
Sekarang hari sudah mulai sore, Elma dan Filia pun telah kembali pulang. Sedangkan semua anggota keluarga sedang berada di luar, sebenarnya Alvis dan Elviana mengajak putri dan menantunya itu, tetapi Elvan menolaknya dan memilih untuk berdiam diri di dalam rumah, begitu juga dengan Tania yang ikut menolak ya.
Didalam kamar Tania dan Elvan sedang menonton animasi kesukaan Tania, dan tampa Tania sadari ia sedari tadi tertawa-tawa sendiri sampai membuat Elvan melihatnya dengan heran.
Kemudian Elvan melihat sekitar kamar Tania yang bernuansa ala-ala korea dan juga seisi kamarnya yang di penuhi oleh gambar idol kpop EXO.
Elvan menggeleng melihat Tania yang sudah menjadi istrinya itu, bahkan sampai bantal-bantal Tania pun dipenuhi dengan wajah member EXO semua.
"Hhhmmm.. Ada apa Elvan? kenapa kamu menghela nafas seperti itu?" Tanya Tania melihat wajahnya.
"Tidak" Jawabnya bangkit berdiri menuju balkon yang ada di dalam kamar Tania.
"Elvan kenapa yah?" Gumam Tania melihat punggung atletis ya Elvan. Setelah itu ia menyusulnya, "Kamu mau kopi? kalau kamu mau aku akan membuatnya".
"Tidak usah".
"Mmmmmm" Angguk Tania melihat Elvan kembali. "Elvan".
"Ada apa?".
"Apa kamu tidak bosan dirumah?".
"Tidak".
"Kamu yakin tidak bosan dirumah".
"Mmmmm".
"Padahal aku sangat bosan" Gumam Tania yang masih bisa di dengar oleh Elvan.
"Kenapa kamu tidak ikut kalau kamu merasa bosan di rumah?".
"Abisnya kamu tidak mau ikut".
Kemudian Elvan tersenyum tipis melihat wajah sedih Tania, "Kamu mau kemana?".
"Hhhmmm?" Kaget Tania melihat Elvan.
"Ayo, aku juga sedikit merasa bosan" Jalanya meninggalkan Tania yang masih berdiri disana. "Apa kamu masih berdiri disitu?".
"Heheheh" Dengan tawa kecil Tania segera menghampiri Elvan yang menunggunya di depan pintu kamar. "Ayok".
Hingga kini Elvan dan Tania telah berada di sebuah taman tempat dimana para pasangan-pasangan pada umumnya berada disana, "Ada apa dengan wajah mu? apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Tanya Elvan melihat wajah kesal Tania.
Sambil mendudukan diri disana Tania mengangguk, "Kamu pasti akan mengatakan kalau tempat ini adalah kenangan kamu dan Fayola" Jawab Tania.
"Siapa yang bilang?".
"Tau aahhh".
"Kamu ada-ada saja, jangan terlalu sering memberi kesimpulan kalau ujung-ujungnya salah. Aku sering kemari bersama dengan Jerry dan Rizal dan waktu kecil aku sering kemari dengan kak Chiko".
"Benarkah? apa kamu tidak membohongi ku?".
__ADS_1
"Terserah kamu saja, tunggu sebentar aku akan membelikan mu eskrim".
"Ck" Kesal Tania. Sambil menunggu Tania meluruskan kakinya sambil menghirup udara segar disana. Hingga Gavin sedang melihatnya dari kejauhan.
"Beby" Bisiknya merangkul pundak Tania.
"Astaga" Kaget Tania menghempaskan tangan Gavin. Lalu ia melihat kearah Gavin yang sedang tersenyum kearahnya, "Kamu? kenapa kamu bisa berada disini?".
"Duduklah, kamu enggak capek berdiri disitu? aku hanya ingin mengobrol dengan mu saja".
"Tidak, sebelum kamu pergi dari situ aku tidak akan duduk".
"Yah.. Kamu pikir cuma kamu saja yang bisa menduduki kursi itu?".
"Ck, kalau gitu aku yang akan pergi" Jawab Tania meninggalkannya sambil melihat-lihat keberadaan Elvan saat ini. "Itu dia".
"Nia tunggu" Tahan Gavin menarik tangan Tania sampai membuat yang punya tubuh hampir terjatuh jika tangan kekar Gavin tidak menahan tubuhnya. "Cantik" Batin Gavin melihat wajah mulus Tania.
"Apa yang sedang kalian lakukan?".
Deng..
Suara itu membuat Tania langsung melepaskan tangan Gavin, "Elvan".
"Kamu" Lihatnya kearah Gavin. "Sedang apa kamu disini?".
