Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
79. Tuan Putri Sehari


__ADS_3

Jovi bangun. Ia membenahi rambut yang acak-acakan. Muka bantal sangat terlihat saat Jovi keluar dari mobil. Ernest menunggu Jovi jalan ke arah lobby hotel.


Reservasi hotel hanya satu kamar. Karena memang mereka hanya berniat untuk istirahat sementara. Meski bukan baju kerja, pakaian Jovi nampak terlihat formal.


Atasan dibalut baju warna putih, bawahan rok berwarna senada warna coklat. Tidak ada persiapan lebih, karena memang awalnya Jovi serta Ernest hanya berniat keluar kota menghadiri meeting.


"Sini sayang," Ernest meraih pinggang Jovi jalan berdua.


"Kapan ke gunungnya tuan ? ini sudah sore, lebih baik kita pulang saja."


"Mmmb.. maaf ya suster, kali ini saya tidak bisa mengabulkan keinginan suster. Hari ini sudah sore, coba nanti kita ke suatu tempat."


"Kemana?," Jovi mendongak melihat Ernest.


"Adalah nanti, tempatnya bagus kita ke sana setelah maghrib saja."


Ernest mengusap kepala Jovi. Dagunya menempel pelan di atas kepala perempuan yang lebih pendek dari dia. Jovi belajar terbiasa dengan sikap manja Ernest, meski begitu tak jarang ia memprotes.


Perlahan ketakutan yang dibuang Jovi, perlahan menghinggap. Tubuhnya tidak tenang, jantungnya berdebar pelan, kencang, tidak beraturan. Jovi baru pertama kali pergi ke hotel bersama laki-laki.


Selanjutnya, reservasi hotel satu kamar di pesan Ernest. Salah satu pegawai mengantar Ernest dan Jovi menuju lantai 2. Kamar hotel nomer 32 menjadi tempat mereka.


"Ini kamarnya, apabila nanti ada yang dibutuhkan silahkan untuk menghubungi room service kami ya bapak, selamat beristirhat." ucap pegawai hotel.


"Baik, terima kasih." Ernest memberi tips.


"Terima kasih banyak bapak," pegawai tersebut berlalu pergi.


Jovi dan Ernest masuk kamar.


Keduanya sama-sama tidak memiliki persiapan. Baju yang mereka kenakan nampak belum berubah. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah.


Ernest mengandalkan belanja online dari salah satu boutique terbaik di kota Batu itu. Beberapa baju sudah di pesan Ernest termasuk pakaian dia juga.


Jovi tidak tau menahu, ia berusaha merapikan bajunya saja. Baju tersebut sudah di gunakan sedari tadi pagi. Beruntung, aroma wangi masih menempel di beberapa bagian baju.


Ada dua kali, pegawai memberikan jamuan minuman teh hangat serta memberi handuk. Pelayanan hotel Amarta Hills tidak mengecewakan. Rate 5 di aplikasi memang memuaskan.


Jovi mendekat ke Ernest. Ia berdiri di depannya. Ernest sering mengecek ponsel. Ghazi menelpon serta mengirim pesan whatsapp.


"Tuan, saya tidak ada baju lain. Saya mau mandi tapi saya tidak punya baju ganti. Kita salah kalau memilih ke hotel, apa kita pulang saja ya tuan?."


"Tuan," Jovi memanggil lagi.


"Tuaaan."


"Aahh.. iya, iya, kenapa?." Ernest berdiri.


"Saya mau mandi, tapi tidak ada baju ganti. Kita ini tidak ada persiapan sama sekali tuan. Saya juga takut tuan, baru kali ini saya masuk ke hotel dengan laki-laki."


Ernest tertawa.


"Kenapa takut? ini bukan karena saya yang sering menerkam suster secara tiba-tiba kan? suster nggak sedang trauma kan?,"


"Bukan itu, eh itu juga iya, tuan bisa jangan di sini? saya canggung kalau cuma ada kita berdua."


"Ya sudah setelah ini saya panggilkan pegawai hotel, supervisor, manager dan resepsionis, tambah apa lagi? biar rame-rame gitu kan?."


"Bukaan begitu," rengek Jovi.


"Terus mintanya apa sayangku? panggil siapa? panggil Pak Rahmat ke sini juga? apa panggil Meghan? di sini banyak juga pegawai yang mengenal Meghan."


