Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
100. Jangan Pernah Pergi


__ADS_3

"Jovi"


Ernest sangat terkejut.


"Suster Jovi," Devi pun tidak menyangka.


Putra Tuan Toni tersebut terlihat hampir kehilangan keseimbangan. Kakinya yang sakit harus ikut menahan tubuh Jovi.


"Devi, tolong..!!," Ernest berbalik menangkap tubuh Jovi.


"Baik pak, awas kakinya," Devi mengingatkan.


"Dev, bantu saya mengajak suster Jovi ke ruangan lagi..!! kita bawa masuk."


"Ke mana Dokter Nalen?," imbuh Ernest matanya celingukan.


Jovi terlihat sangat lemas.


Di topang tangan kiri Ernest, kepala Jovi mendongak ke atas, sambil menggeleng kepala. Mata indah miliknya memejam tidak kuat.


"Saya ambil kursi roda dulu Pak," Devi berlari.


"Jovi, Jovi, ayo bangun..!! Ya Tuhan."


"Ke mana infus kamu? tangan kamu berdarah," tutur Ernest panik.


Perlahan, tangan Ernest membantu Jovi berdiri. Tubuh yang sangat lemas, membuat Ernest nampak kesulitan. Jovi memeluk sangat hebat.


Dengan pakaian lengkap sebagai pasien RS. Intan Medika, Jovi melepas selang infus. Kakinya bahkan tidak mengenakan alas kaki.


Jovi kabur dari ruangan.


Pada bekas infus terlihat tangannya terus mengeluarkan darah bercucuran. Sepertinya selang infus Jovi terlepas karena di sengaja.


"Jovi, ke mana infus kamu? Devi, Devi, coba panggil perawat, ayoo Devi..!!!"


Sementara Devi masih mengambil kursi roda.


Muka Ernest sedih bercampur cemas.


"Tidak, ja-ngann," Jovi bergumam.


"Tapi kamu masih sakit Jovi."


"Kita pulang," Jovi menangis.


"Nanti, iya nanti..!! kita pasti pulang," bibir Ernest menurun sambil gemetar.


"Pulang.."


Jovi selalu meminta pulang.


Gemulai tangan Jovi memeluk Ernest erat. Kepalanya menampar dada bidang Ernest dengan sangat keras, tidak mau kehilangan.


Rambut panjang Jovi menutup wajah. Pakaian yang dikenakan Ernest di remas tangan Jovi sekuat mungkin. Namun, Ernest membiarkan tangannya tak memeluk balik.


Tepat belum ada satu hari, di dadanya beberapa jam yang lalu, Jovi menunjuk dada Ernest dengan sangat sombong. Rupanya saat ini, dada tersebut menjadi tempat kembali.


"Pulang."


"Kamu belum sembuh sayang," Ernest memeluk, beberapa kali poni Jovi di sibakkan ke belakang.


"Pulang,"


"Pulang," ulang Jovi.


Bibir Jovi belum bisa mengucap banyak kata. Yang di minta terus-terusan pulang, pulang, dan pulang.


"Jangan pergi, pulang dengan tuan," bulir air terlihat keluar, ucapan tidak jelas.


"Iya, kita pulang.."


"Habis ini," Ernest membohongi.


Sumpah.


Hati Ernest sakit.


"Jovi, jangan seperti ini. Saya takut, saya tidak mau kamu kenapa-napa. Ayyo bangun sayang, Ya Tuhan bantu Tuhan, Jovi..!!!," Ernest memekik.


Bibir lembut CEO tampan itu semakin ingin di tampar sendiri. Ernest masih memanggil dengan sering panggilan sayang.


Hiks..


Hiks..


"Jovi, bangun Jov."


Sambil jalan, Ernest berusaha tetap mengajak komunikasi. Walaupun Jovi mulai tidak ada respon.


Meski sempat berada di antara cinta dan benci, laki-laki tampan tersebut tidak tega melihat keadaan Jovi yang berada di dekap tubuhnya.


