
APARTEMEN ERNEST, JAKARTA.
"Kreeekk...," Ernest membuka pintu apartemen.
Sembari jalan kaki masuk ke dalam, semua yang di katakan Mr.Bram tentang Jovi, mendera fikiran Ernest secara cepat. Kepala Ernest terasa pening, masalah silih berganti menyita tenaga.
Malam ini, meski kemenangan besar di dapat oleh PT Wijaya Grup atas keberhasilannya, bisa bekerja sama dengan PT. Jyco. Tak ubah membuat Ernest tetap merasa kalut.
Ernest jalan, melepaskan jas.
Tangannya mengambil kaleng bir bintang kala lewat di depan lemari es.
Dasi sudah di tanggalkan Ernest ke sofa, rambutnya tidak se rapi saat Jovi masih ada di apartemen malam kemarin.
Kegalauan hati laki-laki tampan tersebut, nampaknya tidak main-main. Dari tadi tatapan matanya kosong, Ernest merasa sangat bodoh, menolak mempercayai Jovi, atas pengakuannya sebagai suster.
Kaki Ernest yang masih dalam proses penyembuhan, terasa sangat ngilu. Sudah berapa kali, obat tidak di minum Ernest dengan teratur, semua menambah beban sedihnya.
Kaleng bir warna hijau ada di tangan kanan, Ernest menghela nafas panjang, penyesalannya nampak di mulai. Kepalanya lebih sering tunduk ke bawah.
Belum genap 24 jam Jovi meninggalkan apartemen, satu kebenaran sudah mulai terkuak. Ernest menyucup sedikit bir, menghilangkan rasa stress.
Bayangan tangis Jovi saat di restoran, derai air mata Jovi sebelum keberangkatannya ke Surabaya, dan janji Jovi, menyisakan kesedihan mendalam pada lubuk hati Ernest.
"Suster Jovi, sedang apa suster sekarang? bisakah kita bertemu lagi? saya sangat merindukan kamu suster Jovi.," ponsel Ernest menemani kesendiriannya malam ini.
Apartemen nampak hening.
Tidak ada suara yang mencetak kebisingan, televisi besar juga tak di nyalakan pemiliknya. Hanya kadang gerak jarum jam, sedikit menggelitik telinga Ernest.
Tidak jauh berbeda dengan Jovi, Ernest sedih mengingat beberapa kejadian yang tidak sengaja di lalui bersama dengan suster cantiknya itu. Jovi masih mengenang di hati, lewat kenangan yang sudah di buat dalam satu bulan.
Ernest ingat bagaimana pertama kali pertemuan tidak sengajanya di rumah sakit dengan Jovi. Hati tertawa, namun bibir tak sanggup melukis, saat Ernest mengingat gugupnya Jovi memperkenalkan diri sebagai suster.
Jovi jauh berbeda dengan perempuan kebanyakan. Walaupun hampir 24 jam kakak Aqila tersebut sering bersama Ernest, sama sekali Ernest tidak pernah melihat polah tingkah Jovi mencari kesempatan dalam kesempitan.
Bagaimana polosnya Jovi, indah mata, hidung, dan keindahan wajah yang dimiliki perempuan cantik tersebut, Ernest hanya bisa mengenang. Sehebat itu, rasa tidak percayanya, hampir membunuh cinta yang ada.
Di kala itu, saat di ruang direktur, sebelum kejanggalan sikap di lakukan oleh Jovi. Ernest mengingat lagi, lugu sikap yang dimiliki mantan sekertaris Fictor.
FLASH BACK ON.
Saat Makan siang di kantor pada saat itu.
"Suster, makan saja, nggak papa," baiknya Ernest menawari.
"Nggak usah tuan," geleng Jovi diikuti rambut panjangnya berlarian.
"Makan aja, nasi dan lauknya itu banyak suster."
"Nggak usah tuan, nggak papa."
"Saya suapin ya..??," Ernest mengambil sendok di kotak makan.
