SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 74


__ADS_3

Setelah matahari pagi terbit, Elvan kemudian melihat kearah Tania yang masih tertidur. Dengan perasaan sedih Elvan mengusap wajah Tania dan menciumnya dengan sayang. Lalu Elvan turun dari atas tempat tidur menuju balkon yang berada di dalam kamar.


"Aahhh" Helanya menatap cuaca pagi yang cerah. Tampa ia sadari Tania yang mengikuti dari belakang.


"Kenapa kamu meninggalkan ku Elvan" Peluknya dari belakang.


"Tania" Kaget Elvan. Lalu ia melihat kearah Tania, "Kenapa kamu bangun?".


"Aku tidak bisa tidur Elvan" Peluknya kembali.


"Masuklah, aku akan menemani mu".


"Tidak" Gelengnya. "Aku mau seperti ini saja".


Elvan tersenyum sambil mengusap kepala Tania dan menciumnya. "Tolong jangan membuat ku khawatir Nia".


"Maafkan aku Elvan".


"Mmmmm".


.


1 Minggu kemudian..


Kini akhirnya Elvan akan kembali keluar negeri. Dengan berat hati Tania harus mengizinkan kepergian Elvan meskipun dalam hatinya bertolak belakang. "Nia" Peluknya. "Selama aku disana tolong jangan membuat ku khawatir yah, kamu harus menjaga kesehatan mu supaya anak kita juga sehat. Dan untuk pindah rumah, tunggu aku pulang saja. Aku tidak mau membuat mu kesepian".


"Mmmmmm" Senyum Tania. "Cepat pulang Elvan, aku dan bayi kita menunggu mu".


"Iya sayang" Ciumnya di bibir Tania tampa Elvan sadari Tania yang meneteskan air matanya. "Ayo" Ajaknya keluar dari dalam kamar dimana Vicky dan Amira yang menunggu di luar. "Ma" Panggilnya.


"Iya" Senyum Amira.


"Elvan titip Tania ya ma. Tolong jaga dia dan hibur dia".


"Iya sayang jangan khawatir".


"Terima kasih ma" Kemudian ia melihat kearah Vicky yang sedang tersenyum kepadanya. "Pa, Elvan berangkat ya pa".


"Iya Elvan. Maafkan papa membuat seperti ini" Peluknya.


"Tidak apa-apa pa" Balas Elvan. Setelah itu Elvan segera memasuki mobil.


Begitu mobil Elvan melaju dari hadapan mereka, Amira langsung mengajak Tania masuk kedalam rumah. "Sayang, kamu mau ikut mama ke butik?".


"Ke butik ma?".


"Iya sayang, nanti mama yang akan ngajari kamu disana supaya kamu bisa mengambil alih butik Elvina".


"Iya ma" Angguk Tania bersemangat.


.


Setibanya Elvan di luar negeri, ia segera menuju perusahaan dimana Rizal yang sedang menunggu di ruangannya.


Ceklek!


"Elvan" Senyum Rizal memeluknya. "Kamu baik-baik saja bro?".


"Mmmmm" Angguk Elvan.


"Bagaimana dengan Tania?".


"Dia baik-baik saja Zal".

__ADS_1


"Syukurlah" Lalu Rizal memberikan sebuah benda kecil ditangan Elvan. "Bukalah, aku menemukan ini di komputer Alona".


"Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan ini?".


Flashback.


Malam harinya setelah para karyawan lainnya berpulangan kerumah mereka masing-masing. Rizal pun akhirnya memberanikan diri memasuki ruangan Alona.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawabnya.


Ceklek!.


"Permisi buk" Senyum Rizal dengan manis.


"Kamu?" Kaget Alona. "Kamu ngapain kesini? kenapa kamu belum pulang?" Tanyanya dengan wajah datar.


Rizal tersenyum kembali. "Bisa kita mengobrol sebentar?".


"Kamu?" Bentak Alona. "Tidak bisakah kamu menjaga sopan santun mu kepada atasan mu sendiri?".


"Maaf, tapi ini diluar jam kerja kita. Aku rasa tidak masalah".


"Kamu" Kesalnya. "Keluar.. Keluar enggak?".


"Ck, cantik-cantik kamu galak sekali sih" Godanya mendekati Alona. "Malam ini aku harus bisa mendapatkan mu" Batin Rizal. Kemudian ia mendudukan diri diatas meja kerja Alona, dengan lembut ia menggenggam tangan Alona sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


"Akhirnya" Senyum Rizal mendekatkan wajahnya di wajah Alona.


