
Setibanya Tania di kampus, ia sedikit terlambat dimana dosen yang mengajar di kelasnya telah berada di ruangan.
Tok.. Tok..
"Pagi pak, maaf saya terlambat" Senyum Tania sedikit takut.
"Kamu tau ini sudah jam berapa?".
"Tau pak".
"Dan kamu tau kamu sudah telat berapa menit?".
"Tau pak".
"Lalu kenapa kamu masih berani untuk masuk di jam mata kuliah saya? kamu pikir saya seperti dosen lainnya hhmmm?".
"Maaf pak, lain kali saya tidak akan mengulangi ya lagi".
"Maaf-maaf, kebiasaan mahasiswa jaman sekarang seperti ini. Saya tidak terima maaf kamu, sekarang kamu keluar".
"Please pak untuk kali ini saja biarkan saya masuk".
"Keluar" Bentaknya.
Hingga sebuah tangan menarik pergelangan tangan Tania, "Kalau dia sudah menyuruh mu keluar kamu harus keluar".
"Elvan" Senyum Tania melihatnya.
"Ayo".
"Kamu kok bisa ada disini, bukanya kamu tadi berangkat duluan?" Tanyanya mengikuti langkah kaki Elvan.
"Mmmmm".
Hingga kini Elvan dan Tania berada di taman belakang kampus, "Kamu sudah sarapan?".
"Belum, tadi aku enggak sempat serapan dari rumah" Geleng Tania.
"Makanlah, tadi aku membelinya".
"Mmmm.. Kamu baik banget sih Elvan. Makasih yah" Senang Tania segera melahapnya.
Begitu Tania selesai menikmati sarapannya, ia langsung membuang sampahnya ke tong sampah, sedangkan Elvan yang duduk disamping Tania, ia tampak sangat menikmati cuaca tersebut dan earphone yang menempel di kedua telinganya.
"Elvan.. " Senyum Tania.
Kemudian Elvan melihat Tania yang juga sedang menatapnya dengan senyum mengembang diwajah Tania, "Kenapa kamu tersenyum sepeti itu?".
"Hhmmm? aahh tidak" Geleng Tania.
"Kamu sudah kenyang?".
"Iya, rasanya juga sangat ena..
"Inih" Potong Elvan memberikan sebelah earphone ya ditelinga Tania.
Hanya di perlakukan seperti ini saja tapi hati Tania merasa sangat bahagia, "Jantung, ayo dong jantung kenapa kamu harus lebay seperti ini sih?" Teriak Tania dalam hati.
Setelah 1 mata kuliah hampir habis, Elvan dan Tania masih menikmati cuaca pagi disana, namun tiba-tiba saja ponsel Elvan berdering dan membuat ia melepaskan earphone tersebut dari ponselnya. "Siapa Elvan?".
Bukannya menjawab pertanyaan Tania, Elvan malah pergi meninggalkan Tania.
"Elvan kamu mau kemana?" Elvan pun langsung menghentikan langkahnya, lalu ia melihat kearah Tania kembali yang sedang melihatnya, "Kamu mau kemana?".
"Kamu mau ikut aku?".
__ADS_1
"Mmmm" Angguk Tania.
"Ayo, aku tidak punya banyak waktu" Tariknya menggenggam tangan Tania.
Tampa banyak bertanya Tania dengan senang hati mengikuti Elvan kemana pun Elvan akan membawanya. "Kamu saja yang menggunakan helm ini, cepat naik".
"Iya" Naiknya di sepeda motor butut Elvan. Saat dalam perjalanan Tania tampak mengerutkan keningnya, "Ini bukannya jalan menuju bandara? sedang apa Elvan kemari?" Batin Tania tampa ingin bertanya.
Setibanya mereka di bandara, "Nia" Panggil Elvan menatap manik mata Tania.
"Iya Elvan, ada apa?".
Kemudian Elvan menghela nafas, "Ayo" Genggam ya kembali ditangan Tania.
"Ada apa dengan ya?" Batin Tania lagi yang semakin penasaran dengan alasan Elvan membawanya ke bandara.
Setibanya mereka di depan pintu tunggu, Tania langsung membulatkan kedua matanya melihat wanita cantik yang sedang tersenyum kearah Elvan. "OMG.. Itu bukannya Fayola mantan kekasih ya Elvan?".
"Elvan" Teriak Fayola sangat bahagia begitu ia melihat Elvan yang benar-benar datang menemuinya dan tampa perduli dengan siapa wanita yang berada di sebelahnya Fayola langsung memeluk tubuh Elvan cukup erat.
DDUUAARR..
Bagaikan disambar petir di siang bolong Tania memalingkan wajahnya sambil berusaha melepaskan tangannya, namun Elvan malah semakin erat menggenggam tangan Tania.