Ernest suka jahil. Dirinya saja tidak pernah bertandang ke kota Batu selam ini. Jadi tidak mungkin, pegawai di tempat tersebut mengenal Meghan.


Mendengar nama Meghan di sebut. Jovi langsung memicingkan mata. Nafasnya mendengus kebencian. Sorot mata perempuan cantik tersebut angkuh menatap Ernest.


Jovi berbalik badan. Ia membuang muka menatap tirai hotel yang menutup kaca.


"Ya sudah panggil saja Meghan ke sini? saya mau pulang dengan Pak Rahmat. Bangga sekali menyebut nama Meghan."


"Apa suster? bangga? ouh ya jelas dong bangga, kan mantan terindah." Ernest menahan senyum.


Jovi tidak bergeming. Ernest mengintip wajah perempuan cantik tersebut. Bibir Jovi diam. Kedua tangannya dibiarkan saling melipat. Begitu terus tidak ada perubahan.


Ernest lama-lama kasihan. Ia meraih lengan kiri. Ikatan tangan Jovi lepas. Sampai seperti itu, Jovi belum mau memandang Ernest.


"Marah ya? cieeee.. cemburu ya?."


Ruangan sunyi. Jovi tidak menjawab.


"Suster Jovi? heii.. saya cuma bercanda sayang," Ernest memeluk Jovi dari belakang. Jovi tidak membalas. Tubuhnya tetap mematung.


"Suster.. semua tidak lebih dari bercanda, nggak mungkin juga kan saya panggil Meghan ke sini, saya juga tidak pernah ke Batu sebelumnya, sungguh."


"Tapi saya tidak suka tuan seperti itu..!! saya juga tidak tahu bagaimana masa lalu tuan, semua bisa saja terjadi." suara Jovi bergetar.


"Hei, hei, sayang, sayang." Ernest membalik tubuh Jovi. Perempuan cantik tersebut tampak menunduk. Benar, matanya sudah memerah.

__ADS_1


"Suster Jovi, apa yang kamu fikirkan..!! hustt.. sudah, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu, untuk apa kamu takut dengan hal yang tidak mungkin terjadi," Ernest memeluk.


Pelan, kepala Jovi terjatuh di pundak gagah laki-laki tampan tersebut. Tubuh Ernest mengikat dengan erat. Kening putih Jovi disambar lembut oleh bibir Ernest. Ia sangat menyanyangi Jovi.


"Saya takut kehilangan Tuan Ernest, saya tidak mau ada orang lain yang mengambil tuan dari saya.. Saya takut tuan, saya sayang, saya mencintai tuan, saya tidak mau kehilangan tuan," jawab Jovi diantara tangis.


"Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu, bahkan jika nanti kita meninggal, batu nisan saya harus berada di samping batu nisan kamu suster Jovi, saya mencintai kamu selamanya dan abadi,"


"Saya takut dengan pemberitaan media, saya takut, saya bukan orang yang di pilihan Tuhan, saya di sini hanya sebagai figuran, di luaran sana banyak yang tidak setuju saya bersama dengan Tuan Ernest."


"Sudah, sudah, tenang ya sayang. Aku akan selalu ada di samping kamu, jangan takut."


Mendengar apa yang diucapkan Jovi, Ernest baru sadar, Jovi memendam rasa takut sendiri. Kata-kata tersebut tiba-tiba mengalir begitu saja.


Suasanalah yang membuat Jovi terhanyut bercerita. Rasa takut kehilangan Ernest, rasa belum percaya atas ia akan di persunting oleh Ernest benar-benar di rasakan Jovi.


Beberapa menit.


Jovi melepas pelukan Ernest.


"Sekarang saya takut tuan?."


"Iya, takut apa lagi?," suara hangat Ernest meneduhkan.


"Saya masih tetap takut kalau kita di dalam hotel hanya berdua, akan ada yang melihat kita? saya kepikiran dengan nanti akan ada artikel-artikel lain membuat berita tentang kita."


Jovi meremasi tangan. Rasa cemas Jovi sangat terlihat.


"Ya sudah kalau gitu saya tunggu di luar saja ya..?? nanti suster langsung segera mandi, saya tunggu di depan pintu kalau suster sudah selesai, oke?,"


Jovi mengangguk.


"Dandan yang cantik, meskipun dengan make up ala kadarnya," goda Ernest.


"Secantik Annabelle."


"Nggak papa, kalau suster nggak malu, biar nanti saya yang jadi Elsabelle."


