
Sesudah mengantar Jovi ke daerah tunjungan. Beberapa cindera mata, sudah dibeli Ernest dari mall tunjungan plaza sore itu. Untuk teman kampus'nya yang sudah lama tidak bertemu.
Altoro spanish gastrobar yang di pilih Frans, sebagai tempat pertemuan mereka. Mengantar mobil Ernest, ke restoran tersebut. Salah satu restoran mewah, dikota Surabaya.
Mobil yang dikemudikan Pak Rahmat sudah sampai didepan restoran. Membuat Pak Rahmat menghentilan suara mesin, membiarkan Ernest keluar sendiri tanpa bantuannya.
Ernest sudah meminta kepada Jovi maupun Pak Rahmat agar hari ini, jangan membantunya sama sekali. Ernest benar-benar, ingin terlihat seperti orang yang sudah sembuh.
"Tuan, tuan hati-hati ya," kata Pak Rahmat ikut turun dari mobil.
"Iya Pak Rahmat, sudahlah saya nggak papa," jawab Ernest.
"Baik tuan, kalau begitu saya parkir mobil dulu tuan," Pak Rahmat membuka pintu mobil lagi.
"Iya silahkan pak," jawab Ernest pergi masuk ke restoran.
Dari dalam kaca mobil, Pak Rahmat melihat, Ernest benar-benar sudah berjalan normal. Padahal Pak Rahmat tau, gips kain warna coklat masih ada didalam sepatu yang dikenakan Ernest.
Laki-laki tampan berbaju coklat muda tersebut, masuk ke dalam restoran mewah menemui anak-anak. Rasa kaki Ernest, benar-benar terasa nyeri, namun keinginan hatinya masih tidak bisa dibendung.
Dari pintu utama, pandangannya mulai menaruh kagum, dengan restoran favorit mama Ernest sejak dulu. Lampu kuning restoran, semakin terasa membuat suasana sangat elegan.
Alunan musik, mengalun samar ke telinga para pengunjung restoran sore ini. Mini bar tempat Ernest dulu sering mengambil menu, juga sama sekali tidak berubah. Semua tidak berbeda.
"Hai Ernest," panggil Frans.
Ernest menengok, melihat meja panjang reservasi yang sudah dipesan Frans. Anak-anak dari keluarga kaya, semua nampak berkumpul sore ini. Selain Frans, ada Marcel, Sandi, Kiano, dan Gerald.
Tangan kanan Ernest membawa tas berisi cidera mata mahal, jam rolex yang baru dibeli Ernest dari Mall. Semua jadi satu didalam tas. Ernest berjalan ke arah alumni anak UI tersebut.
"Hai semua," sapa Ernest dengan senyum mengembang.
"Hay brow, apa kabar? anjay.. gue bahagia bisa ketemu loe lagi," Frans merangkul erat pundak Ernest.
"Hay brow, gue seneng ketemu loe lagi Nest," kali ini Kiano yang merangkul sahabatnya.
"Gue juga men, lama nggak ketemu loe," Sandi menjabat lengan kanan Ernest.
"Nest, lama nggak ketemu loe?, makin cakep aja loe," goda Marcel tangannya bergelantung, dipundak Ernest.
"Eh biarin Ernest duduk dulu dong, Marcel loe ini, minggir dulu lah," kata Gerald menyingkirkan lengan Marcel dari pundak Ernest.
"Nggak mau..!! Ernest, gue kan beby beby'nya loe waktu dikampus ya?," Marcel menahan tawa.
"Hahaha, iya beb, kalau loe mah, beb, bedo amat," Ernest tertawa geli.
"Bodo amat," anak-anak menyoraki membenarkan ucapan Ernest.
Suasana tawa, kebahagiaan melepas rindu satu sama lain. Benar-benar terasa dipertemuan reuni sore ini. Beby adalah mantan kekasih Ernest yang dulunya sangat manja dengan dia, waktu di kampus.
Kejadian beberap tahun silam, selalu dijadikan bahan canda'an oleh anak-anak. Setelah akhirnya Ernest terlibat cinta lokasi dengan Meghan, dan gagal menikah.