"Yola" Elvan berusaha melepaskan pelukan Fayola.
Fayola menggeleng, "Biarkan aku seperti ini Elvan, setidaknya untuk terakhir kalinya aku memeluk mu" Elvan pun pasrah dan membiarkan Fayola memeluk tubuhnya sampai Fayola merasa puas.
Begitu Fayola merasa puas, ia segera melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Elvan yang tidak seperti dulunya lagi saat ia dan Elvan berpacaran. "Aku pergi Elvan" Kemudian Fayola melihat kearah tangan Elvan yang masih menggenggam tangan Tania.
"Kamu" Lihatnya kearah Tania.
"Mmmmm" Gumam Tania melap air matanya.
"Hhmmm?".
"Mmmm.. Elvan sudah memberitahu ku kalau kamu dan dia sudah menikah. Tapi meskipun demikian aku tau kalau Elvan masih mencintai ku dan rasa cintanya lebih besar kepada ku dari pada dirimu".
"Apa Elvan memberitahu mu?".
"Mmmmm".
Flashback.
Begitu mata kuliah Varrel selesai, Elvan langsung keluar dari dalam kelasnya saat Fayola yang sedang menunggunya di depan pintu gerbang kampus, "Yola, apa yang sedang kamu lakukan disini? bukannya kamu sudah berangkat?".
"Aku menundanya Elvan. Ayo, bisakah kamu membawa ku berjalan-jalan hari ini sebelum aku berangkat".
"Tapi..
"Ku mohon Elvan" Melas Fayola seperti biasanya ia lakukan kepada Elvan.
"Baiklah, tunggu sebentar" Elvan segera mengeluarkan sepeda motornya. "Naiklah".
"Mmmmm" Peluk Fayola dengan erat.
Sepanjang perjalan Fayola sekali-kali melepaskan pelukannya dan itu membuat Elvan khawatir, "Aku tidak akan jatuh Elvan, fokuslah membawa motor mu".
"Aku tidak bisa fokus membawa motor ini kalau kamu tidak memeluk ku Yola".
"Tidak apa-apa Elvan".
Hingga kini Elvan dan Fayola tengah berada di sebuah danau yang sangat indah, dimana dulunya Elvan dan dirinya sering menghabiskan waktu bersama disana. "Wah.. Danau ini masih saja seperti dulu Elvan setelah hampir 5 bulan lamanya kita berpisah" Senyum Fayola.
"Mmmmmm" Angguk Elvan setuju.
__ADS_1
"Besok aku akan berangkat ke amerika Elvan".
"Semoga operasi mu berjalan dengan lancar".
"Mmmmm.. Terima kasih Elvan".
"Lalu bagaimana dengan suami mu? apa dia akan mengantar mu?".
"Tidak, sebenarnya dia telah bersikeras untuk mengantar ku, tapi aku menolaknya".
"Kenapa? bukankah kamu sangat membutuhkan dia berada di samping mu".
"Iya, tapi aku tidak mau jadi penghalang pekerjaan dia".
"Kamu ada-ada saja. Apa kamu masih belum bisa menerimanya?".
"Mmmm.. Menghapus mu dari hati ku tidak mudah Elvan".
"Lalu, apa kamu akan seperti ini terus?".
"Tidak tau" Jawab Fayola menatap lurus kearah Danau tersebut.
"Yola" Panggil Elvan.
"Kenapa?" Lihatnya.
"Sebenarnya..
"Mmmmm?".
"Sebenarnya aku juga sudah menikah Yola".
"Lalu?" Kini kedua mata Fayola telah berkaca-kaca.
"Maafkan aku" Tunduknya.
"Sejak kapan Elvan?".
"Satu bulan setelah kamu menikah".
"Siapa wanita itu? apa dia lebih cantik dari ku?".
"Mmmmm" Angguk Elvan.
"Haahh.. Ternyata dia lebih cantik dari ku".
"Kamu juga mengenal yah".
"Siapa wanita yang telah merebut mu dari aku Elvan?".
"Tania".
"Apa? Tania yang selalu menggilai mu selama ini?".
"Mmmmmm".
"Wah.. Dia benar-benar sangat beruntung sekali bisa mendapatkan Elvan ku".
"Maafkan aku Yola".
"Tidak apa-apa" Angguk Fayola melap air matanya yang sedari tadi mengalir. "Lagian aku juga yang duluan berhianat dan memilih menikahi pria lain".
***************
Kemudian Tania menatap Elvan, "Kalau gitu aku berangkat dulu, pesawat ku sebentar lagi akan terbang" Perginya meninggalkan Elvan dan Tania bersama dengan satu pelayan yang ia bawa.
__ADS_1