SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 95


__ADS_3

Setelah Jessi keluar dari ruangannya, Elvan kembali fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk. Namun, mengingat Jessi yang ingin pergi membuat Elvan menghentikan pekerjaannya, lalu ia menghampiri Jessi ke dalam kamar.


Tok.. Tok..


"Siapa?" Tanya Jessi dari dalam kamar.


Ceklek!


Jessi mengerutkan keningnya melihat Elvan yang berada diambang pintu, "Ada apa Elvan?" Tanyanya melanjutkan mengemas barangnya lagi.


"Kamu pergi berapa hari?".


"Mmmmm.. Tidak tau, kenapa? tumben kamu bertanya aku pergi berapa hari. Ada apa?".


"Tidak, aku hanya bertanya saja" Jawab Elvan keluar.


"Tunggu" Tahan Jessi.


"Ada apa?".


Jessi melihatnya dari atas sampai bawah hingga kedua mata mereka bertemu, kemudian Jessi tersenyum tidak suka. "Kamu boleh keluar, dan satu lagi. Selama aku berada di luar kota, kamu jangan pernah menghubungi ku, ok".


Elvan menyeringai mendengar perkataan Jessi yang membuat kupingnya gatal, "Mmmmm.. Lakukan sesuka hati mu" Setelah itu Elvan langsung keluar.


"Bagus, aku suka itu" Senyum Jessi juga. Begitu ia selesai, ia segera keluar dari dalam kamar.


Sedangkan dari kejauhan Elvan yang kini sedang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang sambil memasukkan kedua tangannya di dalam kantong celana.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..


"Iya" Jawab Elvan saat asistennya menelpon.


"Tuan, besok pagi ada meeting jam 9 pagi dan juga para investor dari luar negeri akan menghadiri meeting besok tuan".


"Ada berapa orang?".


"Kalau enggak salah ada 8 orang tuan".


"Mmmmm.. Siapkan saja apa yang kita perlukan".


"Baik tuan".


.


Di perusahaan AE group Tania sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga ia melupakan siapa yang kini telah berada di hadapannya.


Tok.. Tok..

__ADS_1


"Astaga" Kaget Tania melihat Rizal. "Sejak kapan kamu berada disitu? kenapa aku tidak tau kamu datang? duduklah".


"Ini, hari ini kamu harus berangkat ke amerika untuk menghadiri meeting besok".


"Kenapa harus aku Zal? pak Agam kan ada".


"Tidak bisa perwakilan, jam 1 nanti kamu sudah harus berangkat".


"Baiklah, apa saja yang harus aku persiapkan?".


"Aku sudah memberitahu sekretaris mu, jadi dia sudah menyiapkan apa yang kamu butuhkan".


"Thank you Zal" Senyum Tania.


"Mmmmm" Angguk Rizal meninggalkan ruangan Tania.


Kemudian Tania menatap amplop yang berada di hadapannya itu, "Ck, sebenarnya aku paling malas kalau sudah pergi keluar kota. Hhmmsss, Ansel jadi sendiri" Lalu ia melihat ponselnya. "Ansel sudah pulang apa belum yah?" Gumam Tanya mencoba menghubungi ponsel Ansel.


"Hallo ma" Jawab Ansel.


"Ansel lagi dimana? Ansel sudah pulang apa belum?".


"Sebentar lagi Ansel pulang ma. Kenapa ma?".


"Jam 1 siang nanti mama harus berangkat keluar negeri sayang. Tidak apa-apakan kalau mama ninggalin Ansel?".


"Tidak apa-apa ma, lagian mama sudah biasa pergi meninggalkan Ansel kalau lagi sibuk".


"Emang mama berapa hari disana?".


"Mama belum tau sayang, tapi paling lama 5 hari saja".


"Oohh, tidak usah khawatir ma. Mama tenang saja ada papa Jerry nanti yang menemani Ansel".


"Iya sayang, terima kasih sudah mengerti mama. Kalau gitu mama tutup dulu yah".


"Iya ma"


Setelah itu Tania menelpon Jasmin untuk menyiapkan pakaian yang ia butuhkan dan mengantarnya ke bandara. Kemudian Tania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku masih punya waktu sedikit lagi" Gumam Tania melanjutkan pekerjaannya.


