SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 99


__ADS_3

Selesai meeting Tania memberanikan diri menghampiri Elvan yang masih duduk diatas kursinya, "Permisi" Ucapnya.


"Mmmmm" Gumam Elvan tersenyum kepadanya.


"Iiisss" Kesal Tania. "Aku juga awalnya berpikir seperti itu, tapi aku melakukan ini atas izin Rizal. Jadi enggak salah aku mengikuti perkataan Rizal".


"Duduklah dulu, aku akan menjelaskannya pada mu".


"Tidak usah, sebentar lagi jam makan siang, aku harus pergi" Melihat keras kepala Tania, Elvan pun langsung menarik tangannya hingga tubuh Tania terjatuh diatas pangkuannya. "Aaahhhhh.. A-apa yang sedang kamu lakukan Elvan?".


Elvan tersenyum, "Tadi aku sudah menyuruh mu duduk. Harusnya kamu duduk Tania" Jawabnya.


"Hhhmmmsss.. Sekarang lepasin, aku akan duduk".


"Mmmmmm" Angguk Elvan melepaskannya. Kemudian ia memberikan satu kursi kepada Tania. Begitu Tania mendudukan diri, Elvan melihat kearahnya lagi, "Nia, bisa kita bicara sebentar?".


"Tidak, aku disini hanya membahas pekerjaan saja. Cepat beritahu aku".


"Tania, selama 5 tahun lamanya aku tidak pernah melupakan mu" Elvan mencoba menggenggam tangan Tania, namun dengan cepat ia menarik tangannya, "Aku tau kamu sangat marah Nia, tapi bisakah kamu mengerti situasi aku saat itu?".


"Aku tidak mau tau dan aku tidak perduli Elvan".


Elvan kembali tersenyum menatap kedua mata Tania yang terlihat sangat dingin, "Tidak bisakah kamu memaafkan aku Nia? aku tidak bermaksud untuk kembali lagi dengan mu karna aku tau aku tidak pantas mendapatkan dirimu kembali".


Mendengar perkataan Elvan membuat kedua mata Tania berkaca-kaca, namun ia dengan cepat melapnya. Kemudian Tania menatapnya, "Elvan" Panggilnya. Tetapi Tania yang tidak bisa menahan kesedihan lagi, ia pun akhirnya langsung menumpahkan air matanya dihadapan Elvan.


"Tania" Tarik Elvan memeluknya.


"Hiks.. Hiks.. Aarrhhhh.. hiks.. hiks..".


Setelah hampir 10 menit lamanya Tania menangis, Elvan dengan lembut mengusap sisa air matanya sambil memperbaiki rambut Tania yang sedikit berantakan. Begitu Tania sudah merasa baikan, "Ansel selalu mencari mu. Setiap saat dia selalu bertanya siapa papa kandungnya yang sebenarnya. Kalau kamu ingin bertemu dengannya, kamu bisa menemuinya".


Dengan senyum mengembang di wajah Elvan ia kembali memeluk Tania, "Terima kasih Nia, terima kasih banyak sudah memberi ku izin".


"Mmmmmm" Angguknya.


.

__ADS_1


Sedangkan di kediaman Sandoro saat ini semua anggota keluarga sedang berada di ruang keluarga, dengan wajah marah Amira melihat kearah Vicky. Kemudian Chiko mendekati Amira sambil memeluknya, "Ma".


"Lepasin mama Chiko, kamu dan papa kamu tidak akan tau betapa malunya mama melihat kelakuan menantu kesayangan papa kamu itu" Bentak Amira marah.


"Iya ma, tapi mama tenang dulu".


"Tenang gimana maksud mu Chiko? ini aib yang tidak bisa kita tutupi. Hiks.. hiks.. Kamu sama papa kamu tidak akan tau betapa menderitanya adik kamu sekarang ini sampai mama tidak bisa menghubungi dia hiks.. Oohh Tuhan, kenapa putra ku sangat menderita sekali? lebih baik engkau buat aku menderita dari pada putra ku".


"Ma" Bentak Chiko.


"Aarrkkhhh.. Tuhan" Semakin tangis Amira memukul-mukul dadanya. "Mama tidak mau tau, Elvan harus menceraikan wanita itu. Ayo Chiko kita harus berangkat ke amerika sekarang juga".


"Mama tenang dulu, biar Elvan yang mengurusnya. Kita tidak usah ikut campur urusan keluarganya".


"Apa? tidak ikut campur? kalau seperti itu, kenapa kamu ikut dan papa kamu ikut campur waktu Elvan bersama denga..


