Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
82. Cobalah Mengerti


__ADS_3

Mobil di kendarai Pak Rahmat berkecepatan sedang. Jovi dan Ernest sempat menikmati makanan ringan di dalam mobil. Satu bungkus roti boy dan cup kopi juga tersedia untuk Pak Rahmat.


Ernest ternyata belum minum obat. Jovi menyingkirkan barang belanja ke bagian belakang mobil. Ernest meneguk setengah air botol. Tiga butir obat di konsumsi dalam masa pemulihan.


"Roti tuan, biar jadi penawar pahit?,"


"Nggak, nggak usah," Ernest menolaknya.


"Suster makan aja itu? rotinya mana tadi? itu, itu, ke bawa di kresek Pak Rahmat," Ernest merogoh roti ke dalam kantong. Jovi di paksa menghabiskan.


"Makan, makan. Suster maag kan? nah.. ini susu juga biar perutnya dingin," satu slot kotak susu di bedah. Ernest mengambilnya satu.


"Tuaan, tuan yang harus banyak makan makanan bergizi agar segera sembuh terutama banyak mengkonsumsi kalsium agar tulang-tulangnya pulih setelah operasi."


Jovi mengusap bibir Ernest. Sisa minum obat, air menetes turun ke dagu. Ernest melepas jam tangan di pergelangan kiri, sedang Pak Rahmat menikmati roti.


"Kalau saya nggak minum obat yang perhatiin banyak. Bik Yuni, papa, Pak Rahmat, Bik Lusi semua mengingatkan. Tapi kamu? saat sudah jauh sama mama papa kamu, nggak ada kan." Ernest menyucup ubun kepala Jovi.


"Jaga kesehatan sayang, kamu ini terlalu peduli dengan orang lain sampai lupa dengan diri kamu sendiri."


"Tuan juga jaga kesehatan." Jovi membungkuk menaruh sisa bungkus makanan di bawah mobil.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.15 malam. Jalur tol tidak langsung terlihat sepi. Mobil pribadi tetap mendominasi serta dengan truk besar.


Sudah ada sekitar 30 menit lebih mobil keluar dari kota Batu, Malang. Perjalanan masih terhitung sedikit lama menuju Surabaya.


Dedaunan di ayun angin ke sana kemari. Walau tidak terasa menabrak tubuh, akan tetapi Jovi menikmati suasana malam jalanan.


Langit terlihat sangat gelap gulita, beruntung tidak turun hujan. Kosongnya langit seperti hamparan gurun tampu pencahayaan. Tiba-tiba membuat Jovi bernostalgia.


Jovi membuka kaca jendela tanpa persetujuan Ernest.


Ernest menoleh.


Lampu penerang jalan tidak permisi menembus kaca mobil. Sorot wajah Jovi bercahaya, pelipis dengan sedikit keringatnya nampak terlihat. Aroma angin malam di hirup menembus sanubari.


"Suster kenapa di buka? polusi, bahaya juga sudah malam, tutup ya? " Ernest menutupnya.


Mata kosong Jovi tak ubah terpaksa harus melihat kembali ke depan. Seperti yang di alami Jovi, ia ingin sekali mencoba menepi, akan tetapi hidup menyuruh harus tetap berjalan.


"Kenapa tadi di buka?," wajah Ernest mendekat sangat.


"ini sudah malam, besok harus test tulis ke rumah sakit juga? nanti suster kecapek'an, istirahat ya.!! sini, sini."


Laki-laki tampan tersebut mempersiapkan pundaknya untuk Jovi. Sebelum bersandar, Jovi melihati Ernest. Ia ingin bercerita tentang berita di media tetapi mereka baru saja pulang liburan.


Tape music tidak terputar. Heningnya malam ini mengantar Jovi dan Ernest kembali. Tangan Ernest selalu menggenggam tangan Jovi. Ernest tidak bicara, ia tampak termenung.


"Tuan."


Panggilan Jovi memecah suasana.


"Ya," Ernest mengusap pipi Jovi.


"Tuan, dalam hitungan hari lagi akan ada suster baru. Kita akan berpisah sementara, mungkin berapa jam dari total 24 jam kita menjalani hidup masing-masing, Tuan jaga diri ya..!!."


Ernest tersenyum.


