Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
61. Barbie Dari Tuan Muda


__ADS_3

Seusai Ernest dan Pak Odi mendiskusikan harga jual mobil versi mereka. Jovi menunggu Pak Odi memberikan penjelasan.


Lama berdiri di depan pelataran showroom, sedang untuk kondisi tubuh masih sempoyongan. Ernest memilih bersandar pada tembok showroom di samping Aqila.


Adik kecil Jovi tersebut terlihat tidak banyak tingkah. Tangan Aqila masih memegangi baju Jovi, kaki kiri dan kanan saling di mainkan Aqila bak seperti orang dewasa saat jenuh.


"Aaa.. Mbak Jovi, begini.."


"Ya Pak Odi, bagaimana?."


"Tadinya saya lupa, kalau bukan karena Pak Ernest yang mengingatkan saya waahhh... saya bakalan kehilangan kesempatan emas ini, saya baru ingat mobil seperti milik Mbak Jovi saat ini harga di pasarannya sangat tinggi."


"Maksudnya Pak? kenapa begitu? saya sudah senang dan berterima kasih, Pak Odi sudah memberi harga lebih untuk saya, 235.000.000 kan ya tadi?," Jovi menaruh beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.


"Ouh bukan, bukan, tidak seperti itu Mbak Jovi, beberapa pekan lalu saya di kabari teman bisnis saya di Jakarta, nahh.. di sana ada lomba modif mobil, bertipe Jazz RS seperti punya Mbak Jovi ini, hadiah yang di perebutkan wooohhhh... saya dengar 1M loh itu mbak, jadi saya kira wajar saja kalau tadi Pak Ernest menawar dengan harga segitu."


Wajah Pak Odi berbicara dengan meyakinkan. Profesi kerja makelar beliau, tidak terlalu susah hanya berakting seperti itu di depan Jovi.


Jovi belum yakin.


"Apa iya Pak? kalau memang iya, memang harga tinggi yang di maksudkan Pak Odi harga berapa ya Pak?."


"Tidak jauh seperti yang di tawarkan oleh Pak Ernest kok Mbak Jovi, harganya sekitar 260.000.000 sampai dengan 270.000.000, karena saya sudah mengecek kondisi mesin dan performa mobil Mbak Jovi memang masih bagus, saya berani ambil dengan harga 270.000.000."


"Waaaw.. sebegitu di buru'nya kah Pak Odi oleh para pembeli pak? sehingga harga tipe mobil seperti milik saya di hargai se fantastis itu, masalahnya dulu saya beli baru harganya baru 278.000.000."


"Kenapa angka yang Pak Odi tawarkan sama persis dengan Tuan Ernest menawar harga mobil saya? Bapak tidak sedang bekerja sama dengan Tuan Ernest kan?."


"Hahahaha.. tidak lah, untuk apa? saya tidak mengenal Bapak Ernest. Jadi Mbak Jovi kenapa saya berani memberi harga sama dengan Pak Ernest, sebab memang segmen pasarnya bagus."


"Apa Honda sudah tidak mengeluarkan lagi tipe mobil seperti ini? lalu event di Jakarta yang di maksudkan Pak Odi itu memang dari acara pihak Honda atau pihak lain? kalau memang dari pihak lain, apa memang itu sudah event resmi? atau tidak?."


Ernest melirik Jovi, perempuan cantik tersebut memang pintar. Jovi tidak begitu saja puas dengan harga jual mobil dan menanyakan lebih spesifik lagi hingga acara event.


Pak Odi pun juga merasa begitu, membodohi Jovi harus perlu sedikit kerja keras. Pak Odi sangka, berbohong dengan Jovi tidak akan di kejar pertanyaan lain. Nyatanya, presepsi Pak Odi salah.


"Suster Jovi, dia benar-benar susah di kelabuhi." Ernest membatin dalam hati.


Pak Odi menyilakan kedua tangan di depan dada. Jovi sesekali mengusap kening Aqila. Menenangkan perempuan kecil itu saat berada di showroom.


"Honda mengeluarkan tipe mobil bersamaan, dari Honda Jazz MT, Honda Jazz RS MT seperti punya Mbak Jovi, kemudian ada Jazz RS CVT, dan MT, saat itu angka jual mobil seperti punya anda ini yang paling mahal di banding Jazz tipe yang lain, seperti Jazz MT harga barunya 237.500.000 pada saat itu, dan Jazz CVT saat itu, 247.500.000, dan kemungkinan tipe mobil seperti punya Mbak Jovi lebih rendah dari Jazz merk lain."


"Jadiii Mbak Jovi.. kemungkinan Honda mengadakan event modif mobil untuk tipe Jazz seperti mobil Mbak Jovi guna untuk meningkatkan penjualan tipe Honda Jazz RS second maupun baru begitu."


