
Sepulang dari rumah sakit, kini Elvan telah berada di dalam kamarnya. Kemudian ia menatap kertas pemberian terakhir Fayola. "Apa yang sedang kamu tulis Yola? kenapa di saat terakhir mu aku tidak bisa mendengar suara mu?" Elvan kembali meneteskan air matanya. Lalu ia mencoba membaca surat terakhir dari Fayola.
Dear Elvan.
Elvan, ini aku Fayola. Jika surat ini sudah berada ditangan mu, itu tandanya aku telah pergi jauh dari mu. Elvan, sebenarnya aku selama ini telah membohongi mu😢 selama ini aku telah mengidap sakit kangker otak stadium 3, namun aku mencoba untuk menutupinya dari mu dan juga kedua orang tua ku. Maafkan aku Elvan baru memberitahu mu, maafkan aku memberitahu melalui surat ini. Semoga pernikahan mu dan Tania sampai maut memisahkan kalian. I love you.
Dengan perasaan hancur, Elvan meremas kertas putih yang berada ditangannya. "Aarrrkkhhhh" Teriaknya.
.
Sore harinya Tania telah kembali dari rumah sakit ditemani oleh kedua sahabatnya yaitu Elma dan Filia.
"Nia" Panggil Elma.
"Mmmm.. Ada apa El?" Tanyanya melihat Elma.
"Kamu udah tau kabar ini enggak? Fayola dari manajemen A semester kita sudah meninggal dunia jam 7 malam di amerika".
"Apa?" Kaget Tania dengan mata membulat. "Kamu serius El, kamu enggak lagi bercanda kan?".
"Iya Nia, aku serius. Nama dia lagi tranding di kampus kita. Iya enggak Lia?".
"Iya Nia. Tapi kita belum tau pasti apa penyebab Fayola meninggal. Cuman banyak yang berkata kalau Fayola tertekan batin dengan suami milloder ya itu dan ada juga yang mengatakan kalau Fayola sakit. Jadi kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi".
"Astaga. Lalu bagaimana dengan mayatnya? apa tubuh Fayola dibawa kembali ke Indonesia?".
"Iya Nia, mayat Fayola sudah berada di rumahnya" Angguk kedua sahabatnya. "Jangan bilang kamu ingin menjenguknya? tidak bisa Nia, ingat kamu sedang mengandung. Jadi kamu tidak boleh kesana".
"Kenapa?".
"Intinya tidak boleh Nia. Kalau kamu bersikeras, kami akan melaporkan mu kepada Elvan" Ancam mereka.
"Baiklah" Angguk Tania meskipun ia ingin sekali menemui Fayola untuk terakhir kalinya.
"Mmmm.. Kamu istirahatlah, kami akan menemani mu disini".
"Terima kasih ya" Senyum Tania membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Iya Nia" Begitu Tania memejamkan kedua matanya. Elma dan Filia menunggunya diatas sofa yang berada di dalam kamar Tania sambil menyalakan televisi.
Namun Tania yang masih kepikiran dengan Fayola membuat ia tidak mampu tertidur, "Bagaimana dengan Elvan? apa dia baik-baik saja? Aakkhhh.. Jerry dan Rizal pasti sudah memberitahunya".
"Ada apa Nia? kenapa kamu belum tidur?" Tanya Filia melihat Tania yang membuka kedua matanya.
"Aku tidak bisa tidur Lia" Sedih Tania.
"Kenapa?" Tanyanya menghampiri Tania.
"Enggak tau Lia, aku masih saja kepikiran dengan Fayola".
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Jangan buat kita semua khawatir dengan kondisi kamu yang sekarang ini".
"Aku merindukan Elvan Lia..
__ADS_1
"Kamu mau aku menelponnya?" Potong Elma menunjuk ponselnya.
Tania menggeleng.
"Bukankah kamu merindukannya?".
"Mmmm.. Tapi dia pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya".
"Kamu ada-ada saja Nia. Emang Elvan lebih mementingkan pekerjaannya dari pada kamu?".
"Tetap saja Elma. Aku sudah mengantuk, kalian juga tidurlah. Ini sudah jam 8 malam" Baringnya kembali.
"Terserah kamu saja. Selamat tidur Nia, mimpi indah".
"Mmmmm" Gumam Tania.
.
