
Tante Inggit sangat tidak menyangka, kedatangan teman lama Ernest sudah hampir 2 tahun tidak terlihat, malam ini hadir dalam pesta pernikahan Ernest.
Lima dari tujuh sekawan seperti Frans, Marcel, Kiano, Gerald, Sandi begitu menikmati acara pesta. Sandi dan istri datang bersama, begitupun dengan Gerald dan kekasihnya.
Acara pernikahan yang dihelat begitu sangat mewah terselenggara dengan bagus. Konsep dari Wedding organizer sendiri berjalan dengan lancar sesuai keinginan Jovi.
Mulai dari dansa romantis antara Jovi dan Ernest, lempar bunga juga menjadi moment paling epic yang mana diperebutkan oleh setiap para tamu undangan.
"Wwuuuuuuuuuuuuuuu...."
Suara gemuruh sorak sorai sangat begitu membahagiakan. Terlebih Anggi sepupu Ernest yang mendapatkan bucket tersebut.
"Selamaaaaatttt, kepada Anggi, semoga cepat menyusul ke pelaminan setelah lulus kuliah di Oxford University, wuuuuuuuu..... amaziing," kata pembawa acara.
Jovi sangat begitu bahagia dengan pesta pernikahan yang berjalan dengan lancar. Dalam benaknya sama sekali terlupa nama nama Fictor, Nalen maupun masa lalu dari Ernest.
Malam ini Jovi adalah pemenangnya. Malam ini Jovi adalah ratunya. Senyumnya semakin terlihat cantik mana kala, lampu kristal pesta menyorot setiap gerak Ernest dan Jovi.
Meghan mengenakan dress berwarna hitam. Ia terlihat baru memasuki tempat pesta dan mencari Frans. Rasa berkecamuk, sakit hati, tidak rela berkumpul menjadi satu.
Frans yang melihat Meghan, dengan sigap menghampiri.
"Meghan, dari mana aja lo?."
"Frans, gue tadi dari acara temen gue dulu," ucapnya sedikit linglung.
Frans mencium bau aneh dari Meghan.
"Heh Meg, loe mabuk? jangan-jangan loe habis dari club ya?? Meghan, anjrriiitt lo malah nambahin kerjaan."
"Apa sih Frans? gue nggak mabuk kali, gue dateng ke nikahan Ernest, nikahan Ernest sama si Jopret, si perawat gadungan itu kan? tuh, gue masih bisa bicara normal."
"Meghan, mending gue anterin lo pulang, gue nggak mau lo bikin masalah disini." Frans menggandeng.
"Nggak, gue nggak mau. Gue tetep diacara ini sampai selesai." bentaknya.
Tidak lama, Marcel bersama Kiano datang dengan gayanya yang slenge'an. Jass hitam dengan pita dibagian kerah tak kalah membuat Marcel tampak karismatik.
"Wuuiiih, Meghan dateng..!! udah bawa perban sama obat luka belum?," tanya Marcel.
"Buat apa??," Kiano tertawa.
"Buat nutupin luka-luka dia yang runtuh di dalam sini," tunjuk Marcel ke dada.
"Hahahaha, bisa ae lo."
"Eh men, men, udah stop jangan dulu mancing-mancing kayak gitu." Frans menjauhkan Marcel dan Kiano.
"Meghan, lo ditunggu Ernest tuh disana. datengin dong masak lo takut."
"Brow udah brow, Marcel stop dulu Cel," Frans menghardik.
"Kenapa si lo? gue yakin Meghan bakalan santai aja kali, loe aja yang berekspresi berlebihan tau nggak?," Marcel justru seolah menarik permasalahan.
"Udah brow, bener juga yang diomongin Frans, luka cewek itu adanya di dalam jiwa nggak diperlihatkan nyata," Kiano melerai.
Sibuk saling bersitegang, Meghan sudah naik ke atas podium tempat semua tamu antre menyumbangkan lagu untuk pesta pernikahan Jovi dan Ernest.
"Luka gue hari ini, harus dibayar dendam dengan taruhan nyawa," gerutunya sembari membuang tubuh para tamu.
"He mbak, antri dong, kalau mau nyanyi."
"Iya nih, nggak tau aturan banget."
__ADS_1
"Mbak, denger nggak sih?."
Para tamu undangan saling memprotes. Pengaruh alkohol sudah membuat Meghan hilang kendali. Microfon disabet secara paksa oleh Meghan diatas podium besar.
"Selanjutnya, kita persembahkan dari tamu berikutnya, dengan kakak siapa ini? sangat cantik sekali gaun yang dipakai berwarna hitam. Asal hatinya putih ya hehehe." canda MC.
"Nama saya Meghan."
"Ow, dengan kakak Meghan. Kira-kira sepatah dua patah kata apa nih yang ingin disampaikan pada pasangan pengantin kita hari ini, Ernest dan Jovi?."
"Aaaaaa....," Meghan menahan air matanya.
Jovi melirik ke arah tempat pemain musik, disana benar-benar ada Meghan. Kesal, tidak diundang tetapi Meghan tetap datang.
Jabatan selamat dari para tamu hanya disambut senyum oleh Jovi. Saat ini, ia hanya fokus melihat Meghan dikelilingi para pemain musik.
"Teruntuk laki-laki yang pernah saya cintai diatas sana, meski kini bukanlah aku pemenangnya namun dulu kita pernah bersama. Bukan hanya hitungan hari, jam menit selalu sama sama kita lewati. Saat ini, jika bahagiamu adalah Jovi, jika aku bukan yang kau inginni, cukup pesanku berbahagialah sampai nanti, akan tetapi aku tetap akan mencintai setulus hati," Meghan menitikan air mata.
