SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 64


__ADS_3

Hingga kini Elvan dan Tania telah berada di ruangan dokter kandungan. Dengan senyum mengembang di wajah Elvan dan Tania, mereka saling menggenggam satu sama lain melihat layar monitor dimana sang buah hati mereka terlihat disana. "Untuk sekarang, posisi bayinya baik-baik saja" Ucap si dokter.


"Syukurlah" Senang Elvan.


Setelah mereka keluar dari rumah sakit, Elvan segera membawa Tania pulang kerumah tampa ingin singgah ke tempat lain lagi. Sesampainya mereka di rumah, Elma dan Filia langsung berlari kearah Tania dan memeluknya. "Selamat ulang tahun Tania Firan. Sehat selalu dan panjang umur dan juga calon keponakan kita" Senyum Elma.


"Amin, terima kasih banyak yah. Kalian berdua memang sahabat terbaik aku. Lalu mana kado untuk ku?".


"Ayok ikut kami" Ajak Filia menarik tangannya kearah sofa. "Duduklah" Filia mengeluarkan sebuah kotak besar. "Ini Nia kado dari kami berdua, semoga kamu menyukainya".


"Aku penasaran, boleh aku membukanya?".


"Bukalah" Angguknya.


Tania membukanya sendiri, sedangkan yang lainnya melihat ia membuka kado pemberian dari kedua sahabatnya. Begitu Tania berhasil membukanya, dengan mata berbinar-binar ia melihat Elma dan Filia secara bergantian. "Pakaian bayi?".


"Mmmm.. Di dalamnya ada 2 jenis pakaian Nia, yang pakaian laki-laki dari Elma dan pakaian perempuan dari ku. Bagaimana? kamu menyukai kado dari kami?".


"Suka banget Lia. Mmmm, kalian memang yang terbaik buat aku, thank you thank you" Peluknya lagi di tubuh Elma dan Filia.


"Iya Nia" Angguk mereka.


.


Didalam kamar, Tania tek henti-hentinya tersenyum senang melihat kado pemberian dari Elma dan Filia. "Elvan, pakaian ini mungil-mungil sekali hingga aku tak berhenti tersenyum senang" Ucapnya kepada Elvan yang berada disampingnya, tetapi Elvan yang sedang sibuk dengan ponselnya membuat Tania terlihat kesal. "Hhmmm.. Tidak ada berubahnya" Batin Tania.


Hampir 20 menit Tania menunggu Elvan meletakkan ponselnya, namun Elvan masih saja asik dengan ponselnya. Dengan wajah cemberut Tania meninggalkannya menuju balkon yang ada di dalam kamar mereka. "Kamu mau kemana?" Tanya Elvan.


"Cari angin".


"Ini sudah malam Nia, nanti kamu masuk Angin".


"Hanya sebentar saja" Tania tetap melanjutkan langkahnya. "Dasar laki-laki enggak pekak, teruslah dengan ponsel mu dan tidak usah perdulikan aku".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Iya Alona" Jawab Elvan.


Deng..


"Alona" Gumam Tania mendengar Elvan menyebut nama Alona. Kemudian ia melirik kearah Elvan yang sedang menjawab telponan. "Iikkhh.. Siapa lagi sih yang mengganggunya? kenapa? kenapa harus Elvan" Teriak Tania dalam hati.


Tania yang merasa sakit, ia memutuskan untuk langsung tidur tampa ingin menghirup udara segar, "Dasar laki-laki playboy, udah tau istri lagi hamil. Tapi dia masih sempat-sempat ya dengan wanita lain hiks.. hiks.. Bahkan suara Elvan terdengar sangat lembut, sedangkan pada ku dia selalu dengan gaya cool ya".


Setelah Elvan selesai menelpon, ia kemudian melihat kearah tempat tidur dimana Tania yang berada di bawah selimut dengan semua tubuh yang di tutupi. Lalu Elvan menghampiri Tania, "Nia" Panggilnya.

__ADS_1


"Mmmmm".


"Nia, maaf. Aku harus kembali".


"Mmmmm".


"Kamu baik-baik saja Nia?".


"Mmmmm".


"Nia, lihat aku".


"Aku ngantuk Elvan, pergilah jika kamu ingin pergi" Tania semakin meremas selimutnya.


"Maafkan aku Tania" Ia segera pergi dari sana hingga Tania tidak mendengar suara Elvan lagi. Sedangkan anggota keluar yang belum tidur melihat Elvan menuruni anak tangga dengan langkah buru-buru membuat mereka keheranan.