"Ouh iya, ya pak.. saya paham sekarang, syukurlah saya juga merasa sangat senang kalau memang harga jual mobil saya lebih dari yang saya perkirakan."


"Sama, saya juga merasa senang. kalau memang ada teman atau keluarga yang memiliki jenis mobil sama, bisa di bawa ke sini ya..!!,"


"Iya pak, baik."


Jovi merasa puas dengan jawaban Pak Odi. Tidak ada sama sekali kecurigaan yang di timbulkan oleh owner showroom Mandala tersebut. Ernest tersenyum.


Pak Odi memiliki jiwa marketing yang sangat bagus. Udara panas tidak jadi masalah untuk mereka berdua, Ernest sebetulnya merasa kelimpungan.


Terik matahari menyengat tanpa iba. Ernest mendudukkan diri di kursi belakang Jovi. Tidak di sangka, Aqila mengikuti langkah Ernest.


Laki-laki yang di panggil Om barusan, Aqila membersami duduk sebelahan dengan Ernest.


"Mbak Jovi, bisa ikut saya ya? ke dalam sebentar, untuk proses penanda tanganan dan pembayaran serta balik nama yang akan segera saya urus."


"Baik Pak."


Pak Odi berjalan masuk ruangan. Karena perjanjian dengan owner showroom, Ernest juga masih terlihat ada di ruang tunggu showroom.


Jovi mengajak Aqila masuk. Suasana tempat jual beli mobil tersebut lebih ramai dari sebelumnya. Para pembisnis, sebagian pegawai saling unjuk penampilan, mengatakan bahwa mereka yang paling kaya.


Ernest memegangi kepala. Rasa pening dan lelah sangat menyatu di tubuh. Tetapi, bertemu dengan suster cantik yang telah merawatnya selama ini. Ernest ingin meminta maaf.


"Suster Jovi, saya kira Tuhan tidak akan menciptakan makhluk sebaik kamu di zaman modern seperti ini, kamu sungguh berusaha sendiri untuk mengurus hidup kamu, anak sulung yang benar-benar bertanggung jawab dengan keluarga, padahal kamu perempuan."


Ernest memejamkan mata. Ingatan bagaimana sikap dingin yang bisa membuat Jovi di bunuh perlahan, kembali hadir. Ucapan Ernest mengatakan Jovi lebih berharga dari pada lalat, tak hayal mencemari lagi.


Pundi-pundi dosa yang di buat Ernest beberapa waktu lalu menghasilkan penyesalan. Jahanam kata-kata Ernest sudah mengakar lewat sanubari, ia berharap Jovi bisa memaafkan.


Walaupun begitu, hari ini sikap Jovi tetap terlihat baik, meski saat di Jakarta, sebelum perempuan cantik tersebut kembali ke Surabaya. Janji yang di lontarkan mulut Jovi, masih terngiang di kepala.


Ernest kelelahan. Matanya terpejam, dengan jemari ke dua saling berkaitan di tumpuk atas tubuh.


Rasanya, berisik suara para pengunjung showroom sudah tidak di pedulikan CEO muda tersebut. Ernest tidak bisa menahan lagi, rasa letih sekujur tubuh.


"Kakak Opi, ayooo.. beliin barbie, ini sudah jam 10 lebih, ini sudah lama, pergi ayoook." Aqila merajuk.

__ADS_1


"Iya Aqila, sebentar, pamit sama Pak Odi dulu."


"Hehehe.. namanya anak kecil Mbak Jovi."


"Nggak mau, ayooo beli barbie, kakak Opi mataharinya sudah tinggi, sudah siang, sudah panas ayooo pergi."


Nampaknya Pak Odi, Jovi, dan Aqila sudah kembali ke ruang tunggu showroom. Transaksi penjualan mobil sudah di selesaikan oleh mereka. Aqila merajuk di depan tempat duduk Ernest.


"Ayoooo kakak Opi."


"Iya, iya, Aqila sebentar, husttt.."


Jovi tidak sengaja melihat Ernest tertidur di atas kursi. Lengan tangan yang tidak berhenti di tarik Aqila pergi, suara rengekan Aqila tidak menyadarkan Ernest sama sekali.


Jovi tidak tega melihat Ernest seperti itu. Wajah lelah laki-laki tampan tersebut sangat nampak, terbersit rasa sedih saat mendapati pemandangan hari ini. Jovi membangunkan Ernest.


"Kelihatannya Pak Ernest kelelahan Mbak Jovi," Pak Odi tidak bisa berkedip, Ernest begitu sangat tampan menurutnya.


