
Pagi harinya seperti biasa Elvan dan Tania telah berada di dalam kelas, dan seperti biasanya Gavin yang selalu mengganggu Tania yang sedang mengerjakan tugas kuliah ia lupakan.
"Pagi Nia cantik" Senyum Gavin yang duduk dihadapan Tania.
"Maaf Gavin, bisakah kamu tidak mengganggku? aku sedang sibuk".
"Sibuk hahahha.. Kamu sedang sibuk apa Nia?" Tanyanya menarik buku Tania.
"Yah.." Bentak Tania sangat kesal sampai membuat teman satu kelasnya menoleh kearahnya. "Ck, maaf" Tunduknya. Kemudian ia menoleh kearah Gavin yang masih menahan bukunya. "Berikan".
"Apa?".
"Cepat berikan buku itu Vin, aku tidak punya banyak waktu lagi".
"Yah..Yah.. Santai saja dong Nia enggak usah marah seperti itu sampai kamu ingin memakan k.." Gantung Gavin begitu Tania menarik buku tersebut dari tangannya.
"Pergilah, aku tidak ingin melihat mu" Ucap Tania melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya lagi.
"Baiklah Nia" Senyum Gavin mengacak rambut Tania.
"Yah" Kesal Tania kembali melihat Gavin yang sedang menertawainya.
"Apa?".
"Aaiiss.. Pergilah".
Tidak lama kemudian, dosen yang mengajar dikelas mereka pun telah tiba disana dan seketika kelas itu langsung hening mengingat banyaknya dari antara mereka yang juga belum mengerjakannya Tugas.
"Selamat pagi" Ucap si dosen.
"Pagi buk" Balas mereka.
"Ada apa? kenapa wajah kalian tampak masam seperti itu?" Tanya si dosen pura-pura tidak tau alasan masamnya wajah mahasiswa di dalam kelas itu.
"Tidak buk".
"Lalu kenapa suasana di kelas ini sangat menegangkan sekali? apa karna tugas yang ibu berikan minggu kemarin?".
Mereka terdiam seperti sedang berada di sebuah kuburan. "Jangan membuat ibu kecewa, cepat antar kemari" Tidak ada pergerakan sama sekali dari antara mereka. "Kenapa tidak ada yang mengantar ke depan?".
__ADS_1
"Maaf buk, kami tidak paham dengan tugas yang ibu berikan. Apalagi ini menyangkut pengantar akuntansi" Jawab sang komting.
"Apa?" Marahnya memukul meja.
"Maaf buk" Tunduk ya.
"Aahh.. Kalian benar-benar membuat ibu kecewa sama kalian. Ayo, tidak adakah satu diantara kalian yang mengerjakannya?".
"Tidak buk" Geleng mereka.
BBBRRAAKKK..
"Yah.." Teriaknya sangat merah melihat mereka satu persatu.
Kemudian Tania mencoba melirik kearah Elvan yang berada di belakangnya. Namun kedua tangan Elvan langsung menahan tubuhnya supaya Tania tidak mendapatkan amukan dari si dosen tersebut. Tetapi si dosen yang melihat Elvan, "Kamu" Ucapnya.
Deng..
"Astaga" Kaget Tania yang merasa dirinyalah yang baru saja di tegur si dosen. Lalu Tania bangkit berdiri.
"Bukan kamu tapi yang dibelakang kamu, cepat datang kemari" Ucapnya menunjuk kearah Elvan yang terlihat biasa saja.
"Kamu mendekat".
Begitu Elvan tiba dihadapannya.
PPPLLAAKKK..
Satu tamparan mendarat di wajah Elvan sampai membuat seisi ruangan itu melihat kearah si dosen yang baru saja menampar wajah Elvan cukup kuat. Namun bukannya marah, Elvan malah tersenyum tipis sambil menyentuh wajahnya.
Tetapi si dosen malah semakin marah melihat Elvan yang sedang tersenyum seperti sedang mengejeknya. "Ya.. Kamu" Teriaknya di wajah Elvan.
"Maaf buk, bisakah ibu sedikit mengecilkan suara? telinga ku sangat sakit" Tegur Elvan yang benar-benar merasakan sakit di bagian gendang telinganya.
"Kamu.. Aarrhhh.. Siapa nama kamu?" Ucapnya mengambil daftar hadir di dalam tasnya.
"Ck" Kesal Elvan menatap si dosen. Ia benar-benar sangat marah kepadanya, namun Elvan berusaha menanggapi si dosen dengan kepala dingin.
