
"Papa" Kaget Tania melihat Vicky.
Kemudian Vicky mendekati mereka, "Kamu siapa berani menampar putra ku?" Tanya Vicky sangat tajam kepada si rektor.
"OMG" Kaget mereka semua saat Vicky mengatakan Elvan adalah putranya.
"Jadi anda orang tuanya anak ini?".
"Iya, dia putra saya. Ada hak apa kamu berani menamparnya? saya sendiri sebagai orang tuanya tidak pernah menyakiti sekujur tubuhnya, sedangkan kamu yang tidak siapa-siapa berani menampar putra ku, saya sebagai orang tua tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja" Lalu ia melihat asistennya.
"Bawa kasus ini ke jalur hukum".
"Baik tuan".
"Wah.. Ternyata Elvan anak orang kaya gays, pantas saja style dia seperti anak orang kaya terus, dan teryata Elvan benar-benar anak orang kaya"
"Iya, untung saja kita kemarin belum melakukan apa-apa, kalau tidak tamat kita semua" Sambung yang lainnya.
Kemudian Elvan melihat Vicky, "Tolong hentikan pah, tolong jangan melakukan apa-apa, Elvan mohon" Ucapnya dengan tatapan sayu.
"Mau ditaruh dimana wajah papa Elvan? sejak kapan keluarga Sondoro dipermalukan seperti ini di depan para mahasiswa" Marahnya.
"Elvan mohon pa, mungkin Elvan tidak pernah papa lihat sampai memohon seperti ini di depan umum, jadi tolong papa jangan lakukan itu".
"Hhaaahhhh" Helanya melihat Elvan dan juga Deska. "Kamu, apa kamu korban dari amukan dia?" Tanyanya melihat Deska. Namun bukannya menjawab, Deska hanya bisa diam dan menunduk. "Saya yakin, kamu pasti melakukan kesalahan yang sangat besar sampai membuat anak saya semarah ini, karna dia bukanlah tipikal anak yang mau seperti itu".
"Minta maaflah kepada dia, kalau tidak maka saya akan membawa mu ke kantor polisi, untuk mecari tahu apa masalah mu dengan Elvan".
"Tidak usah pak, maafkan Elvan" Ujarnya langsung membawa Tania pergi dari sana.
Dan ikut membuat mereka semua keheranan melihat Elvan yang menarik tangannya Tania, "Astaga.. Elvan pasti tidak sadar dia menarik tangan siapa?".
"Kamu selamat" Sinisnya melihat Deska. Setelah itu Vicky melihat sang rektor, orang tuan Deska dan para dosen yang berada disana. "Ternyata dia anak kamu".
"Ma-maafkan anak saya tuan, tolong maafkan anak saya" Tunduknya sangat malu.
"Ajarin anak kamu itu supaya menghargai orang lain, jangan karna anak saya selama ini menggunakan motor bututnya kalian semua jadi melihatnya sebelah mata, sebagai orang tua saya tidak terima. Apa kalian mengerti?".
"Dan kamu" Lihatnya ke si rektor. "Selama 24 jam, kalau kamu tidak minta maaf pada anak saya, maka saya akan menarik semua saham saya disini" Ucapnya meninggalkan mereka.
"Astaga.. Orang tua ya Elvan tegas sekali yah sampai membuat ku merinding seperti ini" Ujar para mahasiswa itu lagi.
"Iya, papa ya Elvan terlihat sangat marah sekali, tapi aku suka cara dia membela anaknya. Menurutku papa ya Elvan sangat keren".
"Keren dari mana?".
"Ya iyalah.. Jarang-jarang loh orang tua seperti itu mau membela anak ya".
"Tapi memang iya sih, setau ku Elvan itu anak yang baik meskipun dia dingin. Jadi enggak mungkin Elvan menyerang Deska tampa sebab, iya bukan?".
"Mmmmm.. Seperti yang papa Elvan ucapkan tadi, anakku tidak mungkin memukuli mu seperti ini kalau bukan Deska telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Tapi kesalahan apa yah yang telah dilakukan Deska sampai membuat Elvan se marah itu?".
"Iya, aku juga penasaran, kira-kira gara apa yah".
__ADS_1
.
Di taman belakang kampus, Elvan dan Tania sedang berada disana. "Duduklah" Ucapnya.
"Mmmm" Angguknya.
"Minum ini".
"Terima kasih".
Begitu juga dengan Elvan yang ikut mendudukan dirinya diatas kursi panjang, "Apa kamu mau pindah kampus?".
