SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 61


__ADS_3

"Alona, saat aku keluar dari ruangan mu, aku melihat direktur James memasuki ruangan mu".


"Mmmm.. Dia menyuruh ku menghampiri tuan Robert keruangannya".


"Lalu apa yang kalian bicarakan disana?".


Alona tersenyum, "Kamu penasaran?".


Tok.. Tok..


"Sudah datang, sebentar" Elvan segera membukakan pintu. "Berapa?" Begitu Elvan membayarnya. Ia langsung membawa anggurnya kedalam kamar, lalu Elvan menuang kedalam gelas dan memberinya kepada Alona. "Inih".


"Thank you Elvan".


"Mmmmm" Angguknya.


"Anggurnya terasa sangat nikmati".


"Kamu menyukainya?".


Alona tersenyum. Kemudian ia meletakkan gelasnya, "Elvan".


"Iya".


"Sebenarnya, apa yang ingin kamu kamu ketahui dari ku? apa kamu sedang mencari sesuatu?".


"Maksud kamu? aku tidak mengerti?" Elvan pura-pura terlihat bodoh.


"Tidak usah membohongi ku Elvan, aku tau kamu pasti sedang mencari sesuatu tentang group TQ melalui aku. Iya kan?".


"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja Lona".


"Lalu kenapa aku melihat dari wajah mu. Kalau saat ini kamu sedang mencari sesuatu dari ku dan hubungan ku dengan group TQ saat ini?".


"Sebenarnya aku penasaran".


"Penasaran?".


"Mmmm.. Aku penasaran dengan hubungan mu yang terlihat sangat dekat sekali dengan tuan Robert. Sedangkan dia memiliki satu putri lagi, tapi aku tidak melihat kedekatan diantara mereka berdua".


"Aaaa.. Aku pikir" Gantungnya saat Elvan tiba-tiba saja mengusap kepalanya. "Apa yang sedang kamu lakukan Elvan?".


"Aku tidak sedang melakukan apa-apa. Ayo lanjutkan".


"Kamu membuat ku tidak bisa fokus".


"Kalau gitu aku menghentikan tangan ku".


"Jangan, biarkan seperti ini" Tahannya tersenyum. "Elvan, sebenarnya aku..


BBRRUUKK..

__ADS_1


"Ck" Kesal Elvan melihat Alona yang sudah tertidur. "Lagi-lagi aku gagal mendapatkan informasi dari dia" Kemudian Elvan bangkit dari atas ranjangnya dan membiarkan Alona terlelap disana.


Malam ini Elvan memutuskan begadang, lalu ia mengeluarkan kantong kresek yang tadi ia bawa dari kantor dan menuangnya diatas meja. Dengan Perlahan-lahan Elvan menatapnya, dan menyusunnya satu persatu hingga terbentuk menjadi selembar kertas. "Ini apa? kenapa semuanya berbentuk angka?".


Sekarang telah menunjukan pukul 3 pagi kurang. Begitu Elvan selesai menyusunya dan mencocokan setiap angka yang tertera disana, Elvan semakin yakin kalau kertas itu ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang ia cari.


"Hhooaammm.. Aakkhh" Ia mulai merasa ngantuk dan lelah. Kemudian Elvan melirik kearah Alona yang masih terlelap tampa merasa kedinginan. "Wanita ini" Elvan membenarkan posisi tidur Alona dan menyelimutinya. Lalu Elvan membuat secangkir kopi, ia membawanya kearah balkon dan menikmatinya disana sambil menunggu matahari terbit.


.


Saat ini Tania sedang berada di taman belakang rumah. Ia terlihat sangat murung begitu Elvan menolak panggilannya. Tetapi Tania yang mengetahui kalau Fayola telah tiada membuat ia mengerti alasan Elvan menolak panggilannya. Dan juga Tania yang mengetahui kalau Elvan masih sangat mencintainya dibandingkan dirinya.


"Bibi, apa yang sedang bibi lakukan disini?" Tanyanya Saskia yang baru pulang sekolah.


"Bibi sedang menikmati susana sore disini Kia. Bagaimana dengan sekolah mu? hari ini kamu mendapatkan nilai berapa?".


"Bibi penasaran?".


"Mmmm.. Coba tunjukan kepada bibi".


"Heheheh.. Hari ini Kia tidak mendapatkan nilai bibi" Jawabnya mendudukan diri disamping Tania.


"Kenapa Kia? tumben".


"Kia juga tidak tau bibi. Bibi mau permen ini?".


"Lollipop. Bibi mau".


"Ini untuk bibi".


"Sama-sama bibi. Oohh iya bi, apa kabar paman saat ini? Kia sangat merindukan paman".


