SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 47


__ADS_3

Setelah Elvan memberitahu semua anggota keluarga tentang kehamilan Tania dan juga keluarga besar Tania, mereka semua tampak turut sangat senang begitu mendengar kabar bahagia tersebut. Bahkan Alvis dan Elvina melakukan sebuah acara syukuran untuk Tania yang akan menjadi seorang ibu.


"Nia.. Selamat yah" Senang kedua sahabatnya yang tak lain adalah Elma dan Filia.


"Iya, terima kasih banyak yah".


"Sama-sama Nia, dan kamu tidak usah sedih seperti itu, lagian Elvan disana hanyalah 3 bulan saja" Ucap Elma menghibur sang sahabat.


"Iya Nia, lagian kan ada kita" Sahut Filia.


"Mmmm.. Kalian berdua membuat ku sedih saja" Peluk Tania di kedua sahabatnya itu.


Kemudian Elvan datang menghampiri ketiga sejoli itu yang sedang berpelukan di dalam kamar Tania yang berada di keluarga Firan, "Nia" Panggilnya.


"Iya" Jawab Tania melepaskan pelukannya.


Elvan tersenyum, "Kita pulang" Ajaknya.


"Iya" Angguk Tania. Lalu ia melihat kedua sahabatnya. "Aku pulang dulu ya El Lia".


"Iya Nia, sekalian saja kita keluar bareng".


"Ayo".


Setibanya Elvan dan Tania di mension keluarga Anderson, mereka pun langsung masuk kedalam kamar saat semua anggota keluarga melihat wajah letih Tania. "Elvan" Panggil Tania yang sudah berada diatas tempat tidur.


"Iya Nia, kamu butuh sesuatu?".


"Tidak, aku mau kamu memeluk ku".


"Baiklah, aku akan memeluk mu. Sekarang tidurlah".


"Mmmmm" Angguk Tania memejamkan kedua matanya. Hingga kini telah menunjukkan pukul 12 malam, Elvan masih saja memandangi wajah damai Tania. "Kenapa kamu belum tidur Elvan?".


"Aku belum mengantuk Nia, tidurlah lagi" Usapnya di punggung Tania.


.


Pagi harinya adalah hari terakhir Elvan kuliah sebelum berangkat PKL begitu juga dengan Tania yang tetap melanjutkan kuliahnya meskipun sedang dalam keadaan hamil mengingat kandungan Tania yang masih memasuki minggu ke tiga.


"Nia" Panggil Sani.


"Iya Sani" Jawab Tania mendudukan dirinya diatas kursi.


"Tadi pak Varrel mencari mu".


"Mencari ku?".


"Iya".


"Ada apa pak Varrel mencari ku Sani?".


"Tidak tau Nia".

__ADS_1


"Ck, aku malas sekali Sani. Lagian selama 3 bulan kedepannya aku tidak akan berurusan dengan pak Varrel lagi".


"Kok kamu berkata seperti itu Nia? siapa tau urusan penting".


"Malas aahh.. Lebih baik aku tidur".


"Kamu ada-ada saja Nia. Bdw, bagaimana dengan tempat magang kamu Nia".


"Aku magang di kantor papa aku Sani".


"Wah.. Enak juga ya punya keluarga kaya. Boleh tidak aku gabung bersama mu Nia?".


"Emang kamu belum menemukan tempat magang Sani?" Tanyanya melihat Sani.


"Sudah sih, tapi aku ingin bersama kamu Nia hehehe.. Boleh yah".


"Kenapa harus bersama ku Sani?".


"Ya karna aku mau".


"Terserah kamu saja".


"Thank you Nia, kamu memang yang terbaik. Kamu tau enggak Nia, aku dengar banyak dari kampus kita yang akan PKL di luar negeri dan salah satunya Elvan".


"Mmmm.. Aku juga tau".


"Mendengar Elvan yang mau PKL di luar negeri membuat ku sedih Nia, aku enggak bisa bayangin kalau Elvan akan tertarik dengan wanita-wanita cantik disana".


"Ck" Kesal Tania yang ikut juga membayangkannya. "Awas saja kalau Elvan sampai berani macam-macam apalagi dia ketahuan berselingkuh dari ku" Ucap Tania dalam hati.


"Aahh.. Tidak Sani" Geleng Tania tersenyum.


"Mmmm.. Sebentar lagi akan di mulai, kamu tau siapa dosen ketua PKL kita?".


