SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 88


__ADS_3

1 bulan kemudian..


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Hallo Zal. Ada apa?".


"Elvan.. Haaahhhh... Elvan".


"Ada apa Zal? kenapa?".


"Elvan, dimana kamu sekarang?".


Deng..


"Kak Chiko?" Kaget Elvan dengan mata membulat.


"Haaahh.. Kenapa? kamu terkejut? hhmmm?" Senyum Chiko menyeringai.


"Tidak, tidak" Elvan langsung mematikan ponselnya. Kemudian ia bergegas kembali pulang.


"Elvan, ini belum waktunya pulang" Ujar Larisa melihatnya.


Tetapi Elvan yang sedang memikirkan keadaan Tania, membuat ia tidak memperdulikan Larisa yang sedang memperingatinya. Hingga kini ia telah tiba dirumah, namun Elvan malah melihat kerumunan di depan rumahnya.


"Aahh itu dia suaminya sudah kembali pulang".


"Ada apa ini? kenapa kalian semua beramai-ramai disini?".


"Istri kamu baru saja di bawa pergi oleh beberapa orang berpakaian hitam yang tidak kami ketahui, tapi kami sudah menelpon polisi".


"Tidak, Tania" Geleng Elvan menyambar ponselnya.


"Hahahah.. Elvan" Tawa Chiko di seberang telpon sana.


"Tania dimana?".


"Mmmm.. Tania sedang perjalan kemari Elvan, kamu tidak ingin menyusulnya?".


"Kurang ajar, seujung kuku saja kalian berani menyentuhnya aku tidak akan segan-seng..


Tut.. Tuk..


"Aarrkkhhh" Geram Elvan begitu Chiko mematikan ponselnya. Kemudian Elvan memasuki rumahnya, lalu ia membawa barang-barang pentingnya. "Terima kasih banyak sudah menerima kami selama ini disini, permisi".


"Tunggu" Tahan Dinda di tangan Elvan.


Dengan mata berkaca-kaca Dinda memberikan sesuatu di tangan Elvan, "Kak, Dinda tidak tau apa yang terjadi dengan kak Tania. Tapi Dinda yakin kalau kak Tania pasti baik-baik saja, begitu kak Elvan bertemu dengan kak Tania tolong berikan ini pada ya hiks.. hiks..".


"Mmmmm" Angguk Elvan segera pergi dari sana.


Sedangkan Tania yang sudah berada di dalam pesawat, ia tak henti-hentinya menangis sambil menyebut nama Elvan.


"Diam" Ujar suruhan Chiko.


"Hiks.. Hiks.. Elvan" Semakin tangis Tania.

__ADS_1


"Aaiiisss.. Wanita kurang ajar ini" Geramnya.


Flashback.


Saat Tania dan Dinda berada didalam rumah, tiba-tiba saja segerombolan pria bertubuh besar mendatangi rumahnya. "Maaf, kalian siapa?" Tanya Tania.


"Apa dia orangnya?".


"Iya".


"Bawa dia".


"Tunggu" Tahan Tania. "Kalian ini siapa? kenapa kali.. Aarrrkkhhh" Gantung Tania begitu mereka membiusnya.


"Ayo".


"Om Tunggu" Tahan Dinda menangis di hadapan mereka. "Tolong jangan bawa kak Nia hiks.. hiks.. Dinda mohon jangan bawa kakak Nia om".


"Minggir kan dia".


"Minggirlah anak kecil jika kamu tidak ingin terluka".


"Tidak, Dinda tidak akan minggir sebelum kalian melepaskan kak Nia hiks.. hiks.. Tidakkah kalian kasihan melihatnya? kak Nia sedang hami..


BBBRRRAAKK..


"Aaahhhhh" Rengek Dinda saat mereka tiba-tiba saja menghempaskan tubuhnya. "Tidak, kak Nia hiks.. hiks..".


**********************


"Bagus" Angguk Chiko tersenyum senang melihat Tania yang belum sadarkan diri. Lalu ia mendekati Tania, "Awasi dia dengan baik, jangan sampai ada kesalahan".


"Baik tuan" Angguk mereka.


Chiko langsung meninggalkan tempat tersebut.


.


Kini Elvan telah tiba di bandara, ia segera menaiki taksi menuju kediaman Sandoro. "Saya lagi buru-buru, bisakah kamu membawanya dengan kecepatan tinggi?".


"Baik tuan" Angguknya sambil menjalankan mobilnya.


Dengan tangan mengepal, Elvan tak henti-hentinya berucap dalam hati. "Tunggu aku Nia, aku mohon tunggu aku".


