
"Iya Pak Yoyok, itu suster Jovi."
Ernest mengerjapkan mata berkali-kali. Memastikan bahwa pandangan matanya tidak salah.
"Tiinn... tinnn.. tin...,"
Klakson mobil belakang Ernest saling bersahutan. Pengemudi lain nampak terlihat gemas, mobil mewah alphard hitam milik Ernest belum bergerak.
Hitungan mundur traffic lalu lintas sudah di angka 10 ke belakang, Pengendara motor juga lebih dulu meninggalkan, dan Pak Yoyok bingung harus berbuat apa.
"Tuan, bagaimana mana tuan? jalanan ini se arah, mobil kita ada di tengah, kalau kita tetap lurus nanti suster Jovi keburu pergi."
"Puter balik nggak bisa ya?." Ernest melihat Jovi belum berpindah tempat.
"Minggir dulu aja pak."
"Terlalu ramai tuan."
Pak Yoyok panik melihat spion, jalanan dijadikan ajang saling adu kecepatan mobil dan motor para pengendara.
"Tiiinn.. tiinn.. tinnn..."
"Wooeyy.. ini jalanan bukan punya nenek moyang loe," ucap seorang pengemudi berhasil melarikan diri dari barisan belakang mobil Ernest.
"Pak Yoyok, pak, saya turun aja."
"Tuan, jangan Tuan Ernest, kalau tuan turun itu terlalu beresiko, kondisi tuan Ernest sedang tidak baik."
"Haduuuh tuan, saya takut nanti di marahin tuan besar ini," Pak Yoyok mencoba menghentikan Ernest.
"Nggak papa cuma sebentar saja Pak Yoyok, saya ingin menemui Suster Jovi sebentar."
"Saya cari tempat minggir di depan situ ya Tuan Ernest..!! Tuan langsung turun aja kalau begitu, tapi hati-hati ya tuan."
"Iya Pak Yoyok."
Ernest membuka pintu mobil.
"Srrriiinggg....," panas cuaca kota Surabaya menyergap sekujur leher turun ke lengan.
Kemeja lengan pendek berwarna putih dengan corak biru di setiap lekuk tubuh, terlihat menemani Ernest menyebrangi jalan raya.
Kaca jam tangan ikut memantulkan sinar, saat Ernest mengangkat tangan menutupi wajah dari panas sinar matahari.
Celana putih dan sepatu kerja, turut masih mengikat kedua kaki Ernest. Ia mempercepat langkah kaki, sembari menahan pening di kepala, terasa ingin menjatuhkan diri.
"Tiiin... tinnn.. tinn.. ,"
Entah sudah keberapa kali Ernest mendengar klakson mobil karena dia. Laki-laki tampan tersebut hampir tidak pernah seumur hidupnya jalan kaki menyebrang perempatan.
Setelah membiarkan cemooh'an dari para pengendara, bahkan banyak yang berkata kotor akibat ulah Ernest. Ia sampai menginjak kaki di depan parkiran showroom.
Nampaknya Jovi tidak tau sama sekali, bahwa putra tampan Tuan Toni itu berada pas di depannya.
Bujuk rayu ke Aqila yang lebih menyita perhatian Jovi, membuat ia tidak bisa mengamati tempat sekitar showroom. Jovi masih merayu Aqila dengan tema bermacam-macam.
"Nanti main ke kolam ya..!!! kan Aqila suka ya lihat ikan, warna apa sih? yang kayak Frozen, kuning ya? nah.. nanti cari bareng kak Opi ya..??."
"Bukaannn, Frozen itu warna biru kakak Opi, bukan kuning, sekarang beli barbie , ayoook sekarang."
"Iya Aqila, sebentar..!! itu lihat mobilnya masih di cek ya..?? janji deh, nanti kakak beliin ikan, ya?? Aqila ih, jangan rewel."
Jovi terlihat frustasi, dua siku tangannya menopang wajah melas ke arah adik perempuannya. Aqila benar-benar tetap keukeh mengajak beli mainan barbie lebih lebih dulu.
Sesekali mata Jovi mengecek ke arah para pegawai showroom. Mobil Honda Jazz RS 2018 sudah di buka bagian depan, serta bagasi dan pintu mobil.
Ernest menghentikan langkah.
"Suster Jovi."
Jovi menoleh. Ia merasa aneh di tempat seperti ini, ada yang memanggilnya dengan sebutan suster.
"Hah.. Tuan Ernest." Jovi terkejut membatin dalam hati.
