikan ponsel Tania kembali, "Mulai hari ini jangan menerima panggilan dari siapa pun kecuali dari Elma dan Filia".


"Lalu mama?".


"Tidak juga" Jawab Elvan.


"Baiklah, aku tidak akan menerima panggilan dari mereka" Angguk Tania menyimpan ponselnya.


"Bagus" Senyum Elvan.


Setelah hampir 1 jam Elvan dan Tania mencari kontrakan, akhirnya mereka menemukan kontrakan yang cocok untuk mereka berdua tempati, "Kalau kamu merasa kurang nyaman, kita bisa mencari ke tempat yang lain".


"Tidak usah Elvan, aku suka rumah ini meskipun aku kurang sedikit nyaman".


Dengan rasa bersalah, Elvan menarik Tania kedalam pelukannya. "Maafkan aku Nia, aku tidak bermaksud membuat mu menderita seperti ini. Jika tiba saatnya nanti kamu pasti akan tau".


"Tidak apa-apa Elvan. Jadi apa yang akan kita lakukan selama disini? kamu juga melarang ku menggunakan kartu kredit".


"Aku akan mencari pekerjaan untuk kebutuhan mu".


"Lalu bagaimana dengan ku?".


"Kamu dirumah saja".


"Tidak mau, aku akan ikut dengan mu".


"Tidak Nia, kamu sedang hamil".


"Terus kalau aku sedang hamil aku tidak bisa ikut kamu gitu?".


"Mmmm.. Kamu harus dirumah menjaga bayi kita".


"Yah..." Kesal Tania.


"Ayolah Nia, jangan seperti ini terus" Bujuknya.


"Ck, baiklah".


"Harus seperti itu" Senyumnya mengusap kepala Tania.


Tok.. Tok..


"Permisi" Panggil seseorang dari luar pintu.


"Sebentar Nia" Elvan langsung membukan pintu. "Maaf, ada apa ya buk?".


"Pindahan baru yah?".


"Iya".


"Kalian sudah menikah?".


"Mmmmm".


"Bisa tunjukkan indentitas kalian berdua" Mintanya.


"Iya, sebentar" Jawabnya mengeluarkan ktp miliknya dan juga milik Tania dan memberinya kepada wanita separuh baya itu.


"Terima kasih, saya istri kepala desa disini. Karna suami saya ada urusan di luar kota jadi saya sendiri yang turun tangan" Ucapnya mengembalikan kartu identitas milik Elvan dan Tania kembali. "Pasar disini tidak terlalu jauh, jalan kaki juga sampai memakan waktu sekitar 17 menit".


"Jam sekarang masih buka enggak buk?" Tanya Tania.


"Masih, pasar disini jam 6 sore baru tutup".


"Oohh.. Terima kasih ya buk".


"Iya, saya permisi dulu".


"Iya buk" Angguk mereka berdua.


Begitu si istri kepala desa telah pergi, Tania langsung mengajak Elvan ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka dan beberapa potong pakaian. Setibanya mereka di pasar, Tania malah tidak ingin pergi kesana melihat kumuhnya pasar tersebut. "Kenapa Nia?".


"Elvan, sebaiknya kita cari mall saja. Lihatlah pasar ini, kotor sekali".

__ADS_1


"Mall tidak ada disini Nia. Mall hanya ada di kota".


"Terus?".


"Ayo" Tariknya membawa Tania memasuki pasar.


"Aahh Elvan aku enggak mau, disini sangat bau dan juga joro..." Gantung Tania saat pandangan mata tertuju kepadanya. "Elvan".


"Sshhuueettt" Tariknya kembali membawa Tania ke sebuah toko ponsel. "Permisi".


"Iya mas, ada yang bisa kami bantu?" Tanya si penjual handphone dengan senyum manis kepada Elvan yang terlihat sangat tampan.


"Mmmm.. Berikan saya dua ponsel".


"Mau merek apa mas?".


"Merek seperti ini, kalian memilikinya?" Tanya Elvan menunjuk ponselnya.


"Maaf, barang kita terbatas mas. Merek seperti ini kami tidak menjualnya, kami hanya memiliki merek yang ini" Tunjuknya kepada Elvan.


"Yang ini juga tidak apa-apa. Sekalian kartunya juga ya mbak".


"Baiklah mas, tunggu sebentar yah".


"Iya".


"Untuk siapa Elvan?" Tanya Tania.


"Untuk ku".


"Satunya lagi?".


"Untuk mu".


"Kenapa? ponsel ku kan masih baru, kenapa harus diganti? ponsel mu juga baru".


"Supaya tidak ada orang yang tau kita disini Nia. Berikan ponsel mu, selama kita disini aku yang akan memegang ponsel mu".