Sesampainya di kediaman Sandoro, Elvan langsung memasuki rumah tersebut, dimana semua anggota keluarga yang berada di ruang keluarga. "Elvan" Kaget Amira melihat putra bungsunya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ma, apa yang terjadi ma? Tania dimana Ma? Tania ada di kamar kan?".


Amira menggeleng.


"Tidak, Tania pasti ada di kamar" Elvan menaiki anak tangga.


"Tania tidak ada dikamar Elvan" Ujar Vicky menghentikan langkahnya.


"Apa?" Lihatnya kearah Vicky yang sedang meminum tehnya.

__ADS_1


Kemudian Vicky melihatnya dengan senyum tipis, "Duduklah dulu, disini ada tamu".


Elvan tersenyum menyeringai, "Tamu? mereka siapa? saya sama sekali tidak mengenal mereka".


"Elvan, tidak bisakah kamu menjaga sopan santun mu di hadapan tuan Robert?" Bentak Vicky dengan marah. "Duduk" Tekannya.


"Aku sudah mengatakan pada papa kalau Elvan tidak mengena..


PPPLLAAKK..


"Astaga Elvan" Kaget Amira saat Vicky melempar gelasnya tepat di kepala Elvan yang sudah mengeluarkan darah segar. "Ayo ikut mama" Amira langsung membawa Elvan kedalam kamarnya. Lalu Amira dengan cepat mengobati luka Elvan hingga darah itu berhenti.


"Ma" Panggilnya melihat Amira.


"Jangan menangis sayang? kalau kamu seperti ini kamu jadi kembali seperti anak kecil yang manja. Percaya sama mama, Tania pasti baik-baik saja mmmm" Peluknya menenangkan Elvan.


"Bagaimana bisa Elvan tenang ma? Tania dan anak Elvan sekarang sedang membutuhkan pertolongan ku".


"Iya sayang mama tau, tapi mama tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mu" Semakin tangis Amira memeluk Elvan.


"Lalu apa yang harus Elvan lakukan ma?".


"Menikahi Jessi" Jawab Chiko yang berada di ambang pintu. "Papa melakukan ini untuk kebaikan kamu dan juga masa depan perusahaan kita" Ucapnya mendekati Elvan dan Amira. "Jadi kamu harus menceraikan Tania dan hiduplah dengan Jessi. Kalau tidak, sesuatu yang lebih dari ini akan terjadi dengannya, bahkan papa bisa saja mengambil alih perusahaan AE group".


Elvan tersenyum sinis melihat Chiko yang berada di hadapannya, "Melihat kak Chiko yang sekarang aku jadi merindukan kak Chiko yang dulu".


"Diamlah dan turuti saja perintah papa kalau dia mau selamat" Ujar Chiko menunjuk Tania yang sudah sadarkan diri. "Kalau kamu mencintainya, kamu harus menceraikan dia dan menikahi Jessi".


"Aarrkkhhh.. Elvan" Teriak Tania dari sebrang sana saat ia melihat Elvan. "Elvan hiks.. hiks.. Tolong aku Elvan".


"Kamu lihat itu, dia sedang menangis sambil meminta pertolongan mu. Sekarang pilihan ada di tangan mu, wanita itu selamat atau kamu menikahi Jessi? papa akan menunggu keputusan mu malam ini di ruangannya, jadi datanglah dan temui papa" Perginya keluar dari dalam kamar Elvan.


Lalu Elvan menghela nafas panjang, "Mama juga keluarlah, Elvan butuh sendiri" Usirnya.


"Elvan".


"Elvan baik-baik saja ma".


"Kalau gitu mama keluar dulu".


Begitu Amira keluar dari dalam sana, ia menyambar ponselnya, "Hallo Elvan" Jawab Rizal.


"Kamu dimana Zal?".


"Di rumah Elvan. Tolong maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji ku untuk melindungi mu".


"Mmmm.. Aku sudah berada di rumah, mereka berhasil membawa Tania pergi dan sekarang Tania berada di dalam perangkat kak Chiko".


"Lalu apa yang akan kamu lakukan Elvan?".


"Aku juga tidak tau Zal. Rasanya sangat sakit sampai rasanya aku ingin menghilang saja".


Rizal tersenyum tipis, "Rasa cinta mu lebih besar kepada Tania dari pada saat kamu berpacaran dengan Fayola. Dia telah berhasil membuat seorang Elvan yang dingin menjadi hangat".


"Tolong bantu aku Zal. Apa yang harus aku lakukan?".

__ADS_1


__ADS_2