SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 103


__ADS_3

Di dalam kamar Tania tak henti-hentinya menangis hingga suara isak tangisnya membangunkan Ansel. "Mama?" Gumam Ansel melihat sekitar. Kemudian ia menuruni tempat tidur sambil berjalan mengikuti suara tangis tersebut, "Mama" Kaget Ansel begitu ia melihat Tania yang sedang menangis di balik pintu kamar.


"Ansel" Semakin tangis Tania menariknya kedalam pelukannya.


"Mama ada apa? kenapa mama menangis?".


.


Pagi harinya begitu matahari terbit, Ansel dan Rachel tengah bersiap-siap berangkat sekolah, sedangkan Tania masih saja bermalas-malas di atas tempat tidur.


Tok.. Tok..


Ceklek!


"Nia" Panggil Jasmin mendekatinya.


"Anak-anak sudah berangkat kak?".


"Sudah, kamu enggak ke kantor?".


"Tidak kak, hari ini Tania ingin dirumah saja".


"Ya sudah, kalau kamu lapar turunlah kakak tadi sudah membuat sarapan pagi untuk mu".


"Iya kak terima kasih".


"Mmmmm" Angguk Jasmin meninggalkannya di dalam kamar. Lalu Tania menuruni tempat tidurnya menuju arah balkon kamar. Dengan nafas panjang ia melihat bunga-bunga yang bermekaran ditaman belakang rumahnya.


"Aahh.. Apa yang harus aku lakukan? padahal kemarin aku sudah berjanji kepada Ansel untuk mempertemukan dia dengan Elvan" Gumam Tania.


DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT..


"Iya Elma" Jawab Tania.


"Kamu sedang dimana Nia? kamu sudah tau situs yang beredar saat ini?".


"Mmmmmm".


Elma menghela nafas, "Kamu baik-baik saja?".


"Mmmmmm".


"Kamu butuh penghiburan Nia? kami akan datang kesana".


"Tidak usah Elma, saat ini aku ingin sendiri".


"Ya sudah, kalau kamu butuh sesuatu cepat beritahu aku. 24 jam kami akan selalu ada untuk mu".

__ADS_1


"Iya Elma" Senyum Tania mematikan ponselnya. Setelah itu ia kembali menghirup udara segar disana. Tidak lama kemudian Tania merasa sedikit lapar, ia segera keluar dari dalam kamar, namun saat ia menuruni anak tangga, Tania malah dibuat terkejut melihat Elvan yang kini berada di dalam rumahnya. "A-apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanyanya dengan wajah datar.


Elvan tersenyum manis, "Menemui mu Nia. Kamu baik-baik saja?".


"Menurut mu?" Jawabnya dengan ketus. Elvan kembali menunjukkan senyum manisnya, lalu ia menghampiri Tania yang masih berada di pertengahan anak tangga, "Berhenti disana, jangan mendekat" Ucapnya.


"Kenapa? kalau gitu turunlah".


"Sekarang minggir".


"Mmmmmm" Angguk Elvan segera turun dan membiarkan Tania turun dari atas tangga, tetapi bukannya berhenti, Tania malah pergi begitu saja meninggalkannya menuju kearah dapur.


Tidak sampai disitu saja, Elvan pun langsung mengikuti Tania kearah dapur dimana Jasmin dan pelayan lainnya sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Tania, "Wah, pas benget aku belum makan dari rumah" Senyum Elvan mendudukan diri dihadapan Tania.


Jasmin tersenyum terkejut melihat Elvan yang berada disana, namun melihat wajah datar Tania membuat Jasmin tidak memberikan sarapan untuk Elvan.


"Kenapa?" Tanya Elvan melihatnya.


"Tidak tuan" Jawab Jasmin.


"Kamu tidak ingin memberiku sarapan?".


"Maaf tuan" Jawabnya segera memberi sarapannya juga di hadapan Elvan. "Maaf tuan".


"Tidak apa-apa" Angguk Elvan segera melahap sarapannya begitu juga dengan Tania. Kemudian Elvan memperhatikan wajah Tania yang masih terlihat sangat datar tampa memperdulikan kehadirannya yang berada disana. "Nia" Panggilnya.


"Kak Jas aku sudah kenyang, terima kasih sarapannya" Ucapnya pergi dari sana.


Elvan tersenyum, lalu ia melihat kearah jasmin, "Aku akan menghabiskan sarapan ini, kalian tidak usah menungguku sampai selesai".


"Baiklah" Angguk Jasmin dan yang lainnya pergi meninggalkan dia. Setelah Elvan selesai menikmati sarapannya, ia kembali menyusul Tania yang kini sedang berada di dalam kamar.