Sedangkan Elvan yang kini sedang berada di lapangan membuat ia tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Ada apa dengan dia?" Gumam si pria tua itu melihat Elvan hingga kini ia tengah melihat seorang karyawan dari atas sedang memegang batu besar tepat di bawah Elvan. "Tuan awas..." Teriaknya mendorong tubuh Elvan.
BBBRRAAKKK..
"Aahhh.." Kaget Elvan.
"Tuan baik-baik saja?" Khawatirnya melihat wajah Elvan yang memucat.
"Saya tidak tau tuan" Jawabnya berbohong.
"Kenapa kamu tidak ingin memberitahu ku? kamu takut kepada mereka?".
"Maaf tuan, saya mengatakan yang sebenarnya".
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja" Elvan segera meninggalkan ya.
Kemudian seseorang datang menemui si pria tua ia, "Kamu" Panggilnya.
"Iya pak" Jawabnya menunduk.
"Sejak kapan kamu dekat dengan ya?".
"Maaf" Bingungnya melihat si mandor tersebut.
"Jika kamu masih ingin bekerja disini lagi, maka jangan pernah kamu mencampuri urusan atasan mu. Kamu mengerti?" Tegasnya.
"Iya pak" Angguknya.
"Sana kembali berkerja" Usirnya melihat punggung si pria tua itu. "Dasar tidak tau di untung" Gumamnya. Sedangkan Elvan yang kini tengah berada di ruangannya memikirkan kejadian itu kembali saat ia melihat seseorang dari balik tembok tengah memperhatikan mereka berdua.
"Pelan-pelan saja Elvan, sepertinya mereka sedang berusaha mencelakai mu" Lalu Elvan meninggalkan ruangannya menuju kantor pusat. Tetapi ia tidak langsung menuju ruangannya melainkan Elvan menuju ruangan Alona.
Tok.. Tok..
__ADS_1
"Masuk" Jawab Alona yang sedang sibuk dengan berkasnya.
Ceklek!.
"Sepertinya kamu sedang sibuk. Apa aku menggangu mu?".
"Elvan" Senyum Alona. "Aku tidak sedang sibuk kok. Ayo duduk Elvan, aku akan membuatkan kopi untuk mu" Ucapnya menyuruh Elvan duduk.
"Tidak usah repot-repot Alona. Terima kasih".
"Mmmmm.. Oohh iya Elvan, terima kasih ya untuk semalam".
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Elvan pura-pura tidak tahu.
"Terima kasih telah membawa ku ke hotel dan....." Gantungnya melihat Elvan yang sedang menanti perkataanya.
"Dan apa Alona?".
"Dan selama aku mabuk, apa aku ada berkata diluar.." Gantungnya kembali.
"Mmmmm.. Semalam kamu mengatakan kepada ku kalau kamu menyukai ku".
"Benarkah itu saja?".
"Lalu apa lagi?".
"Hahahha.. Tidak ada, lupakan saja Elvan".
"Mmmmm" Angguknya. "Aku pikir kamu serius mengatakannya".
"Ya?".
"Tidak, lupakan juga".
"Iikhh, kamu nyebelin tau Elvan".
"Kok nyebelin sih Alona?" Senyumnya. Padahal dalam hati Elvan, "Kenapa aku jadi selebay ini dengan wanita dewasa yang berada di hadapan ku ini".
"Ini Elvan" Ucap Alona memberikan beberapa lembar uang dihadapan Elvan.
"Ini apa?".
"Itu uang untuk minuman anggur ku dan juga bayar hotel ku".
"Tidak usah, kamu simpan kembali saja uang ini" Tolak Elvan menggeser uang tersebut.
"Kenapa Elvan? aku tidak memberi mu uang secara cuma-cuma. Uang ini untuk anggur yang telah aku minum dan juga bayar hotel ku".
"Aahh.. Kamu telah membuat ku merasa tersinggung, baiklah jika kamu memaksa ku menerima uang ini, maka aku akan mengambilnya. Tetapi aku memutuskan kalau kita tidak akan pernah bertemu kembali".
"Kenapa? aku tidak ada maksud untuk merendahkan kamu Elvan. Aku memberikan uang ini dengan ikhlas, berarti tidak ada yang salahkan?".
"Mmmmm" Angguk Elvan segera meninggalkan ruangan Alona.
__ADS_1