SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 85


__ADS_3

Begitu Elvan berangkat kerja, Tania segera membersihkan bekas piring kotornya. Setelah ia selesai, Tania mendatangi warung yang berada di depan rumahnya.


"Ibu" Sapa Tania.


"Iya" Jawabnya sedikit jutek.


"Eekkhh, pindahan baru itu yah?" Tanya salah satu pelanggan disana.


"Iya buk" Angguk Tania tersenyum.


"Mau belanja".


"Iya buk".


"Tapi disini enggak boleh ngutang loh".


"Saya enggak mau ngutang kok buk".


"Oohhh" Gumamnya. "Mau masak apa? disini bagian ikan basah".


"Aahh iya" Tania segera memilih ikan-ikan segar yang akan ia masak untuk Elvan. "Buk, saya ngambil yang ini" Ucap Tania memberikan kepada si pemilik warung.


"Mau berapa?".


"Itu berapa buk?".


"Setengah kilo".


"Itu saja buk".


"Sayur enggak? cabai atau yang lainnya".


"Sebentar, saya pilih dulu buk".


Sedangkan ibu-ibu yang sedang memperhatikan dirinya sedari tadi membuat ia sedikit risih, "Mereka sedang apa sih dari tadi melihat ku seperti itu terus?" Batin Tania. Lalu ia memberi sayur, cabai, tomat dan bawangnya kepada si pemilik itu. "Berapa semua buk?".


"37 ribu".


"Kok murah sekali buk, itu serius harganya segitu?".


"Mau ditambah?".


"Tidak, itu sudah cukup".


"Ckckc.. Sombong sekali dia" Bisik-bisik ibu-ibu yang berada samping belakang Tania.


"Ada apa ya buk? dari tadi ibu-ibu semua terlihat tidak suka sama saya? bahkan saya mendengar kalian membisikkan saya. Kalau tidak suka, langsung bilang saja buk enggak usah bisik-bisik sana sini kemari" Ujar Tania yang terlihat kesal.


Kemudian si pemilik warung mengembalikan kembalian uang milik Tania. "Terima kasih buk" Perginya.


"Kalian sih, ada orangnya malah asik gosip dibelakangnya".


"Abis orangnya sombong sekali. Kita semua tidak suka, udah tau pendatang baru".


"Tidak baik juga seperti itu, tidak sopan".


"Hhmmsss" Dengus mereka.


Tania yang kini telah berada di rumahnya masih terlihat geram dengan ibu-ibu tetangganya. "Mereka semua kurang kerjaan sekali ngurusin hidup orang lain. Suka-suka saya dong, mau saya hidup susah atau tidak, kok jadi mereka yang nyinyir".


Lalu Tania mengambil ponselnya, "Untuk memasak aku perlu bantuan YouTube. Mari kita mulai, pertama ikannya di bersihin, terus masukan minyak goreng. Kalau sudah panas baru ikannya di masuk-kin. Wah, ternyata seperti ini" Senang Tania melihat ikannya. Namun tampa ia sadari tiba-tiba saja minyak tersebut meletus yang mengakibat percikan minyak mengenai tangannya


"Aarrkkhhh.. Sakit-sakit" Rengek Tania melonjak kaget. "Eeiiss.. Tangan ku, aarrkkhh.. Tangan ku pedih sekali" Ia segera membasuhnya, tetapi rasa pedihnya masih terasa.


.


Siang harinya, Tania langsung mengantar makan siang untuk Elvan. "Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya si petugas keamanan disana.


"Iya pak, Elvan ada didalam?".

__ADS_1


"Elvan, maksudnya karyawan baru itu?".


"Iya pak. Bisa panggilkan dia sebentar?".


"Iya nona tunggu sebentar, silahkan duduk dulu".


"Terima kasih pak" Senyum Tania.


Tok.. Tok..


"Permisi, saudara Elvan" Panggilnya melihat Elvan yang sedang fokus dengan komputernya.


"Ada apa Pak?" Tanya Larisa.


"Seseorang menunggunya di luar" Jawabnya.


"Iya" Elvan langsung bangkit berdiri dari atas kursinya. "Ini sudah waktunya, saya duluan istirahat" Ucapnya keluar dari sana.


"Siapa sih yang datang mencarinya?" Gumam Larisa penasaran mengikutinya dari belakang.


"Elvan" Senyum Tania melambaikan tangannya.


"Nia, kenapa kamu datang kemari?".


"Membawa ini, makan siang untuk mu. Ayo, kantinnya dimana?".


"Disana" Ajaknya membawa Tania kearah kantin. "Buk, teh manis dingin dua" Ucap Elvan kepada si pemilik kantin.


"Iya" Jawabnya.