"Tidak tau".


"Pak Varrel dan buk Deva".


"Mmmmm" Angguk Tania tak perduli.


"Aku berharap mereka jodoh, supaya buk Deva tidak kegenitan lagi sama Elvan. Aku sangat membencinya kalau buk Deva tersenyum manis kepada Elvan, sangking bencinya aku ingin membungkus Elvan di dalam kamar ku saja".


"Hhhmmm?".


"Heheheh.. Canda Nia membungkus Elvan di dalam kamar ku".


"Kamu" Senyum Tania menggeleng.


Begitu acara dimulai, semua mahasiswa langsung fokus kepada Varrel dan Deva yang sedang berbicara dihadapan mereka. "Selamat pagi" Ucap Varrel.


"Pagi pak" Jawab mereka serentak.


"Terima kasih, bapak harap semuanya sudah berkumpul disini. Bisa kita langsung ke intinya?".

__ADS_1


"Bisa pak".


"Atau disini masih ada yang belum mendapatkan tempat PKL? ayo tunjuk tangan, biar saya dan buk Deva yang akan membantu".


Mereka terdiam dan tidak ada yang mengangkat tangan salah satu diantara mereka.


"Baiklah, saya rasa tidak ada. Terima kasih" Senyum Varrel. "Ada yang ingin bertanya tentang PKL kita ini atau hal lainnya".


"Saya pak" Tunjuk salah satu mahasiswa wanita.


"Iya, silahkan".


"Jangan tersenyum pak".


Varrel mengerutkan keningnya, "Kenapa?".


"Senyum bapak membuat ku diabetes saja".


Semua mahasiswa langsung tertawa lantang sambil bersorak kepadanya, "Sudah hentikan" Tegur Varrel. "Disini kita lagi serius membahas soal PKL, jadi bapak tidak mau bercanda apalagi ini menyangkut kalian yang akan berada di lapangan. Jadi silahkan bertanya hal yang penting-penting saja".


"Baik pak".


Selesai para mahasiswa lainnya bertanya jawab dengan Varrel. Kini tiba giliran Deva yang berbicara, "Terima kasih, selama ibu berbicara saya harap tidak ada satupun diantara kalian yang ribut, kalau tidak saya akan mengeluarkan kalian dari sini. Bisa dipahami?".


"Bisa buk" Jawab mereka.


"Good. Ibu langsung ke intinya juga. Siapa disini yang PKL di luar negeri?".


Satu persatu mahasiswa tunjuk tangan.


"Kalian boleh menurunkan tangan. Untuk yang PKL di luar negeri, bisakah kalian menjaga nama baik kampus kita?".


"Bisa buk".


"Ibu harap kalian bisa bertanggung jawab. Sebagai contoh, ibu akan menyuruh salah satu diantara kalian maju ke depan dan bagaimana cara berpakaian yang rapi yang tak jauh kalah dengan karyawan disana. Silahkan masuk" Ucap Deva.


Ceklek!


Suara pintu terbuka dan suara tumit sepatu membuat mereka semua terdiam sambil melihat kearah sumber tersebut. "Elvan" Gumam Tania melihat Elvan.


"OMG.. Siapa pria itu? kenapa dia sangat tampan sekali seperti bak seorang pangeran" Bisik para wanita yang melihat kegagahan Elvan dan juga cara berpakaian yang formal membuat mereka tak berkedip.


"Kamu kemari Elvan" Ucap Deva mencoba mengalihkan pikirannya yang juga sempat tertarik dengan penampilan Elvan yang sangat berwibawa.


"Mmmm" Angguk Elvan maju ke depan dan menatap lurus kearah semua para mahasiswa yang sedang menatapnya dengan tatapan kagum.


"Perhatian semua, dia adalah salah satu mahasiswa yang akan PKL di luar negeri. Terkhusus yang PKL di luar, kalian bisa melihatnya?".


"Bisa buk".


"Ibu harap, kalian bisa meniru cara berpakaian dia..


"Buk" Potong salah satu mahasiswa. "Maaf saya memotong pembicaraan ibu, tapi kalau seperti dia. Saya rasa itu terlalu formal buk mengingat kita ini hanyalah seorang anak magang yang tidak di gaji, tentu saja kita berbeda dengan mereka. Jadi untuk apa kita berpakaian seformal dia?".

__ADS_1


"Betul buk" Angguk yang lainnya.


__ADS_2