"Suster, kita sudah bukan lagi patner.. di mana kamu suster saya.. apa kamu lupa suster Jovi sekarang saya adalah pasangan kamu.. tidak mungkin kan, apabila saya akan melewati hari-hari tanpa kamu. Saya tidak akan segan-segan mengantar kamu berangkat kerja, kita bisa makan malam, jalan-jalan."


Ernest merangkul pundak. Ia mendekap hangat. Perlakuan seperti itu selalu berhasil membuat Jovi merasa nyaman.


"Saya berjanji kepada kamu suster Jovi. Saya tidak akan membiarkan lama kamu jauh dengan saya, secepatnya saya akan membawa kamu pergi dari masalah ini." Ernest membatin.


"Sampai kapan kita seperti ini tuan?." Jovi memeluk Ernest lebih kuat.


"Atau kita pergi ke luar negeri saja, kita hidup di sana, Mr. Bram bisa menjadi patner bisnis kita di luar negeri. Setelah menikah bila suster mau, kita pergi dari sini," nada Ernest terdengar serius.


Jovi menggeleng kepala.


"Kabar di luar sana bilang banyak yang menyebut tuan kecewa dengan saya. Banyak yang mengatakan saya adalah pembohong, mereka semua sudah tau saya dulu yang tergabung dalam perekrutan. Saya tidak tau berita itu dari siapa? tapi hati saya sakit tuan. Mereka tidak tau apa-apa, mereka mengatakan semau mereka, hiks," Jovi menangis.

__ADS_1


"Hussttt.., tenang sayang, tenang, tenang."


" Mereka mengatakan Tuan Toni membenci saya, mereka bilang saya mengecewakan tuan. Saya tidak berkompeten, yang paling menyakitkan lagi mereka menuduh saya ini melakukan, hiks hiks."


"Hey, melakukan apa suster?."


Jovi langsung terdiam. Sisa air mata masih turun sendiri. Jovi enggan memberitahu Ernest, apabila ia di tuduh melakukan penggelapan uang pada salah satu kantor.


Suasana tampak mulai menegang. Raut wajah Ernest tidak santai. Belum lama kabar dari Ghazi mengatakan banyak pemberitaan tentang ia dan Jovi. Kakak Aqila tersebut menghambat masalah.


"Suster, berita tentang apa lagi yang kamu temukan suster? ayoo bilang..!!,"


"Suster Jovi, jawab...!!!," Ernest menggoyang pundak Jovi kencang. Akan tetapi Jovi tidak merespon. Ia masih keukeh atas keputusannya.


"Suster Jovi," nada tinggi Ernest keluar.


"Bilang suster, melakukan apalagi? Suster Jovi, tentang apa? saat ini masalah kita bukan hanya issue, banyak kemungkinan lain yang terjadi. Kita ini sudah pasangan dan sebentar lagi menikah, kenapa kamu selalu menganggap saya seperti orang lain? apa saya tidak berhak mengetahui apa yang menyakiti kamu?."


Ernest melepas lengan dari tubuh Jovi. Air matanya mengendap tidak jatuh. Hati laki-laki tampan tersebut sangat sakit. Jovi diam tak bergeming.


Konsentrasi Pak Rahmat buyar. Debat kecil Jovi dan Ernest sempat membuat Pak Rahmat menoleh.


"Kamu kira saya tidak sakit hati. Ketika di luar sana Dokter Nalen lebih tau semua tentang kamu, tetapi saya? kamu seperti membentengi diri kamu dari saya kan? apa yang salah," Ernest menunduk.


"Saya ini hanya ingin kamu tidak terjadi apa-apa, saya ingin melindungi kamu Jovi. Saya tidak punya waktu banyak membaca semua artikel, pekerjaan kantor sangat banyak, project baru untuk papa kamu, urusan saya bukan melulu tentang cinta. Saya hanya ingin melindungi kamu, saya tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu suster Jovi."


"Sebenarnya saya tidak tega memarahi kamu, tapi nampaknya sikap lembut semakin akan membuat kamu menahan semuanya sendiri. Dengar semua yang saya katakan ini, coba fikirkan sendiri, kalau keputusan kamu sudah benar, ya sudah."


Bibir Ernest menurun ke bawah. Garis bibir sangat terlihat menahan tangis. Suaranya serak tidak sejernih tadi.


Jovi memberanikan melihat mata Ernest. Benar, dua bola mata Ernest sudah berkaca-kaca. Kekecewaannya sangat terlihat.