Semua lelaki tampan yang memenuhi meja reservasi, dijuluki anak-anak fakultas lain dengan tujuh sekawan. Semua seperti saudara, apalagi terlahirnya mereka dari semua keluarga kaya. 7 sekawan sangat terkenal dikampus.
"Ernest, loe bawa apa nih?, coy lihat nih, kita dibawain rolex satu-satu, sama si Ernest," ucap Frans duduk disamping Ernest.
"Ernest, dari dulu loe yang paling sweet sama kita-kita, pacar gue aja nggak pernah ngebeliin kayak gini brow," Marcel menggelengkan kepala.
"Yaaaaa......," semua anak menyoraki Marcel.
"Loe aja, jadi laki nggak pengertian.. harusnya Elo yang ngasih lah, dasaar pe'ak," ucap Gerald.
"Loe mah jangan suka ena-ena'nya aja haahaha," timpal Kiano tertawa.
"Kiano, loe jangan bilang gitu, gue jadi "aaahhh-aaahhh nanti" " ucap Marcel berdesah
"Sadaaar woy, kita semua cowok," Ernest menampar Marcel pura-pura.
__ADS_1
"Tau ahhh, nggak sadar tempat loe cel," kata Sandi memang sedikit pendiam.
Gaya slenge'an mereka benar-benar masih sama seperti saat dikampus, meski usia mereka semua sudah siap menikah, tetapi Marcel yang paling konyol di gank Ernest, selalu menjadi alasan Ernest tertawa.
Frans membagi rata tas kecil dari Ernest, untuk mereka semua. Sisa satu tas kecil, yang belum diambil oleh teman Ernest. Enam dari tujuh anak sudah berkumpul sore itu, tinggal satu teman Ernest lagi.
"Nest, ini buat si???," tanya Frans memandang mata Ernest.
"Iya.., semua lah," jawab Ernest dengan isyarat mata ke Frans.
"Loe udah baikan sama dia?," tanya Frans.
"Anggap aja udah," jawab Ernest cuek.
Tidak berselang lama, datang laki-laki berperawakan besar, lebih gemuk daripada Ernest. Hidungnya mancung, jambangnya sedikit tumbuh di sekitar wajah. Menghampiri Ernest dan juga teman-teman.
Bajunya rapi, menggunakan jass hitam, lengkap dengan sepatu kerja. Sedikit berbeda dengan semua teman-teman Ernest yang berpenampilan santai. Kedatangan'nya terlihat terburu-buru.
Ernest yang asyik bercanda dengan Marcel tidak mengetahui kedatangan temannya. Tubuhnya membelakangi, anggota gank yang baru datang.
"Eh sorry men, gue telat," ucap laki-laki tersebut.
"Hey Fictor, loe habis darimana aja? gila men, big bos'nya semesta grup datang loh," kata Gerald bahagia melihat Fictor datang.
"Sory sory, tadi gue habis jenguk nenek gue dirumah sakit," Fictor tersenyum.
"Selamat datang brow," jabat tangan Kiano.
"Eh men, selamat datang, silahkan duduk bapak, ada yang bisa saya bantu?," Marcel bercanda, berdiri menjabat tangan Fictor.
"Ouh iya iya, tolong bantu saya menghabiskan uang saya ya, maklum semesta grup adalah rajanya developer," Fictor menjabat tangan Marcel sangat sombong.
"Hahahhahha," semua anak tampak pura-pura tertawa.
"Gimana nih, boss rumah sakit udah datang, boss developer udah datang, yang belum datang jodoh kita men, haha," Marcel mencoba mencairkan suasana kembali.
"Rumah sakit yang dulu pernah tersandung kasus besar itu ya? yang dulu ditinggal semua perawat nya, gara-gara manajemen rumah sakitnya buruk kan? yang di korupsi sendiri itu ya," kata Fictor menyindir salah satu anak di gank.
"Lebih besar kasus gue, gue nih ditinggal nikah sama mantan gue, nikahnya sama sepupu gue brow," Kiano menimpal berharap suasana berubah.
"Hahahaha, emang loe harus diruwat dulu, biar dekat jodoh," kata Marcel memantik tawa lagi.