Kemudian si pegawai toko tersebut tersenyum melihat Tania, "Adiknya ya mas?".


"Istrinya" Jawab Tania.


"Hhhmm? Aaa.. hahahaha.. Saya pikir tadi adiknya".


"Hhmmsss.. Apa dia buta? jelas-jelas dari tadi Elvan menggenggam tangan ku" Kesal Tania dalam hati. "Masih lama ya mbak?".


"Sebentar lagi mbak, ini sudah mau selesai. Mau menggunakan kartu apa mas?".


"Kartu yang sama dengan ini juga".


"Mmmmm" Angguknya segera memasang kartu yang sama. "Selesai. Ini mas, selamat menggunakan ponsel ini".


"Berapa semua?".


"Karna hari ini kami sedang promo, jadi masnya dapat potongan dari toko kami. Total semuanya 5, 3 juta".


"Sebentar".


"Iya mas".


Namun saat Elvan mengeluarkan dompetnya ia tidak memiliki uang kes sebanyak jumlah yang si pegawai toko itu ucapkan. "Kenapa Elvan?" Tanya Tania.


"Aku tidak punya uang kes Nia".


"Ya sudah pakai uang kartu saja Elvan".


"Tidak bisa Nia" Lalu Elvan melihat si pegawai toko. "Maaf, bisakah saya meminjam ponsel mbak?".


"Aahh silahkan" Berinya ditangan Elvan.


"Terima kasih" Elvan segera menghubungi nomor Rizal. "Hallo Zal ini aku Elvan, bisakah kamu mentransfer uang kepada ku?".


"Kenapa Elvan?".

__ADS_1


"Selama disini aku tidak bisa menggunkan kartu ku".


"Mmmm.. Jadi aku mentransfer kemana?".


"Aku akan mengirimnya kepada mu" Elvan mematikan ponselnya. "Berikan nomor rekening toko kalian".


"Inih".


Elvan langsung memfotonya dan mengirimnya kepada Rizal sekalian jumlah yang harus Rizal transfer. "Sudah masuk mas" Ucap si pegawai toko tersebut.


"Terima kasih banyak".


"Sama-sama mas".


.


Setelah hampir 1 jam lebih Elvan dan Tania berada disana. Mereka pun segera kembali pulang begitu kebutuhan yang mereka cari telah dapat. "Elvan aku lelah sekali. Kenapa tidak ada taksi yang lewat dari sini?" Lelah Tania meskipun barang bawaan mereka hanya Elvan yang bawa semua.


"Disini tidak ada taksi Nia, kita naik itu saja" Jawab Elvan menunjuk kearah becak.


"Ya sudah, suruh dia datang kemari".


"Kita kesana saja Nia".


"Aku capek Elvan".


"Kalau gitu kamu tunggu disini".


"Kamu mau kemana?".


"Tunggu saja disini" Ia segera menyebrang kearah si tukang becak yang sedang mangkal di sebrang jalan. "Pak".


"Eekkhh.. Becak dek?".


"Iya pak" Jawab Elvan meletak barang bawaannya didalam becak. "Sebentar ya pak, istri saya masih disana".


"Iya dek".


"Ayok Nia".


"Elvan aku takut nyebrang, mobilnya banyak sekali" Kemudian Elvan mengendong tubuh Tania menyebrangi jalan tersebut hingga mereka berada di sebrang. "Yee.. Terima kasih Elvan uummcchhh" Ciumnya tampa Tania sadari mereka sedang berada dimana.


"Nia" Tegur Elvan.


"Mmmm.. Kenapa?" Tanyanya dengan polos.


"Jangan lakukan disini" Geleng Elvan menunjuk kearah sekitar mereka.


"Astaga.. Hehehe, aku enggak tau Elvan. Maaf" Tunduk Tania kepada mereka yang melihat.


"Kalian pasti bukan orang sini" Ucap si tukang becak itu kepada Elvan dan Tania.


"Iya pak" Jawab Tania tersenyum kaku.


"Maklum saja dan kalian juga lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi disini".


"Iya pak, saya minta maaf".


"Iya naiklah".


.


Hingga kini mereka telah tiba, Elvan dan Tania segera turun dari dalam becak tersebut. "Elvan lihat itu, kenapa mereka ramai-ramai di depan rumah kita?".


"Tidak tau" Jawab Elvan menggeleng. Lalu ia membayar ongkos becak mereka.


"Maaf, kalian ini siapa?" Tanya Tania melihat mereka.


"Kalian orang baru disini yah?".


"Iya".


Lalu mereka melihat pakaian Tania yang sedikit ketat dan perut Tania yang sudah membuncit membuat mereka berpikiran aneh terhadap Elvan dan Tania.

__ADS_1


__ADS_2