SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 55


__ADS_3

Saat jam bekerja Tania mulai merasa bosan, ia malah ingin memakan rujak. "Sani" Panggil Tania.


"Mmmm.. Ada apa Nia?" Tanyanya yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Aku pengen makan rujak, kamu tau enggak tukang rujak yang ada di luar kampus kita?".


"Iya, kamu mau makan rujak disana?".


"Mmmmm" Angguk Tania.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaannya kita? ini masih jam 10 kurang 5 menit Nia".


"Kamu tenang saja, biar aku yang izinin".


"Kalau aku sih iya-iya ajah Nia" Senyum Sani.


"Sebentar yah" Perginya menghampiri meja sang manager. Sedangkan Sani tampak bersemangat yang juga merasakan jenuh. "Ayo, dia memberikan kita izin".


"Ayo" Mereka berdua pun segera keluar dari ruangan tersebut. "Nia, aku tau mereka pasti sedang membicarakan kita berdua".


"Biarkan saja" Senyum Tania. "Aahh iya Sani, kita naik bus saja yah. Kamu taukan bus menuju kampus kita?".


"Mmmm.. Aku pikir kami akan naik mobil mewah" Gumam Sani yang masih bisa di dengar oleh Tania.


"Aku bisa mendengar mu Sani, lain kali aku akan membawa mu naik mobil mewah, tapi kali ini aku ingin sekali naik bus bersama mu".


"Kamu yakin mau naik bus? didalam bus itu tidak enak loh Nia".


"Tidak apa-apa Sani. Dulu aku sering bersama dengan Elma dan Filia naik bus bersama cuman mau sekedar menikmati ya saja".


"Kalau gitu ayo.. Itu bus ya sudah berhenti" Lari mereka berdua. "Pak.. Tunggu" Teriak Sani.


"Buruan nona".


"Iya pak" Masuk mereka kedalam bus. "Yah.. Kursinya penuh Nia. Gimana dong?".


"Terpaksa kita berdiri Sani".


"Tapi Nia".


"Tidak apa-apa".


Begitu bus tersebut berjalan, Tania hampir saja terjatuh kalau tidak sebuah tangan kekar menahan tubuhnya. "Nia.. Kamu baik-baik saja?" Khawatir Sani.


"Mmmm.. Aku baik-baik saja" Angguk Tania dengan wajah pucat. Kemudian ia melihat kearah pria yang menahan tubuhnya. "Gavin?".


Gavin tersenyum, "Hallo Nia".


"Gavin" Kaget Sani juga. "Kenapa kamu bisa berada disini?".


"Kenapa? apa aku tidak bisa naik bus juga?".


"Bukan seperti itu, tapi kamu kan.." Gantung Sani begitu Gavin mendudukan Tania di atas kursinya.


"Kamu boleh menggunakan milik ku".


Tania tersenyum tipis, "Terima kasih Gavin".


"Mmmmm" Balas Gavin tersenyum tipis.


"Ternyata Gavin masih punya hati juga, aku pikir dia akan" Gantungnya lagi saat Gavin tiba-tiba melihat kearahnya. "Kenapa?" Gavin malah memalingkan wajahnya.


Sesampainya mereka di kampus, Gavin, Tania dan Sani langsung keluar dari dalam. "Oohh iya Vin, sekali lagi terima kasih banyak yah".


"Tidak apa-apa, kalian kenapa datang kemari?".

__ADS_1


"Kami mau beli rujak" Jawab Sani.


Gavin mengerutkan keningnya, "Hahahha.. Soalnya rujak disini sangat enak Vin. Kamu udah pernah coba belum? kalau kamu mau aku akan membelinya untuk mu juga".


"Tidak usah terima kasih, permisi" Perginya meninggalkan Tania dan Sani.


Seperginya Gavin, Tania dan Sani saling tatapan satu sama lain. "Nia, kamu merasa aneh enggak dengan sifat Gavin yang tiba-tiba terlihat sangat manis".


"Mmmm.. Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu San".


"Aneh, selama aku satu kelas dengan Gavin. Baru kali ini aku melihat dia benar-benar bersifat manis seperti pria dewasa".


"Mmmm.. Apa dia baik-baik saja?".


"Sudahlah, paling Gavin sedang kumat-kumatan hahaha".