"Iya Pak Odi."


Jovi menggoyang pundak Ernest pelan. Meski masih menggunakan pakaian, tangan Jovi merasakan tubuh Ernest panas, seperti kata Aqila.


"Tuan Ernest, bangun tuan."


"Ehhh.. sudah selesai?."


Ernest membenahi posisi duduk. Tangan kiri langsung memegang kening merambat ke arah pelipis.


"Tuan, baik-baik saja kan? pulang dengan siapa?."


"Baik kok, ada Pak Yoyok tadi di seberang jalan." jawabnya beranjak dari kursi.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Atas kesepakatan yang telah di buat Ernest dan Pak Odi. Kunci mobil sudah tidak ada, tangan Jovi tidak membawa kontak mobil.


"Sudah selesai transaksinya?." tanya Ernest.


"Sudah tuan."


Pak Odi melihat, tangan Ernest mengambil kartu nama dari dalam dompet. Kertas kecil berwarna silver langsung nampak, Ernest memberikan pada pemilik showroom.


"Ouh iya Pak Odi, ini kartu nama saya, nanti saya minta kartu nama bapak bisa ya? saya tertarik dengan showroom ini dan ingin mengajak anda bekerja sama."


"Baik Pak Ernest, dengan senang hati, ini kartu nama saya." senyum tulus Pak Odi terlihat.


Tinggal mereka berdua dan Aqila, tidak ada Pak Odi rasa canggung antara Ernest dan Jovi kembali muncul. Mata indah yang dari tadi berani mencuri perhatian ke arah Ernest, Jovi jadi ciut nyali lagi.


Hati yang belum sempat di tata, perasaan yang masih compang camping tak karuan mengobrak abrik hati Jovi. Dia benar-benar belum mempersiapkan diri bertemu Ernest lagi.


"Suster pulang naik apa?."


"Aaaa.. saya, saya na-naik taksi mungkin tuan."


"Bareng saya saja ya..!! taksi di jalan sini jarang ada yang lewat suster."


"Aaa.. nggak papa tuan, nanti."


"Mbak Jovi, bukti pembayarannya ketinggalan." Pak Odi memanggil.


"Ouh baik pak, maaf pak, lupa tadi." Jovi berjalan ke Pak Odi.


"Kakak Opi beli boneka barbie, ayooo kakak Opi, boneka barbie kak, Aqila mau boneka barbie," Aqila menangis.


Lama menunggu janji Jovi, tangan kakaknya ia tarik sekencang mungkin, sehingga sedikit membuat Jovi tersungkur. Ernest yang tadi melihat ke arah Jovi, berubah melihat tangis Aqila.


Sikap rewel Aqila hari ini, menjadikan Jovi kuwalahan. Dua saudara yang terpaut jarak belasan tahun itu hampir tidak bisa menunjukkan ke kompakkan sama sekali. Ernest memandang kasihan.


"Aduuuh.. Aqila." tangan adik kecil Jovi mencengkram lengan.


"Hua... hiks.. hiks.. boneka kak, nanti, nanti, nanti terus, Aqila mau boneka barbie."


"Bentar, bentar, kakak ambil bukti transaksi sebentar ya, habis ini pergi ya..!! ayooo ikut kakak dulu."


"Nggak mau, sekarang, pergi, ayooo.. beli boneka barbie sekarang, nggak mau di sini, nggak mau." tangis Aqila memecah.


Ernest tidak tega melihatnya, baju Jovi di tarik lebih sering. Kaki Aqila di hentakan ke lantai sangat sering. Derai air mata tanpa di perintah, menetes turun pada baju Frozen yang di kenakan.


Beli barbie, dan beli barbie yang di minta. Sudah hampir lebih 3 jam lebih memang Jovi menjanjikan. Tapi belum terealisasi.


"Ayoooo kakak Opi, beli barbie."


"Sini.. sini.. sama Om aja ya..!! kakak Opi biar ambil bukti pembayaran dulu ya, jangan nangis, sini nak... sama Om." Ernest jongkok, mengimbangi ukuran tubuh Aqila.

__ADS_1


"Aqila nggak boleh nangis ya, kalau nangis nanti sama penjaga tokonya nggak boleh masuk beli boneka barbie loh, cupp... cupp..."


"Mau boneka.. sekarang..!! pokoknya sekarang, boneka barbieeeee...," jerit-jerit Aqila membuat gendang telinga Ernest pecah.


"Ya.. ya.. ayookk.. ayoook..."


Akhirnya Ernest menggendong adik Jovi.


"Mau boneka barbie Om, yang pakai baju pink, biar boneka Aqila ada temennya hiks.. hiks.."


