SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 46


__ADS_3

Begitu Tania dan Kia selesai memberi pewarna di gambar Saskia, "Wah.. Cantik sekali onty, onty memang yang terbaik" Jempol Saskia.


"Tentu saja Kia, kalau soal memberi pewarna kamu tidak usah ragu-ragu minta bantuan sama onty".


"Siap onty, lain kali Kia akan minta bantuan onty".


"Iya, kalau gitu onty keluar dulu Kia, onty belum mandi soalnya".


"Iya onty" Angguk Saskia.


Sekeluarnya Tania dari sana, ia langsung menuju kamarnya dimana Elvan yang telah berada disana, "Elvan, kamu sudah pulang?".


"Mmmmm.. Kamu dari mana?".


"Dari kamar Kia, dia tadi minta bantuan kepada ku".


"Kemarilah" Ajak Elvan yang berada di atas sofa.


"Iya" Duduknya di samping Elvan. Kemudian Elvan menunjukkan senyum manis sambil menyandarkan kepala di bahu Tania. "Ada apa Elvan? tidak seperti biasanya kamu seperti ini?".


"Aku lelah Nia" Jawab Elvan.


"Lelah? kamu butuh sesuatu Elvan?".


"Tidak, aku hanya butuh bahu mu ini" Lalu Elvan menggenggam tangan Tania, "Nia.." Panggil Elvan menatap manik mata Tania.


"Iya Elvan" Senyum Tania.


"Kamu masih mencintai ku?".


Tania mengerutkan keningnya, "Tentu saja aku mencintai mu Elvan, mau sampai kapan pun aku akan tetap mencintai mu".


"Benarkah?".


"Mmmm.. Kenapa Elvan?".


"Sebenarnya aku ingin memberitahu mu, bulan depan aku akan PKL di luar negeri".


"Apa?".


"Mmmm.. Selama aku disana, bisakah kamu menunggu ku dan masih mencintai ku".


Mendengar perkataan Elvan, Tania malah menatap ya dengan mata berkaca, "Kenapa harus keluar negeri Elvan, kenapa tidak disini saja?".


"Maafkan aku Nia, sebenarnya ini permintaan papa. Saat ini papa sedang menjalankan bisnis di luar negeri dan ketepatan saat ini papa dan rekannya sedang pembangunan hotel. Jadi papa meminta ku untuk mengawasi disana".


"Tapi.. Tapi aku tidak siap Elvan melepaskan kamu pergi kesana. Kamu tau sendiri nantinya jarak diantara kita berdua sangat jauh".


"Aku tau Nia" Ucap Elvan mengusap air mata Tania, "Tapi aku juga sebagai anak harus membantu papa menjalankan perusahaannya.


"Lalu bagaimana dengan ku? bagaimana kalau nantinya kamu disana lebih dari 3 bulan?".


Elvan tersenyum, "Tidak, aku disana hanya 3 bulan saja. Jangan khawatir. Begitu aku kembali dari sana, aku berjanji akan mencintai mu sepenuh hati ku".

__ADS_1


"Benarkah?" Kedua mata Tania langsung berbinar.


"Mmmmm.. Tapi kamu juga harus berjanji kalau di hati mu ini hanya ada aku".


"Tentu saja hanya ada kamu Elvan, mau sampai kapan pun hanya ada kamu".


"Terima kasih Nia" Dengan sayang Elvan mencium kening Tania dan memeluk tubuhnya.


.


2 minggu kemudian, kepergian Elvan semakin mendekat dan Tania yang masih berada di tempat tidur membuat ia malah bergerak.


"Ayo bangun Nia" Ucap Elvan yang sedang bersiap-siap berangkat kuliah.


"Malas Elvan, hari ini aku berencana libur kuliah".


"Kenapa?".


"Kepala ku pusing dan Mmpphhhh.. Mmpphhhh.." Lari Tania memasuki kamar mandi.


"Nia.." Elvan langsung mengejar Tania kedalam kamar mandi. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya mengusap punggung Tania.


"Hhuueeaakkhh" Muntah Tania kembali. "Aahh, tubuh ku lemas sekali Elvan" Sandarnya ditubuh Elvan.


"Kita kerumah sakit Nia, aku takut kamu kenapa-napa".


"Tidak usah Elvan aku dirumah saja, kamu berangkatlah kuliah".


"Bagaimana bisa aku berangkat kuliah sedangkan kamu sedang sakit. Aku akan memanggil dokter kemari, ayo" Bantunya membawa Tania keluar dari dalam kamar mandi.