"Bibi juga sangat merindukan paman kamu Kia, tapi paman kamu itu sepertinya sangat sibuk, sehingga ia tidak punya waktu memberi bibi kabar".


"Yang sabar ya bi" Lalu Saskia mengusap perut Tania yang masih terlihat datar. "Adik Kia jangan rewel yah. Kasihan Bibi Nia. Dulu Kia juga waktu di dalam kandungan mama Zita tidak rewel loh, makanya mama Zita bebas beraktifitas".


"Hahahahha" Tawa Tania dengan gemas. "Terima kasih loh Kia, sepertinya adik kamu ini mendengarnya".


"Benarkah bibi?".


"Mmmmmm".


"Wah, Kia jadi tidak sabar lagi menunggunya lahir kedunia ini hehehehe".


"Bibi juga. Kalau dia nanti lahir sebagai anak perempuan, bibi tidak sabar menunggunya besar seperti Kia yang sekarang ini".


"Hehehhe.. Kia harap dianya nanti anak laki-laki bibi".


"Laki-laki juga bibi senang".


"Semoga saja anak laki-laki bibi, Kia sangat mengharapkannya".

__ADS_1


"Amin" Senyum Tania memeluk Saskia.


.


Setelah matahari terbit, Elvan kembali memasuki kamarnya. "Elvan" Panggil Alona yang baru bangun.


"Kamu sudah bangun?".


"Mmmmm.. Bagaimana dengan mu? apa tidur mu nyenyak?".


"Mmmmm" Angguk Elvan memasuki kamar mandi. Begitu Elvan memasuki kamar mandi, Alona langsung turun dari atas tempat tidur menuju cermin.


"Sepertinya tidak terjadi apa-apa? Ck, apa dia tidak menyukai tubuh ku? apa aku kurang menarik? perasaan body ku sangatlah bagus dibandingkan wanita lain" Kesal Alona menatap kearah kamar mandi.


Setelah Elvan selesai, ia segera keluar dari dalam sana dengan pakaian kantornya. "Elvan, bisakah kamu membelikan pakaian untuk ku selagi aku mandi?".


"Mmmm.. Mandilah" Angguk Elvan membelikan pakaian untuk Alona.


Sekarang Elvan dan Alona telah berada di kantor, mereka langsung memasuki ruangan mereka masing-masing. Lalu Elvan mengeluarkan kertas yang ia perbaiki tadi sambil mencocokan dengan data yang berada di dalam komputernya. "Angkanya tidak sama, lalu ini?" Elvan kembali mengulanginya. "Tidak sama juga. Aku penasaran, sebenarnya ini apa?".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT...


"Mmmm" Jawab Elvan tampa mengetahui siapa yang sedang menelponnya.


"Elvan".


"Tania" Elvan langsung melihat layar ponselnya. "Nia, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu yang menelpon ku".


"Tidak apa-apa, sepertinya kamu sedang sibuk. Maaf telah mengganggu mu" Dengan suara sedih Tania mematikan ponselnya. "Dasar laki-laki brengsek. Aku membenci mu Elvan, aku sangat membenci mu hiks.. hiks.." Tangis Tania di dalam kamarnya.


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT...


"Dasar laki-laki jahat" Umpat Tania tampa ingin menjawab panggilan dari Elvan yang kini hampir 10 panggilan tak terjawab. "Sepertinya tidak ada yang tahu, lalu bagaimana dengan mama dan papa? apa mereka juga sudah lupa kalau malam ini adalah hari ulang tahu Tania?".


Sekarang menunjukkan pukul 10 malam, semua anggota keluarga telah berada di kamar mereka masing-masing. "Baiklah, tidak apa-apa. Maka aku akan merayakan ya sendiri" Gumam Tania menuju garasi mobil. "Pak, tolong berikan saya kunci mobil".


"Maaf nona, malam-malam seperti ini nona mau kemana?".


"Saya mau keluar sebentar pak, ayo berikan".


"Tapi nona".


"Saya hanya sebenar saja pak, jangan khawatir".


"Saya takut kena marah sama nyonya nona. Kalau tidak, biar saya saja yang mengantar nona".


"Maaf pak, tapi saya butuh sendiri" Tania langsung mengambil salah satu kunci mobil dari tangannya.


"Nona" Khawatirnya mengikuti Tania.


"Ya ampun pak. Bukankah saya sudah mengatakan sama bapak kalau saya hanya sebentar saja?".

__ADS_1


"Tapi nona".


"Kalau bapak tidak percaya, bapak bisa menghitung mulai dari sekarang kalau saya paling lama hanya 20 menit. Ok" Tania memasuki mobil tersebut dan langsung meninggalkan kediaman Sandoro.


__ADS_2