SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 21


__ADS_3

Setelah itu mereka bertiga langsung berjalan menuju kantin dimana para mahasiswa lainnya sedang mengisi perutnya masing-masing.


"Biar aku yang pesan, kalian mau makan apa?" Tanya Filia.


"Nasi goreng Lia, kamu El?".


"Ketoprak Lia".


"Mmmmm.. Kalian tunggu disini ya" Ujarnya segera memesan makanan mereka.


Kemudian Elma melihat sang sahabat, "Kamu yakin mau pindah kampus Nia? dan tolong berikan kami alasan kenapa kamu sampai mau pindah kampus".


"Maafkan aku Elma, kamu tau sendirikan masalah ku banyak sekali sama dosen disini, jadi aku memutuskan untuk pindah kampus saja".


"Jadi itu alasan kamu mau pindah dari sini Nia? bukan alasan yang lainnya?. Aku dengar-dengar dari orang lainnya Elvan katanya akan dikeluarkan dari kampus ini".


"Mmmmm.. Buat saja itu salah satu alasannya El heheheh" Tawanya.


"Ya ampun Nia, jadi kamu lebih memilih mengikuti Elvan dari pada menetap disini bersama kami?".


"Maafkan aku Elma, tapi diluar itu aku punya alasan yang kuat untuk keluar dari kampus ini".


"Kalau kamu ada masalah Nia harusnya kamu cerita sama kami, bukan jadi membuat keputusan seperti ini. Itu tandanya kamu tidak pernah menganggap kami ada".


"Yah.. Jangan seperti itu dong El, suatu saat nanti aku akan cerita sama kalian berdua, tapi tolong jangan sekarang yah, aku belum siap menceritakan sama kalian berdua".


Elma langsung menarik nafas panjang melihat sang sahabat, "Terus kalau kamu pindah nanti apa kamu akan melupakan kamu berdua?".


"Hahahaha.. Tentu saja tidak Elma, kamu ada-ada saja, mana mungkin aku melupakan kalian berdua yang sudah lama berteman dengan ku".


"Aku akan memegang kata-kata mu Nia, awas saja kalau kamu menghianati kami berdua" Ancamnya.


"Iya Elma, itu Lia sudah datang" Tunjuknya bangkit berdiri. "Aku bantu Lia" Ucapnya mengambil dari atas nampan.


"Thank you Nia" Duduknya diatas kursinya.


Tania pun segera melahap nasi gorengnya, "Selamat makan semuanya".


.


Di ruang akademik, Elvan sedang mengurus surat pindahnya bersama dengan Tania. "Jadi kamu benar-benar akan pindah Elvan?" Tanyanya dengan sedih.


"Iya pak" Jawabnya.


"Tidak bisakah kamu bertahan dikampus ini Elvan? kamu tau sendiri kan kalau kamu itu salah satu kebanggan di kampus ini".


"Maafkan saya pak" Ucapnya tampa memberikan jawaban yang banyak.


"Hhhmmmsss" Helanya. "Baiklah kalau kamu benar-benar ingin pindah dari sini, bapak harap dikampus baru mu nanti kamu tetap berprestasi seperti biasanya kamu disini".


"Iya pak".


"Lalu siapa yang satunya ini? kenapa kamu yang mengurus surat pindahnya?" Tanyanaya melihat berkas Tania. "Tunggu.. Tania Firan?" Gumamnya memperhatikan gambar Tania. "Sepertinya aku mengetahui nama belakangnya" Kemudian ia melihat Elvan kembali.


"Tolong jangan bertanya privasi orang pak" Ucapnya menghentikannya.


"Dia siapa mu? apa dia kekasih mu?".

__ADS_1


"Lebih dari itu" Jawabnya sedikit kesal melihat si pengurus berkas tersebut.


"Lebih dari itu? maksudnya?" Tanyanya semakin penasaran.


"Ck".


"Baiklah-baiklah kamu tidak usah kesal seperti itu Elvan, sebenarnya bapak tau siapa Tania sebenarnya. bapak hanya penasaran saja sebesar apa kamu mengakui Tania sebagai istri kamu".


"Hhhmmm?" Kagetnya.


"Hahahha.. Kamu pikir bapak enggak tau kalau dia istri kamu Elvan? hahahhaha.. Di hari pernikahan mu saja bapak hadir".


"Mmmmm" Gumamnya.


"Tania itu sebenarnya keponakan bapak, cuman sudah sedikit jauh" Curhatnya. Setelah ia selesai menandatangi berkas tersebut, "Inih, tolong jaga dia dimana pun kalian berdua kuliah nantinya".


"Iya pak, terima kasih banyak".


"Sama-sama".


"Permisi".


"Mmmmm".


