
Begitu Elvan mengatakannya, Tania langsung terdiam tampa berniat memberikan Elvan jawaban meskipun dalam hatinya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, "Kenapa kamu tidak menjawab ku Nia?".
Tania menghela nafas menatap lurus, "Maaf Elvan..
Elvan tersenyum menarik wajah Tania, "Aku sudah bisa tebak jawaban apa yang akan kamu berikan untuk ku, tidak apa-apa Nia, aku akan bersabar menunggu jawaban mu sampai kamu benar-benar bisa menerima ku kembali Nia".
Kemudian Tania bangkit berdiri dari atas tempat tidur menuju balkon, dengan wajah yang sedih Tania melihat kearah taman belakang sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "Ma pa, apa yang harus Tania lakukan? tolong berikan Tania petunjuk" Ucap Tania dalam hati tampa ia sadari Elvan yang sedang berada di belakangnya.
"Tania" Panggilnya.
"Kamu masih disini? kenapa kamu belum pulang Elvan?".
"Lihatlah kemari".
"Aku ingin sendiri Elvan, tolong tinggalkan aku".
"Aku akan pergi begitu kamu melihat ke arah Nia".
Dengan malas Tania melihat kearah Elvan yang berada di belakangnya, "Ap.." Gantung Tania saat Elvan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. "I-ini apa Elvan? kenapa kamu memberikan benda seperti ini di tangan ku?".
"Gelang kain ini cantik tidak? kamu tau ini pemberian siapa?".
"Tidak tau, aku tidak suka gelang ini, sebaiknya kamu melepaskannya".
"Ck, jangan, gelang ini pemberian dari Dinda waktu itu. Jadi kamu harus memakainya dan maaf karna aku memberinya sedikit terlambat".
"Apa? Dinda?".
"Mmmmmm".
"Ini benaran dari Dinda waktu kita..
"Iya Nia, jadi kamu harus memakainya. Aku saja menyukai gelang ini, cantik lagi".
Tania tersenyum senang, "Dinda, aku jadi merindukan gadis mungil itu. Dia pasti sudah tumbuh besar saat ini, iya kan?".
"Mmmmm.. Kamu mau kesana?".
"Mau mau Elva.." Gantung Tania langsung menghentikan tawanya. "Ck, aku tidak ingin kesana. Kalau kamu mau pergi, pergi saja sana sendiri".
__ADS_1
"Ahahahahha" Tawa Elvan dengan gemas melihat perubahan wajah Tania yang tiba-tiba menjadi datar. Lalu Elvan menarik Tania kedalam pelukannya, "Kini giliran ku yang akan mengejar Tania Firan".
Mendengar perkataan Elvan membuat Tania diam-diam tersenyum senang di dalam pelukannya, "OMG, kenapa pipi ku jadi panas seperti ini sih cuman hanya mendengar Elvan berkata seperti itu" Batin Tania.
Setelah Elvan melepaskan pelukannya, dengan cepat Tania memalingkan wajah merah tomatnya, namun Elvan yang sudah mengetahuinya, dengan cepat menari wajah Tania supaya ia dapat melihatnya, "Akhirnya aku melihat ekspresi ini lagi uummcchhh" Gemasnya mencium bibir mungil Tania.
"E-elvan lepaskan aku, nanti ada yang melihatnya..
"Dari tadi mereka sudah melihatnya Nia".
"Apa?" Kaget Tania dengan mata membulat.
"Mmmmm.. Lihat kearah sana" Tunjuk Elvan kearah 3 pelayan di rumah Tania yang sedang melihat mereka dari kejauhan. "Yah, mereka sudah pergi Nia" Sedangkan Tania yang kesal melihat Elvan, ia dengan cepat langsung memukul lengan kanan Elvan cukup kuat, "Aahh.. Aahhh.. Sakit Nia".
"Rasain" Balasnya memukul lengan Elvan sampai berulang-ulang kali. Hingga mereka berdua mendengar suara anak kecil memasuki kamar, "Elvan, anak-anak sudah pulang" Ucap Tania menghentikan tangannya. "Bagaimana ini? kamu harus sembunyi Elvan. Cepat".
"Tunggu Nia, kenapa aku harus sembunyi?".
"Yah..!" Bentaknya memukul lengan Elvan kembali. "Kamu mau anak-anak berpikir macam-macam begitu mereka melihat mu?".
