
Lama berpikir Sani akhirnya memutuskan untuk mengikuti Tania, ia tidak mungkin membiarkan Tania pergi sendiri, "Tania tunggu aku, aku ikut" Teriaknya mengejar Tania.
"Kamu mau ikuti aku Sani?".
"Mmmm.. Ayo, tidak mungkin aku membiarkan mu pergi sendiri".
"Kamu memang yang terbaik Sani" Senyum Tania menggenggam tangannya. "Ayo" Mereka berdua segera menuju bandara internasional.
Sedangkan Elvan yang kini sedang menatap Jerry dengan tajam membuat ia tidak berkutik, "Jerry, jika terjadi apa-apa dengan Tania, maka kamu..
"Kamu tidak usah takut Elvan. Lagian aku yakin kalau Tania tidak akan datang, dia itu hanya bercanda saja".
"Bercanda dari mana Jerry? Tania orangnya nekatan".
"Masa iya sih?" Gumam Jerry. "Aku juga jadi khawatir. Coba hubungi dia Elvan".
"Tidak aktif".
"Aahh.. Berarti Tania benaran akan datang kemari?".
"Hhhmmsss" Dengus Elvan melihat kearah Rizal yang sedang bekerja. Lalu Elvan menghampiri Rizal, "Zal" Panggilnya.
"Mmmmm" Gumam Rizal.
"Kamu menemukan sesuatu?".
"Sebentar Elvan" Jawabnya masih fokus. "Aahh, kamu tau wanita itu tinggal dimana?".
"Maksud kamu Alona?".
"Iya, sepertinya mereka sangat hati-hati hingga pihak akutansi tidak ikut campur dengan ini. Jadi kita harus mencari tahunya dari wanita itu".
"Sebenarnya dia anak angkat tuan Robert".
"Apa? jadi dia punya hubungan dengan Robert?".
"Mmmm.. Kamu bisa tau apa yang sedang aku pikirkan?".
"Mmmmm" Angguk Rizal.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian berdua bicarakan?" Ujar Jerry menghampiri mereka.
"Alona Jerry, aku harus mendekati Alona" Jawab Rizal.
"Kamu yakin ingin mendekatinya?".
"Iya, karna aku sudah mencari di bagian akutansi, tapi aku tidak menemukan yang janggal disana. Itu artinya, Alona lah yang bekerja disini dan berkas ini adalah milik Alona yang kemarin Elvan pungut".
"Jadi maksud mu hanya Alona saja yang mereka manfaatkan".
"Iya, karna mereka tidak mau kasus ini banyak yang tau. Jadi mereka hanya memanfaat Alona saja" Jawab Elvan.
"Mmmmm" Angguk Jerry yang mengerti.
Sekarang telah menunjukkan pukul 2 pagi, Rizal dan Jerry telah beristirahat di kamar mereka masing-masing sedangkan Elvan yang masih kepikiran dengan Tania membuat ia tidak bisa tertidur. "Hhmmsss.. Ck".
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT..
Mendengar ponsel bergetar, Elvan langsung menyambar ponselnya. "Tania? jangan bilang dia benar-benar datang kemari" Ia pun segera mengangkat. "Iya Nia".
"Aku sudah tiba di bandara Elvan, cepat jemput aku".
"Astaga Nia, jadi kamu benar datang kemari?".
"Mmmm.. Ayo jemput aku Elvan".
"Iya, aku akan kesana" Ia segera menjemput Tania ke bandara. Tidak membutuhkan waktu yang lama kini Elvan telah tiba di bandara dan benar sekali Tania saat ini sudah berada di hadapannya. "Tania".
"Elvan" Tania berlari kecil menghampiri Elvan yang sedikit jauh dari hadapannya. "Elvan" Peluknya. "Aku merindukan mu".
"Jadi kamu benar-benar datang kemari Nia?".
__ADS_1
"Mmmm.. Aku datang kemari karna aku sangat merindukan mu, tapi aku datang kemari enggak sendiri Elvan. Sani juga ikut" Tunjuknya kearah Sani yang sedang tersenyum kepadanya.
.
Sesampainya mereka di apertemen, Elvan menyuruh Tania dan Sani tidur didalam kamarnya, sedangkan ia tidur di sofa. Tetapi Tania yang sama sekati tidak merasa ngantuk, ia memilih menghampiri Elvan yang berada di ruang tamu.
"Yah.. Dia sudah tidur" Kemudian Tania menyentuh wajah mulus Elvan.
"Kenapa kamu belum tidur Nia?".
"Astaga, ternyata kamu belum tidur?" Kaget Tania. "Aku tidak bisa tidur makanya aku datang kemari Elvan".
"kemarilah" Tariknya ditangan Tania. "Sekarang tidurlah" Begitu Tania berada di pelukannya.
"Ini sangat nyaman" Senyum Tania.