Seketika suasana pesta pernikahan tampak hening hanya berteman sepi. suara piring dan sendok para tamu yang menikmati hidangan seketika terhenti.
Jovi melihat ke bawah. Dia tidak bisa menghindar dari hal seperti ini. Ernest menggenggam tangan Jovi erat.
Sontak sorot mata Ernest menyuruh tim WO membereskan acara untuk menjaga perasaan istrinya.
"Oooooo... mungkin yang dimaksud kakak Meghan adalah laki-lakinya bapak Toni Wijaya, ya.. ya... karena Pak Toni juga duren ya istilahnya hahaha."
"hahahaha ada ada aja," suasana mencair.
"Duda keren, duda keren," semua menyoraki.
"MC'nya lucu ya," kata seorang tamu.
"Tidak papa kak Meghan, tidak dapat anaknya bisa dapat ayahnya," goda seorang tamu.
"Asal anda tau semua disini, Jovi itu pen,"
"Meghan, ayo," Frans menarik Meghan turun kebawah.
"Jovi itu adalah pendamping hidup Ernest Wijaya yang sangat cocok. bukan begitu para tamu undangan. Nah.. mari kita dengarkan sumbangan lagu dari Occa dengan lagunya Queen yang berjudul Love of My Life"
Sambungan dari MC cukup melegakan hati Jovi. Rasanya degup jantungnya hampir lepas dan kontrol.
Dokter Nalen yang menghadiri undangan, cukup menyimak dibawah melihat sikap Meghan yang mulai terpengaruh alkohol.
"Bukan hanya kamu saja Meghan yang sakit hati hari ini. Bahkan mungkin saat ini, esok dan lusa kebahagiaanku sudah tidak akan datang lagi. Bagaimana mungkin, aku bahagia bila yang membahagiakanku sudah dengan yang lain." ucap Dokter Nalen didalam hati.
MALAM PERTAMA SETELAH RESEPSI.
Resepsi pun berjalan dengan lancar, meski ada sedikit kerikil, beruntung itu semua tidak membuat sandungan.
Keluar dari tempat pesta resepsi, Jovi dan Ernest melanjutkan menginap mereka di hotel. Sementara para keluarga dan sanak saudara kembali ke rumah.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Jovi dan Ernest. Rangkaian acara yg di jalani cukup menyita tenaga.
Mama, papa Jovi berpamitan pulang lebih dulu karena Aqila sudah tertidur. Tuan Toni bersama tante Inggit, Ernest juga menyusul berpamitan.
"Ernest papa pulang dulu ya.."
"Tante inggit juga pulang dulu ya Jovi, Ernest.. selamat ya sayang berdua, tante ikut seneng kalian sudah menikah," ucapnya sembari memeluk Jovi.
"Ernest, jangan lupa ya, buat jagoan kecil," bisik Tuan Toni.
"Siap pah." Ernest tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa pah?," tanya Jovi.
"Ouh, tidak papa, hanya mainan kecil yang bikin rumah ramai."
"Apa?," Jovi menyenggol Ernest.
"Beby..." sambil Ernest tertawa.
" tante tau, ada beby datang," sambung tante inggit.
Ernest mengernyitkan dahi, begitupun Tuan Toni.
Tawa keduanya tiba-tiba hilang, apalagi Jovi yang semakin tidak paham.
"Tante, baby bayi, bukan beby yang lain."
"Iyaaa,,, hahahaha, Jovi nanti bilang papa ya.. kurang apa? kalau kurang kuat papa belikan telor bebek buat Ernest.,"
Jovi tersipu malu.
"Kalau kurang kuat lagi, se bebek bebeknya bakalan papa bawain, jadi kamu tenang aja."
Ernest tertawa.
Sempat ingin menanyakan lagi tentang apa yang dibilang oleh tante Inggit, hanya saja Ernest tidak mau Jovi sedih. Tidak mungkin juga, seorang beby datang ke pernikahan Ernest.
Kemudian tante dan papa Ernest pulang.
Jovi dan Ernest kemudian masuk ke dalam kamar hotel.
Aroma parfum yang sangat wangi, dengan dihiasi bunga mawar yang berbentuk cinta diatas tempat tidur. Sprei putih yang melambangkan kesucian cinta mereka, semakin membuat Ernest ingin menaklukkan malam ini.
Ernest langsung memeluk Jovi dari belakang.
"Hmmmpp," Jovi hampir tersentak.
"Sayangg.."
"Hmmm.." gumam Jovi.
"Bawa baju haram?,"
Jovi memalingkan tubuhnya menghadap Ernest, sambil menggeleng kepala.
"Adanya kimono hotel," godanya.
"Asal kamu yang makai, aku tetap tergoda."
Jovi tersenyum hingga matanya menutup.
Ernest mencium kening Jovi.
turun ke hidung.
turun ke pipi.
turun ke dagu.
Lalu mencium Jovi
Perempuan cantik tersebut menurunkan kedua tangannya ke arah dada bidang Ernest. Perasaanya tidak karuan. Meski sudah pernah dicium Ernest akan tetapi kali ini terasa beda.
Aliran darahnya terasa bukan dua kali akan tetapi tiga kali lebih cepat. Jovi merasakan sentuhan itu lembut dengan sentuhan lembut jemari Ernest, sungguh rasanya ia dimabuk kepayang.
__ADS_1