"Nggak usah tuan, saya belum lapar," jawabnya langsung menjauhkan wajah.
"Nggak papa suster, ini makan aja, ayoo dibuka mulutnya haakk...."
"Tuan saja, sini saya suapi lagi," Jovi merebut sendok.
"Eeeitsss.. nggak bisa," Ernest mengangkat sendok tinggi-tinggi.
"Tuan...."
"Tuan, jangan, nanti nasinya tumpah semua."
"Makanya, ayoo makan, sini-sini hakkk.. dibuka ya mulutnya suster Jovi," rayu Ernest tertawa geli.
Jovi menuruti keinginan Ernest.
"Makan yang banyak ya sus, biar bisa konsentrasi, jaga mood, dan bantuin saya, unccchh unchhh...," kata Ernest sembari menyuapkan nasi ke mulut Jovi.
"Hahaha, tuan jangan begitu, saya malu."
FLASH BACK OFF.
Lewat indah kedua mata Ernest, meski air mata tidak menetes, tapi bola mata itu benar-benar menggambar kesedihan mendalam. Ernest tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali menyesal.
Ernest bahkan tidak lupa, cara Jovi tersenyum malu. Sikapnya berbanding terbalik dengan kebanyakan perempuan yang di pacari Ernest.
Semua tinggal kenangan, sekarang... jauh Jovi pergi meninggalkan putra tampan Tuan Toni itu. Ernest tak mampu tersenyum, mata selalu berkaca, wajahnya memerah.
Laki-laki tampan tersebut mulai tidak enak badan, keringat dingin muncul dari tangan kanan dan kiri Ernest. Kepalanya sangat pening, Jovi menyisir semua ingatan bersama dengan penyesalan sikap yang sudah di lakukan Ernest.
Hidup sendiri di Jakarta, tak ayal membuat Ernest ingin segera kembali ke Surabaya. Meeting sudah di selesaikan, putra tampan Tuan Toni tersebut, ingin mencari kembali di mana rumah Jovi.
Sebisa mungkin Ernest ingin kembali datang membahagiakan. Meski sekarang baru sebatas harapan.
"Suster Jovi, kenapa saya begitu bodoh sekali, apa yang saya pikirkan sehingga saya sama sekali tidak bisa mempercayai kamu suster, saya kira kamu seperti kebanyakan orang, ternyata yang kamu ucapkan memang benar adanya."
"Kenapa saya bisa se bodoh itu Jovi? lantas jika sudah tidak bekerja di Semesta Grup, lalu bagaimana suster Jovi melunasi hutang papanya? bukankah suster Jovi bilang, dia melakukan semua ini, hanya karena hutang papanya."
Ernest menyangga kepala, dengan kedua tangan.
Tubuh sudah tidak se fit seperti saat berangkat meeting. Masih ada peninjauan lokasi besok, sebelum Ernest akhirnya benar-benar kembali ke Surabaya.
Teka teki tentang Jovi, membuat Ernest dilema dalam kegundahan. Hampir semua memori, tersita dengan masalah suster cantik yang pernah merawatnya. Jovi masih bersemayam di hati.
Atas dasar hati, butir air mata itu tiba-tiba menetes. Baru kali ini, Ernest terlihat menitikan air mata, setelah terakhir kali, menangis di pemakaman Ny. Toni Wijaya, orang tua perempuan Ernest.
Ernest mengambil ponsel.
Dia menelpon.
MEMANGGIL SUSTER JOVI....
"Tuuutt... tuuut... tutt...,"
Telepon menyambung, namun tidak ada jawaban. Entah di sengaja atau tidak, Ernest beranggapan telepon memang di sengaja tidak di angkat.
20 kali panggilan keluar ke nomer ponsel Jovi. Tetap saja tidak ada tanggapan.
"Tuutt.... tuuut.... tuuttt...,"
Ernest masih mencoba lagi.