"Ayo duduk Nia".


"Mmmm" Duduknya.


"Kamu masak Nia?".


"Iya, begitu kamu berangkat kerja tadi aku langsung belanja di warung depan rumah dan menyiapkan menu ini untuk kamu".


"Tadi terkena percikan minyak goreng Elvan saat menggoreng ikannya".


"Astaga Tania, kalau kamu tidak bisa kenapa harus dilakukan. Sekarang kita kerumah sakit".


"Terus ini?".


"Biarkan saja" Kemudian Elvan menitip bekal makan siangnya kepada si pemilik kantin. "Rumah sakit disini dimana buk?".


"Disini tidak ada rumah sakit, yang ada itu hanya klinik".


"Terima kasih buk".


"Iya, teh manisnya dinginnya enggak jadi?".


"Nanti buk setelah kami pulang".


"Mmmmm" Angguknya.


Sekarang Elvan dan Tania sudah berada di klinik, "Sus, dokter kulit ada?" Tanya Elvan.


"Hhhmmm?".


"Dokter kulit".


"Aahh maaf, disini tidak ada dokter kulit" Jawabnya tersenyum melihat ketampanan Elvan.


"Kalau gitu, bisakah suster memberikan salep yang paling ampun untuk tangan istri saya ini?".


"Hhmm.. Ternyata sudah menikah toh" Batinnya memperhatikan Tania. "Kami tidak memiliki salep ampuh, tapi kami memiliki ini yang membuat lukanya tidak berbekas".


"Ya sudah, berikan" Minta Elvan.

__ADS_1


"Inih".


Elvan segera mengolesnya di tangan Tania dengan lembut, "Masih panas Nia?".


"Hhmm? bagaimana bisa kamu tau Elvan kalau rasanya panas?".


"Aku juga pernah merasakannya waktu pertama kali aku bekerja di restoran".


"Oohh.. Tapi ini rasanya sangat enak Elvan, dingin-dingin gimana gitu" Senyum Tania.


"Baguslah" Begitu ia selesai mengolesnya di tangan Tania. "Saya mengambil dua lagi, berapa semuanya?".


"Satu biji itu harganya 250 ribu kalau mau ngambil tiga totalnya 750 ribu" Jawabnya.


Elvan mengeluarkan dompetnya dan memberinya beberapa lembar uang merah dihadapannya. "Total semua 750 dan kembalian 50 ribu lagi. Inih, terima kasih banyak ya".


"Sama-sama" Mereka meninggalkan klinik tersebut. "Jangan disentuh ya Nia".


"Iya".


Setelah mereka kembali dari klinik, "Elvan" Panggil Larisa.


"Mmmm.. Kenapa?".


"Kamu di panggil kades keruangannya".


"Iya. Nia, kamu tunggu aku di warung itu yah".


"Iya".


Elvan langsung memasuki ruangan kepala desa.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawabnya.


Ceklek!.


"Duduklah".


"Terima kasih pak".


Sedangkan Tania dan Larisa yang berada di kantin membuat Tania mengerutkan keningnya melihat tatapan mata Larisa yang sedari tadi melihatnya. "Kenapa kamu melihat saya seperti itu?".


"Ayo katakan, bagaimana bisa kamu menikahi Elvan?".


"Terus?".


"Ya sudah jawab".


"Kalau saya enggak mau jawab?".


Larisa menyeringai melihat Tania, "Aku merasa heran, bagaimana bisa wanita seperti kamu menikahi Elvan? sedangkan wanita seperti kamu banyak diluar sana".


"Maksud kamu?".


"Mmmm.. Soal kecantikan saya rasa saya lebih cantik dari pada kamu, pendidikan, pekerjaan dan juga status kita yang jauh berbeda".


"Haahhh.. Hahahah.. Sepertinya kamu tidak punya cermin di rumah mu yah? ckckck sayang sekali, apa saya perlu membelikan cermin untuk mu?".


"Kurang ajar, berani-berani ya kamu berkata seperti sama saya. Kamu tidak tau siapa saya haahhh?" Geramnya melihat Tania.


"Saya tidak perlu tau kamu siapa? dan enggak mau tau. Sudah sana pergi, saya mau makan siang dengan suami saya".


"Suami? haahh lihat saja kedepannya, dia masih suami mu atau tidak".


"Ck, terserah kamu saja. Buruan sana pergi, saya tidak ingin berlama-lama melihat mu".


"Aarrkkhhh" Semakin geram Larisa meninggalkan Tania.

__ADS_1


"Enggak tau diri banget sih. Kamu enggak tau siapa saya haahh? emang aku perduli kamu mau siapa dan anak siapa" Geleng Tania sambil meniru gaya bicara Larisa.


__ADS_2