
Saat ini Elvan telah berada di ruang meeting yang berada di luar negeri. Dengan berpakaian formal, mereka semua sama sekali tidak mengetahui bahwasanya Elvan masih menduduki kursi mahasiswa.
"Selamat pagi semua" Sapa salah satu pemilik saham terbesar disana sekaligus ketua dari group TQ.
"Pagi tuan Robert" Balas mereka.
"Semua sudah disini?" Tanyanya melihat mereka satu persatu, hingga kedua matanya berhenti kepada Elvan yang terlihat sangat tampan dan berwibawa. "Permisi, anda siapa?" Tanyanya.
"Saya Elvan yang mewakili meeting hari ini atas nama Vicky Sandoro" Jawabnya.
"Elvan? atas nama Vicky?".
"Mmmm" Angguk Elvan.
"Apa kamu putranya?".
"Benar, selama 3 bulan ke depan saya yang akan mengambil alih atas nama Vicky Sandoro di perusahaan ini".
"Wah.." Kagum mereka melihat ketampana Elvan dan juga cara bicara Elvan yang sangat berwibawa.
"Baiklah, meeting hari ini kita mulai" Ucapnya langsung membahas inti dari meeting hari ini.
Selesai meeting tersebut, satu persatu diantara mereka berkeluaran dari dalam aula, hingga kini tinggal hanya Elvan dan juga presiden dari group TQ di ruang rapat tersebut. "Hahahha.. Kamu pasti putra bungsu dari Vicky" Tawanya menyalam Elvan.
"Iya" Angguk Elvan membalasnya.
"Wah.. Vicky luar biasa memiliki putra sepintar dan juga setampan kamu. Apa kabar Vicky saat ini?".
"Baik" Jawab Elvan.
"Mmmmm" Angguk Robert tersenyum. "Malam ini saya ingin mengundang mu makan makan di rumah ku. Datanglah kesana, kami akan menyiapkan hidangan yang sangat enak untuk mu".
"Ahh.. Terima kasih" Senyum Elvan.
"Kamu sudah mengetahui nama ku?".
"Tuan Robert".
Kemudian Robert melihat asistennya, "Berikan alamat rumah".
"Baik tuan" Angguknya segera menulis disebuah kertas kecil. "Ini" Berinya ditangan Elvan.
"Hahahaha.. Jangan lupa nanti malam, kami menunggu mu" Tawanya kembali sebelum meninggalkan Elvan.
"Terima kasih tuan" Senyum Elvan dengan sopan. Begitu Elvan melihatnya keluar dari dalam sana, ia pun segera menuju ruangannya yang berada di lantai 25. "Aahh.. Padahal malam ini aku berencana tidur" Gumam Elvan menyalakan komputernya. Namun sebelum Elvan menyalakan komputernya, ia terlebih dahulu menatap layar ponsel dimana Elvan yang menaruh foto pernikahannya dengan Tania di layar ponselnya.
"Dia pasti sedang tidur" Tampa ingin mengganggu Tania yang sedang tidur, Elvan langsung menyalakan komputernya.
.
Pagi harinya Tania tengah bersiap-siap berangkat PKL menuju tempat dimana ia magang yang tak lain adalah perusahaan milik keluarganya sendiri. "Selamat pagi semuanya" Sapa Tania ikut bergabung disana.
"Pagi Nia" Balas mereka.
__ADS_1
"Pagi bibi Nia" Senyum Saskia. "Bibi duduk disini".
"Terima kasih Kia" Duduk Tania. Lalu ia menerima sarapan paginya dari salah satu pelayan. "Terima kasih bi".
"Iya nona" Angguknya.
Kemudian Vicky tersenyum hangat kepada Tania, "Maafkan papa ya Nia".
"Tidak apa-apa, Nia bisa mengerti".
"Terima kasih Nia sudah mengerti papa dan Elvan. Papa bangga memiliki menantu seperti kamu".
"Terima kasih pa, Nia juga bangga punya mertua seperti papa dan mama yang sangat menyayangi Tania seperti orang tau kandung Tania sendiri".
"Iya sayang, kalau kamu butuh sesuatu jangan pernah segan-segan meminta sama mama dan papa atau kakak ipar kamu" Sahut Amira.
"Iya ma".
.
Setibanya Tania di perusahaan, ia segera menuju ruangan Alvis yang berada di lantai 35. "Permisi mbak, papa sudah datang?" Tanya Tania kepada sekretaris Alvis.
Sekretaris Alvis mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Tania, "Maaf anda siapa?" Tanyanya balik yang tidak mengenal Tania.