"Tuuuttt... tuuutt.. tuuut...,"
"Maaf nomor yang anda tuju, tidak dapat menerima panggilan ini, silahkan tunggu atau tutup lah telepon anda, tut..,"
Terakhir operator berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Praaakkk...,"
Ponsel di banting Ernest.
Rasa kesal, lelah hati, penyesal, di borong menjadi satu, dalam setiap detak jantung dan aliran darah. Perpisahan di anggap tidak berat, namun nyatanya, perpisahan dengan Jovi, sungguh sakit teramat.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......,"
Teriakan Ernest sangat kencang.
Bruuuukkkkk....
Ernest membuang semua barang di sofa.
Braaakkkkkk..............
Braaakkkk...........
Berkas, semua map, beberapa kemeja, dan kardus kecil, jatuh tak terkendali.
Praaaaaakkkkkk.....
Vas terjatuh, sebab rentetan benda yang terjatuh.
Cetiiiiarrrrrrr....
Gelas minum tak hayal pecahannya juga menghampar di lantai.
Kliintingggg........
Suara cincin itu, cincin yang sudah sengaja di pesan Ernest untuk malam itu, di restoran Enmaru.
Mata merah Ernest, mengikuti arah cincin tersebut menggelinding. Akibat lemparan tak terkontrol semua benda, lingkar emas yang akan di berikan Jovi, keluar dari kotak merah.
Ernest bahkan lupa, kapan terakhir kalinya, dia menaruh barang berharga saat setelah pengakuan Jovi benar-benar memporak porandakan hati. Malam ini, tak ubahnya menjadi sebuah paket penyesalan yang komplit.
Tangis Ernest pecah.
Tengah malam sendiri di apartemen, menyulap Ernest seperti jadi orang gila. Apartemen bak kapal pecah, semua keharusan menjalani sebuah nasib sangat di rasakan.
Ernest memukul menyakiti tubuhnya.
15 menit selang dari emosi yang meluap hebat, ponsel CEO muda Wijaya Grup tersebut berbunyi.
"Tringg.. tingg.. tingg..,"
Ponsel Ernest berbunyi.
Setelah terbanting kencang, tidak di sangka ponsel apple milik atasan Wijaya Grup tersebut masih menyala.
Ernest mengambil ponsel.
PAPA MEMANGGIL....
"Hallo pa."
"Hallo Ernest, kamu masih di Jakarta?."
"Iya pa, masih."
"Belum tidur pa?."
"Belum, papa tidak bisa tidur ini." suara Tuan Toni gelisah.
"Iya sudah, tadi barusan Ernest pulang meeting, untuk produksi, dan laporan lanjutan, dari PT. Jyco, tinggal menunggu besok."
Ernest menjelaskan, nafasnya di atur beberapa kali.
"Keren anak papa," Tuan Toni terdengar bahagia.
"Masih di Semarang pa?."
"Iya, papa kira, rencana kemarin sudah pulang, ternyata ada undangan dari PT. X-Z Armada, ya menghargailah, jadi papa masih di Semarang."
"Eh, suara kamu ? kenapa? kamu flu?."
"Sedikit, Ernest kurang enak badan di sini, banyak fikiran."
"Kok bisa, banyak fikiran? kenapa? kamu sudah minum obat belum? Suster Jovi masih di sana?."
"Nggak."
"Ernest, Ernest, kamu jangan bikin papa khawatir, kamu baru dalam masa pemulihan, sehat baru aja hitungan hari, jangan sembrono, kenapa Suster Jovi sudah pulang?."
"Ernest minta pulang besok, badan Ernest nggak kuat pa, di sini kepala Ernest pening, nggak seperti biasa."
"Loh gimana? jemput Pak Yoyok ya? tapi suster Jovi kenapa sudah pulang?."
"Tuutt.. tuuut... tuttt....," ponsel lowbat.