Cup


Begitu Rizal mencium bibir Alona, ia langsung tersenyum senang. Namun Alona yang tiba-tiba tersadar, ia pun menampar wajah Rizal cukup kuat. "Kurang ajar, berani-berani yang kamu mencium ku" Geram Alona ingin menampar Rizal kembali. Tetapi Rizal dengan cepat mencium bibir itu lagi sampai membuat Alona tidak berkutik, dan semakin lama ciuman itu semakin dalam.


Rizal tersenyum manis, "Kenapa kamu menutupinya sedangkan aku sudah melihatnya".


"Apa? kamu?".


"Sshhuueettt.. Nanti ada yang mendengar suara mu" Rizal mengangkat tubuh Alona dari atas kursi kebesarannya.


"Yah.. Apa yang kamu lakukan?".


"Sshhuueettt.. Suara mu" Jawabnya meletakkan tubuh Alona diatas sofa. Lalu Rizal menggodanya kembali dengan kata-kata manis yang membuat Alona terpesona.


***********************


"Ahahahaha" Tawa Elvan menghentikan Rizal. "Semudah itukah kamu mendapatkannya?".


"Kamu tidak tau aku saja" Jawab Rizal.


"Terus, bagaimana caranya kamu mendapatkan benda ini? kemarin aku juga sudah mencari di komputernya tapi aku tidak menemukan sesuatu disana dan sekarang kamu menemukan sesuatu dengan semudah itu".


Rizal tersenyum menceritakan kembali.


Flashback.


Kemudian Rizal mencium bibir Alona kembali dan tangan kananya yang kini berada di benda kesukaan Rizal. "Sayang" Senyumnya mendengar suara Alona yang membuat jiwanya meronta.


Begitu Alona tidak bisa mengendalikan dirinya. Rizal pun menghentikan permainannya sampai membuat Alona terlihat sangat geram. "Sayang, aku akan melanjutkan permainan ini asalkan kamu memberitahu ku sesuatu".


"Kamu sedang mempermainkan aku?".


"No".

__ADS_1


"Cepat katakan, apa yang kamu inginkan dari ku?".


"Sesuatu yang berharga?".


"Maksud kamu?".


Rizal tersenyum menciumnya, "Beritahu aku dimana kamu menyimpannya dan siapa saja yang telah menyuruhmu melakukan ini semua".


"Aku sama sekali tidak mengerti maksud kamu. Aahhh, cepat lakukan" Kesal Alona.


"Ck, kamu terlalu terburu-buru beby. Ayo beritahu aku siapa saja kalian yang telah melakukan korupsi di proyek ini?".


"Apa? jadi selama ini kamu..


"Mmmm.. " Potong Rizal menyentuh benda kesukaannya kembali.


"Aarrkkhhh" Geram Alona yang sangat menikmati setiap sentuhan yang Rizal berikan.


"Ayo beritahu aku sayang, maka permainan ini akan berlanjut sampai kamu merasa puas".


"Ba-baiklah, aku akan memberitahu mu asalkan kamu tidak memberitahu kepada siapa pun".


"Mmmm.. Aku tidak akan memberitahu kepada siapa pun, jadi jangan khawatir".


"Baiklah" Angguk Alona memberitahu siapa saja diantara mereka.


"Cepat beritahu aku beby".


"Tuan James direktur keuangan".


"Lalu siapa lagi? mereka ada berapa orang?".


"Mereka ada 4 orang, tuan Steven dan tuan Mark. Yang satunya lagi aku tidak bisa memberitahu mu".


"Hey.. Ayolah beritahu aku. Kalau tidak aku akan berhenti".


"Baiklah.. Tapi kamu harus janji, kalau kamu benar-benar tidak akan berbuat macam-macam".


"Iya sayang, aku janji".


"Tuan Robert".


"Apa?" Kaget Rizal dengan mata membulat.


"Mmmm.. Sekarang ayo lanjutkan".


"Baiklah sayang".


***************************


Elvan tersenyum mendengar cerita Rizal, kemudian ia melihat benda kecil yang ada di tangannya itu. "Sebelumnya kita sudah menebaknya, sekarang tinggal mencari dimana Robert menyembunyikannya".


"Mmmmm" Angguk Rizal.


"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Alona? apa dia..


"Hahahah.. Kamu tau saja Elvan".


"Sebelumnya dia juga pernah melakukan hal yang sama dengan ku. Dia pernah mendatangi ku ke hotel dengan keadaan mabuk, tapi aku yang sama sekali tidak tergoda dengan rayuannya aku hanya menawarkan anggur saja kepadanya".


"Sayang sekali Elvan, bentuk tubuhnya sangat indah dan juga aroma tubuhnya yang sangat wangi membuat ku ketagihan".


"Kamu" Geleng Elvan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2