SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 80


__ADS_3

Pagi harinya di kantor, begitu Chiko mendapatkan panggilan dari orang suruhan ia untuk selalu memantau Elvan selama berada di luar negeri. Chiko langsung memasuki ruangan presdir, "Pa" Panggilnya melihat Vicky yang sedang menandatangi berkas-berkasnya.


"Ada apa Chiko?".


"Elvan pa. Elvan tidak berada di amerika lagi, dan sudah 2 hari Elvan tidak mendatangi perusahaan".


"Apa?".


"Iya pa".


"Lalu kemana Elvan pergi? kamu sudah menghubunginya?".


"Aku juga tidak tau pa, aku sudah beberapa kali menghubungi Elvan, tapi nomornya tidak aktif".


"Coba hubungi Tania".


"Iya pa" Chiko segera menghubungi nomor Tania. "Maaf, nomor yang ada tujuh sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan".


"Bagaimana Chiko?".


"Tidak aktif pa. Hhmmsss, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Elvan tiba-tiba menghilang dan nomornya juga tidak bisa di hubungi".


"Coba telpon mama dan tanya dia sedang bersama dengan Tania atau tidak".


"Iya pa" Chiko langsung menghubungi Amira.


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT...


"Kenapa?" Tanya Vicky.


"Mama tidak mengangkat ya pa".


"Coba lagi".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT..


"Iya Chiko" Jawab Amira mengangkat ponselnya.


"Mama lagi dimana? apa mama saat ini sedang bersama dengan Tania?".


"Mama tidak sedang bersama dengan Tania, kemarin Tania mengatakan kalau dia pergi liburan dengan temannya".


"Kemana mereka pergi ma?".


"Mama tidak tahu Chiko. Kenapa?".


"Tidak ma. Kalau gitu Chiko tutup dulu ya ma".


"Iya".


"Apa yang mama katakan Chiko?".


"Tania tidak sedang bersama dengan mama pa, katanya dia pergi liburan bersama dengan temannya".


"Lalau kemana Elvan pergi?".


"Aku juga tidak tau pa. Tapi aku akan menyuruh orang suruhan ku untuk mencari keberadaan Elvan pa".


"Mmmm.. Lakukan secepat mungkin, jangan sampai ada kesalahan".


"Iya pak" Angguk Chiko keluar dari sana.


Kemudian Vicky menatap keluar jendela kaca ruangannya.


.


Sedangkan Amira yang sedang berada di butik membuat ia memikirkan keadaan Elvan dan juga Tania yang tidak ia ketahui keberadaannya saat ini. "Hhmmsss.. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Elvan kembali dari luar negeri dan membawa Tania pergi".


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT...


"Hallo, siapa?" Tanya Amira mengangkat ponselnya.


"Ma, ini Elvan".

__ADS_1


"Elvan?" Kaget Amira sedikit meninggikan suaranya.


"Mama di butik?".


"Iya sayang. Apa kabar kalian berdua? kakak kamu baru saja menelpon mama, dia mencari Tania".


"Mama tidak memberitahu yang sebenarnya kan?".


"Tidak sayang, mama mengatakan kalau Tania sedang pergi liburan bersama dengan teman-temannya".


"Terima kasih ma dan maafkan Elvan ma sudah membuat mama berbohong".


"Tidak apa-apa sayang. Tapi seharusnya kamu memberitahu mama yang sebenarnya Elvan supaya mama bisa membantu mu".


"Ceritanya sangat panjang ma, Elvan takut membuat mama khawatir dan marah".


"Maksud kamu apa sayang? jangan membuat mama penasaran. Ayo ceritakan sama mama".


"Baiklah ma" Jawab Elvan menarik nafas panjang menatap sekitarnya. "Papa ma, papa mencoba menikahkan Elvan lagi dengan putri rekan bisnis papa yang ada di amerika".


"Apa?" Kaget Amira meremas pakaiannya.


"Iya ma. Gara-gara itu Elvan meninggalkan amerika dan membawa Tania pergi dari sana".


"Papa kamu sudah keterlaluan, berani-beraninya dia memanfaatkan putra mama hanya untuk kepuasaan dia. Kamu tenang saja sayang, mama tidak akan membiarkan papa kamu melakukan hal itu".


"Terima kasih ma".


"Iya sayang, tolong lindungi Tania dan juga cucu mama".


"Iya ma dan jangan lupa hapus panggilan telpon kita".


"Iya sayang".


"Elvan tutup dulu ma".


"Mmmmmm" Angguk Amira meremas ponselnya. Ia benar-benar enggak habis pikir dengan pikiran Vicky yang ingin menikahkan Elvan dengan wanita lain lagi.


