SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 25


__ADS_3

Melihat Tania yang sedang berlari menuruni anak tangga Amira langsung menegurnya, "Nia.. Hati-hati sayang nanti kamu bisa jatuh".


"Astaga.. Maafkan Nia ma" Senyumnya yang telah berada di hadapan Amira.


"Lain kali jangan di ulangi lagi yah".


"Iya ma heheheh".


"Terus kamu mau kemana dandan secantik ini sayang?".


"Itu ma, Elvan mengajak Nia makan di luar malam ini".


"Benarkah?" Kaget Amira dengan senang hati.


"Iya ma, kalau gitu Nia berangkat dulu yah takut Elvan menunggu lama".


"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan yah".


"Iya ma".


Sesampainya Tania di tempat yang tadi Elvan sebutkan, ia langsung masuk kedalam restoran dimana Elvan telah menunggunya disana. "Elvan" Senyum Tania menghampirinya.


"Kamu terlambat 15 menit" Ujar Elvan melihat jam tangannya.


"Maaf" Duduknya dihadapan Elvan.


"Mmmmm" Gumamnya. "Aku telah memesan ya tapi aku tidak tau selera kamu seperti apa, apa kamu tidak keberatan?".


"Aahhh.. Tentu saja aku tidak keberatan Elvan" Tawa Tania meletakkan tasnya.


"Bagus, itu mereka sudah datang" Tunjuknya kearah si pelayan yang sedang berjalan kearah meja mereka. Begitu sipelayan meletakkan makanan mereka berdua diatas meja, "Hari ini aku gajian, jadi aku akan mentraktir mu makan sepuasnya".


Tania langsung tersenyum lebar, "Terima kasih, dengan senang hati aku akan menikmatinya".


"Mmmmmm.. Makanlah".


"Iya, selamat makan malam suami ku".


Seketika Elvan terdiam, ia masih memikirkan perkataan yang baru saja Tania ucapkan, namun Tania malah terlihat biasa saja sambil menikmati makan malamnya. Kemudian Elvan tersenyum tipis tampa sepengetahuan Tania.


Selesai menikmati makan malam, mereka segera keluar dari dalam restoran menuju sebuah taman dimana pasangan-pasangan pada umumnya berada disana sambil menikmati pemandangan indah di malam hari.


"Wah.. Disini indah sekali Elvan" Senang Tania melihat tempat tersebut.

__ADS_1


"Mmmm.. Duduklah" Ucapnya menyuruh Tania duduk diatas kursi panjang yang berada disana.


"Iya" Duduknya. "Apa kamu sering datang kemari? sebelumnya aku tidak pernah datang kesini".


"Mmmm.. Dulu aku sering datang kemari bersama dengan Yola dan kursi ini adalah kursi yang sering kami berdua duduki".


"Oohhh" Gumam Tania sedikit kesal.


"Lalu bagaimana dengan mu?".


"Hhhmmm.. Kenapa dengan aku?".


"Apa kamu tidak punya kenangan bersama dengan orang yang pernah kamu cintai?" Tanyanya menatap lurus.


"Tidak, aku tidak pernah memiliki kenang indah dengan pria mana pun karna aku tidak pernah berpacaran" Elvan meliriknya. "Benar, aku tidak berbohong Elvan, kalau kamu tidak percaya kamu bisa bertanya sama mama dan papa atau tidak dengan kedua sahabat ku".


Elvan menghela nafas panjang sambil menatap bintang-bintang yang berada di atas langit, "Aku belum bisa mencintai mu, tapi aku berjanji akan selalu melindungi mu, maaf" Ucapnya melihat Tania.


Tania tersenyum sedih, "Aku tau, aku tau kamu sangat mencintainya dan aku tau kamu belum bisa melupakannya, tapi terima kasih sudah mau melindungi ku Elvan".


"Apa kamu benar-benar mencintai ku?".


"Mmmmmm" Angguk Tania.


"Tidak apa-apa Elvan, aku akan menunggu mu sampai kamu mau menerima ku dan mencintai ku suatu saat nanti, jadi aku akan selalu setia untuk mu".


"Lalu bagaimana kalau aku belum bisa juga menerima mu? apa kamu akan menyerah".


Tania terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Elvan lagi dan kali ini Tania benar-benar tidak sanggup menahan kesedihannya, dengan mata berkaca-kaca Tania berusaha menjawab pertanyaannya Elvan. "Aku siap, kalau kamu meminta cerai".