Semakin lama, pertahanan kaki Jovi sudah tidak kuat lagi. Tubuh ramping suster cantik tersebut melorot turun hampir menyentuh lantai.


Ernest memeganginya.


"Jovi," teriak Ernest sangat takut.


Jovi sudah tidak memberi respon.


"Dokter, suster..!! Ya Tuhan, bisa-bisanya rumah sakit sebesar ini kosong, ke mana semuanya," tangan Ernest gemetar.


Ernest semakin cemas melihat Jovi.


"Suster, suster Jovi bangun sayang, suster," Ernest memegangi wajah kekasih.


"Dokter, Dokter Nalen, Dokter siapapun, tolong..!!"


Semakin lama tubuh Jovi menjadi sangat berat. Pertanda dari Jovi sendiri sudah tidak berdaya menopang tubuh.

__ADS_1


Darah dari bekas jarum infus di tangan kiri, mengucur kelantai membuat titik, titik, satu persatu, sesuai dengan Jovi bergerak.


"Jovi, kita ke kamar lagi."


Ernest semampunya berjalan.


Tidak sempat menyeka air mata, deraian beberapa air mata itu menuruni ikhlas setiap jengkal bagian wajah Ernest.


"Kita pulang, saya tidak mau."


FLASHBACK ON


"Suster, saya nggak bisa nafas ini," Ernest batuk-batuk.


"Nggak mau, saya mau keluar tuan, saya mau pulang," Jovi masih memeluk erat, wajahnya di benamkan pada dada Ernest.


"Iya tau suster, sebentar, sebentar, suster coba buka mata sedikit saja," pintanya.


"Pulang tuan, Jovi mau pulang," tangisnya menderu lagi.


"Ya Tuhan suster Jovi, iya iya, habis ini pulang, disini tidak ada apa-apa suster," Ernest kesal melihat Jovi tidak mau membuka mata.


"Nggak mau, ayoo pulang, keluar dulu tuan," rengeknya sangat tidak seperti Jovi yang Ernest kenal.


"Ya sudah, ya sudah, ikuti langkah kaki saya," pinta Ernest.


"Pulang tuan," Jovi masih saja terus seperti itu.


FLASHBACK OFF


Ernest menangis. Air mata itu deras mengingat dulu kenangan ia bersama Jovi saat terkunci di dalam ruang berkas.


Seperti halnya hari ini, Jovi juga hanya bisa mengucap kata-kata "pulang". Permintaan yang dulunya Jovi sangat manja pada Ernest ketika menjadi suster.


Dengan kaki terseok-seok.


Ernest merasakan, tangan kiri Jovi masih meremas baju laki-laki tampan tersebut dari belakang.


Satu langkah.


Dua langkah.


Ernest jalan menuju ruangan.


Tiba-tiba terlihat dari arah yang berlawanan, Devi mendorong kursi roda kosong. Satu perawat, satu suster dan Dokter Nalen juga.


Kedatangan mereka secara bersama-sama melihat dengan jelas usaha Ernest mengajak Jovi kembali ke kamar.


Seketika itu, kaki Devi terhenti.


"Pak Ernest," gumamnya lirih.


Perempuan staff di kantor Wijaya itu benar-benar terharu bercampur tidak tega melihat semua ketulusan yang di lakukan Ernest hari ini.


Bagaimana tidak, di penglihatan Devi, kaki yang masih sakit itu di paksa atasannya berjalan ke arah ruangan paviliun di mana Jovi opname.


Jovi sendiri, sudah menyerahkan semua tubuhnya ke Ernest tanpa kekuatan. Perempuan cantik tersebut belum. bisa bangun.


Satu perawat laki-laki dan suster yang di bawa Jovi ikut menyusul Dokter Nalen.


"Jovi."


Dokter Nalen membantu Ernest.


