SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 66


__ADS_3

"Aku belum bisa memastikan, tapi aku yakin kalau group TQ pasti telah korupsi".


"Jadi apa yang akan kami lakukan Elvan?".


"Aku mohon tolong bantu aku. Aku mau kalian berdua jadi mata ku. Jerry bekerja jadi kuli bangunan dan Rizal menjadi magang akuntansi di pusat. Kalian tidak akan keberatan kan? Jerry?".


"Baiklah" Angguk Jerry setuju. "Bagaimana dengan mu Zal?".


"Aku juga setuju" Jawabnya.


"Terima kasih, ayo kita menikmatinya".


.


Pagi harinya, Elvan, Rizal dan Jerry tengah bersiap-siap menuju tempat mereka bekerja. "Kalian sudah siap?" Tanya Elvan.


"Mmmm" Angguk mereka.


"Ayo" Elvan dan Rizal menuju kantor pusat sedangkan Jerry menuju proyek.


Begitu Rizal diterima, ia langsung memberitahu Elvan.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Elvan.


Ceklek!.


"Kamu di terima Zal?".


"Mmmm, hal yang gampang Elvan bagi seorang Rizal" Senyum Rizal menghampiri meja kerja Elvan. "Ini apa?" Tanyanya melihat beberapa lembar kertas yang Elvan tempeli.


"Ini berkas yang belum aku ketahui. Tapi melihat dari setiap angka ini, aku curiga ini ada sangkut pautnya dengan dana yang selama ini hilang. Maka dari itu aku menempatkan mu di bagian akutansi. Kamu lihat ini" Tunjuk Elvan ke layar monitornya.


Rizal mengerutkan keningnya. Lalu Elvan menjelaskan kepada Rizal bahwa dana yang ada di layar monitor adalah dana yang selama ini mereka keluarkan. Sedangkan data yang ada di kertas itu adalah data yang belum ia ketahui karna tidak ada penjelasan disana karena hanya bentuk angka saja.


"Kamu mendapatkan ini dari mana Elvan?".


"Dari ruangan direktur keuangan di perusahaan ini".


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan ini?".


"Saat ini aku sedang berusaha mendekatinya dan mencari informasi melalui dia. Tapi aku merasa dia mulai curiga dengan ku".


"Biar aku saja Elvan, kamu memiliki gambar orangnya?".


"Ini, dia seorang wanita" Tunjuk Elvan.


Rizal langsung tersenyum, "Cantik, sepertinya akan sangat menyenangkan kalau aku bermain-main sedikit dengan ya".


"Terserah kamu saja".


"Baiklah, serahkan dia pada ku".


"Mmmm.. Thank you Zal".


"Aku keluar dulu" Perginya meninggalkan Elvan. Lalu Elvan menyambar jasnya dan segera pergi menuju proyek yang sedikit jauh dari sana. Kemudian Elvan mencari keberadaan Jerry, namun yang ia cari malah sedang bersih-bersih didalam kantor.


"Hhhrrrmm" Batuk Elvan mengkodei Jerry. "Kamu petugas kebersihan disini?".


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu tuan?".


"Kamu sudah membersihkan ruangan saya?".


"Belum tuan. Tolong maafkan saya, saya akan membersihkannya" Jawab Jerry memasuki ruangan Elvan. Sedangkan yang lainnya melihat Jerry memasuki ruangan Elvan sama sekali tidak merasa curiga.


"Jerry, bagaimana bisa kamu jadi petugas kebersihan?".

__ADS_1


"Aku sengaja menjadi petugas kebersihan, itu artinya aku dengan bebas bisa memasuki ruangan mereka Elvan".


Elvan langsung tersenyum senang, "Bagus, aku enggak nyangka kalau kamu sepintar ini".


"Tentu saja, tapi Elvan".


"Kenapa?".


"Aku belum bisa percaya sampai sekarang kalau kamu sudah menikah dengan Tania".


"Kenapa?" Tanya Elvan kembali mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya aku sedikit tertarik kepada Tania..


"Haahhh" Potong Elvan tertawa.


"Tidak ada yang lucu Elva aku mengatakan yang sebenarnya. Jadi jika kamu tidak mencintainya, kamu bisa memberikan Tania kepada ku, kalau soal bayi itu biar aku yang akan merawatnya dan aku siap menjadi ayah dari bayi m..." Gantung Jerry begitu ia melihat mata tajam Elvan. "Hahahah.. Aku hanya bercanda Elvan. Ayolah, tidak usah terlalu serius menanggapinya".


"Hhhmmsss" Dengus Elvan. "Kamu boleh keluar".


"Baiklah, kalau ada sesuatu aku akan memberitahu mu".


