
Setelah meeting tersebut selesai, satu persatu dari antara mereka langsung keluar begitu juga dengan Tania yang segera keluar dari dalam sana, namun tangan kekar Elvan menahan pergelangan tangannya hingga membuat Tania menghentikan langkahnya. "Maaf Nia, bisa kita bicara sebentar".
Kemudian Tania melihat sekitar mereka yang kini hanya tinggal mereka berdua. "Tolong lepaskan tangan saya, saya tidak mengenal anda.." Gantung Tania saat Elvan tiba-tiba menarik tubuhnya kedalam pelukannya. "Apa yang sedang anda lakukan?" Bentak Tania meninggikan suaranya.
"Sebentar saja Nia, aku sangat merindukan mu" Jawab Elvan semakin mengeratkan pelukannya.
Deng..
Dengan mata berkaca-kaca Tania menyeka air matanya, lalu ia dengan kuat mendorong tubuh Elvan hingga pelukannya terlepas, "Dasar pria kurang ajar".
PPPLLAAAKKK..
"Saya sudah mengatakan pada anda kalau saya tidak mengenal anda, tapi dengan beraninya anda memeluk saya. Minggir".
"Tania tunggu" Tahan Elvan menarik Tangan Tania kembali. "Aku mohon, biarkan aku memeluk mu sebentar saja Nia..
PPPLLAAAKKK..
"Seumur hidup saya belum pernah menampar seseorang, tapi hari ini anda telah mengotori tangan saya. Permisi".
"Tania tunggu dulu" Lagi-lagi Elvan menahannya dan menarik tubuh Tania kedalam pelukannya secara paksa. "Aku merindukan mu, aku sangat merindukan mu Nia. Aku tidak perduli, mau berapa kali kamu harus menampar ku asalkan kamu mengizinkan aku untuk memeluk mu sebentar saja".
Kemudian Tania mendengus kesal melihat wajah bersalah Elvan yang sedang menahan air matanya. "Untuk apa kamu merindukan aku Elvan? bukankah kamu sudah bahagia dengan pilihan mu? jadi biarkan aku pergi".
"Tolong maafkan aku Nia".
"Aku sudah memaafkan kamu Elvan, sejak kamu pergi meninggalkan aku, aku sudah memaafkan kamu".
"Aku juga merindukan Ansel".
"Apa?" Kaget Tania mendengat Elvan menyebut nama Ansel. "Ba-bagaimana bisa kamu tau Ansel?".
"Karna dia anak ku juga Nia".
Tania tersenyum menyeringai, "Anak? siapa anak kamu Elvan?".
"Ansel".
"Hahahahha.. Ansel? Yah, sepertinya kamu pria yang enggak tau diri yah mengakui anak orang anak kamu".
"Dia anak aku Nia, anak aku bersama mu".
"Dia tidak anak kamu Elvan!" Bentak Tania sangat marah. "harus berapa kali aku mengatakan pada mu kalau dia tidak anak kamu".
"Nia" Elvan mencoba menyentuh pipi Tania yang sudah mengeluarkan air mata.
"Singkirkan tangan kotor mu itu".
Melihat Tania yang menangis membuat Elvan bersujud dihadapannya, "Nia".
__ADS_1
Tania Tertawa kecil melihat Elvan yang ikutan menangis di hadapannya, "Hentikan sandiwara mu itu Elvan, aku tidak akan terpengaruh oleh mu lagi. Tolong jangan sakiti aku lagi Elvan tolong jangan sakiti aku lagi, aku sudah berusaha melupakan mu. Jadi berhentilah bersandiwara".
"Jangan berbohong Nia, aku tau kamu masih mencintai ku. Bukankah kamu dulu pernah berkata kalau kamu tidak akan melupakan ku?".
"Hahahha.. Itu dulu Elvan, sekarang tidak lagi. Lagian kamu sendiri yang memilih pergi meninggalkan aku. Jadi biarkan aku pergi, dan satu lagi. Meskipun kita bertemu di lain tempat nantinya, aku mohon bersikaplah seolah-olah kita tidak saling mengenal" Ucap Tania langsung pergi dari hadapan Elvan.
Sedangkan Asisten Elvan yang melihatnya dari ujung pintu membuat ia segera membantu Elvan bangkit berdiri, "Tuan, anda baik-baik saja?".
"Mmmmmm" Gumam Elvan melap air matanya. "Apa yang kamu lihat hari ini jangan sampai orang lain tau".
"Iya tuan" Angguknya mengikuti Elvan dari belakang.
Begitu Tania keluar dari dalam sana, ia langsung berlari dan menyuruh sekretarisnya supaya tidak mengikutinya. Berada di luar gedung, Tania mencoba menenangkan diri ditaman yang berada disana. Sambil mendudukan diri diatas kursi panjang, Tania langsung menertawakan dirinya yang munafik.