"Tuuuaaan.."
"Suster Jovi, ngapain di sini?."
"Aaaa... sa-saya ada perlu di-di sini."
Jovi gelagapan.
"Tu-tuan ada apa ke sini?."
"Aaa.. tadi saya melihat suster di sini," Ernest lebih bisa mengatur tutur bahasa yang keluar dari mulut.
"Saya di beritahu Pak Yoyok waktu pas di lampu merah, tadinya saya kira tadi bukan suster, karena dari mobil tubuh suster membelakangi saya."
"Oo..."
Jovi tidak bisa melontarkan jawaban seperti biasa. Rasanya ia masih tidak percaya, bisa bertemu Ernest di tempat seperti ini.
__ADS_1
Rasa canggung, rasa nyeri di hati, tetapi tidak tahu nyeri tersebut karena apa, bercampur jadi satu di dalam perasaan. Jovi setengah gemetar, ada Ernest tetap tampan menggunakan kemeja pendek.
Baru kemarin Jovi tidak jumpa, sekarang Ernest sudah bertatap muka dengannya lagi. Bahkan, sebelum Jovi mengijakkan kaki di kawasan Perum Griya Indah rumah Tuan Toni.
Sikap tenang dan lembut Ernest hangat lagi di telinga. Jovi membandingkan dengan terakhir kali ia pamit, sikap cuek, sikap angkuh, tak dapat di temui Jovi pagi ini.
Aqila melihat Ernest, anak kecil berambut sebahu tersebut tidak tahu, kenapa Ernest memanggil Jovi dengan sebutan suster.
"Hey.. ini kakak Opi, bukan suter."
Ucapan Aqila mengubah pandangan Ernest langsung berlari ke arah perempuan di samping Jovi.
"Ouh ini kakak Opi ya? maaf ya, om nggak tau." Ernest tersenyum, tangan hangatnya memegang lembut sebagian pipi Aqila.
"Aqila, nggak boleh begitu, itu nggak sopan.. panggilnya om, jangan hey.. hey.."
"Nggak papa ya..!! kan hey..!! hey tayo.. hey tayoo.." Ernest ternyata hafal film kartun.
Jovi tersenyum di tutupi tangan.
"Om suka tayo." Aqila bersemangat menjawab.
"Haa..? tayo? suka dong." Ernest terkekeh.
"Kalau Aqila suka yang bus lani Om, mama bilang kalau cewek itu bus'nya lani, Om suka yang apa?."
"Apa ya? ya tayo."
"Kalau episodenya yang episode apa om? Aqila suka pas lani nganter anak-anak sekolah om, tapi ban'nya kempes, om suka yang apa?."
Ernest bingung mau menjawab apa. Pasalnya ia tidak benar-benar tau tentang film kartun tayo.
"Suka? ya suka.. om suka yang tayo..!!"
"Tayo kan banyak ceritanya? tayo yang episode apa Om? Om suka yang rogi, lani, atau teman tayo yang lain."
"Iya pokoknya tayo. yang penting " hey tayo.. hey tayo.." gitu."
"Kakak Opi, kok om'nya cuma bisa bilang tayo, tayo aja sih." Aqila mengadu, ia memegangi lengan Jovi.
Ernest di buat mati kutu, hanya karena pertanyaan sepele Aqila. Pertanyaan Aqila bobotnya hampir sama dengan berat tander proyek PT. Jyco kemarin.
Ernest menggeleng kepala ke arah Jovi. alisnya menyatu, mengatakan ia benar-benar dalam kebingungan.
"Om'nya nggak tau Aqila, om itu cuma tau, kalau tayo itu cuma bis," Jovi tal kuat menahan tawa.
"Udah sana, minta maaf dulu sama Om'nya, tadi kamu nggak sopan panggilnya bilang hey.."
Aqila tampak menurut. Gadis kecil itu beranjak dari kursi, memandang ke arah Ernest. Nampaknya Ernest berhasil mencuri perhatian calon adik iparnya itu. Kalau memang jadi suami Jovi.
"Maafin Aqila ya Om..!! Aqila tadi panggilnya hey." tangan Aqila mencari tangan Ernest, lalu menciumnya.
"Nggak papa kok."
Ernest tersenyum, mengusap lembut kepala Aqila.
"Kakak Opi."
"Ya, kenapa?."
"Om tangannya panas."
"Panas?." Jovi mendongak, melihat Ernest yang berdiri di depannya persis.
