
Kemudian Rizal mendekati Elvan, "Ada apa Elvan? kenapa kamu menangis seperti ini? selama kita berteman aku tidak pernah melihat mu menangis. Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan penasaran.
Lalu Elvan tersenyum melihat Rizal dan Jerry, "Bereskan barang kalian, hari ini juga kita akan kembali ke indonesia".
"Elvan" Bentak Rizal. "Maksud kamu sekarang apa?".
"Aaahhh... Hhmmsss.. Aku tidak tahu mau menjelaskan dari mana Zal. Ayo kita pulang, aku butuh ketenangan saat ini" Jawab Elvan menuruni tempat tidurnya.
"Tunggu" Tahan Rizal.
"Mmmmm?".
BBBUUNNGGHHH..
"Aaahhh" Senyum Elvan begitu ia mendapatkan satu pukulan dari Rizal. "Pukul aku sekali lagi Zal, sepertinya aku membutuhkan pukulan mu".
BBBUUNNGGGHHH..
"Sudah Zal, hentikan" Tahan Jerry saat Rizal ingin memukul Elvan berulang kali. "Biarkan Elvan tenang dulu, kita tidak tahu apa yang terjadi".
"Aarrkkhhh" Geram Rizal mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian ia melihat Elvan yang masih berada di hadapannya. "Maafkan aku Elvan" Peluknya. "Jika kamu punya masalah atau sesuatu tengah terjadi, bukankah seharusnya kamu memberitahu kami berdua? maka kamu tidak akan sendirian menghadapi masalah mu. Lihatlah, kamu bukan lagi Elvan yang kami kenal selama ini. Elvan yang kami lihat sekarang sudah berubah menjadi Elvan yang tidak berdaya. Sekarang katakan, apa yang terjadi?".
Elvan tersenyum lagi dengan kesedihannya. "Aku lelah, yang selama ini aku percayai dan aku cintai adalah unsur dari semuanya".
"Maksud kamu Elvan?" Tanya Jerry.
"Papa, ternyata papa ku ada di balik ini semua" Jawab Elvan mengusap wajahnya kasar.
"Apa?" Kaget mereka berdua. "Jadi, om Vicky ada di balik ini juga?".
"Mmmmm".
"Kamu tau dari mana Elvan?".
Flashback.
Setelah Elvan mematikan ponsel begitu ia selesai menelpon Vicky. Kemudian ponselnya berdering kembali, "Kak Chiko" Gumam Elvan mengangkat ponselnya. "Iya kak...
"Lalu apa yang akan papa lakukan? Elvan bukan lagi anak kecil yang papa lihat selama ini. Bahkan sekarang Elvan sudah mengetahui kalau papa dan tuan Robert..
"Sudah Chiko, bagian itu kamu tidak usah khawatir. Yang papa khawatirkan saat ini jika Elvan mengetahui kematian keluarga Tania yang mengalami kecelakaan tidak alami".
"Ck, papa tenang saja. Elvan tidak akan pernah mengetahui kasus itu dan pihak polisi juga sudah menutupnya. Jadi kapan papa berencana menikahkan Elvan dengan putri tuan Robert?".
"Setelah Elvan kembali ke indonesia".
"Lalu bagaimana dengan Tania?".
"Dia akan menerimanya".
"Bagaimana kalau Tania menolaknya pa?".
"Dia masih anak kecil, jadi Tania tidak akan menolaknya".
__ADS_1
"Mmmmm" Angguk Chiko mengerti.
******************************
Mendengar cerita Elvan membuat Rizal dan Jerry geram. Mereka tidak habis pikir dengan orang tuan Elvan dan juga kakak laki-laki yang terlihat sangat baik padahal itu semua bohong.
"Elvan, masalah keluarga mu kami tidak bisa ikut campur. Tapi, jika kamu butuh bantuan kami kamu bisa memintanya, kami siap membantu mu" Ucap Jerry memeluk Elvan.
"Terima kasih kalian sudah ada untuk ku" Balas Elvan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan Elvan?" Tanya Rizal.
"Hhmmsss.. Tidak tahu, yang aku pikirkan saat ini kembali pulang ke indonesia tampa sepengetahuan mereka".
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu Elvan, hari ini juga kita kembali ke indo".
"Maafkan aku"
"Tidak apa-apa Elvan".
.
Sekarang Elvan Rizal dan Jerry telah tiba di bandara internasional tampa sepengetahuan keluarganya. "Kalian pulang lah duluan" Ucap Elvan.
"Lalu bagaimana dengan mu Elvan?".
