
Dilantai bawah, kedua belah pihak keluarga itu sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Tania tampa sepengetahuan Tania yang masih berada di dalam kamar.
Kemudian Elvan melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, "Kenapa Elvan?".
"Baiklah aku akan menundanya pagi ini. Ayo" Ajaknya membawa Tania memasuki kamar mandi.
"Hahahah.. Aku bisa jalan sendiri Elvan".
"Diamlah" Begitu Elvan memasukkan tubuh Tania di dalam bath-hup, ia membuka pakaian Tania dan mengisi bath-hup tersebut dengan air hangat. Lalu ia juga masuk kedalam dan membantu Tania menggosok punggungnya.
"Enak sekali Elvan" Senang Tania.
"Gantian, sekarang giliran kamu" Berinya ditangan Tania.
"Mmmm.. Belakangi aku. Kenapa? ayo belakangi" Herannya melihat Elvan yang masih belum membelakanginya.
"Kamu gosok disini saja Nia" Tunjuknya kearah leher dan juga dadanya.
"Baiklah" Tania segera menggosok tubuhnya dan itu membuat Elvan tersenyum-senyum sendiri yang kini ia lebih leluasa bisa mencium-cium bibir Tania. "Yah.. Aku jadi tidak bisa fokus menggosok tubuh mu Elvan".
"Mmmm.. Tapi aku ingin seperti ini Nia" Geleng Elvan masih mencium bibirnya, bahkan ia menarik tubuh Tania supaya ia lebih leluasa lagi menciumnya.
"Hahaha.. Yah.. Hentikan Elvan, aku sedang menggosok tubuh mu".
"Nanti saja Nia" Elvan melepaskan spon itu dari tangannya. Kemudian Ia menarik wajah Tania dan mencium bibir itu kembali cukup dalam dan juga kedua tangan Elvan yang berada di tempat benda kesukaannya.
"Elvan" Panggilnya.
Elvan tersenyum, "Aku tidak akan melakukannya disini Nia. Aku juga tidak akan mencelakai bayi kita".
.
Kini Elvan dan Tania telah selesai, mereka berdua segera keluar dari dalam kamar menuju lantai satu dimana kedua belah pihak keluarga itu sedang menanti kedatangan mereka.
"Bibi, selamat ulang tahun bibi" Teriak Saskia begitu ia melihat Tania menuruni anak tangga bersama dengan Elvan.
"OMG" Dengan mata membulat, Tania melihat kedua anggota keluarga yang sangat ia cintai itu berada di sana. "Elvan".
"Ayo turun" Ajaknya membantu Tania menuruni anak tangga.
Dengan mata berkaca-kaca, Tania melihat Elvina dan juga Alvis yang sedang tersenyum kepadanya. "Papa" Peluknya di tubuh Alvis.
"Hahaha.. Selamat ulang tahun sayang. Sehat selalu dan panjang umur".
"Iya pa, terima kasih banyak" Lalu Tania memeluk Elvina yang berada di sampingnya. "Mama".
"Selamat ulang tahun putri mama, sehat selalu dan panjang umur" Ciumnya di kening Tania.
Kemudian Tania memeluk Amira yang juga sedang tersenyum kepadanya, "Selamat ulang tahun sayang, panjang umur selalu".
"Terima kasih ma" Begitu juga ia memeluk Vicky.
"Selamat ulang tahun nak" Senyumnya mengusap kepala Tania dengan sayang.
__ADS_1
"Terima kasih pa, terima kasih banyak untuk semua" Senang Tania begitu ia memeluk mereka satu persatu hingga ia memeluk Zita dan Chiko sang kakak ipar.
"Bibi Nia belum memeluk Kia".
"Hahaha.. Tentu saja bibi akan memeluk Saskia juga. Kemarilah".
"Selamat ulang tahun bibi Nia, sehat selalu dan panjang umur" Peluknya dengan sayang.
"Amin, terima kasih ya Kia" Ciumnya di kening Saskia.
"Sama-sama bibi. Ini kado dari Kia" Berinya ditangan Tania.
"Ini apa Kia? bisakah bibi membukanya?".
"No, tidak sekarang bibi. Nanti kalau bibi sendiri baru bibi bisa membuka kado dari Kia".
"Hahahah.. Baiklah, bibi akan menyimpannya".
"Iya bi. Lalu bibi mendapatkan kado apa dari paman?".