"Elvan" Panggil Amira.


"Ma, Elvan harus pergi. Titip Tania ya ma" Ucapnya.


"Kenapa harus buru-buru sayang?".


"Maaf ma, Elvan tidak punya banyak waktu. Elvan berangkat" Perginya dari sana.


"Mama juga enggak tau Pa, Elvan cuman berkata kalau dia tidak punya banyak waktu lagi" Jawab Amira. Lalu ia melihat ke lantai atas dimana Tania yang sedang berada di dalam kamar.


Tok.. Tok..


"Nia, ini mama. Kamu ada didalam sayang?" Tanyanya. Tetapi tidak ada jawaban dari Tania.


Tok.. Tok..


"Nia, mama masuk ya sayang".


Ceklek!.


Dengan langkah pelan Amira memasuki kamar itu. Ia melihat kearah tempat tidur dimana Amira yang mendengar suara tangisan dari bawah selimut, "Tania" Panggilnya dengan lembut. Lalu Amira menyibak selimut tersebut.


"Hiks.. Hiks..." Air mata yang bercucuran dari kedua mata Tania membuat hati Amira sakit. Kemudian ia memeluk Tania dengan sayang, seandainya jika posisi Tania ada padanya. Ia juka akan merasakan hal yang sama.


"Sayang" Usapnya di kepala Tania. "Kamu yang kuat ya sayang. Maafkan anak mama harus pergi seperti ini, tolong maafkan anak mama ya sayang".


"Ma hiks.. hiks.." Semakin tangis Tania di hadapan Amira.


"Iya sayang" Angguk Amira.

__ADS_1


"Elvan jahat ma, Elvan sangat jahat hiks.. hiks..".


.


Setibanya Elvan di Amerika, ia segera menuju perusahaan TQ group dimana para pejabat lainnya telah berada di ruang meeting.


"Elvan" Panggil Alona.


"Mmmm" Elvan menghampiri Alona yang sedang menunggunya di depan ruang meeting.


"Kamu dari mana saja Elvan? kenapa kamu tidak berada di hotel".


"Aku liburan, apa semuanya sudah berada di dalam?".


"Mmmm.. Ayo masuk" Ajaknya masuk duluan.


Begitu mereka semua telah berada di dalam ruang meeting. Robert selaku pemilik perusahaan TQ group memulai meeting tersebut. "Maaf, saya harus melakukan meeting mendadak di jam segini karna ada hal penting yang ingin saya bicarakan. 1 minggu ini proyek harus di hentikan".


"Apa?" Kaget mereka.


"Mmmm.. Kita kekurangan Dana".


"Maaf tuan Robert. Bagaimana bisa kita kekurangan Dana? sedangkan kita semua selalu mencairkan dana untuk pembangunan ini. Ini saja pembangun sudah sangat terlambat, apalagi harus berhenti selama 1 minggu".


"Setuju tuan Robert. Ada apa ini sebenarnya?" Tanya yang lainnya.


Kemudian James angkat bicara, "Kalau Dana kita kurang, jalan satu-satunya yaitu kita harus menaikkan harga saham?" Ucap James.


"Apa? menaikkan harga saham?" Kaget mereka.


"Saya rasa itu ide yang bagus" Angguk Steven.


"Kalau saya kurang setuju jika harga saham naik" Ujar yang lainnya.


"Kalau gitu kita harus mengambil suara siapa yang paling banyak supaya kita tau mengambil keputusan" Angguk Mark.


"Saya rasa begitu" Angguk Robert.


Sedangan Elvan yang mendengar dan juga melihat belum mengeluarkan sepata kata, ia masih fokus mencerna setiap dari perkataan mereka. "Jika harga saham naik, maka mereka" Batin Elvan melihat James yang sedang tersenyum senang. "Aku merasa sesuatu sedang terjadi".


Setelah pemungutan suara terjadi, namun Elvan yang masih berpikir belum mengeluarkan suara hingga semua pandangan mata tertuju kepadanya. "Saudara Elvan, tolong berikan kami keputusan".


Elvan kamudian menarik nafas panjang lalu ia melihat Robert yang sedang menanti jawaban darinya. "Jika pembangunan diberhentikan selama 1 minggu, maka pembangunan semakin lama. Jadi saya setuju jika harga sama naik" Jawabnya.


"Apa..?. Bagaimana bisa kamu setuju jika harga saham naik sedangkan ke untungkan belum kita dapatkan" Berontak mereka kepada Elvan.

__ADS_1


__ADS_2