"Jodohnya masih sembunyi," Ernest juga menimpal tertawa menutup wajah.
Tidak ada yang menanggapi pertanyaan Fictor. Anak-anak seolah tau, bagaimana ketidak harmonisan hubungan antar kedua'nya. Ernest juga sudah tidak memilih memasukkan dalam hati, ucapan Fictor.
Mata Fictor memandang tajam, kondisi Ernest yang benar-benar sudah sehat. Rasa hatinya mulai tidak terima, tersangka penabrak kekasihnya, sudah kembali sehat.
Padahal beberapa minggu kemarin, Jovi baru mengatakan ada tulang rusuk patah, ada luka gips tangan dan kaki. Tapi hari ini, semua tidak ada seperti apa yang dituturkan oleh sekertaris cantiknya itu.
Fictor lalu mendudukkan diri, disamping Gerald. Teman gank yang lebih pro ke dirinya daripada Ernest. Tak bisa dipungkiri, dalam persahabatan mereka, kadang anak-anak memihak pilih kasih.
"Fictor, nih ada buah tangan dari Ernest buat loe," Frans mendorong jam tangan ke arah Fictor.
"Sorry gue nggak nerima, gaji gue masih kuat beli selusin jam tangan kampung itu," Fictor membiarkan kotak kecil diantara mereka.
"Eh, bukan kampungan brow.. yang dibawa Ernest jam rolex keluaran terbaru Fic?," Kiano memberitahu.
"Keluaran terbaru?? paling juga hasil beli dari uang bokapnya, kalau gue sih beneran boss di kantor gue, kalau boss satunya.. masih harus dipertanyakan tuh," sindir Fictor lagi mengenai Ernest.
"Bos dana sekolah, iya pacar gue ngelola boss dana sekolah di kantornya," ucap Sandi mencoba sekuat tenaga bercanda.
"Hadewh, bercanda loe nggak masuk akal, bikin garing sand," kata Kiano menimpuk kepala Sandi dengan tisu.
"Udah lah brow, kita bahas musim piala dunia aja lah, bahas bola atau bahas balapan moto gp gitu," ajak Marcel.
"Balapan? ouh ya, ngomong-ngomong ada yang katanya handal naik mobil, tapi sampai ngebuat Helen meninggal," tutur Fictor penuh benci.
__ADS_1
Anak-anak sudah mulai gerah, dengan bahan sindirian yang di lontarkan oleh Fictor. Frans, Marcel, Sandi, Kiano terlihat menggaruk kepala berjamaah. Kadang mereka menghela nafas panjang.
Anak-anak selalu membiarkan Fictor ketika membanggakan diri, mereka semua tau, bahwa Ernest lah yang paling sukses diantara mereka. Rasanya, semua orang juga tau, wijaya developer selalu lebih unggul, dari semesta grup.
Ernest semakin tidak betah, tentang apa yang sudah didengar dari Fictor. Laki-laki tampan tersebut selalu mencoba legowo dan membangun hubungan baik lagi, tapi Fictor tetap sama seperti dulu.
"Gue nggak pernah nge bunuh siapapun? polisi udah bilang, gue bukan pembunuhnya..!! pihak rumah sakit juga sudah bilang, serangan jantung penyebab utama dia meninggal," Ernest menjawab tanpa mengarahkan wajah ke Fictor.
"Bisa aja loe bayar semua penyidik yang menangani kasus loe? pihak rumah sakit, loe aja kerjasama cuci tangan dari kasus kecelakaan Helen," Fictor masih tidak mau kalah.
"Fictor, secara nggak langsung loe nuduh di rumah sakit gue, banyak konspirasi dong?? Licik ya pikiran loe, rumah sakit nggak bakal setega itu, mereka tetap melakukan otopsi sesuai yang diminta kepolisian," Ernest sudah mulai geram.
"Jelas konspirasi lah, management rumah sakit bobrok, penuh komplain dimana-dimana, kekurangan para perawat, hasil rumah sakit dikorupsi sendiri," Fictor membahas masa lampau.