Dua mata ke dua insan itu, saling bertemu. Sayang, Jovi tidak melakukan banyak hal. Perempuan cantik tersebut merasa masih ada jarak di antara Jovi dan Ernest.
Meski sikap receh Aqila berhasil mencairkan suasana. Namun, ada masalah lain, ada permintaan maaf yang belum di sampaikan oleh Ernest.
Setelah Jovi bengong, ia lalu menjawab.
"Aaaa..., ya om'nya butuh istirahat mungkin." Jovi mengalihkan pandangan.
"Panas habis nyebrang ini, kamu namanya siapa sih?."
"Aqila Om."
"Salam kenal ya, Om namanya Ernest."
"Heem." anggukan Aqila mengikuti.
Tak lama kemudian, Pak Odi menghampiri Jovi dan Aqila. Dua pegawai yang di perintah pemilik owner juga sudah menutup semua bagian mobil Jovi.
Nego harga akan segera di lakukan, untuk mobil yang akan di jual Jovi. Sebenarnya perempuan cantik tersebut berharap Ernest pergi, tetapi sopir tidak sedang bersama Ernest.
Tidak terelakkan lagi, Pak Odi langsung menghampiri.
"Mbak Jovi."
"Iya pak," Jovi membangkitkan diri.
"Mobilnya sudah kami cek, pemakaiannya masih bagus, kilometernya tidak terlalu banyak, jarang di gunakan keluar kota ya? untuk mesin juga terawat, keadaan dan kualitas mobil Mbak Jovi masih bagus."
__ADS_1
"Saya jarang menggunakan keluar kota memang pak, kira-kira untuk harganya bisa berapa pak?."
"Untuk harga pasarnya, saya bisa kasih 233.000.000, tapi untuk Mbak Jovi saya kasih 235.000.0000."
"Baik Pak Odi, saya hubungi papa dulu."
"Kalau memang Mbak Jovi deal, kami proses sekarang, kalau masih ada alternatif showroom lain, bisa di ambil lagi mobilnya."
"Iya pak."
Ernest mendengar dengan seksama, tadinya tubuh itu santai menghadap ke arah Jovi. Setelah mendengar apa yang dikatakan Owner showroom, ia berbalik arah.
Apa yang di katakan Pak Odi, laki-laki tampan itu langsung mencari kendaraan milik Jovi. Pengunjung showroom hanya beberapa, penjual mobil juga hanya ada Jovi dan dua orang lainnya.
Honda Jazz RS. warna putih, kondisi mulus di perkirakan Ernest bahwa itu memang milik Jovi. Ia semakin yakin, hutang keluarga benar-benar melatar belakangi Jovi untuk menuruti keinginan Fictor.
"Suster jual mobil?."
Pertanyaan itu tidak ditanggapi Jovi. Tangan kanan kakak Aqila berlari cepat menghubungi papa Jovi.
Ernest melihat ke arah pemilik showroom.
Ternyata, dari tadi pandangan mata Pak Odi, tak berkedip melihat Ernest ke atas bawah. Pak Odi merasa, laki-laki yang ada di depannya, mirip seperti salah satu anak konglomerat Surabaya yang sering di beritakan televisi nasional.
"Maaf Pak, dengan bapak siapa? boleh saya tau, mobil mana yang di jual Mbak Jovi?."
"Ouh saya Pak Odi, kalau boleh saya tanya, anda siapa ya? sepertinya saya familiar dengan wajah bapak. kok kadang kayak di TV."
"Saya bukan artis pak, saya Ernest." tangan Ernest menjabat. Pak Odi tersenyum balik menjabat.
"Waahhh.. benar kan saya, anda pengusaha muda yang selalu menjadi sorotan, istri saya kalau lihat TV, pasti pengen punya menantu seperti anda pak hahahaa."
Jovi langsung melirik Pak Odi, ada rasa tidak ikhlas meski hanya candaan.
Ernest tersenyum. Tangan mereka terlepas, Pak Odi menunjukkan mobil yang ingin di tanyakan Ernest.
"Mobil putih, Honda Jazz RS, sebelah mobil hitam Pak Ernest, mobil itu keluaran 2018, atas namanya Mbak Jovi sendiri."
"Di jual ya pak?."
"Iya Pak Ernest."
"Berapa tadi harganya? 235.000.000 itu dari saya, kalau sudah masuk showroom beda lagi pak."
"Suster, jadi jual mobil?." Ernest bertanya. Jovi tidak menjawab, ia juga tidak berani melihat.
"Kalau saya yang beli mobil suster, boleh? saya hargai 270.000.000."
