
Setibanya mereka di indonesia, Tania langsung membawa Rachel pulang kerumahnya dimana anak dan juga kedua sahabatnya menunggunya di rumah.
"Ayo masuk sayang" Ajak Tania.
"Ini rumah bibi?".
"Iya" Jawab Tania memasuki rumahnya bersama dengan Rachel. Kemudian ia melihat Ansel yang sedang berada disamping Jerry dan juga Rizal yang berada disana. "Kalian semua ada disini?".
"Mama" Kaget Ansel melihat Tania yang baru tiba. Lalu ia berlari menghampiri Tania dan memeluknya. "Mama, Ansel rindu".
"Hahaha.. Mama juga merindukan Ansel" Balasnya memeluk tubuh mungil Ansel. "Selama mama pergi, Ansel enggak nakal kan?".
"Mmmmm" Angguknya melihat Rachel yang berada di sampingnya. "Dia siapa ma?".
"Teman barunya Ansel. Ayo, Rachel kenalan dulu. Ini Ansel anaknya bibi".
"Mmmmm.. Hay, nama ku Rachel" Ucap Rachel sambil mengulurkan tangannya.
"Ansel. Bagaimana bisa kamu bertemu sama mamanya Ansel?".
"Bibi ini temannya daddy ku".
"Oohhh".
"Sekarang ayo kita duduk dulu" Ujar Tania membawa mereka kearah sofa. "Ada hari apa ini membuat kalian semua berkumpul disini?".
"Tidak ada hari apa-apa Nia, kita tadi baru pulang dari mall terus singgah kesini. Iya kan Lia".
"Mmmmm" Angguk Filia. "Terus, kamu bawa oleh-oleh apa dari luar negeri Nia?".
Tania tertawa kecil, "Sorry yah, kemarin aku tidak sempat belanja jadi aku tidak ada bawa apa-apa".
"Hhhmmsss.. Lalu itu anak siapa Nia?".
Tania kemudian melihat kearah Jerry dan Rizal yang juga sedang melihat kearahnya. "Mmmm.. Dia, anak dari teman ku yang ada di sana. Hahahah, iya dia anak teman ku".
"Benarkah?" Tanya Elma dengan penasaran.
"Mmmmmm".
"Oohhh, dan dia cantik juga yah. Hallo cantik siapa nama kamu?".
"Rachel onty" Jawabnya tersenyum manis.
"Omo, kenapa kamu manis sekali saat tersenyum".
"Terima kasih onty".
"Wah.." Kagum Elma dan Filia melihat kearah Ansel yang terlihat biasa saja. "Ansel, tidakkah gadis kecil itu manis sekali?".
"Tidak, Ansel melihat biasa saja".
"Benarkah? nanti diam-diam Ansel mengaguminya hahahahha" Tawa Elma dan Filia.
"Iikkhh.. Apaan sih onty? ngapain juga Ansel harus mengagumi rambut pirang seperti dia. Ansel lebih suka rambut hitam".
Mereka semua langsung tertawa lantang mendengar jawaban Ansel yang terlalu serius, "Ya ampun Ansel, kamu seperti Elvan saja" Ujar Jerry tampa sadar akan perkataannya. Lalu ia melihat kearah mereka yang sedang melihatnya. "Hhmmm? kenapa?".
__ADS_1
Kemudian Rachel mendekati Jerry, "Uncle, tadi barusan bilang Elvan! yang uncle maksud Elvan siapa?".
Jerry mengerutkan keningnya melihat Rachel yang sedang mengajukan pertanyaan kepadanya. Namun sebelum Jerry menjawabnya, Tania dengan cepat mengalihkan mereka berdua, "Hahahhaha.. Kalian semua sudah pada makan belum? kami berdua belum makan malam soalnya".
"Udah Nia, emang kalian tadi enggak makan di pesawat?" Tanya Filia.
"Iya, kami berdua tadi ketiduran di pesawat Lia. Ayo Rachel, kita makan malam dulu. Kamu pasti sedang lapar, iya kan?".
"Tidak terlalu sih bibi, tapi kalau bibi memaksanya tidak apa-apa. Ayo" Angguk Rachel mengikuti Tania kearah ruang makan. Sedangkan mereka yang sedang melihat kearah punggung Tania dan Rachel hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Lalu Ansel bertanya kepada Rizal dan Jerry, "Menurut papa sama Rizal dia siapa?".
"Gadis kecil itu?" Tanya Jerry.
"Mmmmm".
"Papa juga enggak tau Ansel siapa gadis mungil itu"
"Kalau om Rizal?".
"Om juga tidak tau" Jawabnya.
.