Ernest membiarkan, tubuhnya beranjak membangkitkan diri ke kamar. Sudah hampir pukul 23.00 malam, mata Ernest belum memejam, rasa lelah di tubuh mengajak tubuh Ernest segera terbanting di atas tempat tidur.
Makan malam, minum obat di lewatkan oleh putra tampan Tuan Toni tersebut, semenjak tidak ada Jovi sebagai suster, kondisi kesehatan Ernest terlihat kembali memburuk.
Ernest tidur tanpa mengganti kemeja dan seragam kantor. Memilih tidur, agar segera membebaskan Ernest dari kenyataan yang sudah di hadapi, menjadi keinginannya malam ini.
Ernest terlelap dengan sisa pelipis yang masih basah akibat tangis.
**************************
TERMINAL PURA BAYA, SIDOARJO.
Pukul 23.00 malam.
Pemberhentian terakhir bus jurusan Jakarta Malang Surabaya sudah menjalankan roda bus masuk ke dalam terminal. Beberapa dari penumpang, nampak sudah membangunkan diri lebih dulu.
Semua bergerombol merebutkan pintu, para penumpang berbondong bondong keluar. Bungkusan kresek, tatanan kardus, tas ransel, saling beradu tampar menampar, dengan pundak para penumpang.
Kondektur berulang kali telah memberi aba-aba, mengkomando setiap para penumpang, memberikan alarm bahwa pemberhatian terakhir sudah di Surabaya.
"Surabaya, Surabaya, ayooo Surabaya, terakhir, terakhir."
Dokter Nalen mengangkat tubuh, setelah sadar bahwa suara kaki para penumpang saling gemeruduk masuk lewat telinga Dokter Nalen.
Jovi nampak masih tertidur, kepalanya menggeser ke arah pundak Dokter Nalen. Kening masih terasa hangat, saat dokter muda tersebut mengecek suhu badan Jovi.
"Ayooo mas, ayooo.. Surabaya, terakhir mas, terakhir." kondektur mengkomando segera turun.
Tangan Dokter Nalen sebetulnya tidak tega membangunkan. Mau bagaimana lagi, transportasi bus juga harus kembali mengejar setoran. Perempuan cantik tersebut resah hati, kepala Jovi menggeser ke kanan dan ke kiri.
"Jovi, bangun sayang, kita sudah sampai di Surabaya,"
__ADS_1
"Jov.. ayooo bangun, kita sudah sampai di Surabaya," Dokter Nalen meggoyang pundak Jovi.
"Jovi, ayoo bangun, Jovi."
Tidak berselang lama, Jovi membangunkan diri. Dokter Nalen sudah berdiri.
"Ayoo cepat, semu penumpang sudah turun, tinggal kita Jov,"
"Aaa.. baik Dokter."
Tubuh yang belum menyadarkan diri sepenuhnya. Jovi sudah membawa koper miliknya. Dokter Nalen sendiri membawa tas kerja serta tas kertas di pergelangan tangan kanan.
Mereka berdua turun dari bus, Jovi masuk ke dalam terminal. Di mana beberapa kios yang ada di dalam terminal, masih ada beberapa penumpang yang menikmati makan malam.
Jovi baru sadar, jam tangannya sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Udara dingin mulai menusuk tulang rusuk, namun tak ubahnya tetap ada saja para pedagang asongan masih berjualan.
Dokter Nalen sendiri, berpamit sebentar, untuk pergi ke kamar mandi. Rasa meriang di tubuh, sudah lebih di rasakan Jovi. Tubuh perempuan cantik tersebut terlihat demam dan pusing, walaupun Jovi sendiri sudah menahannya.
"Jovi, saya ke kamar mandi sebentar ya? kamu di sini dulu, nanti kita ambil mobil dulu, jangan ke mana-mana." Dokter Nalen menyentuh lembut pipi Jovi.
"Tidak usah Dokter, saya naik taksi saja, lagian rumah kita tidak se arah." Jovi mengangkat kepala melihat Nalen.