Begitu Elvan keluar dari dalam sana, ia segera memasuki kelasnya dimana Fayola sedang menunggunya di depan kelas. "Itu apa Elvan?" Tanyanya melihat tangan kananya.


"Tidak ada apa-apa" Jawabnya.


"Aku mau bicara sebentar, ayo ikut aku" Jalannya menuju atap atas.


"Maaf, aku tidak bisa" Ucap Elvan memasuki ruangannya.


Setelah itu Elvan memasukkan berkasnya kedalam tas, lalu ia pergi meninggalkan mereka semua tampa mengucapkan sepata dua kata untuk teman-teman satu kelasnya.


"Elvan" Teriak Fayola sangat marah.


"Ada apa?" Tanya melihat Fayola.


"Kamu benar-benar sudah berubah yah Elvan" Gelengnya melihat Elvan yang sudah bersikap dingin kepadanya.


"Aku sedang sibuk Yola, jadi aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan mu".


"Apa? tidak punya waktu mengobrol dengan ku? kamu benar-bena..


"Maaf" Potong Elvan langsung meninggalkannya.


"Aarrkkhh.. Elvan tunggu" Teriaknya. "Elvan" Teriaknya kembali semakin sangat marah.


Sedangkan dari kejauhan Tania dan kedua sahabatnya pun ikut melihat sikap Elvan yang kasar kepada Fayola.


"Itu bukannya Fayola yah? yang kemarin menikah dengan pengusaha kaya raya itu" Tanya Elma melihat punggung Fayola yang bergetar.


"Iya Itu Fayola, tapi kenapa dia memanggil-manggil Elvan yah seperti orang berpacaran saja" Sambung Filia.


"Entahlah" Jawab Tania pura-pura tidak tau. "Ayok, sebentar lagi dosen kita mau masuk" Ajaknya menghentikan kedua sahabatnya itu yang sedang memperhatikan Fayola menangis.


"Mmmmm" Angguk mereka.

__ADS_1


.


Kini Elvan telah berada di salah satu kampus yang juga sangat terkenal seperti kampus yang baru ia tinggalkan.


"Atas nama Elvan Sandoro dan juga Tania Firan, apa itu kamu orang ya?" Tanya si pengurus tersebut melihat Elvan.


"Iya buk" Jawabnya.


"Lalu orang yang bernama Tania dimana orangnya?" Tanyanya kembali melihat berkas Tania.


"Dia tidak bisa hadir buk".


"Kenapa dia tidak bisa hadir".


"Dia masih berada di kampus mengikuti pembelajaran terakhirnya".


"Mmmmm" Gumamnya.


"Melihat dari berkas mu ini, sepertinya kamu mahasiswa pintar yang berprestasi, apa itu benar?".


"Saya tidak bisa mengatakan kalau saya mahasiswa pintar yang berprestasi".


"Kenapa? bukankah semua mahasiswa suka ya kalau di puji?".


"Saya tidak suka memberikan harapan palsu".


"Mmmmm.. Saya mengerti maksud kamu" Angguknya. "Lalu kamu mau dikelas mana?".


"Terserah mau dimana saja, asalkan satu kelas bersama dengan wanita itu" Jawab Elvan melihat berkas Tania.


"Dengan wanita ini?".


"Mmmmm".


Ia tersenyum, "Apa dia kekasih mu sampai kamu tidak ingin pisah dengan ya".


"Bisa dibilang".


"Ckckck.. Mahasiswa jaman sekarang ya, sampai dalam kuliah pun mereka tidak ingin dipisah. Baiklah, kelas yang kekurangan mahasiswa berada di kelas manajemen E, apa kamu tidak keberatan?".


"Saya tidak keberatan buk".


"Ya sudah, besok pagi kalian berdua bisa langsung masuk kuliah seperti biasanya" Ucapnya menyimpan berkas mereka.


"Terima kasih buk, kalau gitu saya permisi dulu" .


"Mmmmm".


Sekeluarnya Elvan dari sana, ia segera menuju parkiran dimana ia memarkirkan sepeda motor bututnya. "Woi.. Mahasiswa baru disini yah?" Ujar salah satu sekelompok mahasiswa disana.


"Mmmmm" Gumamnya.


"Sombong sekali kamu Boy, kamu enggak tau kita siapa yah disini?" Tawanya mengejek Elvan.


"Saya tidak perlu tau kalian siapa disini" Jawabnya mengeluarkan sepeda motornya.


"Haahhhh" Seringai mereka. "Untuk hari ini kami ingin berbaik hati untuk murid pindahan, jadi kamu bisa pergi".

__ADS_1


Elvan pun langsung menjalankan motor bututnya meninggalkan mereka.


"Hahahahhaha" Tawa mereka kembali melihat Elvan yang sudah menjauh. "Bisalah dia untuk beli rokok kita".


__ADS_2