Begitu mereka semua kembali pulang, Tania langsung membawa Ansel dan Rachel kedalam kamarnya, "Bibi, Rachel tidur dimana?".
"Kita bertiga tidur disini Rachel. Ansel sikat gigi dulu yah sebelum tidur".
"Iya ma" Masuknya kedalam kamar mandi.
"Sekarang Rachel ganti pakaian dulu, siap itu sikat gigi".
Setelah Ansel keluar dari dalam kamar mandi, Rachel pun segera masuk kedalam. Terus Ansel datang menghampiri Tania yang sedang membersihkan wajahnya, "Ma" Panggilnya.
"Iya sayang. Sinih lap wajah dulu".
"Ansel masih penasaran ma, siapa dia sebenarnya?".
"Anak teman mama sayang. Kenapa Ansel sangat penasaran seperti itu?".
"Tidak ada apa-apa sih ma, Ansel cuman penasaran saja".
"Mmmmm.. Mulai dari sekarang Ansel harus melindungi dia. Ok".
"Kenapa harus Ansel ma?".
"Karna Ansel abangan, jadi Ansel harus melindungi adik Ansel sendiri, dan besok mama akan daftarin dia di sekolahnya Ansel".
"Mama lupa yah kalau besok hari minggu?".
"Hari minggu?".
"Mmmmm".
"Astaga, mama kok bisa sampai lupa yah?".
Dengan wajah sedih Ansel menggenggam tangan Tania, "Mama jangan terlalu banyak pikiran sampai hari saja mama lupa. Ansel enggak mau terjadi apa-apa sama mama".
__ADS_1
"Oohh, anak mama" Peluknya dengan sayang. "Terima kasih ya sayang sudah mengkhawatirkan mama".
Rachel yang berada di ambang pintu hanya bisa melihat dengan tatapan sedih melihat kedekatan Tania dan Ansel. "Seandainya mommy Rachel juga seperti bibi Tania pasti Rachel sangat bahagia".
Setelah Tania melepaskan pelukannya, baru Rachel datang menghampiri mereka, "Bibi, Rachel sudah selesai".
"Kemarilah, Rachel lap wajah dulu".
"Oohh iya bibi, paman dimana? dari tadi Rachel tidak melihatnya?".
"Papa Ansel enggak ada" Jawabnya Ansel.
Rachel melihat kearah Tania yang membisu, "Bibi, masa daddy Ansel tidak ada?".
Lalu Tania tersenyum, "Ansel punya daddy kok, sebentar lagi daddy-nya Ansel akan datang".
"Maksud mama?".
"Mmmm.. Papa-nya Ansel sebentar lagi akan datang. Ansel senang enggak?".
"Mama pasti bohong, dari kemarin mama terus berkata seperti itu".
"Kali ini mama tidak akan bohong sayang".
"Benarkah? kali ini mama enggak bohong kan?".
"Iya sayang mama enggak bohong".
"Tapi".
"Tapi apa sayang?".
"Ansel takut kalau papa tidak ingin melihat Ansel".
"Kok Ansel berkata seperti itu?".
"Mmmmm.. Kalau papa Ansel sayang sama Ansel, papa enggak mungkin ninggalin mama dan Ansel. Itu artinya papa tidak ingin melihat Ansel ma".
"Bukan seperti itu sayang, selama 5 tahun papa selalu merindukan Ansel bahkan papa selalu datang menghampiri Ansel meskipun hanya dari kejauhan saja".
"Terus kapan papa datang ma? Ansel tidak sabar lagi ingin bertemu sama papa ma".
"Ansel yang sabar yah, tidak lama lagi".
"Mmmmm" Kemudian Rachel memperhatikan wajah Ansel dengan lekat-lekat, "Kenapa?".
"Tidak" Senyumnya.
"Mulai hari ini kamu akan menjadi adik ku, jadi kamu harus memanggil ku kakak".
"Mmmmm" Angguk Rachel tersenyum senang.
"Gadis pintar" Senyum Ansel. "Lalu apa pekerjaan orang tua mu?".
Namun Tania langsung menghentikan pertanyaan Ansel, "Sudah, ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur saja. Ayo" Ajaknya membawa Ansel dan Rachel keatas tempat tidurnya. "Sekarang tutup matanya, mama akan membacakan sebuah cerita".
"Iya ma".
__ADS_1
Tidak lama kemudian kedua bocah mungil itu sudah tertidur lelap, lalu Tania membenarkan selimut Ansel sambil mencium keningnya dan juga Rachel. "Selamat tidur anak mama" Setelah itu Tania pun segera menyusul mereka ke alam mimpi.