.


"Ada apa Nia?".


"Aku ikut Elvan, aku takut sendiri dirumah".


"Diluar panas Nia".


"Tidak apa-apa Elvan asalkan aku ikut yah.. Please" Mohon Tania.


"Jangan banyak melawan Nia, kamu dirumah saja".


"Tidak mau, aku tidak suka tinggal dirumah sendiri. Jadi aku akan ikut dengan mu" Jalanya duluan.


"Tania".


"Aku tidak mendengar mu Elvan".


"Tania" Panggilnya lagi.


"Aku tidak mendengar mu Elvan Aarrkkhhh Aku tidak mendengar mu".


"Hhhmmsss" Dengus Elvan melihat keras kepala Tania. "Kalau gitu gunakan topi ini" Berinya dikepala Tania.


"Lalu untuk mu?".


"Tidak usah" Jawabnya.


"Hehehe.. Maaf" Senang Tania merangkul lengan kiri Elvan. "Ayo" Jalan mereka mencari pekerjaan. "Oohh iya Elvan, kamu kan pintar masak. Kenapa kita tidak membuat restoran saja disini?".


"Ide yang bagus Nia, tapi aku tidak punya banyak waktu mengolahnya".


"Kenapa?".


"Perusahaan mu membutuhkan aku, jadi aku tidak punya banyak waktu membuat restoran disini".

__ADS_1


"Kok perusahaan aku sih Elvan? kenapa tidak perusahaan kita berdua saja. Itukan peninggalan papa untuk kita berdua dan masa depan kita".


"Iya Tania" Senyum Elvan.


"Lalu kamu mau mencari pekerjaan seperti apa Elvan?".


"Kantor kelurahan, disana aku bisa menggunakan fasilitas mereka".


"Mmmmmmm" Angguk Tania.


Setibanya mereka disana, Elvan dan Tania memasuki kantor tersebut. "Permisi" Ucap Elvan kepada si petugas yang berjaga disana.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?".


"Saya sedang mencari pekerjaan, disini ada lowongan?".


"Sebentar yah, saya tanya dulu ke kades".


"Iya" Angguk Elvan menunggu disana.


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT...


"Siapa Elvan?".


"Rizal Nia. Hallo Zal" Jawab Elvan mengangkat panggilan dari Rizal.


"Elvan, aku sudah berada di perusahaan AE group. Selama aku berada disini apa yang harus aku lakukan?".


"Berikan aku informasi setiap hari dan selalu awasi orang-orang yang berkuasa disana. Bagaimana dengan Jerry?".


"Dia juga sudah berada disini".


"Thank you Zal, aku mengandalkan kalian berdua".


"Mmmm.. Kalau kamu butuh sesuatu cepat beritahu aku. Kamu memiliki uang? kalau tidak aku akan mentransfernya kepada mu".


"Tidak usah Zal, ini aku sedang mencari pekerjaan".


"Elvan" Beritahu Tania ketika ia melihat si kades menghampiri mereka.


"Zal, aku tutup dulu" Ia segera memasukkan ponselnya kedalam sakunya. "Pak" Senyum Elvan.


"Aahh iya. Silahkan duduk".


"Terima kasih pak" Duduknya disamping Tania.


"Sebenarnya kami tidak sedang membutuhkan tenaga kerja, tapi melihat kamu yang datang kemari dengan penampilan sangat rapi membuat saya tertarik dengan kamu. Keahlian apa yang kamu miliki? sepertinya sekretaris saya membutuhkan seseorang membantunya".


"Maaf pak, sekretaris bapak perempuan atau laki-laki?" Tanya Tania penasaran.


"Ya?".


Tania tersenyum, "Itu pak...


"Karyawan baru pak?" Potong seseorang dari belakang si kades.


"Aahh ini dia sekretaris saya namanya Larisa. Kalau kamu tidak keberatan kamu bisa bekerja sama dengannya".


"OMG" Kaget Larisa melihat ketampanan Elvan tampa ia sadari Tania yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Yah.." Kesal Tania menegur Larisa.


"Hhmmmm?".


"Tania" Senyum Elvan menghentikannya.


"Dia siapa?" Tanya Larisa kepada si kades.


"Tidak tau" Jawabnya. "Sepertinya dia istrinya".


"Apa?" Lihatnya kearah Elvan. "Dia istri kamu?".


"Iya" Jawabnya.

__ADS_1


"Hhhmmsss" Dengusnya terlihat kesal melihat Tania.


__ADS_2