
"Elvan tunggu" Teriak Alona menghentikannya. Namun Elvan yang tidak perduli, ia tetap memutuskan keluar dari ruangan Alona. "Aarrhhh.. Kenapa aku bodoh sekali sih?" Kesalnya.
Tok..
"Ceklek!".
"Elvan" Senyum Alona. Tetapi yang ia harapkan bukanlah Elvan, melainkan James direktur keuangan 1. "Ada apa tuan?" Tanyanya.
"Kamu di panggil tuan Robert segera ke ruangannya".
"Baik tuan" Angguk Alona mengikuti James.
Sedangkan dari kejauhan Elvan tengah melihat mereka berdua menuju ruangan Robert. "James.. Direktur keuangannya. Aku penasaran, apa yang ingin mereka bicarak..
"Dorrr..".
"Aakkhhh" Kaget Elvan melonjak.
"Hahaha.. Kamu kaget Elvan? kamu sih. Siapa suruh masih pagi jam 11 gini kamu sudah melamun disini. Apa yang sedang kamu lihat Elvan?" Tanya Jessi penasaran.
"Tidak ada" Jawab Elvan segera pergi dari sana.
"Hhhmm? dasar aneh" Gumam Jessi mengikuti Elvan kedalam ruangannya.
"Apa yang kamu lakukan disini? pekerjaan ku sangat banyak. Maaf, bisakah kamu keluar dari sini?" Usirnya.
"Kamu mengusir ku Elvan?".
"Maaf".
"Wah.. Kamu benar-benar keterlaluan Elvan, bahkan kamu tega mengusirku dari sini".
Tidak ingin menjawab Jessi, Elvan segera mendudukan diri diatas kursinya. "Pekerjaan ku sangat banyak Jessi, tolong mengerti aku".
"Baiklah, permisi" Perginya dengan kesal sampai Jessi menutup pintu ruangannya cukup kuat.
"Hhmmsss " Dengus Elvan mengusap wajahnya. "Aku tinggal punya waktu 3 hari lagi, jika aku tidak menemukan apa-apa, mereka akan mengira ku telah mempermalukan group TQ. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Sambil berpikir keras Elvan kepikiran dengan Alona yang berada di ruangan Robert. "Sedang apa dia disana? apa yang sedang mereka bicarakan saat ini?".
.
Sekarang telah menunjukkan pukul 7 malam, Elvan masih berada di dalam ruangannya. Sedangkan para karyawan lainnya telah berpulangan satu persatu kerumah mereka masing-masing. Lalu Elvan bangkit berdiri dari atas kursinya, ia membuka sedikit pintu ruangannya, "Lampu sudah padam" Senyum Elvan segera keluar dari ruangannya.
Dengan langkah pelan Elvan mencoba memasuki ruangan Alona terlebih dahulu, namun ruangan Alona malah terkunci. "Sial, dia mengunci ruangannya" Kemudian Elvan mencari cara agar dia bisa memasuki ruangan tersebut.
Sambil mencari cara, Elvan juga menghindari setiap CCTV yang berada disana. Hampir 40 menit lamanya Elvan mencoba membuka ruangan Alona. Kini pintu tersebut berhasil ia buka. "Akhirnya" Senyum Elvan memasuki ruangan Alona. Kemudian ia menuju meja kerja Alona, "Panas, berarti Alona baru pulang" Gumam Elvan.
Setelah itu Elvan segera mencari sesuatu di komputer Alona. Dan lagi-lagi komputer Alona terkunci. Tetapi itu bukanlah masalah besar bagi Elvan, dengan mudah ia langsung memasukkan sesuatu di komputer Alona hingga komputer Alona terbuka. Kemudian Elvan mencari sesuatu yang ia cari.
25 menit lamanya Elvan mencari, tetapi yang ia cari tidak berada disana. "Tidak ada disini, lalu siapa yang memegang berkasnya kalau bukan Alona?" Elvan melihat sekitar ruangan Alona. "Tidak ada apa-apa disini" Elvan segera meninggalkan ruangan Alona. "Aiiass" Kaget Elvan saat ia melihat dua orang security sedang bertugas disana.
__ADS_1
Sambil menunggu security tersebut pergi dari sana. Entah kenapa kedua mata Elvan tertuju kepada mesin penghancur kertas dan juga tong sampah yang berada di sampingnya. Dengan rasa penasaran, Elvan mendekatinya dan menemukan satu kantong plastik berkas yang sudah di hancurkan. "Apa ini?".
.
Setelah Elvan berada di hotel, ia menatap kantong sampah tersebut cukup lama, namun ia belum membuka sampah yang ia bawa dari kantornya itu. Kemudian Elvan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Elvan telah keluar dari dalam sana dengan handuk yang melilit di atas pinggangnya.
