SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 53


__ADS_3

Sepulang Tania dan Sani dari perusahaan, sang supir yang akan membawanya kembali pulang ke kediaman Sandoro telah menantinya di depan loby. "Sani, supirku sudah menunggu di sana. Aku pulang duluan yah".


"Iya Nia, hati-hati dijalan".


"Kamu juga. Dah.." Lambai Tania meninggalkan Sani yang masih berada disana.


"Dah.. Nia" Balas Sani hingga mobil Tania menghilang di ujung jalan. "Nia naik mobil mewah, aku naik bus saja" Jalannya menuju halte bus.


Sesampainya Tania di rumah, ia langsung masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. "Aahh.. Aku lelah sekali" Gumam Tania mengelus perutnya yang masih rata. "Sayang, daddy kamu sedang apa yah? apa dia sudah bangun? sepertinya dia masih tidur" Tidak lama kemudian Tania terlelap.


.


Jam 6 sore, Tania telah terbangun dari tidurnya. Ia segera memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berlama-lama di dalam kamar mandi, kini Tania telah selesai dengan pakaian santainya. "Mama sudah pulang apa belum enggak yah?" Gumam Tania keluar dari dalam kamar.


"Bibi Nia" Panggil Saskia yang baru tiba di lantai atas.


"Eehh Kia" Senyum Tania.


"Bibi, ayo ikut Kia" Ajaknya menarik tangan Tania kedalam kamarnya.


"Ada apa Kia? kamu tampak sangat bersemangat sekali" Senyum Tania mengikut setiap langkah Saskia.


Didalam kamar Saskia, ia menyuruh Tania duduk sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Bibi tutup mata" Suruhnya.


"Kok tutup mata Kia?".


"Iya ayo tutup mata bibi".


"Baiklah" Tania segera menutup kedua matanya.


"Bibi jangan mengintip ya".


"Kamu membuat bibi penasaran saja Kia, udah belum?".


"Sabar bibi, sebentar lagi Kia akan selesai. Kalau tidak bibi bisa menghitungnya sampai 10".


"Bibi akan menghitung ya, 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9...


"Selesai, bibi bisa membuka mata" Senyum Saskia menunjukan gigi ratanya.


"Astaga.. Ini apa Kia?" Senyum Tania juga melihat kue cake mini yang berada di hadapan Tania.


"Ayo tiup bibi, ini perayaaan untuk kita berdua karna bibi telah membantu Kia mewarnai gambar Kia kemarin".


"Oohh Jadi ini perayaan untuk itu Kia?".


"Iya bibi".


"Baiklah bibi akan meniupnya dan Kia juga harus ikut, bibi hitung 1.. 2.. 3.. Hhuufff" Begitu lilin tersebut padam, Tania dan Kia tertawa senang. "Jadi kia dapat nilai berapa dari gurunya?".


"Nilai very good dong bibi" Senang Saskia.


"Benarkah" Senang Tania juga.


"Mmmmm".


"Wah.. Selamat ya Kia, sepertinya kamu calon pewaris mama Amira".


"Amin, Kia sangat ingin seperti oma".


"Pasti, Kia pasti bisa seperti oma. Bibi akan selalu mendukung mu".

__ADS_1


"Terima kasih bibi, ayo kita memakannya. Rasanya sangat enak loh" Kia segera memotongnya dan memberi kepada Tania.


"Mmmm.. Enak sekali Kia".


"Iya bibi, penjualnya juga tadi memberitahu Kia kalau cake ini sangat enak".


"Lain kali bibi akan membeli cake kesana Kia, bisakah kamu memberitahu bibi alamatnya dimana?".


"Bisa bibi" Saskia menulis alamatnya di sebuah kertas kecil. "Bibi bisa datang kemari bersama dengan teman-teman bibi".


"Terima kasih Kia".


"Sama-sama bibi".


.


Dilain tempat dimana Elvan yang sedang sibuk mengikuti meeting mendadak pembangunan proyek tersebut. Mulai hari ini, ia akan terjun secara langsung kelapangan dan ia akan menghabiskan waktu paling banyak disana untuk memberantas siapa saja yang telah melakukan korupsi dalam pembangunan ini sesuai dengan permintaan Elvan kepada Robert.


Hingga kini, Elvan telah berada di proyek pembangunan. "Bisa saya minta datanya?" Ucapnya kepada manager yang bertanggung jawab disana.