"Eh Fic, Fic, sudah lah, jangan saling menjatuhkan.. nggak enak didenger anak-anak, ini acara reuni brow.. nggak enak kalau harus ada cek-cok," ucap Frans mencoba melerai.
"Rumah sakit Wijaya keren kok, buktinya pihak asuransi kantor gue kerjasama bareng rumah sakitnya Ernest," Kiano membela.
"Iya, kantor gue juga kerjasama dengan pihak RS Wijaya, buat klient di kantor, namanya bisnis juga pasti ada jatuh bangunnya lah brow, " tambah Sandi begitu polos.
Fictor akhirnya dibuat diam, oleh pembelaan beberapa temannya ke Ernest. Sorot matanya, masih memandang benci. Laki-laki berjambang itu, juga ingin mencabik-cabik wajah Jovi.
Hatinya dibuat tak terima oleh kebohongan yang dilakukan Jovi, sementara Ernest nampak mencoba menikmati suasana reuni kembali. Setelah ada saja tingkah Marcel, membuat ia tertawa.
Hidangan sajian makanan spanyol dan minuman anggur mahal, keluar dibawa oleh para pramusaji. Anak-anak menikmati, satu persatu hidangan yang keluar dari dapur besar restoran.
Aroma steak, makanan spanyol lainnya semua tersaji diatas meja. Semua alumni universitas Indonesia tersebut, asyik menikmati hidangan makan malam.
Meski anak-anak sudah mencoba untuk tidak membahas kecelakaan, yang dialami Ernest. Tapi masih saja Gerald mencoba mengungkit mencari bahasan lagi.
"Eh, brow.. kemarin loe habis kecelakaan lagi, gue sampe baca notif loe nyari suster ya?," tanya Gerald sok tidak tau.
"Iya, kebetulan gue nggak bisa rawat inap di rumah sakit, karena banyak tugas," jawab Ernest santai.
"Biasa lah, pengusaha sibuk kayak Ernest pantes lah, kalau nyari suster.. nah kalau loe cel, yang dateng malah ambulan'nya," canda Kiano ke Marcel.
"Kalau gue Ki, nggak cuma ambulans aja, keranda sama kain kafan datang semua," Marcel bersemangat.
"Hahahahha.," semua anak-anak tertawa.
"Gue denger dari Edo, suster yang kerja sama loe, anaknya cantik ya Nest?, dulu Nalen temen gue suka banget sama dia?," tanya Sandi kebetulan berteman dengan Dokter Edo.
"Gue nggak seberapa paham, tapi waktu gue kontrol emang Dokter Edo juga ngebahas Nalen juga, tapi gue nggak tau siapa?," jawab Ernest.
"Siapa sih? gue penasaran nih," timbrung Marcel.
"Apa sih? loe ngikut aja," Frans menjauhkan wajah Marcel.
"Siapa Nest, nama suster loe? gue lupa," pikiran Sandi pening, mencoba mengingat.
"Suster Jovi namanya," jawab Ernest disela-sela makan.
"Ouh iya bener, Edo bilang namanya Jovi, gue inget'nya cuma vi,vi'nya aja," kata Sandi tertawa.
"Paling juga, suster gadungan," celetuk Fictor.
Ernest memandang sinis.
"Eh eh brow, terus gimana kelanjutan cerita loe, yang tentang kemarin?," tanya Sandi mengingatkan ke Ernest.
Semua kembali bercerita, dan Fictor tak bisa meraih perhatian teman-teman.
Melihat Ernest, yang malam ini menjadi perhatian anak-anak. Fictor semakin sakit hati, apalagi pembahasan Jovi, sekertarisnya sendiri terdengar ditelinga. Pikirannya mulai mencari cara, ingin mengirim Jovi ke kuburan.
Suasana reuni dari sore hingga malam ini, masih berlanjut. Ernest mulai merasakan nyeri di tumit kakinya, karena terlalu lama mengenakan sepatu. Tapi masih ada Fictor yang membuat Ernest tetap harus terlihat biasa.
Ponsel Frans bergetar diatas meja, Fictor melihat kearah ponsel tersebut. Meghan sedang memanggil sepupu'nya itu, semua seperti yang di rencanakan Fictor dan Meghan sebelumnya.
__ADS_1