Tok.. Tok..
Elvan terkaget mendengar suara ketukan pintu tersebut, "Siapa yang mengetuk pintu kamar ku?" Gumam Elvan. Tetapi ia tetap membuka pintu kamar ya.
Ceklek!
"Elvan" Senyum Alona yang sedikit mabuk.
"Alona. Apa yang sedang kamu lakukan kemari?".
Alona tidak menjawab pertanyaan Elvan ketika kedua matanya tertuju kepada tubuh atletis Elvan yang sangat di inginkan semua wanita. "Wah.. Tubuh kamu indah sekali Elvan" Pujinya dengan pipi merona.
"Hhhmmsss" Dengus Elvan melihat Alona yang sangat menginginkan dirinya. "Sebaiknya kamu pulang, aku ingin istirahat".
"Hey.. Jangan egois sekali" Tahannya langsung memasuki kamar Elvan. "Akhirnya aku bisa menemukan kamu juga Elvan, Aakkhhh" Senang Alona membaringkan tubuhnya di atas ranjang Elvan.
"Ck" Kesal Elvan. Lalu ia memasuki kamar mandi.
"Kamu mau kemana Elvan?".
"Boleh" Angguk Alona merona kembali.
"Haahhh" Seringai Elvan menggeleng langsung memasuki kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu yang lama ia telah selesai. "Aahh" Kaget Elvan melihat tubuh indah Alona yang kini hanya dibaluti olah Bra dan cd. "Apa yang sedang kamu lakukan Alona?" Tanyanya terlihat marah.
"Aku? Aaaa.. Aku sedang merasa gerah Elvan, jadi aku membuka pakaian ku" Senyumnya dengan manis.
"Cepat kenanakan pakaian mu dan segera keluar dari sini".
"Ck, kamu mau sesuatu terjadi dengan ku? ini sudah jam 11 malam Elvan. Bagaimana mungkin kamu menyuruh ku pulang?".
"Hhhmmsss" Semakin kesal Elvan. "Terserah kamu saja" Perginya meninggalkan Alona.
"Elvan kamu mau kemana?" Tanyanya melihat Elvan menyambar jaketnya. "Elvan kamu mau kemana?" Tanyanya kembali manahan tubuh Elvan dengan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan Alona".
"Tidak mau Elvan, jawab dulu kamu mau kemana?".
"Aku butuh udara segar, sekarang lepaskan aku".
"Kalau gitu, kenapa kamu tidak mengajak ku? aku juga butuh udara segar".
Elvan kembali menghela nafas sambil melepaskan kedua tangan Alona dari pinggangnya. "Alona" Panggilnya melihat wajahnya.
__ADS_1
"Mmmmm.. Aku mencintai mu Elvan".
"Seberapa besar?" Tanyanya mencoba bersabar.
"Aku tidak tau mengatakan sebesar apa aku mencintai mu Elvan, yang penting aku sangat mencintai mu".
Elvan tersenyum sinis, kemudian ia menyentuh wajah mulus Alona. "Kalau begitu, berikan aku sesuatu".
"Apa itu Elvan?. Cepat katakan, aku akan memberikan kepada mu semua ya".
"Kamu yakin akan memberikannya kepada ku?".
"Mmmm.. Bahkan tubuhku akan kuberikan kepada mu Elvan" Jawab Alona mengulurkan kedua tangannya di pinggang Elvan. "Jadi jangan tinggalkan aku Elvan".
"Baiklah, aku tidak akan meninggalkan kamu".
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Sebentar, ponsel ku bergetar".
"Mmmmm" Alona melepaskan pelukannya.
Elvan berjalan menghampiri ponselnya yang berada di atas meja. "Tania" Kemudian Elvan melirik Alona yang sedang menantinya. "Maafkan aku Nia" Elvan langsung mematikan ponselnya.
"Siapa Elvan?".
"Tidak" Jawabnya.
"Mmmmmm" Angguknya menghampiri Elvan.
"Kamu mau minum lagi?".
"Boleh" Angguknya.
"Kamu mau minum anggur, wiski atau bir?".
"Anggur" Jawabnya.
Elvan segera menelpon dan memesan 1 botol anggur untuk mereka berdua. "Sebentar lagi mereka akan mengantarnya, duduklah dulu".
"Elvan".
"Ada apa?".
"Tidak bisakah aku bermanja dengan mu di sana" Tunjuknya kearah tempat tidur.
"Baiklah" Elvan menarik tangannya dan menjatuhkan tubuh Alona diatas tempat tidurnya. Kemudian ia menimpah tubuh Alona.
"E-elvan" Senyum Alona langsung merangkul leher Elvan.
__ADS_1