"Mungkin, ayo" Jalannya menghampiri si penjual rujak tersebut. "Bang, rujaknya dua. Porsi besar yah" Minta Tania.


"Siap nona" Angguknya segera membuatkan pesanan Tania.


"Nia" Panggil Sani.


"Kenapa Sani?".


"Apa kabar Elvan, apa dia baik-baik saja?".


"Elvan baik-baik saja. Kamu masih menggilai dia?".


"Hey.. Tidak salahkan aku menanya kabarnya Elvan? kamu langsung cemburu saja".


"Aku bercanda Sani. Dia baik-baik saja kok".


"Elvan sering menelpon mu?".


"Mmmmm.. Tapi semakin sering aku berkomunikasi dengan ya. Aku semakin sering merindukan dia".


"Masa iya?" Senang Tania.


"Mmmm.. Kamu adalan wanita luar biasa".


"Thank you Sani" Tidak lama kemudian pesanan mereka telah tiba. "Berapa bang? kami langsung bayar saja".


"Semua 50 ribu nona".


"Ini bang" Berinya.


"Terima kasih nona".


"Sama-sama bang" Angguk Tania segera melahap rujaknya. "Mmmm.. Kenapa rujak ini sangat enak sekali?".


"Iya Nia, aku juga sangat sering membeli kemari. Tapi aku tidak pernah melihat mu".


"Membeli disini?".


"Mmmmm".


"Akhir-akhir ini saja sih aku sering membeli rujak disini Sani".


"Oohhh".


Dan tampa mereka sadari Varrel sedang melihat kearah mereka berdua. "Hhrrmm.. Kalian berdua tidak magang?".


"Astaga" Kaget Tania dan Sani. Kemudian mereka melihat kearah sumber suara, "Pak Varrel?" Senyum Sani.


"Rujaknya enak?".

__ADS_1


"Hehehhe.. Iya pak".


"Lalu bagaimana dengan magang kalian?".


"Maaf?".


"Ini jam kalian harusnya berada di kantor dan kalian berdua malah berada disini. Apa kalian berdua ingin merusak nama baik kampus kita?".


"Maafkan kami pak, tapi kami kemari sudah mendapatkan izin dari atasan kami" Jawab Tania.


"Saya tau kamu magang di perusahaan milik keluarga mu. Tapi kamu yang berstatus sebagai mahasiswa tidak bisa berprilaku seenak kalian saja" Tegas Varrel.


"Maafkan kami pak" Tunduk Sani dan Tania.


"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi. Selesai kalian makan, kalian langsung kembali".


"Baik pak" Angguk Tania dan Sani.


"Mmmm" Varrel pun meninggal mereka.


Kemudian Sani dan Tania menatap punggung Varrel yang sudah menjauh. "Kita ketahuan Nia sama pak Varrel".


"Mmmm".


.


Siang harinya, Tania memasuki ruangan Alvis yang berada di lantai 35. "Permisi mbak, pak Alvis ada di ruangannya?" Tanyanya kepada si sekretaris.


"Ada nona, silahkan masuk" Jawabnya.


"Terima kasih".


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Alvis yang sedang duduk bersama dengan Elvina dan juga Kayla yang berada di sofa.


Ceklek!


"Mama? mama kapan datang?".


"Baru saja sayang, ayo duduk" Ajaknya membantu Tania duduk disamping Kayla.


"Kamu enggak sekolah Kay?".


"Enggak, Kay sudah pintar kak" Jawab Kayla dengan sombongnya.


"Jangan bilang kamu sedang menyindir ku?".


"Kak Nia baperan, siapa juga yang menyindir kak Nia?. Oohh iya kak".


"Kenapa?".


"Tidak jadi, lupakan saja".


"Yah.. Kamu membuat orang penasaran saja".


"Makanya jangan penasaran kak Nia".


"Hhhmm" Cuek Tania.


"Hahahah.. Sudah-sudah, kalian berdua tiada hari seperti ini. Padahal kalian sudah jarang bertemu" Tegur Elvina. "Ini sayang" Berinya kepada Tania dan Kayla.


"Wah.. Ini mama bawa dari rumah?".


"Iya sayang, ini semua mama yang masak".

__ADS_1


"Mama memang yang terhebat, masakan mama tiada duanya kalau soal rasa" Jempol Tania.


__ADS_2