
Pagi harinya Tania terbangun dari tidurnya, sedangkan Elvan masih terpejam di sampingnya. Kemudian Tania memasuki kamar mandi dan menangis didalam sana sampai membuat Elvan terbangun dari tidurnya.
Ceklek!!
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Suara itu berhasil membuat Tania menghentikan tangisnya.
"Tolong tinggalkan aku sendiri" Jawab Tania melap air matanya tampa melihat kearah Elvan yang sedang berada di samping ya.
"Apa kamu akan menangis sepanjang hari disini?" Tanya ya kembali.
Bukan ya menjawab, Tania semakin menumpahkan air matanya dengan suara tangis tersendu-sendu. "To-tolong tinggalkan aku hiks.. hiks.. tolong tinggalkan aku".
"Haaahhhh" Desah Elvan. Lalu ia menarik tubuh Tania bangkit berdiri. "Lihat aku".
"Hiks.. Hiks..".
"Apa kamu tidak mendengar ku?".
Tania pun langsung melihat ya dengan mata sembab dan air mata yang terus menerus keluar dari bola matanya. "Lupakan kejadian semalam, anggap itu tidak pernah terjadi dengan mu".
"Aarrkkhhh" Geleng Tania berteriak.
"Kalau kamu tidak melupakan kejadian itu, maka kamu akan seperti ini terus" Tegasnya.
"Aarrkkhh.. Hiks.. Hiks.. Aku tidak bisa melupakannya aku tidak bisa" Semakin tangisnya menggeleng.
"Apa kamu akan mengingatnya selama ya?".
"Mmmm" Angguk Tania sangat rapuh.
"Haahhhh" Desah Elvan kembali melihat Tania yang bebal. "Terserah kamu saja, mandilah 10 menit lagi aku akan kembali" Ucapnya meninggalkan Tania yang masih menangis didalam kamar mandi.
10 menit kemudian, Tania langsung keluar dari dalam kamar, "Apa kamu tidak mandi?".
"Masuklah" Jawab Tania berjalan kearah balkon.
Elvan pun segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Tania sedang duduk di atas balkon sambil memeluk kedua lututnya dengan tatapan kosong melihat kearah taman yang berada di halaman.
Sekeluarnya Elvan dari dalam kamar mandi, ia menyempatkan diri melihat kearah Tania yang sedang merenung di atas balkon, kemudian ia mengenakan pakaian ya. "Apa kamu mau sarapan dibawah atau disini?" Tanya ya menghampiri Tania.
"Aku tidak lapar" Jawabnya tak melihat Elvan.
"Kalau kamu tidak sarapan nanti kamu bisa sakit, aku akan membawanya kemari" Ucapnya keluar dari dalam kamar.
"Aku tidak lapar, hiks.."
Saat Elvan menuruni tangga, "Tania mana Elvan?" Tanya Amira.
"Di kamar ma" Jawabnya.
"Tumben kamu yang pertama turun, biasanya Nia yang selalu duluan?".
"Nia lagi enggak enak badan ma"
"Apa?".
"Mmmmm" Angguk Elvan langsung membuat sarapan pagi untuk Tania dan dirinya.
__ADS_1
"Sepertinya Tania masuk angin Elvan, tunggu sebentar mama buatin teh madu dulu".
"Iya ma".
"Jadi adik ipar masuk angin Elvan?" Tanya Zita kakak ipar Elvan.
"Sepertinya kak" Jawabnya.
"Kasihan sekali onty Nia Ma" Sahut Saskia.
"Iya sayang".
Lalu Amira mendatangi mereka kembali, "Inih.. Tehnya nanti langsung diminum Elvan jangan sampai dingin".
"Iya ma" Angguk Elvan segera membawa kedalam kamar mereka.
"Elvan kenapa ma?" Tanya Vicky yang baru bergabung di meja makan.
"Itu pa, Tania masuk angin".
"Kenapa tidak dibawa rumah sakit saja ma".
"Mungkin tidak terlalu parah pa".
"Mmmmm" Gumam Vicky mendudukan diri diatas kursinya.
"Pagi opa" Sapa Saskia.
"Pagi Kia" Balas Vicky tersenyum.
Didalam kamar Elvan masih melihat Tania sedang berada di atas balkon, "Kemarilah, aku sudah membawa sarapan pagi mu" Ujar Elvan dari arah sofa yang ada di dalam kamarnya. "Apa kamu tidak mendengar ku?".
"Aku akan menunggu mu 5 menit lagi, kalau tidak aku akan membuang makanan ini" Ancam Elvan duluan menikmati sarapan ya.