"Hentikan ma" Bentak Vicky memotong perkataan Amira yang sedari tadi hanya diam saja. "Hentikan" Setelah itu Vicky pergi meninggalkan mereka semua menuju ruangannya. Kemudian Chiko datang menghampirinya.


Tok.. Tok..


"Pa" Panggilnya mendekati Vicky yang sedang marah. "Apa yang harus kita lakukan pa?".


"Sampai sekarang nomor Elvan belum bisa di hubungi pa".


"Kalau gitu, besok pagi kamu harus berangkat ke amerika dan pastikan adik kamu tidak tau kamu berada disana".


"Lalu apa yang akan aku lakukan disana pa?".


"Temui Robert. Mengenai kasus ini, papa mau tau apa keputusannya. Papa juga tidak terima mengenai aib ini, berani-beraninya mereka membuat keluarga kita malu".


"Baik pa".


.


Pagi harinya, Chiko langsung berangkat ke amerika begitu Vicky memerintah ya. Tampa ada kendala kini ia telah tiba disana tepat pada pukul 3 pagi. Sambil menunggu matahari terbit, Chiko menyempatkan diri untuk istirahat sebentar dengan memesan satu kamar hotel sebelum ia datang menghampiri Robert.


Berada di dalam kamar, Chiko mencoba menelpon nomor Elvan, namun sampai detik itu juga Elvan masih saja belum mengaktifkan ponselnya. "Apa sebaiknya aku mendatangi rumahnya?" Lama berpikir, Chiko mencoba mendatangi kediaman Elvan.

__ADS_1


Tetapi setibanya Chiko depan rumah Elvan, ia malah tidak berani menjumpai adiknya yang selama ini ia cintai. "Maafkan aku Elvan" Ucapnya dalam hati merasa menyesal mengingat perkataan Amira. "Tapi aku dan papa tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Robert yang akan menghancurkan perusahaan kita kalau saja papa tidak menikahkan kamu dengan putrinya".


Setelah mata hari terbit, Chiko langsung bersiap-siap menuju perusahaan TQ group hingga ia kini telah berada di dalam ruangan Robert. "Kopinya tuan".


"Terima kasih, jam berapa tuan Robert tiba disini?".


"Saya belum tau tuan jam berapa tuan Robert tiba disini. Permisi".


"Mmmmm" Gumam Chiko menikmati segelas kopinya. Lalu Chiko menatap seisi ruangan Robert, "Ck, ini sudah hampir jam 9 pagi, kenapa dia belum datang-datang juga?".


Ceklek!


Melihat Chiko yang sedang berada di ruangannya membuat Robert sedikit merasa khawatir, sedangkan Chiko yang melihatnya, "Selamat pagi tuan Robert. Apa kabar?" Ucap Chiko menyalamnya.


"Baik, bagaimana dengan Vicky?".


"Baik-baik saja tuan".


"Mmmm.. Silahkan duduk".


"Terima kasih tuan" Duduknya kembali diatas sofa, lalu ia melihat kearah Robert, "Begini tuan, kedatangan saya kemari tuan Robert pasti sudah tau tujuan saya yang sebenarnya. Jadi saya langsung ke intinya saja, kami sebagai keluarga besar Elvan, mengambil keputusan untuk menceraikan putri tuan".


"Hahahahahah" Tawa Robert menertawakan Chiko. "Tidak semudah itu Elvan menceraikan putri ku selama kartu merah kalian berada di tangan saya".


"Maksud tuan? anda sedang mengancam kami?".


"Mmmm.. Anggap saja seperti itu".


Chiko pun langsung mengepal kedua tangannya, namun ia segara menenangkan dirinya. "Begitu juga dengan anda, kami jatuh maka TQ group juga akan jatuh".


"Apa?" Kaget Robert.


Chiko menyeringai, "Saat ini kita sama-sama memiliki kartu merah, jadi kami tidak akan takut. Bukankah seperti itu tuan Robert?".


"Kurang ajar, berani-beraninya kamu mengancam saya".


"Yang duluan bukan saya. Tapi andalah yang memulai duluan mengancam saya" Kemudian Chiko memperbaiki jasnya. "Saya rasa sampai disini saja, permisi" Keluarnya dari ruangan Robert.

__ADS_1


Begitu Chiko keluar dari ruangannya, dengan sangat marah Robert melemparkan pas bunga yang berada di samping kursinya kebalik tembok, "Mereka benar-benar tidak tau siapa aku sebenarnya" Gumam Robert mengepal tangannya.


__ADS_2