"Hhhmmm? kenapa?".
"Apa kamu masih nyaman kuliah disini?".
"Tidak sih" Jawabnya. "Tapi bagaimana dengan teman-teman ku? mereka akan kecewa mendengar ku pindah kampus".
"Terserah kamu saja, saran aku sebaiknya kita pindah dari sini".
"Apa? kita? astaga.. Aku enggak salah dengarkan kalau Elvan baru saja bilang kita" Batin Tania tersenyum senang.
"Apa kamu sudah memikirkannya?".
"Mmmmm".
"Mmmmm.. Apa?".
"Aku mau pindah dari sini" Jawabnya.
"Iya" Angguknya segera pergi dari sana.
Saat berjalan, Tania tak henti-hentinya tersenyum senang. "Astaga, Elvan semakin hari semakin baik saja" Senangnya.
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab si dosen yang mengajar di dalam kelasnya.
Ceklek!!
"Pagi buk" Sapanya. "Maaf saya terlambat buk".
"Mmmm.. Masuklah".
"Terima kasih buk" Masuknya menuju kursinya.
"Sshhuueettt.. Semalam kamu kenapa tidak masuk Nia?" Tanya Filia dari belakang.
"Semalam aku kurang enak badan Lia" Jawabnya.
"Jadi sekarang apa kamu sudah baik-baik saja?".
"Mmmmmm".
__ADS_1
dan tampa mereka sadari si dosen telah memperhatikan mereka. "Kalian berdua lagi gosip-in apa haahhhh?".
"Astaga.. Mampus kita Nia" Ujar Filia.
"Kamu sih Nia, maaf buk kita tidak lagi ngegosip kok" Jawabnya tersenyum.
"Lalu kalian berdua ngobrolin apa?".
"Itu buk, Lia nanya kenapa semalam saya tidak masuk".
"Terus?".
"Saya jawab kalau semalam saya kurang enak badan buk".
"Jadi kalian berdua sudah selesai mengobrol? kalau tidak ibu akan menunggu sampai kalian berdua selesai mengobrol".
"Maafkan kami buk" Tunduknya.
"Hhhmmsss" Dengusnya. "Kebiasaan mahasiswa jaman sekarang, dosen mengajar mahasiswa ya juga ikut mengajar dibelakang, mau jadi apa kalian ini kedepannya?".
.
Sehabisnya jam mata kuliah mereka, Tania mengajak Filia dan Elma mengobrol sebentar sebelum mereka ke kantin. "Besok aku akan pindah kampus?".
"Apa?" Kaget mereka berdua dengan mata membulat.
"Iya, maafkan aku yah".
"Ta-tapi kenapa kamu sampai pindah kampus Nia? apa ada sesuatu yang mengganggu mu atau karna Elvan?".
"Hhhmmm?" Kagetnya.
"Iya Nia, Elvan sedang ada kasus dikampus ini, semalam Elvan memukuli Deska sampai babak belur, pokoknya Elvan bringas sekali" Ucap Elma.
"Bahkan tadi pagi juga Elvan melanjutkan memukuli tubuh Deska, ya ampun Elvan sangat menyeramkan sekali lah Nia" Sambung Filia.
"Kalian pilih siapa diantara mereka berdua?".
"Kalau aku sih di pihak Elvan, aku yakin Elvan bukanlah pria bringas yang semudah itu memukuli Deska kalau bukan Deska duluan yang memulainya".
"Aku juga berpikir seperti itu El, tapi aku kasihan juga sih melihat Deska sampai loyot seperti itu, kamu di pihak mana Nia?".
"Tentu saja Elvan" Jawabnya. "Aku yakin, pria kurang ajar itu pasti Deska, kalau bukan Deska enggak mungkin Elvan sampai marah seperti itu, bahkan mencakapi orang saja Elvan tidak pernah kalau bukan orang terdekatnya" Batinnya.
"Tentu saja Nia memilih Elvan, aku enggak suka melihat Deska" Ujar Elma.
"Kenapa El?".
"Aku benci saat dia menatap ku dan juga saat dia menatap mahasiswi lainnya".
"Mmmmm.. Deska adalah pria kurang ajar yang pantas dilenyapkan dari muka bumi ini".
"Kok kamu berkata seperti itu Nia? kamu tau sendiri kan kalau Deska itu suka sama kamu".
__ADS_1
"Saya tidak perduli, yang penting aku tidak menyukainya Lia" Geramnya.