Hingga sekarang telah menunjukkan pukul 12 siang, ia segara keluar dari dalam ruangannya dan juga si sekretaris yang sedang menunggunya. "Semua sudah siap?".


"Sudah buk" Jawabnya.


"Ayo, nanti kita terlambat".


Setibanya mereka di bandara, Tania langsung melihat Jasmin yang sedang menunggunya dengan koper, "Kak Jas, Nia titip Ansel ya kak".

__ADS_1


"Iya, selama disana jangan lupa jaga kesehatan".


"Iya kak" Senyum Tania.


"Berangkatlah".


.


Sesampainya mereka di bandara amerika, mereka segera menuju hotel, "Kita masih punya waktu untuk istirahat" Ucap Tania memasuki taksi. Berada di hotel, Tania langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. "Kenapa perasaan ku tidak enak yah? tidak seperti biasa. Aahh.. sebaiknya aku mandi saja" Begitu ia selesai membersihkan tubuhnya.


Tok.. Tok..


"Buk, serapannya" Ucap sekretarisnya dari luar.


"Sebentar" Ia segera membuka pintu kamarnya.


Ceklek!.


"Sarapannya buk".


"Iya, terima kasih ya".


"Sama-sama buk" Tania membawanya masuk kedalam kamar, lalu ia melahapnya sampai habis.


"Ternyata gara-gara lapar" Senyum Tania melihat piring kotornya. Kemudian ia memakai pakaian kantornya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi lewat. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Tania, ia telah selesai dengan penampilan natural. "Tania yang dulu tidak seperti yang sekarang ini lagi, aku jadi merindukan masa-masa kuliah ku".


.


Di depan perusahaan TAESAN group Tania dan sekretarisnya sudah berada di dalam loby. Lalu Tania menyuruh sekretarisnya bertanya kepada si resepsiones meeting pagi ini di ruang mana. "Mari ikut saya" Ajaknya membawa Tania kelantai 25. "Disini nyonya, silahkan masuk".


"Terima kasih".


"Sama-sama" Angguknya meninggalkan mereka.


Setelah itu Tania memasuki ruang meeting tersebut, "Ternyata mereka sudah pada datang juga" Batin Tania mendudukan diri diatas kursinya. "Pagi" Senyum Tania kepada client yang berada di samping kiri kanannya.


"Pagi" Balas mereka tersenyum ramah.


Sambil menunggu yang lainnya, Tania menyempatkan diri mencek ponselnya saat ia mendapatkan notifikasi dari putra kesayangan. Hingga kini telah menunjukkan pukul 9 pagi tepat, namun presdir yang mereka tunggu belum kunjung tiba. "Kenapa lama sekali, ini sudah jam 9" Batin Tania.


Lalu mereka melihat asisten si presdir memasuki ruang meeting, "Maaf, beliau sedikit terlambat, mohon tunggu sebentar" Ucapnya.


"Tidak apa-apa" Jawab mereka.


Tidak lama kemudian presdir yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi, kini sudah memasuki ruangan tersebut. "Pagi semua, maaf saya datang terlambat" Ucapnya dengan wajah datar.


"Ternyata dia datang juga" Gumam Tania melihat kearah si presdir pemilik dari perusahaan TAESAN group. "OMG" Dengan mata membulat Tania melihat siapa pria yang berada disana. "Tidak, tidak mungkin, dia tidak mungkin Elvan, ahahahah.. Aku pasti sedang berhalusinasi" Ucap Tania tampa menyadari pandangan mata mereka yang sedang tertuju kepadanya.

__ADS_1


Sedangkan Elvan yang juga sedang melihat kearahnya hanya bisa terlihat biasa saja seperti tidak mengenal Tania. Lalu ia menyuruh asistennya untuk segera memulai rapat pagi hari ini.


Namun Tania yang masih memperhatikan Elvan sedari tadi hanya bisa membisu, ia tidak tau apa yang sedang ia rasakan saat ini antara rindu dan marah. "Tuhan, tolong kuatkan aku. Tolong sadarkan aku siapa dia sekarang ini, dia bukan lagi milik ku" Tetapi Tania yang tidak sanggup menahan rasa kerinduan dalam hatinya membuat ia semakin sesak untuk bernafas saja dan juga kedua mata Tania yang kini sedang berkaca-kaca.


__ADS_2