"Aku rasa tidak apa-apa kalau anak-anak melihat ku Nia. Bukankah kamu sudah pernah berjanji akan mempertemukan aku dengan Ansel?".
"Sudah, kamu tenang saja Nia. Rachel tidak akan terkejut" Senyumnya. Tidak lama kemudian, Ansel dan Rachel sudah memasuki kamar. Elvan yang melihatnya, ia pun segera menghampiri kedua bocah mungil itu, "Wah.. Anak-anak papa sudah kembali pulang".
"Hhhhmmm? daddy?" Kaget Rachel melihat Elvan yang berada disana. "Daddy kapan datang? kenapa daddy tidak memberitahu Rachel".
"Hahahhaha.. Rachel merindukan daddy enggak?".
"Mmmmm.. Rachel sangat merindukan daddy".
"Kalau gitu Rachel peluk daddy dong".
"Heheheheh" Peluknya dengan manja.
Lalu Elvan melihat kearah Ansel yang sedari tadi memperhatikan mereka, "Anak papa juga tidak mau di peluk?".
Ansel tersenyum sambil menggeleng. Kemudian ia melihat kearah Tania yang baru datang dari arah balkon, "Mama".
"Iya sayang, bagaimana proses belajar Ansel di sekolah?" Tanyanya membawa Ansel kedalam pelukan Tania.
__ADS_1
"Seperti biasa ma. Oohh iya ma, Ansel pernah melihat om itu loh waktu kita dirumah sakit ma dan om itu juga yang pernah memberi Ansel buah apple yang kemarin" Ucap Ansel sambil melihat kearah Elvan yang sedang tersenyum manis kepadanya. "Tapi kenapa om itu mirip sama Ansel ya ma?".
Kemudian Elvan menggenggam tangan mungil Ansel dengan sayang, "Karna Ansel anak papa" Jawab Elvan.
Ansel mengerutkan keningnya melihat wajah Elvan dengan lekat-lekat, lalu ia melihat kearah Tania, "Ma".
"Iya sayang" Angguk Tania. "Dia adalah papanya Ansel yang sebenarnya. Jadi sekarang mama sudah menepati janji ma".
"Kalau om ini benar papanya Ansel yang sebenarnya, terus Rachel?".
Pertanyaan yang sedikit sulit di jawab, namun Elvan akan memberikan jawaban yang bisa di mengerti oleh Ansel dan juga Rachel. Tetapi saat Elvan ingin menjawabnya, Rachel langsung menjawab pertanyaan Ansel, "Daddy itu bukan daddy kandungnya Rachel Ansel".
"Rachel" Kaget Elvan dan Tania melihatnya.
Rachel tersenyum, "Rachel tau kok daddy kalau daddy dan mommy mengambil Rachel dari panti asuhan".
Dengan mata berkaca-kaca, Elvan membawa Rachel kedalam pelukannya, "Maafkan daddy ya sayang maafkan daddy yang sudah gagal menjadi daddy yang baik untuk Rachel".
"Tidak apa-apa daddy, malah sekarang Rachel senang akhirnya Rachel punya mommy yang baik hati dan juga daddy yang baik" Ucapnya melihat Tania yang tersenyum. "Terima kasih ya mommy sudah menerima Rachel sebagai anak kandung mommy sendiri".
"Iya sayang" Angguk Tania.
"Oohh iya daddy. Kenapa daddy tidak menikahi mommy saja?".
"Ansel tidak setuju" Jawabnya dengan ketus.
"Kenapa kak? bukannya daddy kakak yang sesungguhnya sudah berada disini?".
"Pokoknya Ansel tidak akan setuju kalau mama menikah lagi, apalagi sama orang yang pernah ninggalin Ansel dan mama. Kalau mama ingin menikah lagi, lebih baik mama menikah dengan papa Jerry atau om Varrel".
"Ansel" Bujuk Tania.
"Pokoknya Ansel tidak akan setuju ma, mau sampai kapan pun Ansel tidak akan setuju mama kembali lagi kepada dia" Bentaknya meninggalkan mereka di dalam kamar tersebut.
"Ansel tunggu sayang".
"Nia, biar aku saja".
"Mmmmm".
__ADS_1
Elvan segera menghampiri Ansel yang sedang berlari menuju taman belakang rumah. Dengan air mata bercucuran dari pelupuk mata Ansel Elvan mendekatinya lalu membawa Ansel duduk diatas kursi panjang disana. "Ansel mau dengar cerita papa enggak?".