"Hhhmmsss.. Jauh dari mu aku sangat merindukan mu, tapi begitu aku dekat dengan mu rasanya aku ingin marah" Lalu ia melihat tangan kanannya yang sudah menampar Elvan dua kali. "Pasti rasanya sangat sakit, maafkan aku Elvan" Tania kembali meneteskan air matanya.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Sayang, kenapa kamu belum tidur?" Tanyanya saat Ansel menelpon.
"Ansel enggak bisa tidur ma".
"Kenapa? bibi Jasmin dimana?".
"Ansel tadi menyuruh bibi Jasmin membiarkan Ansel tidur sendiri ma. Mama sedang apa? kenapa suara mama terasa berat?".
"Mama baru selesai meeting sayang".
"Sedikit, sekarang Ansel tidur lagi yah. Besok pagi anak mama bisa telat bangun".
"Iya ma. Kalau gitu Ansel tutup dulu yah".
"Iya sayang. Selamat tidur anak mama".
"Mmmmmm" Angguk Ansel mematikan ponselnya.
Setelah Tania merasa baikan, ia segera kembali menemui sekretarisnya hingga ia melihat Elvan yang sedang mengobrol dengan salah satu client-nya di dalam loby khusus tamu VIP. Namun Tania mencoba mengabaikannya, dan memilih pergi begitu saja, tetapi asisten Elvan langsung datang menghampirinya. "Nona" Panggilnya.
Tania menghentikan langkahnya melihat asisten Elvan yang berada di hadapannya, "Iya, ada apa?".
"Bisa ikut saya sebentar nona? Mari" Ajaknya membawa Tania kedalam lift.
Tampa menolak, Tania mengikuti permintaan asisten Elvan hingga ia memasuki ruangan yang tidak Tania ketahui, "Ruangan apa ini?".
"Mohon tunggulah sebentar nona, saya akan menyiapkan kopi".
"Tidak usah, saya tidak minum kopi".
"Lalu apa yang ingin nona minum".
__ADS_1
"Tidak usah, siapa yang ingin bertemu dengan saya?".
"Sebentar lagi beliau akan datang nona, silahkan duduk dulu".
"Mmmmmm" Gumam Tania mendudukan diri diatas sofa yang berada di ruangan tersebut.
"Kalau gitu saya akan menyiapkan beberapa cemilan".
"Iya" Angguk Tania sambil menunggu siapa yang ingin bertemu dengannya. Hampir 10 menit lamanya Tania menunggu disana, ia sudah mulai merasa bosan. "Kenapa dia belum datang-datang juga? ini sudah 10 menit lamanya".
Ceklek!.
"Datang juga" Gumam Tania melihat kearah ambang pintu, "Kamu?".
"Iya" Senyum Elvan mendekatinya.
Tania mengeser tubuhnya begitu Elvan berjalan kearah sofa yang sedang ia duduki. "Apa yang ingin kamu lakukan? menjauh-lah".
"Biarkan aku duduk disamping mu Nia".
"Tidak, kalau gitu.. Aahhhh" Kaget Tania begitu Elvan manahan tangannya saat ia mencoba untuk pergi dari sana.
"Jangan menghindar terus Nia. Apa kamu benar-benar tidak merindukan ku?".
"Iya, aku tidak merindukan mu Elvan, dan apa maksud dari ini semua? kenapa kamu membawa ku keruangan seperti ini?".
Elvan tersenyum melihat wajah ketakutan yang Tania tunjukan kepadanya, "Kamu tidak usah takut seperti itu Nia, aku tidak akan menyakiti mu, aku hanya ingin mengobrol santai saja dengan mu".
"Terus, kenapa harus di ruangan seperti ini?".
"Karna ruangan ini jauh lebih baik dari pada aku membawa mu kedalam ruangan ku" Jawab Elvan melihat cemilan yang berada diatas meja tersebut. "Kamu tidak suka cemilan ini?".
"Tidak" Jawab Tania dengan ketus.
"Kenapa? bukankan cemilan ini kesukaan kamu?".
"Dulu, sekarang tidak".
"Oohhh" Senyum Elvan kembali.
"Apaan sih pakai senyum-senyum segala? kamu pikir dengan menunjukkan senyuman seperti it..
Cup..
Dengan mata membulat ia melihat Elvan yang sedang tersenyum manis kepadanya setelah Elvan mencium bibirnya, "Kamu".
Cup.. Cup..
"Yah..." Bentak Tania.
__ADS_1
Elvan tersenyum lagi mencium bibir mungil mantan istrinya itu, "Uummcchhh.. Uummcchhh" Kemudian dengan pelan Elvan menarik tubuh Tania kedalam pelukannya dan ia yang semakin dalam mencium bibir mungil Tania yang selama ini sangat ia rindukan.