Jovi langsung mendekap Ernest. Tubuhnya hilang diantara ke dua lengan kekar putra Tuan Toni tersebut. Pelukan itu, di sambut lingkar hangat dada Ernest.


Se marah-marahnya Ernest, ia tidak tega melihat Jovi seperti itu.


"Saya sakit hati, artikel yang di kirim Ola mengatakan bahwa saya di tuduh melakukan penggelapan uang di sebuah kantor. Padahal saya tidak pernah melakukan itu. Saya tidak mau tuan sedih, saya tidak mau tuan kepikiran karena itu masalah saya," jelas Jovi.


Jovi tidak menjawab, namun pelukan eratnya menjawab bahwa ia memaafkan Ernest.


Perjalanan hampir memakan waktu hampir 2 jam. Mereka sudah sampai di Sidoarjo. Kurang satu jam lagi sampai di Surabaya, dan sudah pukul 23.15 WIB.


Debat kecil Jovi dan Ernest selesai. Dari mobil Jovi mulai tak kuat menahan kantuk. Paha Ernest malam ini menjadi bantal menuju alam mimpi. Ernest tetap duduk bersandar.


Rambut Jovi di belai. Ernest menidurkan Jovi, dengan pundak yang di usap halus tangannya. Seperti anak kecil, sisa tangis dan pundak naik turun perempuan cantik tersebut nampak.


Ernest tidak ikut tidur. Pikirannya semakin kacau.


"Ada yang tidak beres dengan semua ini? berita ini kenapa sangat besar di masyarakat tetapi orang sekitar tingkat responnya sangat sedikit. Ini pasti ulah Fictor."


Nomor Ghazi di cari kembali. Masalah yang sedang di hadapi Ernest dan Jovi ini sama persis dengan kasusnya dulu, saat pemberitaan media mem blow up kasus perekrutan RS. Wijaya tempo lalu.


"Ghazi.. saya mendapat link yang membuat berita hoax.. pemberitaan ini tidak wajar, berita ini langsung tiba-tiba ramai di jagat maya. Tolong kamu telusuri website yang memuat artikel ini." pesan Whatsapp Ernest.


Cuaca malam hari ini sangat bagus. Mata Ernest mengikuti jalan mobil sembari melihat semua yang terlewat. Dari portal tol, rerimbun hutan di samping jalan, dan bangunan lain.


Sejenak Ernest memandangi wajah perempuan tak berdosa di atas tubuhnya. Se pandai itu Jovi menjaga hati untuk semua orang di sekitarnya, termasuk Ernest.


SURABAYA, Pukul 00.17 WIB.


Mobil belok ke Perumahan Archadya. Kawasan perumahan sudah sepi, dua satpam penjaga pos menyibukkan diri bermain catur.


Ernest membangunkan Jovi. Nafasnya teratur, tidur Jovi terlihat pulas. Ernest sebetulnya tidak tega membangunkan.


"Suster Jovi, ayooo bangun kita sudah sampai."


"Suster.. bangun sayang," Ernest menggoyang pipi Jovi.


Perempuan cantik tersebut tetap tidak bangun. Jalan rumah Jovi sudah semakin dekat.


"Pak, suster Jovi nggak bangun-bangun," keluh Ernest.

__ADS_1


"Di coba sekali lagi tuan, Suster Jovi kecapek'an setelah naik wahana mungkin tuan." Pak Rahmat menengok.


"Suster.. ayoo bangun kita sudah sampai." ajak Ernest.


Mobil jalan menuju depan pagar rumah Jovi. Ernest mengecek, matanya melihat ada satu mobil juga terparkir di depan rumah Jovi. Fikiran Ernest bahwa itu mobil tetangga.


Tidak lama saat mobil sudah mendekat, ada yang semakin Ernest. Pintu rumah Jovi terbuka meski tidak begitu lebar. Sosok orang di depan teras menunduk bermain ponsel.


"Pak, Pak Rahmat, ada papanya Suster Jovi. Saya nggak enak kalau nyuruh gendong Suster Jovi, tapi saya gendong sendiri juga belum boleh."


"Biar papanya saja tuan. Atau kalau tuan mengizinkan ya nggak papa nanti saya gendongkan Suster Jovi. Masak iya saya udah punya istri gini di cemburuin tuan?,"


Ernest tersenyum. "Hehehe, ya nanti biar papanya aja dulu pak."


