SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 62


__ADS_3

Begitu Tania meninggalkan kediaman Sandoro, ia langsung menuju sebuah toko kue yang tidak jauh dari sana. "Untung masih buka" Gumam Tania memasuki toko kue tersebut.


"Selamat malam nona" Senyum si pelayan toko dengan ramah.


"Malam mbak, saya beli yang ini 1" Ucap Tania menunjuk salah satu cake yang berada di dalam kulkas.


"Baik nona" Angguk segera membuatkan pesanan Tania.


Sambil menunggu, Tania mendapatkan sebauh notifikasi dari kedua sahabatnya. "Nia, kamu dimana? selamat ulang tahun bumil kami🎂🤗" .


"Ternyata mereka ingat" Senyum Tania. Lalu ia membalas pesan dari Elma dan Filia. "Terima kasih yah, aku pikir kalian melupakannya".


"Iya Nia, besok kami akan datang menjemput mu. Bagaimana kalau kita merayakannya di pantai? sepertinya menyenangkan".


"Ok" Jempol Tania.


"Ini nona" Beri si pegawai itu kepadanya.


"Terima kasih mbak, berapa?".


"160 nona".


"Ini mbak" Setelah Tania membayarnya ia pun segera pergi meninggalkan toko kue. Hingga kini ia telah berada di sebuah taman, "Hari yang sangat bagus, disaat seperti ini aku tidak sendiri" Senyum Tania mendudukan diri diatas kursi panjang yang berada di taman.


Lalu Tania membuka cake kuenya, "Astaga, aku tidak memiliki mancis..


"Ini, kamu bisa menggunakannya".


"Hhhmmm? pak Varrel?" Kaget Tania melihat pria tampan yang di hadapannya itu.


"Selamat ulang Tania" Senyum Varrel mengusap kepala Tania dengan sayang.


"Pak" Tahan Tania melepaskan tangan Varrel. "Terima kasih ya pak".


"Iya" Angguk Varrel.


"Tapi bagaimana bisa bapak Varrel berada di sini?" Tanya Tania menyalakan api lilinya.


"Tidak tau. Ayo diembus" Senyum Varrel kembali.


"Bapak ada-ada saja" Geleng Tania mengembus lilinnya. "Bapak mau kue ya?".


"Boleh".


"Sebentar yah" Tania langsung memotong kuenya dan memberinya kepada Varrel.


"Thank you Nia" Varrel melahapnya. "Mmmm, enak".


"Benarkah?".


"Mmmmm.. Ayo dimakan".


"Mmmmmm" Tania juga ikut melahap kuenya. "Oohh iya pak..


"Nia" Potong Varrel. "Kalau kita sedang berada di luar, tolong jangan menyebut ku dengan panggilan bapak. Panggil Varrel saja ok".


"Iya pa.. Varrel" Senyumnya.


"Lalu apa yang ingin kamu katakan tadi Nia?".


"Itu Varrel. Aahhh aku jadi melupakannya".


"Hahahaha" Tawa Varrel melihat Tania yang menggemaskan.


"Iikkhh.. Aku serius Varrel. Lalu, apa kamu sudah memiliki kekasih?".

__ADS_1


"Kekasih?".


"Mmmm.. Atau kamu sudah menikah?".


"Aku belum menikah Nia, lalu bagaimana dengan mu? kamu sudah memiliki kekasih?".


"Lebih tepatnya sudah memiliki suami".


Varrel mengerutkan keningnya, "Kamu mengatakan yang sebenarnya?".


"Iya, aku sudah menikah Varrel" Jawabnya melihat wajah kecewa Varrel. "Maaf yah, aku harap kamu jangan pernah menaruh perasaan dengan ku".


"Hahahaha.. Kamu terlalu percaya diri sekali Nia" Tawanya mengusap kepala Tania kembali. Kemudian Varrel menghela nafas panjang, "Tania".


"Iya".


"Awal pertama kali aku melihat mu di restoran, awal itu juga aku langsung menyukai mu. Kamu tau? aku bahkan mengejar mu sampai ke kampus dan berencana mendekati mu selama aku mengajar disana. Tetapi hari ini aku mengetahui kalau kamu sudah menikah".


"Maaf Varrel. Kamu kecewa?"


"Kenapa harus minta maaf Nia?" Senyumnya. "Kecewa? sedikit iya. Lalu suami mu dimana? kenapa dia tidak berada disini bersama mu?".


"Saat ini dia sedang berada di luar negeri".


"Oohh.. Kamu baik-baik saja".


"Tentu saja. Aakkhh, ternyata sudah jam 12 saja kurang 15 menit" Bangkit Tania dari atas kursinya. "Kalau gitu aku pulang dulu ya".