"Jovi, ini sudah malam, kita masih di Sidoarjo, perjalanan ke Surabaya masih satu jam lebih, itu pun kalau tidak macet."
"Tapi Dokter Nalen, saya sudah biasa pulang malam, biasanya setelah meeting, saya juga naik taksi."
"Sudah, jangan, saya nggak mau, lagian kalau naik taksi, nanti keluar biaya banyak, mending buat kebutuhan yang lain kan, mobil saya ada di penitipan nggak jauh dari sini kok, ya...?."
Jovi diam saja.
Dokter Nalen menganggap bahwa Jovi sudah setuju.
"Saya ke kamar mandi dulu ya..?? jangan ke mana-mana."
"Baik Dokter Nalen."
Nalen tampak pergi jalan menuju kamar mandi. Jovi melihatnya, lampu penerang terminal juga para pengunjung terminal, tak jauh berbeda dengan Jovi, sedang menunggu penjemputan.
Malam ini, Jovi mengambil ponsel, hampir setelah tertidur lama di dalam bus. Ponsel putih milik perempuan cantik tersebut tidak terjamah tangan putihnya.
Jovi menyilakan poni rambut, daya baterai di ponselnya tinggal sisa 18%. Beruntung masih ada power bank di dalam koper, yang sudah di bawa Jovi ke sana kemari, dari Jakarta kembali ke Surabaya.
Sembari tangan kiri Jovi meng gosok lengan kanan, akibat cuaca dingin di sekitaran kota Surabaya. Rasa ingin segera sampai di rumah juga semakin menggelepar.
Nampaknya Jovi, masih merasa dingin, meskipun jaket tipis sudah di kenakan sejak keberangkatan dari apartemen Ernest.
30 X Panggilan Tak Terjawab Tuan Ernest.
Screen ponsel Jovi, menunjukkan pemberitahuan, Ernest menelpon lebih dari 30 kali, kakak Aqila tersebut takut terjadi sesuatu terhadap Ernest. Apalagi, terakhir kali yang ada di apartemen pagi itu adalah Jovi.
Tetapi, perasaan khawatir langsung di tepis, Jovi ingin segera melupakan, dia lebih memilih pesan whatsapp yang tak kalah ikut berbondong-bondong memberi pesan lewat tulisan.
"Tuan Ernest, tidak mengirim pesan, tapi ada apa menelpon sebanyak itu?." fikiran Jovi tetap tidak bisa menepis.
Seolah tidak mau terbelenggu, perempuan cantik tersebut mencoba membiarkan lagi. Ada rasa ingin mengirim pesan ke Ernest, untuk menanyakan keperluannya menelpon, namun kembali di urungkan.
Jovi berusaha ingin segera lepas dari Ernest. Putra tampan Toni Wijaya tersebut sudah mulai di cemaskan oleh Jovi, pasalnya Fictor tidak akan begitu saja terima, atas pengakuan yang di lakukan Jovi.
"Klik.."
Jovi membuka pesan dari Ola, mencoba tidak menghiraukan Ernest.
"Jovi, ada berita di perusahaan, Semesta Grup rugi besar, gara-gara Mr. Bram mengganti PT kita, dengan PT lain, Jov, Fictor setiap hari marah-marah mulu, gue denger-denger PT. itu adalah PT. Wijaya Grup, pliisss dong Jov, tanyakan ke Pak Ernest, bener nggak berita itu?."
Mata lelah, digelayuti rasa kantuk, tiba-tiba membuka lepas, tak percaya. Gemetar tubuh Jovi semakin terasa, tidak mungkin, resign tertanggal besok baru di mulai sudah mengantar Semesta Grup dalam kehancuran.
Jovi semakin takut, Fictor akan lebih membabi buta, sisa uang hasil pinjaman dari Om Purwo, di naikkan menjadi lebih banyak lagi. Gemetar tubuh Jovi, juga tidak menyangka, kenapa harus Wijaya Grup yang mendapatkan semua.