"Iya, yang pink ya..?? ya nanti kalau ada yang biru, beli biru juga ya..!! nanti om belikan, mau apa aja sih? merah, kuning hijau."


"Pink, sama biru ya Om."


"Iya..."


Tangisan Aqila terdengar mereda, saat putra tampan Tuan Toni, menggendong tubuh kecil yang sudah sedari tadi banyak berdiri.


Meski sebenarnya, menyangga tubuh rasanya saja sudah tidak kuat. Ernest tetap mencoba menenangkan Aqila, serta menggendong seperti anaknya sendiri.


Jovi berjalan menghampiri Pak Odi.


Ernest jalan keluar showroom menggendong. Air mata yang sempat banjir di pipi Aqila juga di seka tangan kanan laki-laki tampan tersebut.


Dari jauh Jovi tertegun, melihat pemadangan yang selama ini tidak pernah di dapati. Aqila merasa nyaman.


Ernest tidak sengaja melihat toko boneka tepat berada di samping showroom. Rumah boneka cukup mewah dengan warna ruko yang variasi, meski colour pink lebih mendominasi.


Beruntung, Ernest sempat menyelesaikan makan pagi walau hanya sedikit. Terik matahari di mana hari berganti jadi siang, menyengat kepala dan seluruh tubuh.


Langkah kaki Ernest semakin cepat, masuk ke dalam rumah boneka. Jovi yang sempat melihat arah ke mana tuan muda Wijaya Grup itu membawa Aqila, di ikuti Jovi dari belakang.


***********************


RUMAH BONEKA.


"kreeeekkk...," Jovi membuka pintu.


Para pengunjung cukup banyak memadati setiap sudut store rumah boneka. Hampir semua pengunjung adalah mama muda dan anak balitanya. Terbukti, hanya ada Ernest bersama dengan Aqila.


Masuknya Ernest ke dalam toko boneka, langsung menarik perhatian semua para pengunjung dan juga para pegawai. Ibu-ibu di toko seperti lupa, bahwa mereka sudah punya suami.


Ernest memang terlihat tampan, dengan balutan baju santai, jam tangan serta tatanan rambut yang rapi. Usia muda, semakin menambah daya pikat di dalam ruangan tersebut.


Jovi mencari setiap ujung sisi rumah boneka. Tumpukan macam-macam boneka, bantal kartun, dan boneka lain berukuran besar terpajang rapi.


Jovi mendengar suara Aqila.


"Bagus ini? apa ini Om?."


"Dua-duanya bagus, bawa aja, ambil."


"Tapi kata Kakak Opi di rumah, Qila nggak boleh beli banyak-banyak soalnya kakak Opi nggak punya uang Om."


"Ouh ya..?? Kakak Opi bilang begitu," Ernest mengangguk percaya.


"Ya kan sekarang sama Om Ernest, bukan sama kakak Opi, jadi Qila boleh ambil barbie yang apa aja, nggak papa, uang Om banyak."


"Beneran Om...??? Yeeeeeee.... terima kasih Om Ernest."


Aqila memeluk Ernest.


"Aqila jangan sering rewel ya, kalau Aqila rewel kasihan kakak Opi, Aqila kan anak pinter ya."


"Iya Om." anggukan adik kecil Jovi terasa di pundak Ernest.


Di belakang adik dan pasiennya, Jovi setengah mati malu. Aqila memberi tahu Ernest tentang kondisi ekonomi yang sedang di alami. Bagaimana lagi, anak kecil memang tidak bisa berbohong.


Mamah-mamah muda tampak menggodai Aqila dan Ernest. Tidak ada perempuan yang mengikuti mereka, pengunjung rumah boneka tampak menggoda berjalan ke arah Ernest.


"Mas, mamahnya ke mana? kok cuma berdua, duda ya mas?." goda dua orang mamah muda.


"Mamahnya masih di showroom buk."


"Ouh kirain, butuh tambahan istri nggak mas? saya mau kok kalau jadi istri yang ke dua, asal yang nikahin kayak mas-mas gini hihihihi."


"Waduuuhh buk maaf, saya aja punya istri satu nggak ngehabisin, apalagi sampai nambah jadi dua, udah kayak warung makan aja buk, pake nambah-nambah segala."


"Hahahaa.. bisa aja nih si Mas ganteng, duh.. mas, mas, sayang kok udah punya istri." dua pengunjung tampak berlalu.


Jovi tak kuat menahan tawa, ia tertawa mendengar Enest yang melempar guyonan ke arah mamah muda cantik yang juga sebagai pengunjung.

__ADS_1


Tidak biasanya, Ernest bersikap ramah dengan orang lain. Tapi mungkin hanya kecuali untuk hari ini.


__ADS_2