
Sore harinya, Ansel telah di perbolehkan pulang dari rumah sakit begitu keadaannya sudah baik-baik saja. "Ansel, kamu tunggu sebentar disini ya sayang. Mama ke administrasi dulu".
"Iya ma" Angguk Ansel menunggu Tania di atas sofa yang berada di loby. Kemudian Ansel melihat seorang pria tampan dengan tubuh tinggi datang menghampirinya.
"Hay" Sapanya dengan senyum manis.
"Hhmmm? om mengenal Ansel?".
"Mmmmm.. Kamu baik-baik saja".
"Mmmmm" Angguk Ansel memperhatikan wajah pria tampan yang berada di hadapannya itu.
"Syukurlah, kamu telah tumbuh dengan baik. Siapa nama mu anak pintar?".
"Ansel om. Lalu om namanya siapa?".
"Ansel, mau ini?".
"Itu apa om? kenapa om tidak menjawab pertanyaan Ansel?".
Sedangkan dari kejauhan begitu Tania selesai ia langsung menghampiri Ansel, tetapi ia sempat menghentikan langkahnya saat ia melihat punggung seorang pria di hadapan Ansel. "Itu mama Ansel sudah datang. Ma" Panggilnya melabaikan tangannya.
"Mmmmmm" Senyum Tania menghampirinya.
Namun pria tersebut malah pergi begitu saja dari sana tampa ingin Tania melihat dirinya. "Siapa sayang? kenapa dia pergi begitu saja?".
"Tidak tau ma, Ansel juga tidak mengenal ya".
"Terus dia bilang apa sama Ansel?".
"Tidak ada ma, dia hanya memberikan ini saja untuk Ansel" Jawabnya menunjuk 1 buah apel yang berada di atas tangan mungil Ansel.
"Apel?".
"Iya ma, boleh Ansel memakannya? sepertinya apel ini sangat enak".
"Tidak boleh sayang, kita tidak tau apel itu bisa kamu makan atau tidak. Berikan sama mama".
"Ini ma".
"Sekarang kita pulang".
"Iya ma".
.
Di dalam club seorang pria tampan sedang menikmati segelas alkohol di depan meja si bartender dan sebatang rokok berada di tangan kanannya. Lalu dengan kasar ia mengusap wajahnya, "Ada apa Elvan?" Tanya si bartender yang mengenalnya.
Ia mengangkat wajahnya melihat si bartender yang juga sedang melihat dirinya. "Aku bertemu dengan anak ku" Senyumnya dengan tipis.
"Terus? kenapa kamu tidak menemuinya saja? dari pada kamu harus bersembunyi-bunyi seperti ini terus seperti seorang pencuri".
"Aku tidak bisa".
__ADS_1
"Selagi kamu berada disini temui-lah mereka, aku tau istri dan anak mu akan mengerti".
"Istri? hahahha dia tidak istri ku lagi. Kamu sudah lupa kalau aku sudah menikah dengan wanita lain?".
"Aku tau, tapi dalam hati mu yang paling dalam kamu masih tetap mengakuinya sebagai istri mu. Kapan kamu kembali ke amerika?".
"Besok".
"Setiap tahun kamu selalu melakukan hal seperti ini, kamu tidak capek?".
"Tidak, melihat mereka dari kejauhan saja sudah membuat ku bahagia".
"Jadi mau sampai kapan kamu seperti ini? kalau dia sudah menikah nanti, kamu tidak akan bisa menemuinya lagi".
"Hhhmmsss.. Aku lelah, aku pulang dulu".
"Kamu bisa pulang dengan keadaan mabuk seperti itu".
"Mmmmmm" Elvan langsung pergi dari sana menuju hotel. Sesampainya ia di kamar, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya, "Tania, aku merindukan mu" Gumamnya menatap layar ponselnya. "Sedang apa kalian? pernahkah kamu merindukan ku?".
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Hallo" Jawab Elvan.
"Tuan, nyonya Jessi berulah lagi. Nyonya Jessi tertangkap bermain judi online dan saya sekarang sedang menemani nyonya Jessi di kantor polisi tuan".
"Baik, saya akan kesana" Elvan pun memutuskan kembali malam ini juga ke amerika.
"Dimana?".
"Ikut saya tuan" Bawanya menuju ruangan Jessi saat ini ditahan. "Disana tuan".
"Mmmmm" Angguk Elvan memasuki ruangan Jessi yang sedang di interogasi.