Elvan yang mengetahui kalau Tania sedang menangis, ia langsung menarik tubuh mungil Tania kedalam pelukannya. "Maaf jika aku menyakiti hati mu" Ucapnya mengelus punggung Tania.


.


Pagi harinya seperti biasa Tania berangkat diantar sama supir sedangkan Elvan berangkat dengan motor bututnya. Didalam kelasnya Tania masih saja memikirkan perkataan yang ia lontarkan semalam. "Kamu bodoh sekali Tania, bisa-bisanya kamu mengatakan kalau kamu siap di ceraikan, kamu bodoh sekali Tania, kamu telah menyia-nyiakan perjuangan kamu selama ini hanya untuk mendapatkannya. Tapi aku juga tidak boleh egois kalau Elvan tidak bisa mencintai ku, lalu aku harus bagaimana?" Ucapnya dalam hati sambil membaringkan kepala diatas meja.


Hingga Gavin yang baru masuk menendang meja Tania. "Bangun" Teriaknya.


"Aakkhhh.. Kamu apa-apa sih? kamu pikir itu tidak sakit main tendang-tendang sembarangan" Bentaknya memarahi Gavin.


"Hhheeemmm" Seringai Gavin. "Kamu datang kesini apa hanya untuk tidur saja?".


"Apaan sih.. Suka saya dong, apa urusan ya dengan mu?".

__ADS_1


"Saya tidak suka melihat mahasiswa tidur di hadapan saya, apalagi mahasiswa baru seperti kamu".


"Kalau kamu tidak suka enggak usah dilihat, itu ajah kok repot".


BBBRRAAKKK..


Gavin tiba-tiba saja menendang meja yang berada di hadapan Tania, "Apa kamu sedang menantang ku haahhhh?".


"Ciieehhh.. Jelas-jelas kamu yang duluan cari gara-gara, sekarang kamu sendiri yang marah-marah, apa kamu sudah merasa hebat disini" Tantangnya tak mengenal takut. Sedangkan teman-teman satu kelas mereka berdua tidak ada yang bisa berkutik selain menonton.


Kemudian Gavin menatap satu persatu diantara mereka semua, "Apa kalian setuju kalau saya memberi pelajaran pada wanita ini?" Tanyanya.


Namun mereka tidak ada yang berani memberikan jawaban dan itu membuka Gavin tertawa lantang "Hahhahaha".


"Sepertinya kamu sudah sakit, sebaiknya kamu periksa kerumah sakit sana" Ujar Tania duduk kembali diatas kursinya.


Tetapi dengan marahnya Gavin langsung menarik rambut panjang Tania sampai membuat yang empunya rambut menjerit kesakitan, "Aarrkkhhhh".


"Hahahaha.. Kenapa? sakit?" Tawa Gavin semakin kuat menarik rambut panjang Tania.


"Lepaskan enggak? kamu pikir itu tidak sakit".


"Hahahaha" Tawa Gavin kembali semakin kuat menarik rambut Tania. "Sekarang kamu minta maaf, kalau tidak aku akan menggunting rambut mu ini" Lalu teman-teman ya Gavin memberi ya gunting sambil tertawa senang.


"Dasar kumpulan psikopat" Umpat Tania sebelum melihat Elvan yang baru masuk bersama dengan sang dosen. "E-elvan".


Kemudian sang dosen yang melihat Gavin sedang memperlakukan Tania tidak wajar langsung membentaknya sangat marah, "Gavin.. Apa yang kamu lakukan?".


"Ck.. Kami tidak melakukan apa-apa pak, kami hanya bercanda saja, iya bukan?" Senyumnya kepada Tania.


"Bohong pak, dia telah menggangu ketenangan saya, bahkan dia sampai ingin menggunting rambut saya pak" Beritahu Tania.


"Hahhahaha" Tawa Gavin menatapnya dengan tajam.


"Saya tidak takut, saya hanya mengatakan yang sebenarnya".


Dengan sangat marah si dosen tersebut datang menghampiri dan menampar wajah Gavin cukup kuat.


PPPLLAAKK..


"Aarrrkkhhh" Kaget mereka semua yang berada di dalam kelas begitu juga dengan Tania.


"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini haahhhh?".

__ADS_1


"Ck.. Dapat tamparan lagi hanya karna satu wanita" Kesalnya menatap Tania dengan tajam.


__ADS_2