"Siapa nama mu?".
__ADS_1
"Elvan buk" Jawabnya.
Lalu ia mencari nama Elvan di daftar hadirnya hingga ia menemukannya. Kemudian ia membuka materi mereka minggu kemarin, "Ini, kamu harus mengerjakan tugas yang saya berikan minggu lalu dan kamu harus mengerjakannya di papan tulis ini dengan jawaban yang baner. Kalau tidak nama kamu akan saya coret dari daftar hadir saya" Ancam berusaha menahan emosi.
Sedangkan para mahasiswa lainnya di buat melongo mendengar ucapan si dosen yang menyuruh Elvan mengerjakannya di depan mereka semua. "Astaga, dosen kita kejam sekali menyuruh Elvan mengerjakan tugas itu di depan papan tulis" Bisik mereka.
"Iya, Elvan kasihan sekali. Mana lagi dia yang baru dapat tamparan".
"Lama-lama seperti ini aku tidak suka melihat dosen pengantar akuntansi kita".
"Setuju" Angguk yang lainnya.
Sedangkan Tania yang sedari tadi memperhatikan Elvan, "Ayo Elvan kamu pasti bisa, aku yakin kamu pasti bisa mengerjakannya, Begitu kamu selesai mengerjakannya aku berjanji akan membalas dosen kurang ajar ini telah berani menampar mu didepan itu" Ucap Tania dalam hati.
"Elvan" Panggil Sani yang geram melihat si dosen.
Mereka semua menoleh kearah Sani yang memanggil nama Elvan begitu juga si dosen yang ikut menoleh kearah Sani. "Elvan, aku yakin kamu pasti bisa. Semangat" Ucapnya dengan senyum manis.
Teman-teman satu kelasnya pun akhirnya tersenyum begitu Sani memberikan semangat kepada Elvan, "Iya Elvan kamu pasti bisa, ayo semangat" Dukung yang lainya.
Lalu si dosen menatap tajam kembali kepada mereka, "Kalau kalian semua tidak bisa diam, saya akan menyuruh kalian satu persatu untuk maju ke depan menggantikan dia. Ayo siapa yang ingin menggantikan dia?".
"Maaf buk" Tunduk mereka.
Kemudian Elvan mendekati si dosen dan mengambil spidol yang berada di tangan kananya, "Bisakah ibu memberikan itu kepada saya?" Mintanya tampa ekspresi.
"Ini" Berinya ditangan Elvan.
Lalu Elvan mengerjakan dipapan tulis sampai membuat kedua mata si dosen membulat saat ia melihat tangan Elvan yang mengayun dengan indahnya tampa berhenti sedikit pun menjawab soal-soal yang ada dalam bukunya.
"OMG.. Anak ini benar seorang mahasiswa atau" Gantungnya melihat aura ketampanan Elvan yang sangat terpancar dan juga aroma tubuh Elvan yang sangat wangi hingga kedua matanya melihat leher jenjang Elvan dan tubuh atletis Elvan yang sangat gagah. Urat-urat yang bermunculan ditangan Elvan, hidung yang mancung, bibir yang sangat seksi membuat ia jatuh cinta kepada Elvan mengingat status dia yang masih singel.
Elvan mengerutkan keningnya melihat si dosen yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan juga Elvan yang melihat si dosen beberapa kali menelan ludahnya. "Apa yang sedang dia pikirkan" Batin Elvan merasa risih.
Setelah beberapa menit lamanya Elvan mengerjakannya, kini ia telah selesai dan si dosen masih saja memandangi wajahnya tampa berkedip sama sekali. "Maaf buk saya sudah selesai" Ucapnya.
Tetapi si dosen masih saja memandangi wajahnya bahkan ia semakin terpesona mendengar suara Elvan yang sangat indah di di pendengarnya. "Buk, buk" Panggil Elvan menyadarkan dirinya.
"Hhhmm?" Senyumnya membuat Elvan sedikit melangkah mundur. "Aahh.. Coba kita lihat jawaban kamu benar atau tida.." Gantungnya melihat jawaban yang Elvan tuliskan di papan tulis dengan benar tampa ada salah setitik pun. "OMG, ini kamu yang mengerjakan?" Tanyanya tak percaya dengan jawaban Elvan.
__ADS_1
"Siapa lagi buk kalau bukan saya?" Geleng Elvan meletakkan spidolnya diatas meja. "Saya bisa kembali duduk?" Perginya sebelum si dosen menjawab.