Tok.. Tok..
Ceklek!
"Maaf, bisa saya bicara dengan istri saya sebentar?".
"Silahkan" Jawabnya meninggalkan Elvan dan Jessi di dalam ruangan tersebut. Kemudian Elvan mendudukan diri dihadapan Jessi yang sedih tersenyum kepadanya.
"Aku pikir kamu tidak akan datang? kamu dari mana saja?" Elvan tidak menjawabnya, Elvan malah menatap dirinya dengan tatapan datar, "Hhhrrrmm, kenapa kamu melihat ku seperti itu? ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan".
"Jessi".
"Mmmmm?".
"Ini sudah yang ke berapa kalinya kamu melakukan hal seperti ini? kamu tidak malu keluar masuk dari sini?".
"Hey.. Ayolah Elvan, selagi kamu tidak memberitahu papa dan mama semuanya akan baik-baik saja. Jadi kamu sebagai suami harus bisa diajak bekerja sama, ok. Aku mencintai mu Elvan karna kamu tampan, jadi jangan pernah berpaling dari ku".
Elvan langsung tertawa menyeringai, "Kali ini, aku tidak akan membantu mu. Jadi kalau kamu ingin keluar, keluarlah dengan usaha mu sendiri atau minta bantuan dengan teman-teman mu itu".
__ADS_1
"Yah.. Kamu mau kemana? kamu harus membebaskan aku dulu Elvan. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, mmmmm aku mohon".
"Aku lelah dengan sifat kekanak-kanakan mu ini Jessi, aku pergi".
"Elvan, yah Elvan..." Teriak Jessi sangat marah begitu Elvan keluar dari dalam sana. "Aarrkkhh.. Kamu tidak boleh pergi Elvan sebelum kamu membebaskan aku".
Lalu Elvan melihat asistennya itu, "Biarkan saja".
"Baik tuan" Angguknya.
Sejak Elvan dan Jessi menikah, mereka pun memutuskan tinggal di amerika sesuai dengan permintaan Elvan. Namun Elvan yang belum mengenal Jessi selama ini, ia tidak menyangka kalau istrinya itu adalah seorang pemain judi online yang selama ini polisi cari.
Meskipun Jessi menjabat sebagai direktur di perusahaan TQ group. Jessi yang nakal bukan berarti menjadi baik, ia hanya menyembunyikan dirinya yang sebenarnya.
Saat Elvan mengetahui kelakukan Jessi yang sebenarnya, ia sempat ingin memberitahu kedua orang tuanya, akan tetapi Jessi langsung mengancam Elvan dengan menghancurkan kehidupan mantan istrinya dan juga buah cintanya dengan Tania.
Dan akhirnya, ancaman itu berhasil membuat Elvan bungkam dan membiarkan Jessi berbuat sesuka hatinya. Tapi kali ini, Elvan tidak akan membebaskan Jessi lagi, ia sudah lelah dengan sang istri yang selalu berbuat sesuka hatinya.
Setibanya ia dirumah, "Daddy" Teriak anak kecil mungil itu menghampiri Elvan.
"Hahahha.. Putri daddy" Tawa Elvan langsung menggendongnya.
"Deddy dari mana saja sih? Rachel sangat merindukan daddy".
"Benarkah putri daddy ini merindukan daddy ya?".
"Mmmm.. Sangat-sangat, Rachel sangat merindukan daddy".
"Kalau gitu, daddy akan membawa putri daddy ini ke suatu tempat yang pastinya Rachel suka".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Asyik. Kalau gitu ayo daddy kita pergi sekarang, Rachel tidak sabar lagi".
"Tunggu sebentar yah, daddy ganti pakaian dulu".
"Iya daddy jangan lama".
"Daddy tidak akan lama" Elvan segera mengganti pakaiannya dengan pakai santai. Setelah itu mereka langsung pergi dari sana.
"Oohh iya daddy? sudah dua hari ini mommy tidak pulang kerumah? daddy tau mommy dimana?".
"Mommy sedang sibuk bekerja dikantor untuk Rachel".
"Kalau pun mommy sibuk bekerja, kenapa mommy tidak memberitahu Rachel daddy?".
"Terus Rachel marah sama mommy?".
"Tidak daddy. Rachel tidak bisa marah sama mommy".
"Anak pintar" Senyum Elvan mencium kening putrinya itu.
__ADS_1