Tidak sampai 5 menit, Tania akhirnya mengalah dan menghampiri Elvan kearah sofa. "Akhirnya kamu datang juga, duduklah dan minum teh ini, tadi mama membuatnya untuk mu".
"Terima kasih" Tania segera meminum teh buatan Amira, dan lagi-lagi Tania meneteskan air matanya.
"Ada apa?".
"Tehnya seperti buatan mama, hiks.."
"Apa kamu mau pulang?".
"Tidak" Geleng ya.
"Bagus kalau kamu sudah berpikir dewasa, cepat makan sarapan mu, nanti keburu dingin".
"Mmmmm" Angguknya.
Begitu Elvan selesai menikmati sarapannya, "Istirahatlah dirumah dan jangan berpikir macam-macam" Ucapnya sebelum meninggalkan Tania.
"Mmmmm" Gumam Tania masih menikmati sarapannya.
"Aku pergi".
.
__ADS_1
Sesampainya Elvan di kampusnya, ia bukannya masuk kedalam kelasnya ia malah mencari identitas ketiga pria tersebut yang membuat Tania menjadi ketakutan.
"Elvan, sedang apa kamu kemari?" Tanya Hanzel melihat Elvan yang sedang menatap tajam kearah Deska.
Dengan langkah panjang Elvan langsung menghampiri Deska dan memukul ya hingga membuat seisi ruangan berteriak histeris.
"Aarrkkhhh" Teriak mereka.
BBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..
BBBUUNNGGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..
"Haahhhh" Seringai Deska menatap wajah marahnya Elvan.
BBBUUNNGGHHH..
Satu pukulan lagi mendarah diwajahnya hingga Deska mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya, "Haahhhh?" Lagi-lagi Deska menyeringai melihatnya. "Apa kamu mencintai wanita murahan itu?".
BBBUUNNGGGHHHH..
"Sekali lagi kamu mengatakan dia wanita murahan, maka aku tidak akan segan-segan lagi membunuh mu" Bisik Elvan dengan tajam.
"Lalu kalau bukan wanita murahan dia apa hhmmm? hahahah.. Aku sangat menyukai tubuh Tania" Tawa Deska dengan senang hati.
BBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..
BBBUUNNGGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..
Kemudian beberapa dosen dan security menghampiri mereka untuk memisahkan Elvan dan Deska.
"Apa-apaan ini haahhhh?" Bentak sang dosen tersebut melihat Elvan dan Deska. "Apa kalian pikir kalian ini masih anak SMP? Jawab.. Kenapa kalian tidak menjawab?" Geramnya sangat marah.
"Maafkan kami pak" Tunduk Deska.
"Kalian berdua ikut saya" Ucapnya membawa Elvan dan Deska kesebuah ruangan kosong.
BBRRAAKK!!
"Sekarang katakan, apa yang telah membuat kalian berdua sampai berkelahi seperti itu di dalam kelas?".
"Tidak ada pak, kami hanya sedang latihan memukul saja" Jawab Deska melihat Elvan yang hanya diam saja sambil mengepal kedua tangannya. "Bukan kah begitu Elvan" Ejeknya tersenyum.
"Sejak kapan latihan memukul sampai babak belur seperti ini haahhhh?".
"Haahhhh" Hela Elvan melihat si dosen tersebut. "Kalau bapak sudah selesai saya akan keluar" Ujarnya melangkah pergi.
"Apa?" Kagetnya melihat Elvan.
"Hahahhaha" Tawa Deska melihat punggung Elvan yang sudah berada di ambang pintu, "Kalau kamu bertemu dengan ya, katakan padanya aku sangat menikmatinya".
Deng..
Elvan langsung menghentikan langkahnya dan melihat kearah belakang dimana saat ini Deska sedang tersenyum senang mengejeknya. "Aarrkkhh" Teriak Elvan menendang tubuh Deska hingga tercampak sangat jauh dan memukulnya dengan beberapa kali pukulan.
"Hentikan Elvan, hentikan" Teriaknya sang dosen tersebut sangat marah kepada Elvan. Namun bukannya mendengarnya, Elvan malah semakin lebih leluasa memukulnya. "Stop" Teriaknya kembali. "Baiklah kalau kamu tidak mau mendengarkan dosen mu, mulai hari ini kamu dikeluarkan dari kampus ini" Tegasnya dari belakang.
Mendengar itu, Elvan pun menghentikan tangannya memukul wajahnya Deska. Kemudian sang dosen membawa Deska keruang uks yang ada di dalam kampus.
__ADS_1
"Aakkhhh" Dengus Elvan mengusap wajahnya dengan kasar, "Harusnya aku tidak melakukannya disini" Batinnya.