SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 94


__ADS_3

Didalam kamar begitu Ansel tertidur, Tania tak henti-hentinya memperhatikan buah apel yang berada di atas meja riasnya. Kemudian Tania mencoba membuangnya, namun entah kenapa ia tidak sanggup melakukan hal itu. Lalu ia membawanya keluar dari dalam kamar dan memberinya kepada Jasmin.


"Apel?" Tanya Jasmin melihat buah apel yang berada di tangannya itu.


"Iya, kalau kakak suka makanlah. Tapi Tania tidak bisa jamin itu beracun atau tidak".


"Terus kenapa kamu memberinya kepada kakak Nia kalau buah apel ini tidak bisa kamu jamin beracun atau tidak?".


Tania tersenyum, "Entah kenapa aku tidak tega membuangnya kak, jadi lebih baik aku memberinya kepada kak Jasmin".


"Baiklah aku akan memakannya, kalau pun aku mati, tinggal di kubur kok itu saja susah" Jasmin langsung menggigitnya dengan wajah sedih.


"Apel itu sudah aman kok kak, kak Jasmin terlalu serius menanggapinya".


"Abisnya kamu mengatakan seperti itu. Tapi, entah kenapa apel ini sangat manis sekali. Kamu mau coba?".


"Masa iya?".


"Iya, cobalah".


"Aahh.. Tidak usah kak".


"Kenapa? bukankah kamu sendiri tadi yang bilang kalau apel ini baik-baik saja kalau di makan".


"Iya, tapi..


"Ayo coba" Desak Jasmin memberinya dihadapan Tania.


"Baiklah kak" Tania segera memakannya dan memberinya kembali ditangan Jasmin, "Wah.. Apelnaya kok bisa semanis ini yah?".


"Aku juga enggak tau, selama ini aku tidak pernah menemui apel semanis ini".


"Aneh, tadi pas aku menyuruh dokter gizi memeriksanya, dia berkata apel ini aman untuk dimakan, tapi rasa manisnya ini aku juga tidak pernah memakannya".


"Emang kamu mendapatkan apel ini dari mana? kenapa hanya membeli satu biji saja".


"Aku tidak membelinya kak, seseorang yang memberinya kepada Ansel".


"Siapa?".


"Aku tidak tau siapa yang memberinya kepada Ansel kak. Saat aku datang menghampirinya, ia langsung pergi begitu saja".


"Jadi kamu tidak melihat wajahnya?".


"Mmmm.. Ansel melihat wajahnya, tapi dia tidak mengenalnya".

__ADS_1


"Hhhmmsss.. Kira-kira dia siapa yah? kamu bisa menebak siapa dia orangnya?".


"Aku menebak Elvan kak".


"Apa, Elvan? hahaha tidak mungkin Elvan, dia saja saat ini tidak kita ketahui keberadaannya. Dia masih hidup atau tidak". Jangan bilang kamu masih mengharapkannya?".


Tania menghela nafas panjang, "Aku merindukannya kak Jasmin, salahkah aku merindukannya?".


"Tentu saja kamu salah merindukannya. Dia itu sudah menjadi suami orang, jadi berhentilah memikirkan dia, ini sudah 5 tahun lamanya Nia, apa lagi yang kamu harapkan darinya?".


"Kalau gitu Nia naik dulu kak, selamat malam" Tania pergi meninggalkan Jasmin yang masih berdiri disana.


"Ck, mau sampai kapan kamu akan seperti ini terus Nia? tidakkah kamu cepek mengharapkan yang tidak pasti?".


Begitu Tania masuk kedalam kamar, ia langsung menaiki tempat tidurnya. Lalu ia mengusap wajah mulus Ansel yang kini sedang tertidur lelap. "Anak mama, sudah saatnya kamu tau siapa papa kandung mu yang sebenarnya, saat kamu bertanya nantinya, mama janji akan memberitahu mu. tidurlah, mama mencintai mu" Senyum Tania mencium kening Ansel.


.


Sepulangnya Elvan dan Rachel dari taman, Rachel langsung memasuki kamarnya. Sedangkan Elvan yang tiba-tiba mendapatkan telpon dari kantor polisi, ia segera menuju kesana. "Saudara Elvan suami dari saudara Jessi".


"Iya saya sendiri" Jawab Elvan.


"Mari ikut saya" Ajaknya membawa Elvan kedalam ruangannya, dimana Jessi yang juga sedang berada disana. "Silahkan duduk".