Meski sudah tidak menjadi sekertaris PT. Semesta Grup, perempuan cantik tersebut masih berat hati, jika ada masalah besar terjadi di dalam perusahaan tersebut.
"Semesta Grup, tanpa proyek dari Mr. Bram lagi?," pandangan Jovi tertegun.
"Pak Fictor, bagaimana ini?."
Jovi tidak tau, apa yang akan dilakukan, yang jelas Fictor akan sangat marah besar, atas kejadian yang menimpa perusahaannya. Apalagi kejadian tersebut bertepatan dengan mundurnya Jovi sebagai sekertaris di kantor.
Rasa pilu, tak ubah lebih semakin sendu.
"Triiingg.. tinggg... tinggg.. ,"
Tuan Toni Wijaya MEMANGGIL...
"Tuan Toni? apa jangan-jangan terjadi apa-apa dengan Tuan Ernest? Ya Tuhan."
Gerak kepala Jovi sangat cepat, mata membaca sekarang tuan Toni melakukan panggilan, sebetulnya ada apa ini?. Semua tidak ada selesainya.
Jovi tidak bisa merasakan sakit yang ada di tubuh, masalah belum lepas, di akhir masa kerja sebagai suster. Ketakutan lebih menggila, di terminal Pura Baya, Sidoarjo.
"Hallo," Jovi gemetar.
"Hallo suster Jovi, selamat malam."
"Ya tu-tuan Toni, se-selamat malam."
"Maaf ya suster Jovi, saya mengganggu suster Jovi malam-malam begini hehe,"
"Ti-tidak papa Tuan Toni, maaf tuan, ada apa ya tuan? kenapa tuan besar menelpon saya malam-malam begini."
"Suster Jovi kenapa sudah pulang dari Jakarta? kenapa tidak pulang bareng saja dengan Ernest? Ernest tidak mau menjelaskan ke saya." Tuan Toni ganti bertanya ke Jovi.
Jovi hanya diam.
"Ouh, tidak apa-apa kalau suster memang tidak mau menjelaskan, mungkin masalah pribadi suster dengan Ernest ya? maaf ya suster, kalau dengan Ernest memang harus banyak sabar."
Jovi tetap membiarkan, tetapi matanya kembali berkaca.
"Di Jakarta Ernest sedang sakit, sebetulnya itu yang membuat saya menghubungi suster Jovi, Ernest baru saja selesai dari masa pemulihan, saya takut, ada kondisi Ernest yang mengkhawatirkan." suara Tuan Toni terdengar lirih.
"Ya Tuhan," bibir Jovi melemas.
"Maaf tuan, karena saya sudah tidak bersama Tuan Ernest, saya tidak bisa memastikan kondisi kesehatan tuan muda, terakhir saya melihat pekerjaan Tuan Ernest terlalu banyak, dan tuan sering lupa minum obat, tapi terakhir bilang, Tuan Ernest sudah merasa baik." Jovi ikut mencemasi.
"Saya merasa was-was kalau Ernest sendirian di sana suster Jovi..? tapi saya sudah mengirim dokter ke apartemen Ernest. Apa suster sudah bekerja sekarang? kalau seandainya, besok kembali ke rumah bisa?."
"Sembari menunggu Ernest pulang, kemungkinan besok Ernest sudah di jemput ke Jakarta dengan Pak Yoyok."
Tawaran tersebut, benar-benar di dengar oleh Jovi. Sedikit tangis khawatir membanjiri pipi perempuan tersebut, dia takut kondisi Ernest kembali memburuk.
"Hallo Suster Jovi, suster dengar suara saya kan?." Tuan Toni mencari.
"Ya tuan besar, dengar."
__ADS_1
"Ernest meminta pulang, dia bilang ke saya karena sedang sakit, dan tadi teleponnya terputus di tutup, saya sendiri posisi sedang di luar kota suster, suster Jovi bisa kan kembali ke rumah?."