Gavin tersenyum mengejek Elvan, "Kamu pikir cuman kamu saja yang bisa datang kemari? hhhmmmsss" Dengus Gavin. "Lalu bagaimana dengan kalian berdua, apa kalian berdua sedang berkencan?".
"Mmmmm.. Tidak beby, aku harap kalian tidak sedang berkencan, ingat aku akan selalu mengawasi mu dari kejauhan. Aku pergi dulu, tolong antar dia pulang dengan selamat" Perginya meninggalkan Elvan dan Tania.
"Haahhh.. Hahahha.. Dia pikir dia siapa?" Kesal Tania mengumpat Gavin. Kemudian Elvan memberikan eskrim Tania yang sudah mulai mencair, "Terima kasih Elvan".
"Mmmmm" Gumam Elvan mencari tempat duduk di sekita mereka.
Sambil menikmati eskrim masing-masing, Elvan sama sekali tidak mengajaknya mengobrol, entah dia marah atau entah apalah Tania merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya dan juga Gavin.
"Elvan" Panggil Tania.
"Mmmmm".
"Apa kamu sedang marah?".
"Kenapa aku harus marah?".
"Maaf soal yang tadi. Gavin tiba-tiba saja menarik tangan ku sampai membuat tubuh ku hampir terjatuh dan untung saja Gavin langsung menangkapnya" Ucap Tania dengan pelan.
"Terus?".
"Hhhmmm?".
"Terus apa alasan kamu memberitahu ku itu?".
Seketika Tania tersadar dengan perasaan Elvan yang tidak ada untuk ya. Dengan nafas panjang Tania memalingkan wajahnya, "Bodoh, kamu terlalu baperan Tania, jelas-jelas Elvan tidak memiliki perasaan untuk mu, mana mungkin dia cemburu atau pun marah selain hanya untuk melindungi mu" Ucap Tania dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak melihat ku?".
"Aahh tidak" Geleng ya tersenyum.
"Cepat habiskan itu, hari sudah mulai gelap".
"Mmmmm".
Begitu Tania menghabiskan eskrim ya, "Ayok" Bangkitnya berjalan duluan dan di susul oleh oleh Elvan dari belakang.
"Nia tunggu" Tahan Elvan.
"Ada apa?" Lihatnya.
"Kemarilah" Ajak Elvan membawa Tania ke suatu tempat dimana saat ia kecil, Elvan sering datang bersama dengan sang kakak. "Apa kamu masih bisa berjalan?".
"Tidak, aku sangat lelah sekali Elvan" Jawab Tania dengan nafas tersenggal-senggal.
"Kamu harus kebiasaan".
"Ck, cuman bilang doang, di gendong kek, enggak tau apa kedua kaki ku sudah mau patah. Sebenarnya kita mau kemana Elvan? kita sudah pergi terlalu jauh".
"Sedikit lagi kita akan tiba, bertahanlah sebentar lagi".
"Aku sudah lelah Elvan, tidak bisakah kita berhenti sebentar saja".
"Kita sudah tiba, duduklah".
"Hhhmmm? terus?" Bingung Tania melihat tempat tersebut.
"Belum menunjukkan pukul 7 malam, apa mereka sudah berkumpul disini?" Gumam Elvan melihat sekitarnya.
"Ada apa sih Elvan? jangan membuat ku takut, disini tidak ada orang".
"Maka dari itu aku mengajak mu kemari".
"Apa?" Kaget Tania membulatkan kedua matanya dan pikiran ya langsung traveling, "Jangan bilang Elvan akan meninggalkan ku disini? aarrkkhh.. Apa dia marah kepada ku? ck, kok aku bodoh sekali sih pake ngambek segala tadi, bagaimana ini? aku sangat takut sekali" Batin Tania.
Sedangkan Elvan yang melihat wajah ke khawatiran Tania mengerutkan keningnya, "Apa yang sedang kamu pikirkan? kenapa wajah mu seperi itu dan.." Gantung Elvan melihat keringat yang bercucuran dari kening Tania dan juga kedua matanya yang berkaca-kaca.
"E-elvan aku takut hiks.. hiks.. Kalau aku salah aku minta maaf, tapi-tapi..
"Tapi apa Nia? lagian kamu kenapa menangis?".
"Aarrkkhhh" Semakin tangis Tania dihadapan Elvan.
"Sshhuueettt.. Kamu jangan menangis Nia, nanti mereka jadi kabur cuma mendengar suara mu".
Mendengar perkataan Elvan Tania semakin menguatkan suaranya dan itu membuat Elvan semakin kebingungannya. "Tolong suara mu dikecilkan Nia".
"Aarrkkhh.. Hiks.. Hiks..".
Elvan pun langsung menarik tubuh Tania kedalam pelukannya sambil melihat sekitarnya. "Diamlah, aku mohon".
__ADS_1