"Hahaha, bukan tuan, kalau itu film Frozen."


"Iya, saya tau. Sudah, ayoo suster siap-siap keburu malam."


Ernest keluar pintu hotel.


Jovi lanjut mandi. Sebisa mungkin ia membuat pakaiannya tidak terlihat kusut atau kotor. Karena baju tersebut harus dipakai lagi.



Menunggu Jovi selesai mempersiapkan, Ernest mengajak kakinya berjalan ke bagian hotel yang lain. Ia baru tau, di hotel Amarta tersebut ada rooftop memiliki view yang sangat bagus.


Setapak, demi setapak, pemandangan di restoran tersebut berada pada bagian atas hotel sangat menakjubkan. Hijaunya alama serta semilir angin menerpa rerimbunan hutan.


Yang lebih lagi, ada pemandangan gunung terlihat nampak indah. View panorama yang di suguhkan sangat pas dengan posisi hotel. Ernest mengira, Jovi akan sangat senang melihat semua.


Pengunjung restoran terlihat sepi. Dimana memang restoran tersebut juga diperuntukan untuk umum. Semua yang dikatakan pegawai hotel tidak begitu mengecewakan.


"Pemandangan di sini sangat begitu indah.. Wah.. pasti suster Jovi pasti akan sangat senang sekali melihat ini semua."


Ernest memesan satu meja. Sebelum pergi menjemput Jovi. Beberapa menu hidangan juga di pesan, suasana angin semilir sangat mempercepat keinginan Ernest segera turun.


***************************


KAMAR HOTEL.


"Tok.. took.. took.." suara orang mengetuk pintu.


Jovi keluar kamar mandi. Rambut basah sisa mandi masih menetes membasahi wajah. Jovi berjalan ke arah pintu. Ia membuka, seorang perempuan mengantarkan sesuatu.


Perasaan gugup, sedikit tercengang, siapa lagi perempuan tersebut. Tetapi tidak ada yang janggal, senyum perempuan berseragam merah itu berasal bukan dari pegawai.


Jovi berfikir tidak-tidak. Ia sempat mengira perempuan tersebut adalah seorang wartawan.


"Maaf, ini dengan kakak Jovi Andrianita."


"Iya betul saya sendiri, ada apa ya?."


"Kami dari Lorenz Boutique, kami diminta Pak Ernest untuk mengirim beberapa baju serta pakaian dan alat make up untuk anda kak."


"Ouh ya..," Jovi kaget.


"Benar kak, silahkan, ini kak barangnya.." tas besar dari tangan pegawai dipindah ke Jovi.


"Kalau begitu terima kasih ya mbak"


"Sama-sama kak, mohon maaf kakak, bisa minta tolong tanda tangan di sini ya..!!," pegawai tersebut memberi lembaran.


Jovi mengangguk, menanda tangani. Setelah lembaran di serahkan kembali. Baju pegawai tersebut baru di amati Jovi. Bagian samping seragam, bertulis Lorenz Boutique.

__ADS_1


"Terima kasih kakak, semoga anda dan Bapak Ernest selalu diberi kebahagiaan, saya permisi dulu, selamat sore."


"Iya selamat sore." Jovi tersenyum.


Pegawai boutique pun berlalu pergi. Jovi tersenyum dengan sendirinya. Ernest tidak banyak bicara, akan tetapi perlakuannya benar-benar sangat romantis.


Tentengan tas besar di bongkar Jovi satu persatu. Ada tas selempang kecil merk dior. Lalu kemudian sepatu berhak sedang dan beberapa potong outfit lain untuk keluar bersama.


Jovi memilih mengenakan tunik kuning, di padu dengan hot pants putih, serta ikat kecil berwarna coklat di pinggang.


Rambutnya tidak di biarkan terurai, Jovi mengepang sebagian sisi samping kepala kanan dan kiri. Lalu kemudian ia kaitkan ke belakang. Mengunci rambut hitamnya yang terurai rapi.


Digunakan Jovi sepatu flat di ujung belakang tanpa penutup. Warnanya putih terkesan sangat mewah sebab di sampingnya, terhiasi oleh manik-manik.


"Toook... Tok.. took.."


Jovi berlari membuka. Aroma wangi dari tubuh Jovi sangat mengancam hidung. Lembut tangannya menyilakan poni ke samping.


"Tuan, saya sudah siap."