"Mmmm.. Tidurlah, aku sangat ngantuk Nia".
"Iya, tapi kamu harus memelukku, nanti aku bisa jatuh".
"Mmmmmm".
.
Begitu matahari terbit, "Hhooaammm" Uap Jerry terbangun dari tidurnya dan Rizal. Lalu mereka berdua segera keluar dari kamar mereka masing-masing. "Pagi Zal" Ucap Jerry.
"Pagi" Balas Rizal menuju dapur.
"Elvan udah bangun apa belum?".
"Coba kamu lihat ke dalam kamarnya".
"Kamu saja Zal, biar aku yang menyiapkan sarapan. Ok" Senyum Jerry.
"Iya" Angguk Rizal memasuki kamar Elvan. "Elvan, ini sudah pagi ayo bangun" Ucapnya menarik selimut Elvan, namun yang berada di atas tempat tidur malah seorang wanita cantik yang tidak ia kenal. "Siapa kamu?".
"Hhhmmm? ka-kamu yang siapa?" Kaget Sani menutupi tubuhnya. "Kenapa kamu bisa berada disini".
"Elvan?" Batin Sani.
"Elvan" Panggil Rizal kembali sambil keluar dari dalam kamar. "Elvan".
"Ada apa Zal?" Tanya Jerry mendengar suara Rizal.
"Elvan dimana?".
"Elvan?".
"Iya, dia tidak ada di kamarnya".
"Masa tidak ada?" Gumam Jerry memasuki kamar Elvan. "Astaga" Kaget Jerry. "Kamu siapa?".
"Kamu yang siapa?".
"Hhhmm? kamu, bukankah kamu wanita..
"Aku temannya Tania" Potong Sani.
"Jadi, jadi Tania benar-benar datang kemari?".
"Iya".
"OMG.. Elvan pasti akan marah besar kepada ku, Elvan" Teriak Jerry langsung keluar dari dalam kamar.
Sedangkan Elvan yang masing menutup kedua matanya dan Tania, "Kamu mendengar suara Jerry Elvan?".
"Mmmm" Senyum Elvan.
"Dia berisik sekali, tapi suaranya sangat menggemaskan sekali" Tania segera menunjukkan dirinya kepada mereka. "Disini Jerry" Senyum Tania.
"Tania, kamu benar-benar datang kemari Nia?".
__ADS_1
"Iya, kamu tidak senang?".
"Lalu Elvan dimana?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Disini" Tunjuk Tania kepada Elvan yang masih terbaring di bawahnya.
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Dia marah?".
"Marah kenapa Jerry".
"Tidak, lupakan Nia. Kamu kemarilah".
"Ada apa?".
"Makanya kamu kemari".
"Baiklah, tunggu sebentar".
"Kamu mau kemana Nia?" Tahan Elvan.
"Aku dipanggil Jerry Elvan".
"Tidak, kamu tidak usah mendengarnya. Biarkan saja dia".
"Kenapa?".
"Aku tidak suka melihat mu dekat dengan Jerry. Jangan bertanya lagi".
"Kamu ada-ada saja Elvan, itu Sani juga sudah bangun dan Rizal. Mereka sedang melihat kearah kita, ayo bangun".
"Aku masih mengantuk Nia".
"Tapi ini sudah jam 7 pagi lewat Elvan, kamu enggak ke kantor?".
"Kalau gitu, bisakah kamu mencium ku?".
"Yah.. Elvan, kamu tidak melihat mereka disana?".
"Aku tidak melihat mereka Nia, yang aku lihat hanya kamu saja".
"Astaga Elvan, ayo buruan bangun" Tariknya ditubuh Elvan.
"Uummcchh.. Uummcchhh.. Selamat pagi sayang" Senyumnya menciumi bibir Tania dan juga keningnya. Lalu ia melihat kerah mereka bertiga yang sedang melihat mereka. "Selamat pagi untuk kalian".
"Hhrrmm.. Pagi Elvan" Balas Rizal.
"Ada apa dengan kalian berdua? tidak seperti biasa?" Bangkitnya dari sana menuju meja makan. "Kamu belum menyiapkan sarapan pagi untuk kita Zal?".
"Kamu tanya sendiri kepada Jerry".
"Jerry".
"Aku akan menyiapkannya. Tania, maukah kamu membantu ku?".
"Iya, dengan senang hati aku akan membantu mu Jerry" Angguk Tania bersemangat.
"Tidak" Tahan Elvan.
"Kenapa?".
"Tidak Tania".
"Kalau gitu biar aku saja yang membantu ya" Ucap Sani.
"Mmmm.. Bantulah dia" Angguk Elvan.
"Yah.. Aku juga mau membantu Jerry Elvan" Rajuk Tania.
__ADS_1
"Tidak Nia, ayo" Tariknya membawa Tania kedalam kamar.