"Dari paman?".
"Mmmm" Kemudian Tania melirik Elvan yang berada di sampingnya. "Paman bagaimana sih? masa paman tidak memberikan apa-apa kepada bibi".
"Kia sok tau" Jawab Elvan tersenyum.
"Jadi paman memberi apa kepada bibi?".
"Coba kamu perhatikan leher bibi kamu itu".
"Kamu menyukainya sayang?".
Mendengar kata sayang itu membuat mereka tersenyum senang. "Ini benar kalung dari kamu Elvan?".
"Mmmmm.. Kamu tidak tau kalau ada kalung di leher mu?".
"Hahahaha" Tania berlari kearah cermin yang berada di ruang keluarga. "OMG.. Kalung ini cantik sekali Elvan" Senangnya dengan mata berbinar-binar.
"Kamu menyukai Nia?".
"Tentu saja aku menyukainya. Kalung ini sangat cantik sekali. Terima kasih Elvan" Peluknya dengan sayang.
"Mmmmm" Angguk Elvan membalas pelukannya.
Hingga kini ia telah tiup lilin, kue pertama ia berikan kepada Elvan yang sudah menjadi suaminya dan suap kedua ia berikan kepada Elvina dan Alvin. Suap ketiga ia berikan kepada Amira dan Vicky sampai yang terakhir ia berikan kepada sang kakak ipar Chiko dan Zita.
"Ma, Kayla kenapa tidak ikut?".
"Adik kamu ada pelajaran yang tidak bisa ia tinggalkan sayang, pulang dari sekolah ia akan datang kemari".
"Padahal inikah hari sabtu ma".
__ADS_1
"Kamu tau sendiri seperti apa adik kamu itu sayang".
"Hehehehe.. Nia tau ma".
"Kalau gitu mari kita semua sarapan, menu hari ini aku menyiapkan menu yang sangat spesial untuk ulang tahun Tania" Ajak Amira berjalan duluan menuju meja makan.
"Wah.. Banyak sekali ma" Kaget Tania melihat semua menu yang berada di atas meja itu.
"Mama sengaja sayang. Ayo semua duduk".
.
Saat ini Elvan dan Tania tengah berada dimana Fayola di makamkan. Lalu Elvan menggenggam erat tangan Tania. "Yola, beristirahatlah dengan damai. Terima kasih pernah hadir dalam hidup ku. Sesuai dengan perkataan mu, aku akan selalu mencintai Tania dan menyayanginya".
Tania menatap Elvan yang sedang berkaca-kaca. "Kamu baik-baik saja Elvan?".
"Mmmm" Angguk Elvan melap air matanya. Lalu Tania memeluknya dari samping. "Aku baik-baik saja Nia" Senyumnya mencium kening Tania.
Mereka segera pergi dari makan Fayola.
DDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..
"Sebentar Elvan".
"Kenapa?".
"Ponsel ku bergetar. Hallo Elma".
"Kamu dimana Nia? kami sudah berada di rumah mu".
"Maaf Elma, aku tidak bisa hari ini. Bagaimana kalau hari senin saja? aku sedang bersama dengan Elvan".
"Oohh.. Tidak apa-apa Nia, kami berada di dalam rumah mu bersama dengan ibu mertua mu dan juga kakak ipar mu. Selamat bersenang-senang Nia".
"Iya El" Senyum Tania mematikan ponselnya.
"Sudah?".
"Iya, kita kemana Elvan?".
"Rumah sakit".
"Rumah sakit? ngapain?".
"Cek kandungan. Ayo masuk".
"Oohhh" Angguk Tania memasuki mobil menuju rumah sakit langganan keluarga Sandoro. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini mereka telah tiba disana. Begitu mereka memasuki rumah sakit, yang ingin mereka jumpai bertepatan memiliki banyak pasien. "Ramai juga yah".
"Aku akan menelponnya Nia" Elvan menelpon si dokter kandungan tersebut. Namun si dokter tidak mengangkatnya.
"Kita tunggu saja Elvan. Dokter itu sangat sibuk sehingga ia tidak punya waktu mengangkatnya".
"Mereka ramai sekali, kalau kita menunggu antrian mau sampai jam berapa kita disini. Kita cari rumah sakit lain saja".
__ADS_1
"Kalau itu aku setuju" Angguk Tania.