"Begini, kami akan membebaskan istri anda, dengan syarat beliau harus berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi, dan jika istri anda ketahuan berjudi online lagi, maka kami akan menindak tegaskan ini. Bisa anda pahami?" Ucapnya melihat Jessi dan Elvan secara bergantian.


"Iya pak, terima kasih banyak sudah mengerti saya" Jawab Jessi tersenyum senang.


"Silahkan tanda tangani disini".


"Baik" Angguk Jessi menandatangani dan juga Elvan yang menjadi sebagai saksi. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak pak".


"Iya".


"Kalau gitu kami permisi, ayo Elvan" Keluarnya dari sana bersama dengan Elvan. Begitu mereka berada di luar pintu, "Tampa kamu juga aku bisa bebas Elvan" Senyumnya. "Sekarang pulanglah kerumah, aku ada urusan penting".


"Kamu mau kemana?".


"Bukan urusan kamu".


"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? tidakkah kamu kasihan kepada Rachel yang selalu menanti mu pulang kerumah?" Ucap Elvan mencoba sabar menghadapi sifat Jessi yang sangat ia benci.


"Urus saja sendiri putri mu itu, kamu sendiri yang membawanya kerumah. Jadi dia bukanlah putri ku. Bay" Perginya meninggalkan Elvan.


Elvan yang sedang marah ia langsung melampiaskannya di balik tembok dengan memukulnya berulang kali hingga tangan kanannya berdarah. Kemudian ia tersenyum tipis melihat dirinya yang tidak bisa seperti dulunya, "Apa ini hukuman buat diri ku Yola? Apa kamu sedang menghukum ku karna aku mengingkari janji ku untuk selalu mencintai Tania dan melindunginya? Aarrkkhhh" Geramnya

__ADS_1


Setelah itu, Elvan kembali pulang kerumah tampa ingin mengobati luka ditangan kanannya. Sesampainya ia dirumah, Elvan datang memasuki kamar Rachel.


Tok.. Tok..


"Rachel ini daddy. Bisa daddy masuk?".


"Iya daddy, masuklah".


Ceklek!.


Dengan senyum mengembang diwajah Rachel ia bertanya, "Ada apa daddy?".


"Rachel sedang apa?".


"Rachel sedang menggambar daddy dan mommy. Lihatlah, bagaimana menurut daddy? gambar Rachel bagus atau tidak?".


"Bagus, gambar putri daddy sangat bagus" Jawabnya tersenyum senang.


"Mmmm? tangan daddy kenapa?" Kaget Rachel melihat bekas darah yang mengering ditangannya.


"Tidak apa-apa, tadi daddy lupa membersihkannya".


"Daddy pasti sedang marah ya sama mommy?".


"Hahahah.. Rachel bilang apa sih? sejak kapan daddy memarahi mommy. Daddy tidak pernah marah dengan mommy".


"Daddy berbohong. Daddy pikir selama ini Rachel tidak tau kalau mommy sering memarahi daddy. Dan Rachel juga sering melihat daddy melampiaskan kemarahan daddy dengan memukul dingding" Ucapnya sambil menangis.


"Maafkan daddy Rachel, daddy tidak bermaksud membuat putri daddy jadi sedih seperti ini".


"Kenapa harus daddy yang minta maaf hiks.. hiks.. Harusnya mommy yang minta maaf sama daddy karna buat daddy sering marah".


Malam harinya begitu Rachel sudah tidur, baru Jessi kembali pulang kerumah. Sedangkan Elvan yang kini berada di ruang kerjanya. Jessi langsung memasuki ruangannya tampa ingin mengetuk pintu ruangannya terlebih dahulu, "Dimana anak itu?".


"Dia sudah tidur" Jawab Elvan tidak melihat kearah Jessi.


"Besok aku ada meeting di luar kota, jadi malam ini aku harus pergi".


"Mmmmm".


"Bagus, setidaknya kamu tidak mencurigai ku" Senyum Jessi mendekati Elvan. "Kamu sedang mengerjakan apa Elvan? kamu terlihat sangat serius sekali?" Tanyanya melihat layar monitor komputer Elvan. "Aahhh" Angguknya.


"Kamu bau alkohol, sebaiknya kamu mandi".


"Astaga, masa iya?" Kemudian Elvan menatap Jessi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "Jangan melihat ku seperti itu Elvan. Aku mandi dulu" Perginya keluar.

__ADS_1


__ADS_2