"Ini tuan" Berinya ditangan Elvan.


"Terima kasih" Duduknya diatas kursi sambil memeriksa data tersebut. "Apa kalian semua benar-benar bekerja?".


"Benar tuan".


"Ada berapa banyak karyawan yang bekerja?".


"Sekitar 1000 orang lebih tuan".


"Tidak bisakah kamu menghitungnya dengan benar?".


"Saya tidak mau tau, saya harus memastikan ada berapa banyak karyawan yang bekerja disini. Cepat hitung mereka, saya akan menunggu mu selama 30 menit".


"Tapi tuan?".


"Kenapa?" Lihat Elvan kearahnya.


"Mereka semua sedang bekerja tuan. Tidak mungkin saya menghitung mereka saat seperti ini".


"Kenapa tidak mungkin? itu kesalahan kamu sendiri. Saya harus mengetahui ada berapa banyak karyawan yang berkerja disini. Dana yang masuk dan dana yang keluar" Bentak Elvan melihat wajah pucat si manager.


"Maafkan saya tuan".


"Kamu masih tidak ingin menghitungnya?".


Dia terdiam.


"Baiklah, kali ini aku memaafkan kamu. Begitu jam istirahat tiba kamu sudah harus mengumpulkan mereka semua di bawah. Saya ingin memberi mereka pengumuman".


"Baik tuan" Angguknya.


"Mmmmm.. Kamu boleh keluar".


Sekeluarnya si manager tersebut, Elvan langsung memijit pelipisnya. Ia merasa sangat pusing melihat data-data tersebut yang tidak sesuai dengan data yang berada di pusat. "Berani sekali mereka korupsi" Batin Elvan sambil menunggu jam istirahat tiba.


Setelah jam istirahat tiba, semua karyawan telah berada di lapangan yang cukup luas itu, tidak lama kemudian Elvan muncul di hadapan mereka. "Selamat siang" Ucapnya.


"Siang tuan" Angguk mereka.


"Maaf saya menggangu jam istirahat kalian semua. Saya mengumpulkan semua karyawan disini, ada hal penting yang ingin saja bicarakan. Sambil menunggu saya berbicara kalian bisa duduk".

__ADS_1


"Terima kasih tuan" Duduk mereka.


"Saya akan ke intinya. Disini siapa yang menerima gaji 15 juta?".


Tidak ada yang menjawab.


"Diatas 15 juta?".


Tidak ada jawaban.


"Dibawah 15 juta?".


Semua bertunjuk tangan.


"Untuk memastikan saya akan bertanya kepada salah satu di antara kalian. Untuk yang berada di hadapan saya, berapa gaji yang anda terima?" Tanyanya.


"9 juta tuan" Jawabnya.


"Lalu yang disampingnya?".


"10 juta tuan".


"Disampingnya lagi?".


"12 juta tuan".


"Mmmmm" Angguk Elvan hingga kedua matanya berhenti di pria yang sudah terlihat tuan. "Lalu yang di ujung sana" Tunjuk Elvan.


"Saya tuan?".


"Iya, berapa gaji yang anda terima?".


"Gaji yang saya terima.." Gantungnya melihat si mandor lapangan.


"Kenapa anda melihat kearahnya?".


"Tidak tuan" Gelengnya.


"Cepat beritahu saya berapa gaji yang anda terima selama bekerja disini. Kalau anda tidak menjawabnya dengan jujur maka mulai hari ini dan seterusnya anda akan menerima gaji seperti itu terus".


"Sebenarnya gaji yang saya terima selama ini sangat miris sekali dibandingkan yang lainnnya mengingat usia saya yang sudah tua. Jadi gaji yang saya terima selama 1 bulan hanya 5 juta tuan".


"5 juta.. Lalu intensif yang kalian terima setiap perminggu ada berada. Saya mulai dari 3 juta, siapa disini yang menerima gaji intensif diatas 3 juta".


Mereka diam.


"3 juta".


Satu persatu karyawan mengangkat tangan.


"2, 5 juta" Lumayan banyak.


"2 juta".


75% diantara mereka mengangkat tangan.


"Lalu bagaimana dengan anda?" Tanya Elvan kembali kepada si pria tua itu.


"1 juta tuan" Jawabnya.


Elvan langsung menghela nafas berat, ia terlihat sangat marah kepada atasan-atasan yang berada disana.

__ADS_1


__ADS_2