"Aku akan mengantar mu".


"Eekkhh.. Tidak usah Varrel, aku pulang sendiri saja, lagian aku bawa mobil".


"Tidak baik jam segini pulang sendiri, aku akan mengikuti mu dari belakang".


"Terima kasih Varrel".


Setelah Tania berada di dalam mobilnya, dengan setia Varrel selalu mengikuti mobil Tania dari belakang. Sampai kini mereka telah tiba di kediaman mension keluarga Sandoro. Begitu Tania memasuki mension, Varrel pun langsung memilik jalur pulang.


"Nona" Panggil si supir keluarga Sandoro melihat Tania yang sudah pulang. "Nona baik-baik saja?".


"Tentu saja pak, bapaknya saja yang terlalu khawatir".


"Maafkan saya nona".


"Tidak apa-apa pak, terima kasih telah mengkhawatirkan saya. Ini buat bapak" Berinya ditangan si supir.


"Ini apa nona?".


"Bapak ambil saja".


"Terima kasih nona, terima kasih banyak".


"Sama-sama pak" Tania segera pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2. "Akhirnya aku tiba juga. Aahh" Lelah Tania membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. "Selamat malam Nia, selama malam sayang" Ucap Tania mengelus perutnya sebelum ia memejamkan kedua matanya.


.


Setelah matahari terbit, suara burung di udara yang tengah berkicau membuat Tania malas bangun. Ia juga tidak tahu, kenapa malam ini tidurnya sangat nyenyak dan juga ia merasa sangat nyaman seperti seseorang sedang memeluk tubuhnya. "Pagi Nia".


"Eemmkkhhh" Rengek Tania yang tidak ingin membuka kedua matanya.


"Pagi Nia. Ayo bangun".


"Mmmm.. Sebentar lagi ma, Nia masih ngantuk".


"Uummcchhh".

__ADS_1


"Hhhmmm?" Kaget Tania saat merasakan benda kenyal itu mendarat di bibirnya.


"Uummcchh".


Lagi-lagi Tania merasakan benda itu, kemudian dengar perlahan Tania membuka kedua matanya. "Selamat ulang tahun istri ku" Senyum Elvan dengan manis.


Tania tersenyum, tetapi ia tidak mempercayai pria yang dihadapannya itu. "Mimpi yang sangat indah".


"Ini bukan mimpi Nia" Ucapnya mencium kening Tania dengan sayang, kemudian Elvan menarik Tania kedalam pelukannya. "Aku merindukan mu".


"Tidak mungkin tidak mungkin, ini pasti mimpi, aku pasti sedang bermimpi" Gumam Tania. Sedangkan Elvan yang mendengarnya membuat ia tersenyum.


"Ini bukan mimpi Nia, aku harus berapa kali mengatakannya pada mu?" Tanyanya menarik wajah Tania.


"Masa iya?".


"Iya Tania, uummcchhh" Ciumnya kembali di bibir Tania.


"Jadi kamu benar Elvan? tapi bagaimana bisa kamu berada disini kalau bukan mimpi".


"Hahahaha.. Pagi-pagi seperti ini kamu sudah membuat ku lapar Nia".


"Kamu lapar?".


"Mmmm.. Lapar ingin memakan mu".


"Yah.. Kamu pikir aku apa bisa kamu makan?" Ucapnya sambil memayungkan bibirnya.


"Nia Nia" Dengan geram Elvan menciumnya. Lalu ia menatap manik mata Tania yang sangat indah, "Tania" Panggilnya.


"Mmmmm" Senyum Tania.


"Aku ingin memakan mu".


"Kalau kamu memakan ku, maka kamu akan kehilangan aku".


"Aku tidak akan kehilangan kamu Nia" Hingga kini tangan kiri Elvan berada dibawah punggung Tania dan tangan kanannya perlahan-lahan membuka pengait pakaian Tania.


"Elvan" Tahan Tania meraba wajah Elvan.


"Mmmm?".


"Yola Elvan, Fayola".


"Dia sudah beristirahat dengan damai Nia, tidak usah menyebut namanya lagi".


"Kamu baik-baik saja?".


"Mmmm.. Aku baik-baik saja. Dan sekarang aku telah memiliki mu dan juga calon buah hati kita".


Tania tersenyum senang, "Jadi kamu sudah melupakan Fayola?".


"Mmmmm".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Benarkah?".


"Iya Tania".


"Aahhh.. Hahahah" Tawanya memeluk Elvan. "Terima kasih Elvan, terima kasih telah mau menerima ku" Senang Tania.


"Sesenang itu kah kamu?".

__ADS_1


"Tentu saja, akhirnya Elvan Sandoro kini sudah menjadi utuh milik Tania seorang".


__ADS_2