Mobil berhenti. Laki-laki itu langsung berjalan keluar pagar. Ernest turut mempersiapkan diri turun. Pak Rahmat turut keluar mobil mempersilahkan papa Jovi.


Pandangan mata Pak Rahmat tampak aneh. Ernest dibukakan pintu mobil oleh Pak Rahmat.


"Ketiduran Om," kata Ernest.


"Tengah malam baru datang, bawa anak perempuan juga harus tau aturan," ucapnya.


Seketika Ernest langsung menoleh. Pandangan mata yang tadi berusaha masih membangunkan Jovi, secepat kilat langsung berpindah.


"Dokter Nalen," Ernest terkejut.


"Sudah tidur dari jam berapa dia? lihat kasihan sekali Jovi pasti dia kecapek'an. Liburan juga perlu tapi loe harus tau waktu lah, besok dia ada interview," Nalen marah-marah.


Ernest melirik. Tatapan mata Dokter Nalen tidak se ramah ketika ada Jovi. Kali ini, Nalen terlihat pandangannya penuh akan kebencian. Bahasa loe gue kali ini mereka gunakan.


Ernest sangat kesal. Rasanya ia ingin menendang Dokter Nalen. Se malam ini, laki-laki masih bertamu. Putra Tuan Toni itu menduga, hubungan Nalen dan Jovi lebih dari teman.


"Ngapain loe masih di rumah Jovi malam-malam?," emosi Ernest hampir terpancing.


"Bertamu lah, emang ngapain?," Dokter Nalen berusaha masuk ke mobil.


"Bertamu ada jamnya, kalau bisa memberi nasihat seperti itu ke gue tadi, kenapa tidak bisa melakukannya pada diri sendiri. Papan portal kan sudah tertera jam kunjung max. 22.00."


"Itu urusan gue ya..!! gue ke sini hanya untuk memberi tahu Jovi tentang info rekrutmen di RS gue, bahwa dia lolos dari seleksi administrasi ke seleksi berikutnya, hanya itu nggak lebih."


"Iiiiissshhh," Ernest membuang muka.


"Pak, Pak Rahmat tolong gendongkan Suster Jovi," pinta Ernest padahal Dokter Nalen lebih di depan.


"Biar gue aja," tolak Dokter Nalen Pak Rahmat akan menggendong Jovi.


"Nggak, nggak usah biar Pak Rahmat aja. Pak, pak, sini pak, ayooo pak. Lewat pintu depan pak." Ernest mengkomando supirnya segera cepat.


"Eeehhh.. Ernest loe kebangetan ya.. gendong Jovi aja loe nggak ngebolehin gue kan?," Dokter Nalen terbawa perasaan.


"Loh nggak salah? kalau gue bukannya nggak ngebolehin, tapi mending di gendong Pak Rahmat aja. Atau kalau bisa mending Dokter Nalen kembali duduk ke dalam."


Papa Jovi ternyata terlihat baru keluar dari pintu pagar. Beliau baru menyadari putrinya baru datang. Papa Jovi langsung ikut menimbrung, melihat Jovi.


Papa Jovi menghampiri. Ernest langsung terlihat senyum begitupun juga dokter Nalen.


"Jovi ketiduran om, ini tadi saya sudah berusaha bangunkan.. saya juga mau angkat tapi masih dihalangi mereka." Dokter Nalen pencitraan.


"Ouh iya, iya, nggak papa.. permisi ya.. saya angkat dulu putri saya. " papa Jovi mengecek suhu.


Ernest memendam rasa kesal. Secepat itu kata loe gue di buang jauh jauh dengan Dokter Nalen. Lalu sekarang berubah pecitraan.


"Ini sudah dari tadi atau barusan Ernest?," papa Jovi. menanyakan ulang ke Ernest.


"Ouh, sudah dari tadi om waktu masih di Sidoarjo. Maaf om saya kemaleman, karena tadi mampir ke wisata sebentar."


"Ouh tidak papa. Iya tadi saya sudah dikasih tau mama Jovi. Katanya tadi habis meeting juga ya?."


"Iya om." Ernest tersenyum.


Dokter Nalen tidak suka. Kedekatan Ernest dan keluarga Jovi mulai terjalin perlahan. Laki-laki berprofesi Dokter tersebut tidak tau bahwa Jovi dan Ernest sudah ke tahap serius.

__ADS_1


__ADS_2