"Mmmmm".


Sekeluarnya Jerry dari ruangannya, ia langsung mendudukan diri diatas kursinya. Kemudian Elvan mengeluarkan ponselnya, lalu ia menghubungi nomor Tania.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Kenapa dia tidak mengangkatnya?".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Angkat Nia, jangan membuat ku khawatir".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Kamu sudah tidur?".


"Mmmmmm".


"Kamu marah Nia?".


"Tidak".


"Kalau kamu marah tolong maafkan aku Nia, kemarin itu tiba-tiba saja ada meeting mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan".


"Mmmmm".


"Kamu memaafkan aku?".


"Mmmmm"


"Siang tadi kamu dari mana?".


"Liburan".


"Bersama dengan Elma dan Filia?".


"Mmmmm, aku ngantuk Elvan".


"Ya sudah istirahatlah" Elvan pun mematikan ponselnya.


Sedangkan Tania yang sedang berada di dalam kamarnya terlihat sangat marah bahkan Tania melemparkan ponselnya. "Kamu nyebelin, kamu sangat nyebelin Elvan hiks.. hiks..".


Setelah menunjukkan pukul 12 siang. Rizal kini mengintai Alona yang belum keluar dari ruangannya. "Hey, kamu anak magang" Panggil sang manager.


"Iya pak" Angguk Rizal.

__ADS_1


"Ini, tolong antar berkas ini keruangan buk Alona".


"Baik pak" Dengan senang hati Rizal membawanya keruangan Alona.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Alona.


Ceklek!


"Permisi buk, saya membawakan berkas untuk ibu".


"Mmmm.. Taruh saja disini" Angguk Alona tampa melihat kearah Rizal yang masih berdiri dihadapannya. "Kenapa kamu masih disitu?" Tanya melihat Rizal.


Rizal menunjukkan senyum manis yang selama ini dia lakukan setiap kali ia menggoda wanita, namun kali ini jurus yang ia gunakan tidak mampu menaklukan hati seorang Alona. "Apa kamu masih ingin berdiri disitu?".


"Akkhh iya buk saya akan pergi. Tapi..


"Tapi apa?".


"Ini sudah jam 12 siang lewat. Ibu tidak makan siang?".


"Apa urusannya dengan mu? sana keluar" Kesalnya melihat Rizal.


"Sial" Umpat Rizal dalam hati. "Baru kali ini aku ditolak wanita yang tidak kalah jauh dengan wanita-wanita ku selama ini" Perginya meninggalkan ruangan Alona.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Iya" Jawabnya.


"Kamu dimana Zal? datanglah ke restoran xx aku dan Jerry berada disini".


"Ok, aku akan kesana" Jawab Rizal menyusul mereka ke restoran yang baru saja Elvan beritahu. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia telah tiba disana.


"Disini Zal" Ujar Jerry melambaikan tangannya.


Rizal menghampiri mereka dan mendudukan diri diatas kursi kosong disamping Elvan dan Jerry. "Ada apa dengan wajah mu Zal? kamu terlihat sedang kesal?" Tanya Elvan.


"Hhmmsss" Dengusnya. "Aku membenci wanita itu".


"Wanita siapa Zal?" Tanya Jerry penasaran.


"Wanita ini" Jawab Rizal menunjuk gambar Alona.


"Jangan bilang kamu menggodanya Rizal? Aaiiss.. Kita kemari menjalankan misi Zal, bukan untuk bersenang-senang. Kamu tahu itu?".


"Tau, aku tau Jerry. Kamu pikir aku enggak lagi menjalankan misi?".


"Lalu kenapa kamu kecewa kepada wanita cantik itu".


"Kamu tanya sendiri kepada Elvan".


Jerry melihat kearah Elvan, "Dia adalah alat kita untuk mencari tahu siapa sebenarnya dibalik ini, karna aku merasa dia mulai merasa curiga dengan ku, maka aku menyuruh Rizal yang mendekatinya".


"Benarkah? lalu apa jabatan dia disana?".


"Direktur keuangan 2".


"Wah.. Jadi dia direktur keuangan" Angguk Jerry. "Terus direktur 1 siapa?".


"James, ini orang ya" Jawab Elvan menunjuk gambar James. "Dia sudah ditangan".


"Maksud kamu Elvan?".


"Mmmm.. Kemarin Alona memberitahu salah satu diantara mereka ketika dia tidak sadarkan diri".


"Bisakah kamu tebak siapa biang besarnya disini Elvan?".

__ADS_1


Elvan tersenyum, "Tapi aku belum menemukan bukti yang kuat untuk menentukan orang ya. Mari kita lebih semangat lagi untuk mencari tahu mereka".


__ADS_2