Tangannya mengambil tubuh Jovi dari pelukan yang dikaitkan Jovi ke arah tangan Ernest. Dokter Nalen mendudukkan Jovi di kursi.


Sebentar, Dokter Nalen melakukan tindakan pertolongan pada Jovi yang Ernest sendiri tidak tau itu apa.


Tetapi Benar.


Jovi berhasil sadar.


Tetapi mukanya seperti mayat.


"Dia kehilangan banyak HB," tutur Dokter Nalen.


"Suster bawa obat penambah darah ke ruangannya,"ucap Dokter Nalen memerintah.


" Baik Dokter."


Suster tersebut pergi.


"Jovi, kenapa kamu bisa pergi dari ruangan? mana infusnya? ada apa? kamu tidak sendiri di rumah sakit ini saya ada sama kamu." Dokter Nalen mengecek tubuh Jovi.


Jovi diam saja.


Jovi bisa melihat Ernest dengan air mata yang memenuh di bagian wajah. Kemudian, ia melihat Dokter Nalen, ada di sampingnya dengan khawatir.


"Kamu khawatir tadi saya tinggal? iya?," tanya Dokter Nalen memaksa.


"Saya mau pulang," Jovi agak marah.


Dokter Nalen melihat Ernest.


Pandangan mata mereka saling bertemu.


"Ya, ya, aku tau kamu ingin ada yang pulang kan?," ucap Dokter Nalen sok tau menyindir Ernest.


Jovi berusaha melihat Ernest lagi.


Putra Tuan Toni dan Jovi menatap satu sama lain, sampai akhirnya Ernest yang membuang pandangan ke arah lain. Bukan apa-apa, Ernest tidak tega.


Jari-jari Jovi berjalan.


Ternyata ia menggenggam tangan Ernest.


Dokter Nalen melihat seksama, semua perlakuan Jovi tanpa ucapan, tetapi seolah body language tidak mau terpisah dengan Ernest.


Terlihat, Ernest masih sangat berat menatap Jovi.

__ADS_1


Dokter Nalen bahagia dalam hati, sekarang ia meyakini bahwa memang berarti hubungan Ernest dan Jovi sedang tidak baik-baik saja.


Biar bagaimana pun, apa yang di ucapkan Jovi hari ini belum bisa di lupakan Ernest langsung seketika.


Selain itu, ia juga sudah malas melihat wajah Dokter Nalen. Dari kejadian hari ini, Ernest tidak berharap banyak dalam hubungan ia dan Jovi.


"Tuan," panggil Jovi lirih.


Ernest diam.


"Tuan."


"Yaa," kata Ernest mau menoleh sedikit, tetapi tanpa menatap bola mata Jovi.


"Ke-kejadian ta-tadi, sa-saya ti, " Jovi ingin menjelaskan.


"Jovi, Jovi, hey anak kecil yang sekarang sudah dewasa," intonasi seakan bahwa Dokter Nalen adalah kakak dan mengusap rambut Jovi.


"Kamu nggak boleh terlalu banyak bicara dulu, tubuh kamu masih lemas.. Jovi yang suka ngeyel, bayi besar, kamu harus perlu istirahat dulu," Dokter Nalen menggendong Jovi.


Dokter Nalen sangat memanfaatkan keadaan. Di luar keyakinannya bahwa Ernest dan Jovi sedang memiliki masalah.


Kakak Aqila tersebut menolak.


"Tuan, ap-apa tuan mau me,"


"Istirahat cukup dulu, jaga kesehatan ya," Ernest mengusap lembut pipi.


Ernest memandang. Gerakan bibir Jovi sangat susah karena kering, bibir itu masih pucat pasi. Dokter Nalen kepanasan.


"Maaf, saya harus membawa Jovi ke ruangan dulu ya Pak Ernest. Dan sekiranya jam besuk di RS. Intan Medika sudah berakhir 15 menit yang lalu, jadi anda di perkenankan pulang," terang yang mengusir.