Ernest terpana. Beberapa detik ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Jovi terlihat sangat cantik. Jarang-jarang Jovi mengenakan hot pants dan berpenampilan cukup casual.


"Hari ini kamu cantik sekali suster Jovi."


"Terima kasih atas bajunya tuan, tuan juga tampan, tapi nggak ganti baju dan bau kecut."


"Ouh.. ngeledek ya..!! berani ngeledekin, siapa nih yang ngajarin, hmm.. seenaknya bilang," Ernest mencubit hidung Jovi.


"Aduuuhhh tuan.. sakit tuan, aaaa," Jovi tertawa sembari merintih.


"Sini, sini, aku peluk, biar baunya ikut kecut lagi."


"Jangaaaaann...," Jovi berlari. "Nggak, nggak, aku nggak mau."


Ernest mencium pipi. Tangannya tampak gagah ingin menggendong Jovi, tetapi Jovi segera menurunkan tubuh. Sebab ia tahu, sembuhnya Ernest belum pulih benar.


Di cium Ernest lagi pada bagian leher, Jovi merasa geli. Tawanya tak henti, Jovi balik arah menutup erat bibir Ernest dengan jemarinya.


"Jangan mulai ya..!! saya tidak suka. pahamm sayanggg?."


Ekspresi Ernest tidak terlihat sebab bungkaman Jovi. Tapi bola matanya hampir hilang hingga terlihat sipit sedang tertawa. Ernest mengangguk. Jovi melepaskan tangan.


"Sekarang, saya mau aja kamu ke suatu tempat.. Suster pakai penutup kepala, dan nggak boleh curang melihat ya?." pinta Ernest.


"Hah..?? memangnya kita mau ke mana tuan? lihat gunung kan sudah tidak bisa, tuan mau aja ke mana?."


"Sudah jangan banyak ngomong, ayoo ikut saya ya..!!," Ernest menarik tangan Jovi.


"Mau ke boutique ya?."


"Bukaaaan, ini lo ke warung mie ayam kaki lima."


"Emang ada ayam kakinya lima?." Jovi balik tanya.


"Hahaha.. kaki lima bukan kakinya tapi di gerobok suster."


Dasi kerja yang tidak dipakai Ernest, dijadikan penutup mata. Jovi menurut, ia tidak tau ke mana tuannya akan membawa pergi. Celoteh Ernest menggelitik, ketika di tanya tujuan.


Mereka selalu bercanda. Di jalan beberapa mata para pengunjung hotel tertuju perhatiannya ke arah Jovi. Ernest yang terlihat tampan juga mampu menyita perhatian.


Jovi merengek kenapa tidak sampai-sampai.


"Tuan, kita mau ke mana? tuan jangan aneh-aneh."


Ernest tetap menuntut Jovi berjalan di depannya.


"Ayoo.. terus, satu langkah lagi, dua, tiga. lagi, lagi terus suster."


"Kemana sih?."


"Ke warung bakso.. ini lo udah dekat, itu baksonya udah kelihatan," kata Ernest.


"Masak sih? warung bakso? katanya tadi mie ayam mmb.. nggak papa lah, tuan pilih mana yang enak." Jovi sempat mengangguk.


Sampai di tempat, Ernest melepas penutup mata. Pemandangan indah, hamparan hijau yang terlihat sangat alami, membuat Jovi tidak bisa berkata apa-apa.


Restoran tampak di kosongkan, sebab hal tersebut sudah di minta Ernest sebelumnya. Jadi hari ini, Jovi tidak menyadari, kekasihnya memberi privat party.


Pegunungan yang terlihat sangat gagah, menjulang sangat tinggi. Suasana sore hari, Jovi benar-benar bisa menikmati keindahan gunung. Meski dari jauh, ia bahagia.


Ernest memandangi. Pasangan perempuan di sampingnya tersebut sangat menyukai alam. Persis dengan Enmaru. Jovi bahagia dan tidak menyangka.


"Tuannn.. ini sangat indah sekali pemandangannya."


"Ini untuk kamu, maaf ya tadi karena saya belum bisa mengajak kamu ke gunung yang sesungguhnya."


"Tidak papa tuan, terima kasih tuan, tuan selalu mewujudkan apa yang saya harapkan. padahal saya sendiri tidak berharap banyak untuk keinginan keinginan seperti ini."

__ADS_1


Jovi memeluk Ernest sangat erat. Menjadi kekasih pilihan Ernest sungguh sangat beruntung.


__ADS_2