Jovi refleks langsung melihat Ernest. Harga yang di tawarkan putra tampan Tuan Toni itu, selisih sekitar 8.000.000 dengan harga mobil Jovi saat pertama beli.
"Tuan, tidak perlu, nggak usah tuan, harga yang Tuan Ernest tawarkan harganya hampir sama dengan harga saat pertama kali saat saya membeli mobil, anda akan rugi tuan."
"Nggak papa, saya menyukai mobil itu." bohong Ernest, ia sama sekali tidak tertarik dengan mobil type seperti itu.
"Mbak Jovi, saya yakin.. di manapun showroom'nya, tidak akan ada showroom yang membeli mobil Mbak Jovi dengan nilai se fantastis itu." Pak Odi memberi saran.
"Tapi Pak Odi?."
"Mbak Jovi, kami tidak bisa memberi harga seperti Pak Ernest, karena memang saya berbisnis, kalau untuk Pak Ernest, beli showroom saya saja, beliau bisa, jadi wajar kalau bisa memberi harga segitu."
Jovi bingung, apabila mobil di jual ke Ernest, sama saja dengan dirinya menanam rasa hutang budi pada keluarga Wijaya.
Pembelian harga mobil yang tidak sama dengan harga pasar pada umumnya menjadikan Jovi dilema. Ernest hadir, sebagai penolong.
"Kalau Tuan Ernest membeli dengan harga 270.000.000, dan hutang bunga pak Fictor 195.000.000, jadi masih ada sisa 75.000.000, papa bilang, masih punya uang 50.000.000 itu berarti bulan depan, depannya lagi, mencari kekurangan bayar bunga 70.000.000. lumayan." Jovi bingung.
"Kalau laku 235.000.000, uang tinggal sisa 40.000.000, dan masih cari uang lagi 100.000.000 juta lebih, Ya Tuhan, gimana ini? apa memang harus Tuan Ernest yang membeli,"
Awalnya Jovi berfikir, uang lebih dari penjualan mobil masih terhitung lumayan sebagai simpanan. Sekali lagi, Jovi belajar tidak melulu memperhitungkan uang.
Ia menggunakan logika. Hidup di dunia ini paling tidak enak ketika mempunyao hutang budi. Di hadapan Pak Odi dan Ernest, Jovi memantapkan keputusannya.
"Tuan, saya tidak mau, saya tetap menjual mobil saya ke Pak Odi saja."
"Hah..?." Pak Odi tidak percaya.
Ernest sudah menduga, niatnya pasti di tolak oleh Jovi.
"Ya, nggak papa, kalau memang suster mau menjual ke showroom ini. Pak Odi tolong, hargai mobil Suster Jovi seperti harga yang saya tawarkan ke dia."
"Loh.. loh.. ya maaf Pak Ernest saya tidak bisa, mobil Mbak Jovi saja dipasaran paling tinggi lakunya 240.000.000, itu pun kami hanya mengambil sedikit, rugi pak saya nanti nya."
Pak Odi langsung menolak keras, sebelum mendengarkan penjelasan Ernest lebih lanjut. Jovi semakin tidak paham dengan jalan fikiran pasiennya tersebut.
"Pak Odi ambil dari Suster Jovi harga 270.000.000, saya akan membeli mobil itu dari Pak Odi dengan harga 350.000.000." Ernest berbisik ke telinga Pak Odi.
Pak Odi merasa girang, sungguh bahagia di datangi oleh pengusaha sukses di pagi ini.
"Pak, saya minta bapak buat alasan yang mengatakan harga jual mobil Honda Jazz tahun ini meroket, biar suster Jovi setuju dengan harga beli yang di berikan Pak Odi."
Mendengar permintaan Ernest. Pak Odi menganggukkan kepala. Sedang untuk perempuan cantik tersebut, Jovi merasa keputusan yang di ambil sudah tepat. Ia tidak mau, hidup dalam hutang hudi.
__ADS_1
Jovi mencoba menerima kenyataan, bahwa apa yang di alami hari ini, esok dan seterusnya adalah kenyataan. Semakin Jovi bergantung diri pada Ernest, semakin akan susah Jovi menata hidup.
"Jov... Jov.. apa jadinya, hutang budi Pak Fictor belum selesai, kamu berpindah ke Tuan Ernest, sadar Jovi, hidup ini bukan sinetron, di mana semua ceritanya berakhir happy ending, hidup kamu harus kamu perjuangkan sendiri, semangat Jov."