"Jangan khawatirkan aku".
"Baiklah" Angguk mereka berdua meninggalkan Elvan.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Eemmkkhhh.. Iya Elvan" Jawab Tania mengangkat ponselnya.
"Kamu masih tidur Nia?"
"Mmmmm.. Ini sudah jam berapa? kenapa aku mengantuk sekali?".
"Ini sudah jam 6 pagi. Ayo bangun Nia".
"Ada apa Elvan?" Bangunnya melihat kearah jendela kaca. "Masih gelap, kamu baru pulang kerja?".
"Nia, bisakah kamu menghampiri ku ke bandara tampa sepengetahuan mereka?".
"Hhhmmm?" Kaget Tania. "Maksud kamu apa Elvan?".
"Aku di bandara Nia datanglah kemari".
"Kamu serius Elvan?".
"Iya, cepatlah aku menunggu mu. Dan satu lagi Nia, jangan menggunakan mobil rumah, kamu pesan taksi saja".
"Baiklah aku akan kesana" Dengan senyum mengembang diwajah Tania, ia memesan ojek online. Setelah ojek tersebut berada di depan mension Tania segera berangkat keluar dari dalam kamar tampa sepengetahuan anggota keluarga yang masih tidur kecuali pelayan yang sudah bekerja. "Pak, tolong buka gerbangnya" Ucap Tania kepada security yang bertugas di kediaman Sandoro.
__ADS_1
"Nona, mau kemana pagi-pagi seperti ini?" Tanyanya melihat jam 6 pagi lewat 15 menit.
"Saya ada urusan sebentar pak".
"Lalu kenapa nona tidak menggunakan mobil saja?".
"Saya di jemput teman pak" Jawab Tania pura-pura menerima telpon. "Iya Elma, aku sudah berada di depan gerbang. tunggu sebentar yah. Ayo pak di buka, teman saya sudah menunggu di depan".
"Baiklah nona" Angguknya segera membuka pintu gerbang.
"Terima kasih ya pak".
"Sama-sama nona, hati-hati dijalan".
"Iya pak" Senyum Tania langsung keluar dari kediaman Sandoro. "Ayo bang" Naiknya keatas sepeda motor tersebut tampa sepengetahuan security tadi.
"Bandara nona?".
"Iya bang, buruan yah".
"Baik nona" Angguknya segera menjalankan sepeda motornya menuju bandara internasional dimana Elvan yang sedang menunggunya disana.
Setelah menghabiskan waktu selama 36 menit perjalanan, kini mereka telah tiba di bandara. "Ini bang, terima kasih banyaknya".
"Kembaliannya nona".
"Kembaliannya ambil saja bang" Perginya meninggalkan si tukang ojek tersebut sambil mencari-cari keberadaan Elvan.
DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT..
"Kamu dimana Elvan? aku sudah di bandara".
"Disini, sebelah kanan mu" Jawab Elvan melambaikan tangannya.
"Elvan" Senyum Tania langsung berlari menghampirinya.
"Tania jangan berlari".
Tidak perduli dengan teguran Elvan, Tania semakin mempercepat langkahnya hingga ia berhasil memeluk Elvan. "Aku merindukan mu Elvan".
"Aku juga" Jawab Elvan membalas pelukan Tania. "Maaf, karna aku sudah menyuruhmu datang pagi-pagi seperti ini Nia".
"Tidak" Geleng Tania melihat wajah Elvan dan mencium bibirnya. "Aku sangat merindukan mu, sangat-sangat merindukan mu".
"Hahahah.. Perasaan baru tiga hari aku meninggalkan mu Nia kamu sudah merindukan ku saja".
"Jangankan 3 hari, satu hari saja kamu meninggalkan aku rasanya seperti 1 tahun hehehe" Dengan gemas Elvan semakin mengeratkan pelukannya sambil membanjiri wajah Tania dengan ciuman. "Tapi kenapa kamu pulang Elvan? bukankah waktu magang mu masih panjang sekitar 1 bulan 1 minggu lagi bukan?".
"Aku pulang karna aku merindukan mu Nia. Ayo" Ajaknya pergi dari sana.
"Kita mau kemana Elvan?".
"Ketempat jauh tidak seorang pun tau".
__ADS_1
"Tunggu" Tahan Tania menghentikan langkahnya. "Maksud kamu apa Elvan? kenapa kamu berkata seperti itu?".
Elvan tersenyum tampa ingin menjawab pertanyaan Tania, "Nanti, ayo" Tariknya lagi ditangan Tania.