Tok.. Tok..


"Nia, bisa kita bicara sebentar? aku mohon tolong buka pintunya".


Tok.. Tok..


"Tania, sebentar saja. Izinkan aku masuk kedalam".


Hampir 25 menit lamanya Elvan berada di depan pintu kamar Tania, ia masih saja belum membuka pintu kamar tersebut hingga Elvan merasa sedikit jenuh. "Tania, aku mohon buka pintunya dulu. Mari kita bicara sebentar saj..


BBBRRAAKKK..


"Astaga" Kaget Elvan saat Tania tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan kuat.


"Bicaralah, aku akan memberi mu waktu 5 menit dari sekarang".

__ADS_1


"Tidak bisakah kita bicara di dalam?".


"Ku hitung mulai dari sekarang, begitu waktu mu habi..


"Kamu terlalu berisik Nia" Potong Elvan menerobos masuk kedalam kamarnya sambil menarik pergelangan tangan Tania lalu ia menjatuhkan tubuh Tania diatas tempat tidur.


"Aahhhh" Ringis Tania, lalu Elvan tersenyum senang melihat wajah merah tomat Tania. "A-apa yang sedang kamu lakukan Elvan?" Tanyanya dengan suara gelagapan. "Ka-kamu tidak tau ini sedang diman..


Cup..


"Dimana Nia" Senyum Elvan kembali begitu ia berhasil mencium bibir mungil Tania. "Aku merindukan kamu Nia, tapi aku tidak tau kalau kamu juga merindukan aku".


"Yah.. Lepasin aku enggak?".


"Apa yang harus aku lepaskan Nia?".


"Minggir enggak?".


"Kalau aku enggak mau minggi..


"Yah..!" Bentak Tania langsung dengan kuat sampai membuat kedua pendengaran Elvan kesakitan.


"Aahhh.. Kuping ku kuping ku" Rengek Elvan segera melepaskan pergelangan tangan Tania, "Nia, apa yang sedang kamu lekukan? lihatlah aku sampai tidak bisa mendengar".


"Salah siapa? minggir sana" Dorongnya hingga tubuh Elvan terjatuh di sampingnya. "Ngapain kamu datang kemari? sampai sekarang aku tidak berniat melihat wajah mu".


Elvan tersenyum, lalu ia menarik tubuh Tania lagi terjatuh di atas tubuhnya, "Aku tau kamu tidak akan pernah memaafkan aku Nia, bahkan aku sendiri tidak bisa memaafkan diriku yang telah pergi meninggalkan mu tampa memberitahu mu" Kemudian Elvan menatap kedua manik mata Tania. "Tapi asal kamu tau, tidak sedikit pun kamu terhapus dari pikiran ku dan dari hati ku sampai sekarang ini".


"Bohong" Balas Tania memalingkan wajahnya.


"Aku tidak pernah berbohong Tania, kenapa kamu malah berkata aku berbohong?".


"Kalau kamu benar-benar mencintai ku, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku. Bahkan kamu dengan teganya pergi meninggalkan aku disaat aku lagi berbadan dua" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Elvan mengusap air matanya, "Maafkan aku Nia. Tapi tidak sedikitpun aku pergi meninggalkan kamu, bahkan disaat kamu melahirkan Ansel aku tetap berada disisi mu meskipun hanya dari kejauhan, dan disaat kamu tidak sadarkan diri, aku datang mendekati mu untuk menggenggam tangan mu ini".


"Apa?".


"Mmmmm" Angguknya tersenyum.


"Ja-jadi kamu ada disana?".


"Mmmmmm.. Aku berada disana Nia, bahkan aku melihat mu menangis sambil menyebut nama ku".


"Lalu kenapa kamu saat itu tidak datang dan malah melihat ku dari kejauhan?".


"Aku tidak punya keberanian Nia, aku melakukan itu semua demi kamu dan Ansel dan juga perusahaan peninggalan papa Alvis. Seandainya aku tidak menuruti perkataan papa saat itu, semua yang kamu miliki sekarang in.

__ADS_1


"Aku tidak akan perduli jika aku kehilangan segalanya asalkan kamu tidak pergi meninggalkan aku Elvan. Kenapa kamu malah mengorbankan diri mu sendiri hiks.. hiks.. Bukankah kita sudah mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan bahwa tidak ada orang yang bisa memisahkan kita berdua kecuali maut, jadi hidup susah senang kita berdua harus menjalaninya bersama".


"Aku tau Nia, tapi aku tidak mau kamu merasakan hal itu dan juga anak ku" Jawabnya melap air mata Tania. "Sekarang, bisakah kita memulai dari awal lagi?".


__ADS_2