"Aahh.. Saya ini anak dari pak Alvis" Bukannya percaya, si sekretaris itu malah tersenyum melihat Tania. "Kenapa? ada yang lucu yah?".
"Maaf, saya rasa anda ini sedang bercanda yah?".
"Mmmm".
"Sakit ni sekretaris papa" Geleng Tania. "Baiklah, saya akan memaklumi mu karna kamu masih baru disini. Begitu papa saya sudah datang, bilang putri tercintanya tadi mencarinya. Ok".
"Mmmmm" Angguknya masih tersenyum.
"Permisi" Pergi Tania meninggalkannya.
Sedangkan dalam pikiran si sekretaris "Jaman sekarang ada-ada saja, bagaimana mungkin pak Alvis yang masih muda memiliki putri yang hampir sebaya dengan ku. Dasar aneh".
Tidak lama kemudian Alvis telah tiba disana, dengan penampilan gagah dan berwibawa ia terlihat sangat tampan seperti anak muda jaman sekarang, "OMG.. Pak Alvis kenapa tampan sekali" Batin sekretaris Alvis. Kemudian ia teringat kepada Tania yang mengatakan Alvis adalah papanya. "Hahahaha" Tawanya tampa sadar.
"Kamu" Tegur asisten Alvis yang mendengar suara tawanya.
"Astaga.. Maaf pak" Tunduknya.
"Ckckck" Geleng asisten Alvis membukakan pintu untuknya. "Silahkan tuan".
"Aaa.. Panggil Tania kemari, dia berada di lantai 17 kalau enggak salah".
"Baik tuan" Angguknya segera memanggil Tania yang berada di lantai 17 di bagian jaringan marketing. "Nona Tania" Panggilnya melihat Tania yang sedang sibuk.
"Nia.. Itu bukannya nama kamu yah, yang lagi dipanggil pria itu?" Beritahu Sani yang berada di samping Tania.
"Siapa?" Tania langsung melihat kearah pria yang baru saja menyebut namanya. "Oohh.. Dia asisten papa aku, sebentar ya Sani aku tinggal kamu dulu".
__ADS_1
"Iya" Angguk Sani melihat Tania mengikuti pria tampan itu. "Wah.. Kenapa pegawai di kantor ini sangat tampan-tampan sekali?" Sani kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hingga kini Tania berada di depan pintu ruangan Alvis. Si sekretaris tampak mengerutkan keningnya melihat Tania yang sedang tersenyum kepadanya. "Tidak mungkin".
"Kamu tolong bawakan kopi keruangan pak Alvis".
"Baik pak" Angguknya segera membuat dua gelas kopi.
Begitu Tania memasuki ruangan Alvis, sang putri tercinta langsung memeluknya. "Pa, Nia merindukan papa" Manjanya di pelukan Alvis.
"Hahahha.. Benarkah kamu merindukan papa?".
"Mmmm.. Tania sangat merindukan papa".
"Papa tidak percaya, bilang saja kamu merindukan Elvan".
"Heheheh.. Papa tau ajah".
"Tentu saja papa tau Nia" Tawanya.
Tok.. Tok..
"Masuk" Ucap asisten Alvin.
Ceklek!.
"Hhhmm?" Kagetnya melihat Tania yang sedang bermanja di pelukan Alvis. "Jadi tuan Alvis sudah menikah dan dia sudah memiliki putri sebesar dia? OMG, jadi selama ini aku mengagumi suami orang" Batinnya.
"Hey, apa yang sedang kamu lakukan?".
"Aahh.. Maaf pak" Ia segera meletakan kopi itu diatas meja. "Permisi" Perginya keluar.
Kemudian Alvis menyuruh Tania duduk diatas sofa, "Bagaimana kabar Elvan disana Nia?".
"Elvan baik-baik saja pa".
"Syukurlah" Senyum Alvis.
.
Sekeluarnya Tania dari ruangan Alvis, ia langsung kembali ke ruangannya yang berada di lantai 17 dimana Sani yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Sani" Panggil Tania.
"Kamu udah datang Nia?".
"Mmmm.. Bagaimana dengan hari pertama mu magang Sani?".
"Aahhh.. Melelahkan sekali Nia, kamu lihat sendiri berkas ini. Aku pusing Nia" Sedih Sani menyandarkan kepala.
"Kamu yang sabar Sani, kita berdua tidak beda jauh kok. Kamu lihat ini" Tunjuknya kearah mejanya.
"Ck, ini sangat menyebalkan sekali Nia. Mereka benar-benar tidak punya perasaan memberikan kita perkerjaan sebanyak ini.
"Mmmmm" Angguk Tania setuju.
__ADS_1