"Air putih hangat Elvan".


"Mmmm.. Kamu tunggu sebentar aku akan mengambilnya" Angguk Elvan segera mengambilnya.


Sekeluarnya Elvan dari dalam kamar Tania kembali merasa mual, "Ini tidak benar lagi" Tania kembali memasuki kamar mandi dan memuntahkan isi dalam perutnya. Namun yang membuat Tania keheranan, ia hanya memuntahkan cairan bening.


"Nia" Panggil Elvan yang sudah berada di dalam kamar.


"Aku disini Elvan" Sahut Tania segera keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu mual lagi?".


"Mmmm" Angguk Tania dengan lemas.


"Ini, minumlah dulu" Berinya ditangan Tania.


"Terima kasih Elvan".


"Iya" Angguk Elvan mengusap wajah Tania yang berkeringat. Sambil membawa Tania membaringkan tubuhnya, Elvan menelpon si dokter itu lagi yang sekarang telah tiba di sana. "Dokter dimana?".


"Saya sudah dilantai bawah tuan" Jawabnya.


"Cepat segera kemari".

__ADS_1


"Iya tuan".


Tidak menunggu beberapa lama, sebuah ketukan pintu terdengar di kedua telinga Elvan. "Masuk" Ucapnya.


Ceklek!


"Ayo cepat kemari, aku rasa istri ku sedang tidak baik-baik saja".


"Baik tuan, aku akan segera memeriksanya" Angguk si dokter mengeluarkan sebuah peralatannya dari dalam tas. "Izinkan saya memeriksa nona".


"Iya dok" Jawab Tania.


Begitu ia selesai memeriksa Tania, "Bagaimana dok? dia baik-baik saja" Tanya Elvan yang penasaran.


"Iya tuan, nona ini baik-baik saja dan selamat istri tuan sedang mengandung".


"Apa?" Kaget Elvan dan juga Tania.


"Iya tuan, saat hamil muda nona ini akan sering mengalami morning sick Ness. Untuk mengurangi rasa mual, silahkan tuan membelinya nanti di apotik" Jawab si dokter memberi sebuah catatan kecil ditangan Elvan.


"Iya dok terima kasih".


"Sama-sama, saya permisi tuan" Perginya keluar dari dalam kamar.


Sedangkan Tania yang sedari tadi memikirkan perkataan si dokter tampak kurang bersemangat begitu ia mengetahui kalau dirinya sedang hamil. "Kenapa Nia?" Tanya Elvan tersenyum manis menggenggam kedua tangan sang istri.


"Tidak" Geleng Tania.


Elvan mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan apa yang sedang Tania pikirkan saat ini, namun Elvan yang sedang di suluti kebahagian tak henti-hentinya menunjukkan senyum manisnya.


"Elvan" Panggil Tania.


"Mmmmm?".


"Kamu senang?".


"Tentu saja aku senang Nia, sebentar lagi aku akan menjadi ayah seperti kak Chiko".


"Aku tidak senang Elvan".


Deng..


"Ke-kenapa Nia?".


Dengan mata berkaca-kaca Tania memalingkan wajahnya, "Aku enggak mau saat aku hamil kamu tidak ada disamping ku".


"Nia.. Aku disana hanya 3 bulan saja".


Tania terdiam. Sebenarnya dalam hati kecil Tania, ia sangat bahagia mendengar kalau dirinya sedang hamil. Namun mengingat Elvan yang akan segera pergi membuat Tania sedih, ia tidak ingin berpisah dengan Elvan, meskipun hanya memakan waktu selama 3 bulan.


"Maafkan aku Nia, tapi aku sudah memberitahu papa kalau aku akan berangkat kesana" Bujuknya.


"Makanya aku enggak suka Elvan hiks.. hiks.."

__ADS_1


"Maafkan aku Nia" Tariknya memeluk tubuh Tania. "Maafkan aku, aku tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini, tapi aku mohon jangan pernah kamu berpikir untuk tidak menginginkan bayi ini Nia, aku mohon" Elvan juga ikutan mengeluarkan air matanya.


"Hiks.. Hiks.." Semakin tangis Tania di dalam pelukan Elvan. "Maaf Elvan hiks.. hiks.. Aku juga tidak pernah berpikir seperti itu. Hanya saja aku tidak sanggup berpisah dengan mu".


__ADS_2