"Baik," Ernest mengangguk.


Tangan Jovi membuang tangan Dokter Nalen. Merasa aneh, Dokter Nalen tidak mau menyerah, ia tetap menggendong Jovi.


Ernest tidak seperti biasa, hari ini ia tidak beradu argument dan menghabisi tenaga. Setelah perang badar dengan Jovi, perasaan masih tampak carut marut.


Devi melihat Dokter Nalen membopong Jovi pergi.


"Woyyy.. mata.. !! ini Dok, ada kursi roda," Devi gemas sekali.


"Hiiiiiiihhhhh, kesel gue lama-lama. Dokter kurang azab. siapa sih dia kesel gue?," ucap Devi.


Ernest tidak merespon. Kedua tangannya saling mengait di pangkuan. Wajahnya menunduk menapaki lantai-lantai rumah sakit. Sebelum akhirnya ia mengajak pulang.


"Ayooo kita pulang."


"Tapi Pak, bagaimana de-dengan itu, a.. pacar bapak?."


"Dia akan baik-baik saja dengan Dokter dari pada dengan pengusaha."


"Hah, maksudnya?," gumam Devi dalam hati.


"Baik Pak," kata Devi.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


JALAN RAYA.


Di perjalanan pulang, Devi berusaha meracuni Ernest dengan niat baiknya. Ernest membiarkan semua apa yang di katakan Devi.


"Pak, nanti bapak segera pindahkan saja pak, Suster Jovi ke RS Wijaya. Selain perawatannya optimal, di sana bapak juga biar tidak di perlakukan seperti buronan pak."


Ernest menggangguk.


"Eh maaf, kok buronan.. tawanan pak.," Devi menepuk bibir.


Ernest mengangguk lagi.


"Pak, saya kasihan melihat Suster Jovi, dia kelihatannya tidak mau di rawat di sana. Kenapa bapak tidak menolongnya sih? itu kan pacar bapak?." Devi tidak bisa menahan unek-unek.


Ernest langsung melihat Devi.


"Waaaa..., aa.. pak, maaf pak maaf, bukan maksud apa-apa pak. Tapi saya lo pak, Ya Allah Pak Ernest, saya ndak tega pak lihat bapak dan suster Jovi di pisahkan seperti ini. Rasanya sakit sekali." Devi gelagapan.


Ernest mengangguk lagi.


"Pak, Pak, anda ini laki-laki kok nggak mau berjuang untuk Suster Jovi?? mau nikah lagi? di sana Suster Jovi nggak bakal sembuh pak, di rawatnya sama Dokter gila. Eh gila? Dokter baik pak, Eh enggak. Tau lah pak kesel saya."


Ernest mengangguk.


Lama-lama Devi tercengir dan tidak enak sendiri.


"Haduhh Devi, gila-gila.. loe ini staff ngatur-ngatur boss. Tamat riwayat loe, besok tinggal nama, loe ada di bagian resepsionis," Devi mengetuki kepala.


"Pak Ernest, saya minta maaf ya pak."


Lagi-lagi Ernest mengangguk.


Devi kemudian melanjutkan perjalanan mengantar Ernest pulang ke rumah.


**************


RUMAH SAKIT INTAN MEDIKA.


Di dalam ruangan, Jovi langsung di tidurkan Dokter Nalen. Selang infus di pasang kembali. Tidak ada perlawanan karena Dokter Nalen menyuntikan obat bius.


Tidak sadarkan diri, Jovi terlihat menggerakkan bibirnya memanggil "tuan".


"Tuan,"


"Tuan,"


Sambil memasang infus, lama-lama Dokter Nalen emosi sendiri.


"Tuan, tuan, mati tuan loe." gerutunya.


"Jovi mencari Tuan Ernest ya?," ucap seorang perempuan dari belakang bersama anak kecil.

__ADS_1


Dokter Nalen terkejut.


__ADS_2